
Indah berjalan menuju tempat Anik dan Wahid duduk, disusul oleh Fathur yang juga bergabung dengan mereka.
“Wuoy, tak mare yeh?” (“Wuoy, belum selesai ya?) Anik bertanya pada Ika dan Ibrahim sambil berteriak karena tempat duduk mereka yang agak jauh.
Sementara Indah tersenyum tipis melihat tingkah Anik yang berteriak sambil berdiri. Fathur melayangkan senyum dan mencuri pandang ke arah Indah.
“Gabung dengan mereka yuk!” Ajak Ika pada Ibrahim
“Yuk!” Ibrahim mengiyakan ajakan Ika dan mereka berjalan menuju tempat teman – temannya berkumpul. Mereka senyum malu – malu kucing menghampiri teman – temannya.
“Cie cie... yang baru jadian!” Ledek Anik pada kedua sahabatnya, Ika dan Ibrahim.
“Apaan sih!” Ika tersenyum malu.
“Pulang yuk!” Indah mengajak semuanya untuk pulang.
“Yuk!” Jawab yang lainnya serempak bak paduan suara tanpa komando.
Para cewek pulang dengan sepeda masing – masing sedangkan cowok – cowok itu lebih memilih pulang ke kosan Ibrahim dengan berjalan kaki sembari membagi cerita tentang kejadian yang baru saja mereka alami.
Ibrahim menceritakan bahwa dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama, begitu pula dengan Ika kekasihnya sehingga mempermudah proses jadiannya dengan Ika.
Ibrahim kemudian bertanya pada Fathur sahabatnya apakah Fathur juga resmi berpacaran dengan Indah. Namun Fathur menjawab dengan kata tidak.
Sebenarnya Fathur juga jatuh cinta pada pandangan pertama, namun ia tak berani mengutarakannya pada Indah karena ia baru mengenal sosok Indah yang dingin sedingin es. Fathur juga tidak mau cinta pertamanya ditolak. Dia memilih untuk mengenal Indah lebih dekat kemudian menyatakan cintanya.
Sore hari Indah pergi mengunjungi nenek Rifa. Indaaaaaah, nenek Rifa yang berdiri di dekat pintu langsung memeluk cucu kesayangannya dan mencium kening Indah.
Rasa rindu yang dirasakan nenek Rifa kini sudah terobati. Bukan karena jarak yang jauh, bukan pula karena Indah tak menyayangi neneknya, namun karena Indah sibuk dengan kegiatan sekolahnya membuat dirinya jarang bertemu nenek Rifa.
Setelah nenek Rifa melepaskan pelukannya, Indah berbalik ingin mencari keberadaan Abil di kamarnya.
Buuuuk, Aw!
Indah menabrak tubuh Abil yang tanpa ia sadari sudah sejak tadi berdiri di belakangnya. Abil meringis karena dada bidangnya ditabrak keponakan tersayang.
“Om, jalan – jalan yuk!” Indah langsung mengajak Abil pergi.
“Om ga usah khawatir dech, Indah bisa kok traktir Om makan sepuasnya tanpa Ayah” Indah mengedipkan kedua matanya ke arah Abil
“Sombong kamu! Dapat dari mana kamu uang?” Abil heran karena tak biasanya Indah di beri uang banyak oleh ayahnya.
“Nanti ya, aku ceritain. Sekarang kita berangkat dulu!” Indah bergelayut manja.
Mereka berangkat menuju taman kota yang di sekelilingnya terdapat pedagang kaki lima yang menjual makanan. Abil dan Indah memilih sebuah bangku taman yang dekat dengan penjual nasi goreng dan bakso. Mereka memeilih makanan kesukaan mereka masing – masing.
“Dari mana kamu dapat uang? Sok traktir Om lagi!” Abil kembali bertanya sambil menunggu pesanan mereka datang.
“Aku di kasih sama ayah, katanya buat liburan. Tapi aku bingung mau kemana,om!” Indah menceritakan perihal uang yang dibawanya saat ini.
“Ooooooo!” Abil menganggukkan kepala, ia menyimpulkan bahwa kakaknya memberikan uang itu pada Indah karena liburan sekaligus hadiah atas keberhasilan Indah mendapat peringkat dua di kelasnya. Abil mengetahui hal itu karena kakaknya sendirilah yang menceritakan padanya namun Pak Yusuf tidak memberitahukan rencananya memberikan sejumlah uang pada Indah.
💐💐💐
Terima kasih untuk para reader yang masih setia menunggu up "My Brother" ini.
Semoga kebaikan para reader mendapat balasan seribu kebaikan.
ditunggu like, komentar and votenya agar author tetap semangat!!!
Thanks a lot😘😍🥰