My Brother

My Brother
Satu Minggu saja! (2)



Saat survei dilakukan ke rumah masing - masing, Indah dan Bu Sri mengatakan dengan sejujurnya, apa yang mereka alami dan kerugian apa saja yang harus mereka tanggung. Sedangkan Anik dan keluarganya merasa tidak perlu mendapat bantuan apapun hanya saja mereka meminta ganti kerugian pangan.


"Mohon maaf, Bapak kami tidak membutuhkan bantuan apapun kecuali bahan pangan kami yang tidak sempat diselamatkan dan terendam banjir!" Begitu Ibu Anik menjelaskan pada salah satu guru yang mendapat tugas mensurvei.


Bukan tak ingin memberi ganti rugi, namun sayangnya kerugian pangan yang dialami keluarga Anik bukan sasaran program bantuan yang direncanakan oleh sekolah, sehingga kerugian tersebut bukan tanggung jawab sekolah.


Flashback Off


Bel pertanda istirahat kedua, berbunyi. Indah berniat memenuhi janjinya pada Halim. Namun saat Ia menoleh ke belakang, Halim sudah tidak berada di bangkunya. "Kemana Dia?" Gumam Indah.


Seolah mengerti situasi, teman - teman Indah keluar kelas tanpa mengajaknya. Indah keluar kelas, di bangku panjang, di depan kelas Halim duduk sendiri.


Dengan canggung, Indah berjalan melewati Halim. "Duduklah! Aku menunggumu!" Ucapnya.


Indah menghentikan langkahnya dan duduk serta di sebelah Halim dengan jarak yang agak jauh.


"Bagaimana jawabanmu?" Langsung saja menurut Halim tanpa mau berbasa - basi lagi.


"A - ku ....


"Kau menolak ku, 'kan?!" Belum selesai kalimat Indah, Halim langsung memotongnya.


"Tidakkah kau memberiku kesempatan? Satu Minggu saja!" Lanjutnya.


Mendengar permintaan Halim, Indah berpikir sejenak kemudian berkata "Sejak kapan Kau jadi peramal? Bahkan Aku belum selesai bicara, Kau sudah memotongnya!"


"Aku bukan peramal, tapi Aku siap kecewa dengan penolakan mu!


Aku tau terlalu sulit menggapai cintamu, tapi Aku mencintaimu! Aku pikir tak ada salahnya memperjuangkan apa yang ingin Aku miliki sebelum akhirnya kita kalah atau mungkin kita lah yang justru akan jadi pemenangnya!" Jawaban panjang kali panjang keluar dari si bucin meski kepalanya tertunduk memandang kakinya sendiri.


"Lalu, apa mau mu sekarang?" Tanya Indah.


"Aku mau kau memberi ku kesempatan, meski hanya satu Minggu saja!" Jawab Halim masih dengan sikap sebelumnya.


"Maaf!" Hanya itu kata yang keluar dari bibir mungil Indah.


"Baiklah, Terima kasih atas jawabanmu!" Halim hendak pergi meninggalkan Indah. Namun tiba - tiba langkahnya terhenti, karena Indah memegang pergelangan tangan Halim. Ia berbalik menghadap Indah.


"Ada apa, hemmm?"


"Aku belum selesai bicara, main kabur saja!" Indah memiringkan kepalanya.


"Maaf, jika Aku hanya bisa memberimu waktu satu Minggu!" Giliran Indah yang menundukkan kepala dan melepas perlahan tangan Halim


Byarrrrrr


Hati Halim bak di siram air dingin. Merinding Cak? Ga usah ditanya, jawabannya pasti Iya. Senyum terkembang di bibir si Hitam manis.


"Terima kasih atas kesempatannya! Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu!" Halim menangkup wajah Indah dengan kedua tangannya.


Indah menurunkan tangan tersebut membuat si empunya tangan menggenggam tangan Indah. "Kita makan bareng ke kantin yuk!" Ajak Halim.


"Baiklah, tapi lepaskan dulu genggaman tanganmu!" Indah menolak pegangan tangan Halim dengan manja untuk menjaga perasaannya. Mereka berjalan berdampingan tanpa pegangan tangan.


Di kantin sekolah.


Tak ada yang tau hubungan Indah Halim, termasuk Ana. Mereka menganggap kedekatan keduanya sebatas teman biasa. "Tumben nih, barengan berdua?" Cetus Ana.


