My Brother

My Brother
Rasa apa?



Indah menerima uluran tangan Halim dan menggandengnya. Mereka keluar Kafe bergandengan tangan mesra. Ingat ya, Ha sekedar saling berpegangan tangan, tidak lebih.


Lalu bagaimana dengan kisah dua sejoli yang sejak tadi menjadi penonton setia pasangan romantis Indah dan Halim?


"Yang, Aku ingin seperti mereka!" Safia mengungkapkan keinginannya.


Dayat tak bisa menjanjikan kebahagiaan yang sama yang dilakukan Halim pada Indah. Ia sadar bahwa dirinya hanyalah anak kedua dari empat bersaudara dengan kedua orang tua yang hanya berjualan kelapa di pasar. Halim memang bukan anak orang berada, namun keadaan ekonomi orang tuanya lebih mampu daripada orang tua Dayat. Kakak Halim pun berhasil menjadi ASN Guru Sekolah Dasar sehingga mampu membiayai sekolah adik - adiknya serta memberikan uang jajan mereka.


"Bukan masalah barangnya, tapi kasih sayang dan perhatian yang Halim berikan untuk Indah itulah yang aku mau darimu, Yang!" Lanjut Fia yang mengerti keadaan kekasihnya. Bahkan malam itu Safia yang membayar makanan mereka berdua. Tak ada respon dari Dayat. Ia hanya menundukkan kepala.


Tepat pukul sembilan malam, mereka telah tiba di rumah Indah. Halim tak lupa membelikan buah tangan untuk Ibu dari kekasihnya itu.


Ingat ya, Kak! Ibu dari kekasihnya. Halim tak berani menyebutnya sebagai calon mertua karena usia mereka yang masih belia. Bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti mereka bertemu dengan lelaki tampan yang membuat Indah jatuh cinta dan berpindah ke lain hati. Begitu pula dengan Halim jika bertemu dengan wanita yang cantik, menarik dan punya daya tarik, ia akan tertarik untuk meninggalkan kisah cinta yang dimulai malam ini.


"Aku pulang ya, Sayang! Assalamualaikum!" Pamit Halim setelah menurunkan Indah.


"Iya, hati - hati di jalan! Waalaikum salam!" Sahut Indah kemudian masuk rumah setelah Halim menghilang dari pandangannya.


❤️❤️❤️


"Dari mana saja?" Tanya Ibu Hidayat saat putra keduanya masuk rumah.


"Dari rumah teman, Bu!" Jawabnya sambil meraih tangan sang ibu dan menciumnya.


"Adikmu bilang kau pergi di jemput seorang gadis, benarkah?" Pertanyaan ibunya dengan tatapan tajam penuh arti.


"Iya, Bu!" Dayat menjawab setiap pertanyaan ibunya dengan nada rendah dan sopan.


"Kita ini orang tak punya, jangan terlalu dekat dengan gadis anak orang kaya. Ibu tidak mau anak - anak Ibu di hina, karena keadaan kita. Terlebih kau masih terlalu muda untuk berpacaran!" Nasehat Bu Ipah.


"Baik, Bu!" Sahut Dayat menundukkan kepala, kemudian melangkah menuju kamar.


Bukan Aku yang menginginkan Safia menjadi kekasihku, tapi ia yang terlalu banyak berharap padaku membuat aku kasihan dan menyatakan cinta. Dayat memikirkan ucapan sang Ibu yang bertolak belakang dengan kisah cintanya.


Day terbuai dalam mimpinya yang mengkisahkan cintanya. Namun sayangnya gadis yang ada dalam mimpinya bukanlah Safia melainkan Indah.


Dayat terbangun saat jam menunjukkan pukul dua dini hari. Ia melaksanakan shalat malam dan berdoa untuk kebahagiaan kedua orang tuanya. Usai memanjatkan doa pada Sang Khalik, Dayat merebahkan diri di atas tempat tidur. Mengingat mimpi yang baru saja ia alami. "Kenapa bukan Fia yang hadir dalam mimpiku? Mimpi yang begitu Indah, bersama Indah! Tapi rasanya itu tidak mungkin terjadi, karena Halim sudah menjadikan Indah miliknya. Kalau pun Aku berkesempatan memiliki hati Indah, Apakah aku sanggup memberikan Apa yang Halim berikan untuknya?" Pergerakan Eko membuat Dayat tersadar dari lamunan panjangnya.


"Apaan sih, pake' acara nendang segala?" Ucapnya. Meski begitu Eko tidak mempedulikannya, karena ia masih terbuai dalam mimpi Indahnya mengikuti latihan karate.


"Hai, ngapain melamun sendiri?" Halim tersenyum sumringah menepuk pundak Dayat yang duduk sendiri.



"Tak apa, hanya menunggu yang lain datang!" Jawabnya.



