My Brother

My Brother
Ulangan



Entah sejak kapan Indah menyukai musik. Indah juga dengan mudah menghafal rumus matematika yang diberikan oleh guru dan menghitung cepat tanpa menggunakan alat bantu berupa kalkulator. Indah juga sangat menguasai pelajaran Bahasa Daerah.


Ulangannya selalu mendapat nilai 100. Untuk ekstrakurikuler, Indah memilih Ekskul Wajib PRAMUKA dan ekskul pilihan Basket karena gadis tomboy menyukai apa yang disukai Laki – laki, dan Indahpun suka berpetualang.



“Hai!” seseorang menyapa Nurika, Indah dan Anik saat mereka baru keluar dari gang rumah Anik dan menaiki sepeda masing \- masing “Mau kemana?” Tanyanya.



“Mau jalan – jalan!” Anik menjawab dan tiba – tiba mengerem sepedanya. Secara otomatis Nurika ikut mengerem sepedanya disusul Indah yang berada di paling belakang.



Entah apa yang direncanakan Anik, Author pun tidak mengetahuinya. Anik masuk ke halaman tempat kos laki – laki yang menyapanya diikuti Indah dan Nurika. Iya mengajak Tiga sahabat itu duduk diteras tempat kosnya. Anik mengiyakan, namun Indah menolak dan tetap duduk diatas sepedanya karena tujuan mereka adalah berjalan – jalan keliling kota Sampang.



“Baiklah jika kalian terburu – buru, setidaknya kita bisa saling mengenal dulu!” Dia melihat wajah cemberut Indah yang menandakan ketidak sediaannya berlama \- lama di tempat itu.



“Namaku Ibrahim” Ia memperkenalkan diri terlebih dahulu. Mengankat tangan kanannya untuk berjabat tangan. Nurika lebih dulu menyalaminya karena Nurikalah yang berada lebih dekat dari pada Indah. “Ika!” Jawabnya.


“Indah!” Jawabnya saat Ibrahim maju dan mendekatinya.


Tiga sahabat itu undur diri dari tempat kos Ibrahim dan melanjutkan tujuan mereka bersepeda keliling kota.


Usai upacara bendera, mereka beristirahat di depan kelas. Ada beberapa teman Indah memilih ke kantin untuk sekedar membeli minum. Beberapa orang masuk kelas untuk mempersiapkan Ulangan harian terakhir yang akan dilaksanakan pada jam kedua, termasuk Indah.


“Wuoy!” Anik menggebrak meja Indah namun tak sedikitpun membuat Indah terkejut karena ia tau Anik akan mengusilinya saat belajar di sekolah menjelang Ulangan harian. Indah melihat sejenak kearah suara dan kembali membaca bukunya.


“Minum dulu nih!” Nurika memberikan air mineral yang memang di belinya untuk Indah karena ia tau Indah tidak akan pergi ke kantin jika sedang ada ulangan harian.


“Iya, tuh!. “Belum minum, dah belajar aja!” Ucap Anik sambil memajukan bibirnya. “Eh, tapi jangan lupa bagi jawaban ya!” Lanjutnya sambil memainkan matanya.


“Iya, jika ada kesempatan!” Jawab Indah. Ia tidak tau strategi apa yang akan digunaka oleh guru saat melaksanakan Ulangan hari ini.


“Assalamualaikum!” Guru Bahasa Daerah memasuki kelas.


“Waalaikum Salam” Serempak mereka menjawab. Anik melihat ke arah Indah. Merasa ada yang memperhatikannya, Indah menoleh dan melihat Anik sedang mengingatkannya agar membagi jawabannya nanti.


“Silahkan kumpulkan buku Catatan kalian di meja Ibu!” Perintah Bu Muna guru yang sudah setengah baya.


“Untuk Siswa yang memiliki nomor absen satu sampai delapan belas, silahkan duduk satu per satu di bangku kelas ini. Sisanya, silahkan menunggu di luar kelas!” Bu Muna melanjutkan kalimatnya.


Bangku deret kedua dari depan adalah tempat favorit Indah, pun dekat jendela. Anik memilih duduk di belakang Indah. Namun tak sesuai dengan apa yang diharapkan Anik. Bu Muna mengatur tempat duduk siswanya dengan memindahkannya satu per satu. Setelah diatur oleh Bu Muna, Indah tetap ditempat yang ia pilih sedangkan Anik berada jauh darinya.