"Ya... Mau gimana lagi, Hanya Indah seorang yang tersisa di kelas. Makanya aku ajak Dia ke sini!" Jawab Halim melirik Indah yang duduk di dekat Ana.


"Jangan bilang kalo kamu sudah mengambil hatinya!" Bisik Dayat di telinga Halim agar tidak terdengar yang lain.


"Sedang!" Jawab Halim singkat.


"Semoga tidak berhasil, Karena saat kau gagal maka Akulah yang akan mengisi hatinya!"


"Kau tak pandai bercanda! Tak mungkin kau tinggalkan Safia mu demi mendapatkan Indah ku! Safia terlalu banyak berkorban demi mendapatkan cintamu!" Ucap Halim dalam mood berbisik menanggapi ancaman Dayat.


"Pesan apa?" Tanya Halim pada Indah.


"Bakso saja!" Jawab Indah.


"Tunggu sebentar ya, Aku pesankan!" Halim. Ia berlalu mendekati si Ibu Kantin untuk memesan dua porsi Bakso dan Es jeruk kesukaan Indah. Tak lama pesanan mereka datang.


"Kok cuma dua porsi? Aku mana?" Celetuk Ana.


"Tuh, pesanan mu dah habis!" Tunjuk Halim ke mangkok bekas makan Ana membuat Ana nyengir kuda.


Sepasang sejoli menyelesaikan makannya tanpa suara dan menghiraukan teman - teman yang lain.


"Boleh Aku ke rumahmu nanti malam?" Halim memandang sendu wajah Indah.


"Apa harus?" Tanya si cewek.


"Tak harus datang, tapi wajib bagiku menanyakan padamu terlebih dulu!" Sahut Halim penuh harap.


"Datanglah selepas Isya'!" Pinta Indah.


"Terima kasih atas kesempatannya!" Halim begitu senang.


"Apa tak ada kalimat lain selain Terima kasih atas kesempatannya?" Sindir Indah.


"Oh ya, Terima kasih atas kesempatannya!" Ulang Halim.


"Ya ampuuuun!" Indah menutup telinga berlari pelan menjauhi Halim dan kembali ke kelas.


"Ayo, Aku bantu bawa barang mu di ruang konseling!" Ajak Dayat. Saat itu posisi Dayat membelakangi pintu. Namun ketika Indah hendak menjawab. Ada Safia yang berdiri di depan pintu kelas mereka. Tatapan mata Indah diikuti Halim yang sejak bel berbunyi berdiri di sampingnya.


"Biar Aku saja!" Sahut Halim.


"Aku sudah berjanji pada Indah untuk membawakannya pulang!" Day tetap pada pendiriannya.


"Biarkan Aku yang mengantar Indah pulang dan ............


"Ayo, Ha!" Indah menarik tangan Halim dan berjalan cepat melewati Day. Melewati Safia yang juga berdiri di pintu masuk.


"Jangan panggil aku Ha, Sayang!" Halim sengaja memanggil sayang di dekat telinga Safia agar tak terjadi salah paham antara Safia dengan Indah kekasihnya.


Day berbalik dan menggaruk tengkuknya bingung melihat Safia sedang menunggunya untuk pulang bersama.


"Su - sudah lama menungguku?" Tanya Day gugup.


"Sudah lama kita pacaran, tapi sampai sekarang pun aku sama sekali tak tau panggilan mu padaku! Jangankan panggilan sayang, menyebut namaku saja kau tak pernah!" Protes Safia.


"Apa kau sudah lama menungguku?" Tanya ulang Day.


"Sejak kau berdiri dari tempat duduk mu dan menghampiri Indah!" Jawab Safia datar.


"Ayo pulang!" Ajak Day pada kekasihnya yang sedang merajuk dingin. Meski Safia sedang merajuk, Day sama sekali tak ingin menggandeng tangan kekasihnya itu.


Sementara di ruang BK, Indah, Halim dan Ana berada di sana untuk membawa pulang barang - barang Indah.


"Apa perlu saya antar ke rumah kamu, Indah?" Pak Santo wali kelas Indah menawarkan bantuan.


"Tidak perlu, Bapak! Terima kasih atas tawarannya, biar saya dan teman - teman yang membawanya!" Tutur lembut Indah diikuti anggukan sopan Ana dan Halim.


"Baiklah jika begitu, Bapak pamit pulang ya! Assalamualaikum!".


"Waalaikum salam!" Jawab mereka serempak.


Author rasa tak hanya Indah yang bosan dengan kalimat Halim. Para readers juga akan protes di kolom komentar.