My Brother

My Brother
Pertengkaran



Ika yang kebetulan juga sedang mengerjakan PR – nya melihat notifikasi WA langsung membukanya. Ia melihat dengan seksama apa yang dikerjakan oleh Anik lewat video yang dikirim Indah.



Ika : Apa Anik sudah pulang?



Indah : Belum!



Ika : Hubungi aku jika dia sudah pulang!



Indah : Oke!


Selepas Shalat Maghrib Indah menghubungi Ika.


Ika : “Assalamualaikum!”


Indah : “Waalaikum Salam, Ka!”


Ika : “Bagaimana, Ndah?”


Indah : “Anik menyalin semua jawaban yang ada di buku oretanku tanpa mengoreksinya lebih dulu, Ka!”


Ika : “Baguslah!” Ika menyipitkan mata.


Indah : “Bagus?”


Ika : “Iya, bagus!”


Indah : “Apa rencana kamu selanjutnya, Ka?” Kok bisa – bisanya bilang Bagus?”


Ika :”Aku ke rumah kamu aja ya? Ga enak bicara di telfon!


Indah : “Oke, aku tunggu! Assalamualaikum”


Ika : “Waalaikum salam!”


Ika Pamit pada kedua orang tuanya untuk mengerjakan PR ke rumah Indah. Setelah mendapat ijin dari orang tuanya, Ika berangkat ke rumah Indah.


Di rumah Indah, Mereka mendiskusikan rencana Ika yang ingin menyadarkan Anikagra tidak bergantung pada orang lain untuk mengerjakan tugas – tugasnya. Baik tugas sekolah maupun PR nya.


Ika akan membiarkan Anik mendapatkan nilai jelek sehingga untuk selanjutnya ia akan berusaha membuktikan sendiri kebenaran atas jawabannya.


Indah tidak menyetujui pemikiran Ika karena Indah tidak mau Anik kecewa terhadapnya yang memberikan jawaban yang salah pada Anik. Indah mengusulkan agar menghubungi Anik untuk mengerjakan PR bersama – sama malam ini. Ika menyetujui usul Indah. Mereka menghubungi Anik menggunakan Ponsel Ika.


Anik : ”Assalamualaikum, Ka”


Ika : “Waalaikum salam. Nik! Kamu dimana?”


Anik : “Di rumah.” Ada apa, Ka?”


Ika : “Aku di rumah Indah, kami mau mengerjakan PR Matematika! Apa kamu mau datang?”


Anik : “Tadi sore aku sudah mengerjakan PR ku sama Indah, jadi... (Anik setengah berpikir) Ngga, ah! Aku ga datang ya?”


Ika : “Apa kamu yakin?” Ika memastikan jawaban Anik


Anik : “ Seratus persen, yakin!” Anik tersenyum begitu yakin tidak akan datang ke rumah Indah


“Aku sudah menyalin jawaban Indah, dan aku tau pasti kalau jawaban Indah pasti benar semua!” Anik kembali meyakinkan dirinya dan Ika.


Ika : “ Ya sudah ya? Assalamualaikum! Ika mengakhiri percakapannya dengan Anik


Anik : “ Iya, Waalaikum salam!”


“Gimana?” Tanya Indah saat Ika menjauhkan ponsel dari telinganya.


“Ga mau, ndah. Dia sudah yakin dengan kebenaran jawaban yang kamu berikan!” Ika menarik nafas nya dalam dan membuangnya dengan kasar.


Pak Yusuf yang juga berada di ruang tamu hanya tersenyum mendengar diskusi mereka berdua. Ika mencocokkan hasil Pekerjaan rumahnya dengan milik Indah. Hanya satu nomor yang tidak cocok dengan milik Indah yaitu soal no. 3. Mereka menghitung ulang dan menemukan bahwa milik Ika lah yang kurang benar.


Setelah selesai berdiskusi, Ika pamit pulang.



Jam 06 : 20 Indah berangkat ke sekolah setelah pamit dan mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Sepuluh menit saja Indah telah memasuki gerbang sekolah dan meletakkan sepedanya di tempat parkir. Indah menuju kelasnya yang masih kosong.



Sambil menunggu kedatangan teman – temannya, Indah mencoba mengerjakan soal – soal yang ada pada materi berikutnya. Buku bersampul warna biru dijadikannya tempat untuk menulis jawaban dari soal – soal yang dicobanya sebelum guru menjelaskannya. Buku itu juga yang dipinjamkan pada Anik kemarin sore, tetapi dengan jawaban yang tidak semuanya benar.



Satu per satu teman – teman Indah masuk kelas, pun dengan kedua sahabatnya. Indah melihat jam tangan yang menunjukkan pukul enam lebih lima puluh menit. Sepuluh menit lagi bel masuk Gumamnya. Indah menyiapkan buku pelajaran matematikanya karena hari ini jadwal pelajaran Matematika di Jam pertama.



Tiba – tiba Dayat datang menyambar buku PR Matematika milik Indah “Aku pinjam sebentar ya?”



“Iya” Jawabnya singkat.



“ Dua belas, dua puluh satu, dua puluh lima, tiga puluh, lima belas.” Dayat menutup bukunya dan mengembalikannya pada Indah.


“Makasih ya?”



“Sama – sama!” Indah menjawab singkat bersamaan dengan Pak Heru yang memasuki kelas mereka.



Setelah berdoa dan mengabsen siswanya, Pak Heru mengarahkan jari telunjuknya kepada lima orang siswanya sambil menghitung. Satu, dua, tiga, empat, lima. Dayat, Ika, Heny, Gigih, Anik, kelimaorang itulah yang ditunjuk Pak Heru. Indah menoleh pada Ika dan mengerutkan keningnya pertanda bertanya bagaimana ini? Ika mengerti maksud pandangan Indah terhadapnya.