Tak butuh waktu lama untuk Bu Muna mengatur tempat duduk siswanya, kemudian iya membagikan sola Ulangan Harian.tak banyaksoal yang diberikan Bu Muna, hanya lima nomor.


Obâ ḍâ’ tolèsân Carakan Madhurâ! Begitulah kalimat perintah yang tertulis dikertas ulangan Bu Muna.


(Ubahlah ke dalam tulisan Aksara Madura!) Orang jawa mengatakan bahwa itu aksara Jawa


Hanya butuh waktu sepuluh menit, Indah sudah menyelesaikan Ulangannya. Tak ada kode yang bisa digunakan untuk dapat membantu Anik dalam mengerjakan soal ulangan tersebut sehingga Anik kesulitan untuk menjawabnya. Indah pun bingung memikirkan cara agar bisa memberitahu sahabatnya.


“ Sepuluh menit lagi!” Suara Bu Muna mengejutkan siswa yang sedang berpikir keras, Indah pun sadar dari lamunannya hingga pensil yang dimainkan di tangan kanannya terjatuh.


Indah mengambil pensilnya yang jatuh di samping kaki kanannya. Indah melihat secari kertas dibawah sepatunya, kemudian diambil bersama pensil miliknya. Indah menyalin Jawabannya ke kertas tersebut dengan cepat.


“Bagi yang sudah selesai, Silahkan dikumpulkan di meja ibu dan silahkan keluar ruangan tanpa suara!” Bu Muna berseru lagi. Indah lah yang lebih dulu menyetorkan kertas ulangannya. “Ndah!” Anik yang berada dekat meja guru berbisik memanggilnya.


“Nih!” Indah mengambil kertas dari kantongnya dan melemparkannya pada Anik. Dengan segera Anik menyalinnya karena masih ada sisa waktu lima menit. Tak hanya Anik yang menyalin jawaban Indah, tapi beberapa teman kelas yang duduk tak jauh darinya.


“Waktu sudah habis, silahkan dikumpulkan di meja guru!” Sang guru mengakhirkan waktu Ulangan. “Keluarlah dengan tertib dan panggil teman – teman kalian yang berada di luar!” Perintah selanjutnya dari Bu Muna.


Nurika menghampiri Anik yang baru keluar kelas dan meminta salinan jawaban yang diberikan Indah karena Indah sudah memberitahukan tentang salinan itu saat Indah keluar lebih awal. Untunglah kertas salinan jawaban yang diberikan Indah tidak tertinggal dikelas dan di bawa Anik ke luar kelas dan memberikannya pada Ika.


Nurika


Panggilan Nurika di ganti oleh Indah atas permintaan Ika sendiri. Dulu teman sekelas saat SD memanggilnya dengan sebutan Nurika karena ada Faika yang juga dipanggil Ika. Karena Faika tidak lagi satu sekolah dengan mereka, maka teman – teman dari SD yang sama mengembalikan panggilan Nurika menjadi Ika.



Di luar kelas :


“Makasih ya!” Dayat berdiri di depan Indah mengucapkan terima kasih karena iya pun ikut menyalin jawaban yang diberikan Indah pada Anik.


“Iya” Jawab Indah singkat.


“Seharusnya kamu berterima kasih sama aku, bukan sama Indah!” Anik berbicara ketus pada Dayat.


“Bukankah jawaban itu datangnya dari Indah?” Dayat meminta penjelasan dengan memandang keduanya secara bergantian.


“Iya, memang jawaban itu dari Indah! Anik yang menjawab pertanyaan Dayat


“Berarti benar donk, aku bilang terima kasih sama Indah bukan sama kamu!”


“Tapi walaupun jawabannya dari Indah kalau aku ga mau berbagi, kamu mau apa?” Anik menyanggah Dayat sambil memajukan bibirnya.



“Sudahlah, kenapa harus ribut sih!” Indah melerai dua temannya. “Aku senang bisa membantu kalian!” Lanjutnya.


Di kelas, Ika juga tidak sendiri menyalin jawaban yang diberikan Indah. Ika juga berbagi dengan teman – temannya yang membutuhkan.


Usai ulangan.



Bu Muna keluar kelas membawa lembar jawaban siswa diikuti kelompok kedua di belakangnya yang hendak istirahat ke kantin atau sekedar duduk di depan ruang kelas.



Banyak pula teman laki –laki Indah yang mengucapkan terima kasih pada Indah. Tak hanya Indah yang pintar, tapi terkadang anak yang pandai tidak mau berbagi jawaban dengan teman – temannya.