
Terjadi adu mulut diantara keduanya, wajah Rahmat semakin memerah karena tanggapan - tanggapan Indah yang seolah dirinya tak merasa bersalah. Entah apa yang merasuki mu, Rahmat hingga kau segitu marahnya pada Indah. Apa kau mulai jatuh cinta pada Indah? Tak lupa Ana merekam kejadian itu dengan aplikasi video yang ada di ponselnya.
"Aku mencintaimu, Indah!" Wow, hatiku meleleh mendengarnya. Cowok tampan, tinggi, putih bersih menyatakan cinta pada gadis tomboi. Hey, saudaraku! Banyak gadis cantik di luar sana. Bukan Indah tak cantik, tapi yang lebih cantik masih banyak. Kenapa harus Indah?
Mungkin jika cewek lain yang mendapatkannya, mereka akan meleleh. Tapi tidak dengan Indah karena ia hanyalah seorang kekasih gelap bagi Rahmat.
"Tak ada ruang untuk ku simpan namamu di hatiku!" Jawab Indah dingin.
"Kenapa?" Tanya Rahmat mulai merendahkan suaranya.
"Karena tak ada ruang untuk kau simpan namaku di hatimu?" Jawab Indah dingin sedingin salju.
"Maksud kamu?" Tanya Rahmat penasaran. Baru kali ini ada cewek menolak cintanya.
"Bukankah ruang di hatimu sudah terisi dengan satu nama? Maka tak ada ruang lagi untuk kau simpan namaku di sana?" Sahut Indah ketus.
Apa Indah tau tentang hubunganku dengan Nova? Gumam Rahmat dalam hati.
"Ya, Aku telah mengetahui hubungan mu dengannya. Kau jadikan dia kekasih pujaan hatimu. Sedangkan aku? Aku hanya kau jadikan jongos, untuk menulis catatan mu dan menyelesaikan semua PR mu sementara kau asyik - asyiknya berkencan mesra dengan kekasih pujaan hatimu itu!" Indah seolah bisa menebak isi hati Rahmat.
"Satu nama yang kau tuliskan di hatimu, yaitu N - O - V - A. Ya, NOVA teman sekelas mu itu!" Aku tau, Aku tak bisa menyaingi kepandaiannya. Pun dengan kecantikannya. Maka dari itu Aku mengalah, karena tak mungkin jika aku menggantikan namanya di hati mu. Jika kau menginginkannya dengan syarat kau adalah cowok pintar, maka kau harus bisa mendapatkannya dengan usahamu sendiri bukan dengan memanfaatkan kepandaian orang lain, yaitu AKU!" Indah berbicara panjang kali lebar dan penuh penekanan.
"Ta - tapi Indah ....
"Kita sudahi hubungan ini sebelum ada yang tersakiti." Lanjut Indah kemudian pergi meninggalkan Rahmat yang termangu mendengar kenyataan yang baru saja disampaikan oleh Indah.
"Ayo pulang!" Indah menepuk bahu Ana dari belakang.
Saat Indah bicara dengan Rahmat, ia merekam semuanya tanpa jeda. Hingga pembicaraan sahabatnya selesai, Ana masih diam melihat ekspresi wajah Rahmat saat Indah mengungkap semuanya.
"Eh, iya, Ayo!" Jawab Ana gugup. Mereka pulang bersama mengayuh sepeda masing - masing tanpa suara.
Disisi lain, Rahmat pulang dengan perasaan gundah gulana.
Flashback on
Kenapa rasanya aku ingin marah saat melihat Indah mesra bersama laki - laki lain? Apakah ini yang dinamakan cemburu?
Tapi ini tidak mungkin, karena aku sama sekali tidak tertarik pada Indah. Hanya karena kepintarannya, aku memanfaatkan Indah untuk mendapatkan hati Nova*. Rahmat berpikir tentang rasa yang tumbuh terhadap Indah, namun ia ingin memperjuangkan Nova kekasihnya.
Nova adalah teman satu Sekolah Dasar dengan Indah. Ia memang tergolong anak yang pandai sehingga teman - temannya merasa tak percaya diri berteman dengannya, termasuk Indah.
Saat ini pun Rahmat ingin sekali mengejar cinta Nova. Rahmat berpikir jika Nova hanya akan mencintainya jika Rahmat selalu mendapatkan nilai tinggi. Untuk itu ia memanfaatkan Indah agar mengerjakan semuanya.
