My Brother

My Brother
Bertemu (2)



Mungkin kasih sayang ibu menjadi satu-satunya hal yang abadi sepanjang hidup manusia di dunia ini. Mungkin banyak dari kita yang terkadang merasa jengkel dengan sosok seorang ibu karena sosoknya yang terkadang suka cerewet atau suka marah-marah, dan mungkin jarang terdengar kata bijak ibu untuk anak yang diucapkan langsung.


Namun bagi ibu, tidak ada yang lebih berharga dibandingkan kebahagiaan dan kesuksesan anak-anaknya di masa yang akan datang.


Kasih sayang ibu memang tidak berwujud, dan terkadang jarang terucap. Tetapi terkadang kata bijak ibu untuk anak merupakan luapan emosi baik senang, sedih bahkan marah, yang semuanya di bungkus dengan rasa sayang kepada anaknya.


Kata bijak ibu untuk anak bukanlah hal yang langka sesungguhnya, namun hal ini seringkali tidak disadari oleh ibu karena kata bijak ibu untuk anak selalu mudah saja terucap dengan tulus, bahkan ibu tidak berpikir betapa mulianya kata bijak ibu untuk anak yang di ucapkannya.


❤️❤️❤️


"Assalamualaikum!" Ucap Bu Ifa saat berdiri di depan pintu rumah Pak Yusuf.


Deg, Jantung Indah seolah berhenti berdetak. Bukan hanya kehadiran Ibnu yang membuatnya kaget, pun dengan kehadiran sang ibu kandung.


"Wa - Alaikum salam!" Jawab Indah gugup.


Ingin rasanya Bu Ifa memeluk putri kecilnya, namun ia ingat akan pesan Paman Syah.


"Apa ibumu ada di rumah?" Bu Ifa.


"Ada, Silahkan masuk!" Sahut Indah kemudian mempersilahkan mereka bertiga duduk.


"Bu, ada tamu!" Panggil Indah.


"Siapa?" Tanya Bu Sri membuat Indah bingung harus menjawab apa.


"Ibu temui saja dulu, biar Indah yang membuatkan minuman untuk mereka!" Sahut Indah mengalihkan pembicaraan.


Bu Sri melihat dan menemui tamunya, kemudian menyalami Bu Ifa yang sudah dipersilahkan duduk oleh Indah. Ibnu dan Toni juga ikut mencium punggung tangan Bu Sri.


Di dapur, Indah membuatkan minum untuk tamunya. Sambil menunggu air mendidih, pikiran Indah berkecamuk antara benci dan rindu.


Antara memanggil Bu Ifa dengan sebutan Mama atau Bude. Sejak kecil Bu Sri mengajarkan Indah untuk memanggil Bu Ifa dengan sebutan Bude.


Aku harus panggil apa? Mau panggil Mama seperti Mas Ibnu, Aku khawatir Ibu dan Ayah kecewa padaku. Bagaimana perasaan seorang Ibu yang telah melahirkanku jika anak. yang dilahirkan menyebutnya dengan panggilan Bude? Indah bergumam dalam kebingungannya.


"Indah!" Panggilan Pak Yusuf membangunkan lamunannya.


"Eh, Iya, Ayah!" Sahut Indah terbata.


"Buat apa masak air?" Tanya Pak Yusuf yang baru datang dari belakang rumah memberi makan ayam - ayamnya. Beliau pun tak mengetahui jika ada tamu di rumahnya.


"Ada tamu di depan, Ayah!" Jawab Indah. Pak Yusuf segera membersihkan diri dan menemui tamu istrinya yang tak lain adalah Bu Ifa dan kedua anaknya.


Ayah menatap tajam Bu Ifa. Bukan karena benci, tapi karena tak ingin anak gadisnya diambil oleh Bu Ifa.


"Apa kabar, Dik Yusuf?" Sapa Bu Ifa.


"Alhamdulillah, baik!" Jawab Pak Yusuf dengan senyum terpaksa karena ada Indah menyuguhkan minuman dan cemilan.


"Ma, Apa itu yang namanya Kak Indah?" Suara Toni membuat mereka saling pandang.


"I - iya, Nak!" Jawab Bu Ifa yang mengerti tatapan tajam Pak Yusuf.


"Aku rindu kakak perempuanku!" Toni memelas.


