My Brother

My Brother
Berubah



Habis baca, jangan lupa tinggalkan jejak ya!!!


Thank You & Happy reading!!!❤️❤️❤️


"Apa maksud kamu, Indah? Aku harap kamu tidak ikut campur masalahku kali ini!" Anik yang baru datang dan mendengar kata - kata Indah jadi marah. Anik merampas ponsel Indah dan mematikan sambungan telponnya bersama Faika, kemudian mengembalikannya lagi.


Faika sempat terkejut namun tak lama karena sebelumnya Faika sempat mendengar suara Anik.


Setelah meminta Indah untuk tidak ikut campur masalahnya, Anik pergi meninggalkan Indah. Dayat yang hendak masuk ke kelas, berpapasan dengan Anik yang bermuka merah marah. Dayat menemui Indah. "Apa dia marah padamu?" Tanyanya saat berada di hadapan Indah.


"Iya!" Jawab Indah singkat. Dayat mengangguk "Pasti bukan karena salah Indah!" Gumam Dayat dalam hati.


"Aku pergi dulu ya!" Dayat pamit pada Indah dan keluar menuju kelas paling ujung tanpa menunggu respon Indah.


 


❤️❤️❤️


Gadis dingin, pendiam itu berubah menjadi gadis yang periang dan selalu tersenyum manis, bahkan tak jarang ia bercanda dengan teman - temannya. Meski begitu sifat aslinya tak mungkin begitu saja hilang. Marah bila ada yang mengganggunya. Sering membantu teman yang kesulitan, sudah menjadi pribadi bentukan sang Ayah. Siapa lagi kalau bukan pemeran utama di novel ini. Betul sekali jika reader menebak Indah sebagai jawabannya. Perubahan Indah menjadikan dirinya pribadi yang sangat disukai banyak orang.


❤️❤️❤️


"Mau kemana?" Tanya Tina dan Naura yang masih setia berada dalam kelas.


"Mau ke Kantin! Apa kalian mau ikut bersamaku?" Sahut Indah sekaligus mengajak mereka makan.


"Ngga ah, terlalu pagi!" Jawab Tina.


"Apa kamu ga sarapan?" Tanya Naura.


"Aku cuma mau beli minum!" Sahut Indah kemudian pergi meninggalkan keduanya.


Bersamaan dengan keluarnya Indah dari kelas, Nurika berjalan sendiri dengan tujuan yang sama dan menyapa Indah. Akhirnya mereka beriringan menuju kantin. Duduk di satu meja dan memesan minuman yang berbeda. "Ada apa?" Tanya Nurika.


"Maksud kamu?" Indah belum paham maksud pertanyaan Nurika.


"Baru saja Anik menemui ku di kelas. Wajahnya kusut. Dia bilang sedang ada masalah denganmu tapi ga bilang apa masalahnya!" Jawab Nurika detail.


"Oh, itu! Anik jatuh cinta pada saudara sepupu Faika. Ibnu namanya! Aku kasih tau Faika via telpon tadi, ga sengaja Anik mendengar pembicaraanku dengan Faika dan dia marah!" Jawab Indah.


"Oooo!" Nurika sangat paham dengan maksud Indah.


Seperti kemarin, Sekolah pulang lebih awal. Indah tak berniat pergi kemanapun kecuali pulang. Tanpa sepengetahuan yang lain, Anik menghubungi Faika. Ia ingin bertemu Ibnu dan Faika mengiyakan.


Tiba di rumah Faika, Anik banyak bertanya tentang Ibnu. Anik tersenyum kecut saat mendengar bahwa Mamanya bekerja di Luar negeri. "Pasti Mamanya banyak uang dan banyak pula yang diberikan untuk Ibnu!" Pikiran kotor Anik mulai bermain.


"Indah adalah sahabatmu sejak kecil, Dia sering datang ke sini. Apa dia juga sering bertemu Ibnu di sini?" Tanya Anik kemudian.


"Iya!" Jawab Faika singkat.


"Apa mereka tidak pernah saling jatuh cinta?" Anik mengorek tentang hubungan Indah dan Ibnu.


"Mereka saling menyayangi, namun tak mungkin untuk saling jatuh cinta!" Faika tak menyadari apa yang diucapkannya.


"Maksud kamu apa, mereka tak mungkin saling mencintai?" Anik penasaran dengan kalimat terakhir Faika.