“Biarkan saja!” Ika berbisik agar tak terdengar oleh Anik.



Mereka berlima maju untuk mengerjakan di papan tulis yang sudah dibagi menjadi lima bagian oleh Pak Heru.



“Yang lain, silahkan kumpulkan buku PR kalian!’ Perintah Pak Heru kemudian. Indah dan teman – teman yang lain segera meletakkan buku PR di meja guru.




Dayat mengacungkan tangan “Pak!”



“Iya?” Pak Heru menaikkan kedua alisnya menanyakan pendapat Dayat.



“Jawaban nomor lima salah, Pak!” Seisi kelas langsung tertuju pada nomor yang dimaksud oleh Dayat.



Bukan tidak tau, Indah dan Ika hanya tidak ingin terjadi pertengkaran diantara mereka. Indah dan Ika memilih diam saat Pak Heru bertanya tentang jawaban yang salah.



Atas perintah Pak Heru, Dayat memperbaiki jawaban Anik. Karena itulah Dayat mendapat nilai tambahan dari Pak Heru. Sementara Anik memandang sinis ke arah Indah yang tertunduk memainkan pensil ditangannya.


Ika menatap kedua sahabatnya bergantian.



“Aku yang harus mempertanggung jawabkan apa yang akan terjadi antara Indah dan Anik nanti!” Gumam Ika.



Bel Istirahat berbunyi, Anik menghampiri Indah yang tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia langsung mengambil buku biru milik Indah, membuka salinan PR Matematika Indah yang sama sekali tidak berubah sejak kemarin ia meminjamnya. Indah hanya melihat tingkah laku sahabatnya itu.



Brakkkk!


“Kamu tentu sudah menghitungnya dengan benar kan?” Anik berbicara dengan nada tinggi dan melemparkan buku biru milik Indah ke atas meja di hadapan Indah. Ika menghampiri Anik dan berdiri disampingnya.



“Jawab aku Indah!” Anik semakin kesal melihat Indah yang tak mempedulikannya. Sifat dinginnya kembali muncul.



“Indah sudah menghitungnya dengan baik, kamu saja yang egois mencontek hasil pemikiran Indah tanpa mengoreksinya terlebih dahulu!” Ika memegang bahu Anik agar bisa melihat ke arahnya.



“Aku...!” Kalimat Indah terpotong.



“Diam kamu, Indah! Biarlah aku yang menyelesaikan masalah ini!” Ika langsung memotong kalimat Indah.



“Aku tau kamu akan datang ke rumah Indah sore hari untuk mengcopy jawaban Indah. Aku yang melarang Indah memberikan jawaban secara instan untukmu. Seharusnya kamu mengerjakan PR mu sendiri dan mendiskusikannya dengan teman yang lain saat kita menemukan kesulitan dalam memecahkan soal yang diberikan sebagai Pekerjaan Rumah, pun dengan tugas – tugas yang ada di sekolah!” Ika panjang lebar mengingatkan pada Anik.



“Terserah aku donk!” Tangan kanan Anik mendorong bahu kiri Ika ke belakang, untung saja Ika bisa mempertahankan dirinya.



“Lagian, Indah ga masalah kalau aku copas jawabannya!”



“STOP!” Indah berteriak dan berdiri dari duduknya, Ia merentangkan kedua tangannya diantara kedua sahabatnya.



“Duduk!” Indah kembali meninggikan suaranya diikuti dua sahabatnya yang terduduk di kursi terdekat dengan posisi mereka berdiri.



“Kita bertiga bersahabat. Aku ga mau kita bertengkar seperti ini!” Indah yang selama ini lebih banyak diam mulai angkat bicara.



“Aku ikhlas membantu siapapun semampuku tanpa mengaharap balasan!” Lanjutnya “Aku hanya berharap bantuanku bisa bermanfaat bagi orang lain, bukan menjerumuskan orang tersebut pada kesengsaraan nantinya!” Anik dan Ika menundukkan kepala, paham dengan apa yang Indah sampaikan.



“Betul, Betul, Betul!” Dayat mengubah suaranya seperti Upin dan Ipin membuat Indah sedikit menarik sudut bibirnya.



“Menerima bantuan dari orang lain, jangan membuat diri kita bergantung pada orang yang memberikan bantuan!” Lanjut Dayat.



Belum selesai memberikan penjelasan, Gigih datang membawa buku PR Matematika teman – temannya yang dititipkan Pak Heru saat Gigih melewati ruang guru.



Dayat mengambil setengah dari banyaknya buku dari tangan Gigih dan meletakkan buku di meja teman – teman sesuai dengan nama yang tertulis di buku tersebut. Untuk Indah, Anik dan Ika, Dayat memberikan langsung ke tangan mereka.



Meski tau dirinya mendapat nilai seratus, namun Indah tetap saja membuka kembali buku PR nya karena Indah tak pernah merasa puas dengan hasil yang diperolehnya.



Begitu pula dengan yang lain, mereka ingin mengetahui nilai yang mereka dapatkan dari hasil jerih payah mereka mengerjakan Pekerjaan Rumah untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Anik kecewa dengan nilai yang di dapat karena kecerobohannya mengCopas pekerjaan orang lain tanpa menghitungnya lagi.



“Maafkan aku ya?” Ika berdiri dan mengulurkan tangannya meminta maaf pada Anik.



“Bukan salahmu, lain kali aku akan berusaha mengerjakan sendiri apa yang menjadi kewajibanku!” Anik berdiri menyambut tangan Ika yang berdiri di depannya.



Indah ikut berdiri dan memeluk kedua sahabatnya. “Terima kasih ya, kalian berdua sudah menyadarkan aku!” Anik meneteskan air mata penyesalan.