"Bu Ifa tak mampu menjawab. Dilema melanda Bu Ifa. Jika ia mengijinkan Toni menemui Indah, dia khawatir Pak Yusuf tak memberi izin dan memarahinya. Sebaliknya, jika ia tak memperbolehkan, maka Toni akan bersedih sepanjang hari itu.


Tanpa sepengetahuan Bu Ifa, Bu Sri meminta izin pada Pak Yusuf melalui pandangan netranya. Perlahan Pak Yusuf mengangguk setuju.


"Bermainlah dengan Kak Indah, Dia ada di kamarnya!" Sahut Bu Sri sembari menunjukkan kamar Indah yang berada tak jauh dari ruang tamu. Mendengar kalimat Bu Sri, Toni langsung masuk tanpa permisi ke kamar Indah.


Toni melihat sekeliling kamar Indah yang di desain dominan dengan warna biru membuat Toni senang bermain di kamar Indah. Sementara para orang tua, juga Ibnu tetap berada di ruang tamu. Entah apa yang mereka bicarakan. Author juga tidak tau. Yang pasti tak sedikitpun mereka berbicara tentang status Indah dalam keluarga.


"Kak, Apa kakak tidak merindukan adikmu ini?" Toni membuka pembicaraan.


Apa maksudnya dia adikku? Bukankah Faika pernah mengatakan bahwa Aku hanya punya kakak yaitu Mas Ibnu? Indah bertanya dalam hati.


"Kak, kenapa Kak Indah tidak menjawab?" Tanya Toni lagi.


Cerewet sekali anak ini! Indah masih bergumam dalam hati.


"Bermainlah dulu, Aku mau ke kamar mandi!" Jawabnya dan berlalu keluar kamar.


Toni kecewa dengan jawaban serta kepergian Indah. Melihat Gadis kecilnya keluar kamar, Pak Yusuf mengikuti Indah yang ternyata tidak pergi ke kamar mandi melainkan duduk di kursi yang berada di belakang rumah.


"Kamu kenapa?" Tanya Pak Yusuf membelai rambut Indah.


"Kenapa dia mengaku sebagai Adikku, padahal aku tak suka punya Adik!" Jawab Indah datar.


Memang sejak kecil, Indah menyukai anak kecil seperti halnya pada Dita. Namun di sisi lain, Indah tak pernah menginginkan punya adik sendiri.


Indah tak suka jika melihat seorang adik terlalu di manja oleh kakak - kakaknya, terlebih oleh kedua orang tuanya.


Pak Yusuf menanggapi kesedihan Indah dengan belaian kasih sayangnya. "Sayang, Kakak itu tidak selalu digunakan oleh saudara atau adik. Sebutan tersebut bisa juga digunakan seseorang yang lebih muda pada orang lain yang lebih tua meskipun kalian bukan saudara. Sama seperti halnya Indah memanggil anak laki - laki Pak Surya dan Pak Hidayat dengan sebutan Kakak!" Jawab Pak Yusuf panjang kali lebar.


"Iya, Ayah!" Jawab Indah menyunggingkan senyum dan berlalu ke ruang tamu.


Bukan perkara siapa memanggil siapa dengan sebutan Kakak. Aku hanya tak ingin memiliki Adik. Meski benar Toni adik kandungku, Aku tak suka punya adik. Dia pasti akan dimanja dan meminta semua kakaknya mengalah, termasuk aku! Pendapat Indah dengan pikirannya sendiri.


"Mama!" Toni duduk diantara Bu Ifa dan Ibnu dengan wajah murungnya. Tanpa kata, Bu Ifa mengusap puncak kepala anak bungsunya.


Ada apa dengan Toni, Mungkinkah Indah bersikap tidak baik padanya. Tapi aku rasa tidak mungkin, karena Indah selalu bersikap baik pada Ibnu yang juga saudaranya. Analisa Bu Ifa yang melihat Toni cemberut.


"Indah sudah kelas berapa, Nak?" Tanya Bu Ifa saat Indah mendudukkan diri di samping Bu Sri.


"Kelas tiga!" Jawabnya singkat dengan senyum yang dipaksakan.


Ya, gadis yang biasanya ceria itu sedang tidak berkenan melihat kebahagiaan kakak dan ibu kandungnya, terlebih ada seorang anak laki - laki yang mengaku sebagai adiknya.🌼🌼🌼


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Kak!!!


Terima kasih!