My Brother

My Brother
Kecelakaan



Melihat orang lain berkencan setelah putus cinta ternyata dapat membuat laki-laki teringat lagi dengan momen patah hati mereka.


"Aku merasa paling buruk ketika melihat pilihan kencan yang tersedia dan mengingat betapa suramnya situasiku,"


💔💔💔


"Jelaskan padaku apa yang baru saja terjadi?"


Tanya Ibrahim penuh penekanan.


"Aku hanya curhat masalahku padanya!" Jawab Fathur gugup.


"Ada lagi?" Ibrahim mengintimidasi.


"Ga ada!" Jawab Fathur tegas karena menganggap dirinya tak pantas dicurigai meski Anik berharap lain.


"Apa kamu bisa dipercaya?" Tanya Ibrahim lagi.


"Pasti!" Jawab Fathur yakin.


Ibrahim melangkah menuju tempat kosnya dan menandakan bahwa ia mengajak Fathur mengobrol di kamarnya.


Di kamar kos, Fathur menceritakan kronologi pertemuannya dengan Anik.


"Dasar wanita pengganggu!" Gumam Ibrahim namun masih terdengar oleh Fathur.


Ibrahim memberitahukan rencana yang ia susun bersama Nurika untuk menyatukan cinta mereka.


"Apa kamu yakin rencanamu akan berhasil?" Tanya Fathur.


"Kita coba saja dulu!" Ibrahim yang awalnya yakin menjadi ragu karena ia tak begitu mengetahui karakter Indah. Hanya Sahabat - sahabatnya dan Fathur lah yang mengetahui hal itu.


🌼🌼🌼


Chat antara Indah dan Nurika :


📱Nurika : Assalamualaikum!


📱Indah : Waalaikum Salam


📱Nurika : How are you?


📱Indah : Fine, and you!


📱Nurika : I'm very well thanks!


📱Nurika : Apa kamu sudah dengar kabar tentang Fathur?


📱Indah : Belum, ada apa?


📱Nurika : Aku dengar dari Ibrahim, dia kecelakaan tadi malam. Tak ada luka tapi ia tak sadarkan diri hingga sekarang.


Indah langsung menghubungi Nurika via telpon.


"Ka, Fathur ada di rumah sakit mana?" Tak butuh kata halo dari Nurika, Indah langsung saja nyerocos menanyakan keadaan Fathur.


Nurika menjelaskan kembali bahwa Fathur tak sadarkan diri. Orang tua Fathur tak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit sehingga mereka memilih untuk merawat Fathur di rumah.


Setelah mendengar penjelasan Nurika, Indah langsung mengajak Nurika pergi ke rumah Fathur saat itu juga. Indah mengambil tas selempang kecil berwarna biru dan berangkat menuju rumah Fathur. Tentunya setelah pamit pada kedua orang tuanya.


Nurika yang memang berada di dekat rumah Faika segera masuk untuk menitipkan sepedanya. Beberapa menit saja Indah sudah datang ke rumah Faika.


Indah dan Nurika berjalan kaki menuju rumah Fathur.


Di sana sudah ada Ibrahim yang menemani Fathur.


"Gimana keadaannya? Apa dia sudah sadar?" Tanya Indah penasaran.


"Belum!" Jawan Ibrahim singkat.


"Aku akan telpon ambulan supaya dia segera ditangani dan segera sadar!" Indah berkata dan mengambil ponselnya.


"Jangan!" Serentak Nurika dan Ibrahim berteriak.


Mendengar teriakan keduanya, Fathur membuka mata dan melihat Indah berada di sampingnya.


"Indah!" Panggilnya membuat Indah menoleh dan bersyukur atas sadarnya Fathur. Indah menoleh ke atas nakas yang sudah tersedia semangkuk bubur dan segelas air. Indah meraih mangkuk dan menyuapkannya pada Fathur. Suap demi suap Fathur menghabiskan makanannya dengan tersenyum pada Indah.


Usai Fathur makan, Ibrahim segera membereskan mangkuk dan gelas bekas makan Fathur. Ibrahim keluar kamar diikuti Nurika. Mereka membiarkan Indah dan Fathur berdua di kamar.


🌼🌼🌼


"Kamu apa kabar?" Fathur mencairkan suasana kaku diantara dirinya dan Indah.


"Aku baik!" Jawabnya singkat.


"Maafkan aku!" Ucap Fathur lagi.


"Atas apa?" Indah mengerutkan keningnya.


"Karena aku merepotkan mu hari ini!" Jawab Fathur dengan kepala tertunduk karena rasa bersalahnya.


"Tak apa! sebagai teman kita harus saling menolong! Iya kan?" Mungkin akan terdengar biasa saja jika Nurika atau Ibrahim yang mendengarnya, tapi ini Fathur. Sangat menyakitkan!


"Iya!" Jawabnya meski kecewa. "Maafkan aku juga karena mungkin telah menyakiti perasaanmu sehingga kau akhiri hubungan kita!" Fathur kembali menunduk.