Satu per satu teman sekelas mereka datang, namun kali ini Indah tidak ada di antara mereka hingga sang guru agama masuk kelas.



"Ya Allah, dimana Indah?" Halim yang menyadari ketidak hadiran sang kekasih mulai panik. Ia mencoba menghubungi Indah. Panggilan tersambung namun tidak ada jawaban.



"Sayang, kamu dimana?" Gumam Halim yang terdengar oleh Dayat.



"Apa Indah yang kamu maksud?" Dayat bertanya dengan nada terkejut dan seketika langsung menutup mulut.



"Apa kau juga mengkhawatirkannya?" Halim mengerutkan kening posesif. Ia mulai cemburu saat ada laki - laki lain mengkhawatirkan kekasihnya.



"Bu - bukan begitu. Biasanya Indah selalu datang lebih pagi dari kita. Tapi hari ini . . . .



"Indah ada di Musholla sekolah!" Jawaban sang guru agama membuat keduanya bungkam.



"Oh, terima kasih informasinya, Pak!" Ucap keduanya bak anggota Paduan Suara Gita Pesona.




"Tapi, Pak! Bagaimana dengan Indah?" Protes Naura yang peduli dengan sahabatnya.



"Tak perlu di jelaskan juga Indah akan paham dengan sendirinya. Lagian tadi sudah sedikit bapak bahas saat ia dan Ana membantu bapak di Mushola". Jelas Pak Zainal, Naura mengangguk paham.



Usai menjelaskan perihal ujian Praktek Agama, Pak Zainal menggiring siswanya ke Mushola. Di sana sudah ada Indah dan Ana.



Indah memilih melaksanakan ujian lebih awal dari teman - teman yang lain. Selain memang sudah siap, sang guru juga menguji siswa tidak berdasarkan urutan absensi kelas.



Lagi - lagi, sepasang mata mengamati pergerakan Indah, tapi kali ini bukanlah Desi melainkan Dayat. Memang seperti biasa ia memperhatikan Indah, tapi kekagumannya bukan lagi sebagai sahabat.



*Rasa apa ini, ingin rasanya aku memiliki Indah*? Batin Dayat.


Ujian hari ini telah selesai.


"Indah, Ana, bolehkah Aku bergabung dengan kalian?" Ujar Naura. Ana melirik Indah meminta persetujuan.


"Kenapa tidak!" Jawab Indah singkat. Mereka lalu pulang bertiga.


Di tempat parkir, seseorang dari kelas lain menyapa Naura. Siapa lagi kalau bukan Wati.


"Ra, Kita pulang bareng ya!" Wati mengajak Naura dengan senyum palsunya.


"Ya!" Naura menjawab malas. Indah dan Ana saling pandang bingung dengan sikap Naura pada Wati. Keduanya menyimpan banyak pertanyaan dalam hati, tapi tak berani bertanya.


"Indah, Ana, kita mampir ke kedai es cendol ya!" Naura memelankan sepedanya. Diikuti Indah dan Ana.


"Kau boleh pulang duluan, Wati!" Lanjut Naura pada Wati, namun si empunya nama menolak ucapan Naura.


"Aku pulang bareng kamu aja!" Jawabnya.


Tanpa merespon ucapan Wati, Naura berhenti di kedai es cendol. Di sana ia memesan empat gelas es cendol.


"Indah, uangku habis!" Bisik Ana di telinga Indah.


"Ada Aku!" Balas Indah.


Mereka menghabiskan es cendol tanpa banyak kata.


"Berapa, Bu?" Tanya Naura.


"Tiga ribuan, Non!" Jawab si penjual es cendol yang notabene nya mantan ART di rumah Naura.


"Saya bayar tiga ya, Bu!" Naura menyodorkan uang sepuluh ribuan pada Bu Dyah


"Naura, biar Aku yang bayar punya ku dan Ana!" Indah mencegah Naura membayar minumannya dan Ana.


"Aku yang ajak kalian, maka aku yang harus mentraktir kalian!" Sahut Naura.


"Bayarin Aku aja!" Cetus Wati.


"Aku ga ajak kamu, jadi aku ga berkewajiban membayar es cendol mu!" Ketus Naura.


"Kalau begitu, kamu saja yang bayar punyaku!" Wati merampas uang yang ada di tangan Indah dan memberikannya pada Bu Dyah. "Sekalian bungkus dua lagi ya, Bu!" Titah Wati dengan angkuhnya, kemudian pulang lebih dulu meninggalkan ketiga orang yang melongo melihat sikapnya.


"Dasar matre!" Umpat Naura yang tak dihiraukan Wati.


"Maafin aku ya, Ndah, Na!" Ungkap Naura.


"Tak apa, lupakan saja!" Sahut Indah dengan senyum ikhlas nya.


🤝🤝🤝