Anik mengangguk paham. "Itu artinya, Aku punya kesempatan besar untuk mendapatkan cinta Ibnu!" Gumam Anik dalam hati.


"Lalu, dimana Ibnu saat ini?" Tanya Anik lagi.


"Aku ga tau, mungkin dia belum pulang!" Jawab Faika.


Anik memutuskan untuk menunggu di teras rumah Faika hingga Ibnu pulang nanti.


Saat Faika hendak ke kamar mandi buang air kecil, Umminya bertanya "Siapa yang kalian tunggu?"


"Mas Ibnu, Ummi!" Jawab Faika sembari berlari menuju kamar mandi karena kebelet.


"Ibnu pergi ke rumah Bapaknya. Semalam dia pamit sama Ummi. Dia bilang mau tinggal di sana!" Jelas Umminya saat Faika keluar dari kamar mandi.


"Oh!" Faika mengangguk dan tersenyum sinis, ia merasa senang karena tak perlu menjauhkan Ibnu dari Anik.


"Ibnu pergi, semalam ia pamit sama Ummi ku. Tapi dia ga pamit mau pergi kemana!" Faika memberitahu sekaligus berbohong pada Anik.


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Anik kecewa.


"Aku baru tau dari Ummi ku!" Sahut Faika.


"Ya sudah, kalo begitu aku pulang!" Anik pulang tanpa menunggu jawaban Faika. Namun beberapa langkah dari rumah Faika, Anik kembali dan berkata "Hubungi Aku jika Ibnu datang ke sini ya!"


"Iya!" Jawab Faika singkat dan Anik benar - benar pulang.


🌼🌼🌼


Di kamar Anik.


"Aku harus mendapatkannya. Dulu, Aku jatuh cinta pada Azmi. Cintaku tak berbalas karena dia sudah punya pacar. Fathur yang putus dari Indah juga menolak ku. Syafril juga berbuat mesum. Aku ingin laki - laki yang tulus mencintai Aku! Mungkin Ibnu bisa menyayangi dan melindungi ku sebagai wanitanya!" Anik berkata sembari berbaring menatap langit - langit kamarnya.


Anik berdiri kemudian menatap dirinya di depan cermin. Aku harus berubah. Aku harus merubah cara berpakaian ku.


Ia membuka lemari pakaiannya, mengambil celana panjang dan kaos lengan pendek kemudian memakainya serta memutar badannya di depan cermin. Seperti apa penampilannya saat ini? Mungkin bisa dibilang seperti Indah.


Fashion, tampilan bisa ditiru. Tentu tidak dengan kepribadian seseorang. Hal itu berlaku pada Anik. Mungkin dia bisa menjadi Indah dengan meniru cara berpakaiannya, namun kepribadian Indah jauh berbeda darinya. Dulu Anik sering menggunakan dress selutut atau rok mini dengan kaos standarnya sedangkan Indah selalu menggunakan celana panjang dan kaos berlengan, serta tak lupa membawa jaket yang diikat di pinggangnya serta tak lupa menggunakan jam tangan. Ada tas selempang kecil berwarna senada dengan pakaiannya. Bukan hanya ponsel dan uang, isinya melainkan beberapa barang yang sangat dibutuhkan namun jarang sekali orang membawanya.


"Mungkin dengan begini, orang akan melihatku seperti melihat Indah!" Gumamnya di depan cermin.


Anik keluar rumah dan pergi ke salon untuk memotong rambut panjangnya.


Entah mengapa Anik terobsesi pada Indah, padahal penampilan Nurika juga tak jauh beda dengan Indah, hanya saja Nurika jarang membawa maupun menggunakan jaket.


Sabtu sore, Anik mengajak Indah dan Nurika jalan - jalan. Anik ingin memperlihatkan perubahannya pada kedua sahabatnya itu. Namun kecewa yang Anik dapatkan karena Indah dan Nurika menolak ajakannya. Indah beralasan akan bermain basket, sedangkan Nurika berencana jalan - jalan dengan kedua saudaranya. Diam di rumah menunggu malam tiba, itulah keputusan Anik setelah mendapat penolakan.


Malam pun tiba. Usai Shalat Isya', Anik berangkat ke rumah Faika. Berharap Ibnu akan datang ke sana.


Bersambung........