Indah memandang Fathur dan "Fa, tatap aku!" Fathur mengikuti keinginan mantan kekasih yang masih diharapkan akan kembali.


"Kamu ga salah, kamu terlalu baik buat aku! Sedangkan kamu tau seperti apa sifatku. Tak ada seorangpun yang tak merindukan kekasihnya dan ingin sering - sering bertemu, termasuk kamu. Aku tak seperti Nurika yang bisa sering bertemu dan berkencan dengan Ibrahim." Indah menjelaskan panjang kali lebar.


"Aku terlalu egois, aku lebih memikirkan diriku sendiri daripada kamu. Itu semua aku lakukan demi membanggakan kedua orang tuaku!" Lanjutnya.


"Aku paham dan aku mengerti. Aku tak minta kita sering bertemu. Yang aku mau, kita saling menjaga dan saling menyayangi." Fathur memandang lekat netra Indah.


"Maukah kau kembali padaku?" Fathur meraih kedua tangan Indah.


"Maafin aku, Fa! Aku ga bisa!" Indah menarik tangannya dari genggaman Fathur.


"Banyak perempuan di luar sana yang pantas mendapatkan kasih sayangmu! Mereka pun akan menyayangimu dengan baik, tak seperti diriku!" Indah mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Seperti aku!" Tiba - tiba pintu terbuka dan suara ceria Anik menjawab pernyataan Indah.


Kenapa dia datang? Kemana Ibrahim dan Nurika? Kenapa mereka membiarkan Anik masuk? Gumam Fathur dalam hati.


Indah keluar kamar meninggalkan mereka berdua. Menangis? Iya, Indah menangis di dalam hatinya namun tak meneteskan air mata.


Nurika dan Ibrahim tak menyadari kedatangan Anik karena mereka sedang asyik mengobrol di bawah pohon sawo milik Fathur.


Mereka melihat Indah keluar dari rumah Fathur dan buru - buru pergi dari sana. "Sayang, aku susul Indah ya? Aku juga langsung pulang!" Tanpa menunggu jawaban Ibrahim, Nurika setengah berlari mengejar Indah.


"Iya, hati - hati, sayag!" Jawab Ibrahim setengah berteriak kemudian masuk ke kamar Fathur.


Sebelum masuk ke kamar Fathur yang pintunya sedikit terbuka, Ibrahim mendengar suara seorang wanita yang tak asing ditelinga nya.


"Thur..., Aku mau jadi pengganti Indah dan aku juga bisa kok ngertiin kamu!" Rengek Anik pada Fathur.


"Aku ga bisa! Aku mencintai Indah, apapun keadaannya!" Jawab Fathur.


"Tapi kenapa? Bukankah dia sudah ninggalin kamu?" Tanya Anik heran.


"Karena dia berbeda dari yang lain!" Jawabnya mengalihkan pandangan agar tidak bertatapan dengan Anik.


"Ya jelas bedalah! Sikapnya yang ga wajar, perempuan mana yang tak ingin di cintai? Wanita mana yang tak ingin di manja? Wanita mana pula yang tak ingin bahagia?" Ketus Anik.


"Maka dari itu, aku menyayanginya! Tak ada seorangpun yang bisa menggantikan posisinya di hati aku!" Jawab Fathur menatap kosong.


Ibrahim yang sedari tadi berdiri di depan kamar menguping pembicaraan mereka, masuk ke kamar Fathur dan mengajaknya menyusul Nurika dan Indah tanpa mempedulikan keberadaan Anik. Fathur pun mengiyakan, beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan mengikuti Ibrahim.


Flashback on


Anik yang bersepeda ke arah taman kota berpapasan dengan Indah dan Nurika yang hendak berbelok ke arah rumah Faika.


Mereka pasti ke Goa! Gumamnya dan melanjutkan rencananya semula ke taman kota menemui seseorang yang author juga tidak tau siapa orangnya.


Setelah selesai dengan urusannya di taman kota, Anik menyusul Indah dan Nurika ke Goa. Namun begitu ia tak menemukan sosok yang di cari. "Mungkin ke rumah Fathur!" Gumamnya membawa langkah kaki ke rumah Fathur.


Anik melihat keberadaan Nurika dan Ibrahim mengobrol di bawah pohon sawo namun ia tak mempedulikannya karena tujuannya datang ke tempat tersebut adalah ingin bertemu dengan Fathur dan Indah.


Di ruang tamu rumah Fathur, Anik bertemu Fatima dan menanyakan letak kamar Fathur. Tanpa basa - basi Anik langsung masuk dan memotong pembicaraan antara Indah dan Fathur.


Entah apa yang ada dalam pikiran Anik. Mengapa ia ingin sekali memiliki Fathur meskipun dirinya tau Fathur baru saja putus cinta dan mantan kekasihnya adalah Indah sang sahabat sekaligus sepupunya sendiri


Flashback Off.


🌼🌼🌼


Jangan sungkan untuk tinggalkan jejak ya!!!


Like n koin receh sangat berharga untukku.


Komentarmu Inspirasiku😘😍🥰