Rahmat sama sekali tidak merasa cemburu saat Nova mengobrol bahkan bercanda dengan teman - teman yang tentunya mereka anak - anak yang pandai, meski beberapa dari mereka laki - laki. Salah satunya adalah Bobi.
Sedangkan ketika melihat kebersamaan Indah dan Fathur malam itu membuat Rahmat mendadak hipertensi. Darahnya seolah mendidih hingga 100°C.
Flashback Off
Apa ini? Kenapa Aku jadi ga rela kehilangan Indah? Gumam Rahmat. Pasalnya, ia sangat terpukul saat Indah mengatakan agar mengakhiri hubungan diantara mereka sebelum ada yang tersakiti. Bak Senjata makan tuan, Rahmat lah yang sekarang merasa tersakiti oleh ulahnya sendiri.
"Kenapa liatin aku gitu?" Ucap Indah dengan menaikkan satu alisnya.
"Kamu?" Ana melihat lebih dalam netra Indah.
"Hahahaha, Apa aku harus kecewa, marah, sedih, berduka gitu?" Tanya Indah meledek Ana yang kebingungan melihat senyum dan tawa Indah.
"Hmmmmmh, emang dasar ga bisa ditebak" Gumam Ana tapi masih bisa di dengar jelas oleh Indah.
"Hey, Aku bukan psyco tau!" Ucap Indah memonyongkan bibir.
"Apa harus aku jelaskan lagi dari awal?" Tanya Indah. Ana langsung menggelengkan kepalanya meski ia penasaran dengan apa yang ada di hati dan pikiran sahabat yang satu itu hingga ia bisa tertawa lepas.
"Kemarikan ponselmu!" Indah menengadahkan tangan meminjam ponsel Ana. Indah membuka kunci layar ponsel Ana dengan lihai karena ia tahu Ana menggunakan tanggal lahirnya.
Indah langsung menonton video kejadian dirinya dengan Rahmat. Sementara Ana menggelengkan kepala melihat tingkah Indah yang senyum - senyum sendiri melihat video dirinya.
"Tau dari mana kalau aku merekam insiden itu?" Tanya Ana setelah Indah selesai dan mengembalikan ponsel ke pemiliknya.
"Kau tak pandai menyembunyikannya dariku." Jawab Indah sambil menarik hidung Ana.
"Aw, Sakit!" Ana merajuk sambil mengusap hidungnya. Membuat Indah tertawa geli.
Indah masuk ke dalam rumah, mencari ibu Ana. "Bu, Aku ajak Ana keluar sebentar ya?" Ujarnya meminta ijin.
"Iya!" Jawab si Ibu yang kemudian mengikuti langkah Indah untuk menggantikan anaknya menjaga toko.
Indah dan Ana memilih pergi ke Taman untuk menikmati keindahan lampu kota yang berwarna warni dengan berbagai model tiga dimensi.
Mereka bertukar pendapat di sana. Tak lupa beberapa bungkus camilan menemani mereka. Tak lupa pula Indah menceritakan keadaan hatinya pada Ana.
Andai saja Indah tak tau dari awal tentang rencana Rahmat, mungkin ia akan sedih dan kecewa. Namun sebaliknya, ia bisa tersenyum bahkan tertawa seperti tidak terjadi apa - apa.
"Ooooo!" Mendengar penjelasan Indah, Ana menjadi paham apa yang ada di hati dan pikiran Indah.
Sepulang dari Taman, Indah langsung membersihkan diri dan naik ke tempat tidur. Tak butuh waktu lama untuk bisa sampai ke pulau mimpi. Tak butuh waktu lama pula Indah tidur malam ini, karena tepat pukul dua dini hari Indah terbangun dan melaksanakan shalat malam. Setelah itu, Indah membuka bukunya untuk mengerjakan tugas yang kemarin belum sempat ia kerjakan.
Indah terlelap bersama buku pelajarannya. Saat masuk waktu Subuh, Pak Yusuf perlahan membuka pintu kamar Indah dan membangunkannya dengan lembut.
Tanpa menunggu lama, Indah bangun dan menyegerakan Shalat.
**Jangan lupa like n komentar ya, Kak!
Thank you**!