My Brother

My Brother
Rahasia (1)



Indah mengambil ponsel yang tadi ia tinggal di kamarnya. Indah jarang membawa ponselnya saat pergi ke luar rumah. Karena ia tidak akan keluar rumah jika masih ada pekerjaan rumah yang belum diselesaikan.


Pak Yusuf juga merasa tidak perlu over protektif mengontrol anaknya. Ia percaya bahwa Indah bisa menjaga dirinya baik – baik.


Indah buka chat nya, ada pesan dari Fathur yang bertanya tentang rencana Indah besok pagi. Indah memberitahu jika ia ingin bertemu dan berjalan – jalan dengan Faika besok.


Setelah chatnya di baca oleh Fathur kemudian iya menelepon Indah menanyakan akan bertemu Faika siapa karena nama itu sudah tak asing di telinga Fathur. Indah menjelaskan sedikit tentang Ika dan Fathur pun mengetahui teman yang di maksud Indah karena Fauzi kakak dari Ika adalah teman sekolah Fathur di SMK xx


“Aku ikut ya?” dengan senang hati Fathur ingin ikut Indah bertemu Faika. Selain bisa kencan dengan Indah kekasihnya, Fathur juga bisa bertemu Fauzi sahabatnya.


“Ada hal penting yang harus aku bicarakan bersama Faika, jadi aku ingin berbicara empat mata dan dua mulut saja! Hehehe. Indah berbicara serius diakhiri canda dan tawa renyahnya. Dengan begitu Fathur mengerti keseriusan Indah walau kalimatnya diakhiri candaan.



Ada sesuatu yang Indah rencanakan membuatnya tidak bisa tidur hingga jam dua belas malam. Tiga puluh menit saja Indah kembali terbangun dan melaksanakan shalat malam. Usai Shalat, Indah berdoa. Dalam doanya Indah memohon petunjuk agar di berikan kemudahan ketika mencari siapa dia sebenarnya. Ingin rasanya Indah tidur sejenak, namun matanya tak kunjung terpejam hingga pagi.



Setelah membersihkan diri dan membantu pekerjaan rumah serta sarapan, Indah pamit pada kedua orang tuanya untuk pergi ke rumah Faika. Karena masih liburan, kedua orang tuanya mengijinkan.



Faika sengaja menunggu Indah di depan gang karena Ika tidak mau acaranya dengan Indah menjadi gagal akibat ikutnya Ibnu dan membuat sahabatnya marah.



Tak ada pilihan lain selain berbicara empat mata dan dua bibir di sekitar goa. Mereka berdua duduk di mulut goa, namun hanya sebentar karena ada beberapa orang duduk tak jauh dari mereka. Indah lebih memilih mengobrol sambil berjalan – jalan menjauhi goa.



“Aku mau kamu bicara jujur sama aku!” Indah memberikan tekanan pada kalimatnya dengan wajah datar.



“Tentang apa?” Ika terkejut dengan kalimat dan ekspresi sahabatnya yang kembali dingin.



“Tentang hubungan Ibnu dan aku!” Panas dingin terasa di tubuh Ika.


“Hubungan kamu dan Ibnu?” Ika menutupi kebingungannya.



“Ga perlu kamu sembunyikan karena aku yakin kamu pasti mengetahui sesuatu yang tak aku tau tentang aku dan Ibnu!” Tak mudah untuk Ika menyembunyikan apapun dari Indah karena bukan sehari dua hari mereka bersahabat tapi sejak kelas satu sekolah dasar.



“Apa yang sudah kamu tahu dan dari mana kamu mengetahuinya?” Ika bertanya sebelum akhirnya menjawab secara detail apa yang sebenarnya pernah Indah tanyakan ketika mereka masih di sekolah dasar dan Ika mengetahui yang sebenarnya.



“Ibnu kakakku, dan orang tuanya adalah orang tua kandungku. Aku mengetahuinya dari tante Sari saat aku kelas lima SD dan pernah mempertanyakan padamu!” Indah menjawab semua pertanyaan Ika.



“Maafkan aku! Dulu waktu kamu bertanya padaku, aku belum mengetahuinya. Aku mengetahuinya setelah kamu menanyakan padaku. Karena penasaran, aku bertanya pada Ummiku. Ummi menceritakan semua padaku namun Ummi melarang ku memberitahukan padamu karena itu masih menjadi rahasia keluarga sebelum kamu dewasa dan mampu menerima kenyataan.” Faika mulai menjelaskan pada Indah.



“Lalu, apa yang kamu ketahui?” Indah mulai mengembangkan senyum meski rasa penasarannya belum sepenuhnya terjawab.


“Aku akan menceritakan apa yang kamu mau sesuai dengan yang aku tau! Tapi dengan satu syarat.” Ika menekan kalimat terakhirnya.


“Apa?” Tanyanya



“Ini akan jadi rahasia kita berdua! Ga perlu bicara pada siapapun termasuk keluarga Ayahmu, keluargaku dan jangan pernah pula menunjukkan pada Ibnu bahwa kamu telah mengetahui yang sebenarnya!” Ika mengajukan syarat.



“Sampai kapan?” Mata Indah mulai berkaca – kaca.



“Kata Ummi aku sampai mereka sendiri yang memberitahumu!” Ika menjelaskan pesan Umminya pada Indah.



“Iya, aku janji aku akan menjaga rahasia ini dan ga akan bilang siapa – siapa!” Indah mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk V yang diikuti anggukan Ika pertanda ia akan mulai menceritakan sebuah rahasia besar pada Indah.




“Ada lagi yang kamu ketahui?” Indah masih penasaran menunggu cerita selanjutnya dari bibir ika.



“Ga banyak yang aku tahu!” Faika menjawab sebisanya.



“Tentang ayahku?” Indah bertanya lagi.



“Bapakmu?“



“Iya”



“Maaf aku ga tau, karena ummiku hanya menceritakan itu padaku!” Indah tak berhasil mendapat jawaban penuh dari Ika. Namun jawaban seadanya dari Ika membuatnya sedikit lega. “Jangan lupa dengan janjimu agar tak ada orang lain yang mengetahui pembicaraan kita barusan!” Ika kembali mengingatkan Indah.



“Iya, aku janji!” Indah menatap kosong pemandangan yang ada di hadapannya.



Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Faika yang membuatnya bingung dengan perasaannya sendiri antara sedih, senag dan marah Indah memutuskan untuk menghubungi Fathur.



Tempat tinggal Fathur tak jauh dari tempat mereka berada. Tidak sampai lima menit Pria bertubuh jangkung itu sudah berada di samping Indah.



“Hey!” Fathur menyapa mereka berdua yang masih asyik menikmati pemandangan sekitar Goa. Kedatangannya tidak disadari dua cewek dihadapannya.



Ika dan Indah menoleh pada sumber suara. Fathur menunjukkan senyum termanisnya.



“Kamu sudah sampai?” tanya Indah.



“Iya” Jawabnya memiringkan kepala dan tetap tersenyum.



“Indah?” Dari pandangan Faika, Indah mengerti maksud sahabatnya memanggil namanya.



“Oh ya, aku lupa menceritakannya sama kamu!” Indah menggaruk dahinya yang tidak gatal. “Aku dah jadian beberapa hari yang lalu!” Indah tau curhatannya kali ini tak akan menghilangkan senyum dari sahabat sekaligus saudara sepupu yang baru diketahuinya itu.



“Kamu!” Ika menghampiri Fathur dan mengingat – ingat wajah yang sudah tak asing itu.



“Iya!” Fathur seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran Faika.



“Hmmmh, tadi maksa aku ungkap rahasia besar, ternyata dirinya juga menyembunyikan sesuatu dariku. Dasar batu es!” Faika bergumam tapi masih bisa di dengar oleh dua sejoli di dekatnya.


Aku Up nih!!!


Ramaikan dengan komentar n like juga ya!!!


Vote juga author ga nolak😘😍🥰


Makasih!!!