My Brother

My Brother
Nasi Goreng



Tak hanya Indah, Ika (Faika) pun di sibukkan dengan kegiatan sekolahnya sebagai siswa baru. Ika juga ingin menjadi anak yang bisa dibanggakan oleh Umminya. Ika juga menginginkan hal sama dengan Indah, menjadi juara kelas.


Ibnu yang juga sudah kelas IX, sibuk mempersiapkan diri agar Lulus dengan nilai yang baik meski tidak terbaik sehingga ia bisa masuk sekolah favorit yaitu SMA Negeri 1 di kotanya.


Sudah enam bulan Bu Ifa meninggalkannya dan menitipkan Ibnu pada Adiknya yang tinggal di kota ini yaitu Bu Diah.


Untuk Toni, Bu Ifa kembali menitipkannya pada Paman Husein dan Tante Ratih. Meski Bu Ifa telah menitipkan Ibnu pada saudaranya yang kaya, tapi Ibnu lebih memilih tinggal di rumah Orang tua Bu Ifa yang sudah lama tak ada yang menempati karena semua saudara Bu Ifa yang berjumlah tujuh orang sudah banyak yang menikah. Ada pun saudara Bu Ifa yang belum menikah, mereka lebih memilih bekerja di Luar Negeri.


“Ka!” Ibnu melihat Ika yang sedang melamun. Ia memanggil nama Ika dan melambai – lambaikan tangannya di depan wajah Ika.


“ Eh, I – Iya!” Ika terbangun dari lamunannya.


“Kamu kenapa duduk sendiri sambil melamun?” Ibnu tersenyum di hadapan Ika.


“Putus cinta ya?” Ledeknya.


“Engga kok!” “Aku Cuma kangen sama Indah!” Sudah lama Ika merindukan sahabatnya itu namun karena kesibukannya di sekolah, Ika hampir tidak pernah menghubungi Indah.


“Kenapa ga kamu call aja?” Ibnu dudk di samping Ika.


“Aku ga enak, Aku khawatir dia ga mau lagi berteman sama aku!” Ika menjawab dengan wajah sendunya.


“Ku kira dia bukan cewek seperti itu”. Ibnu membela Indah.


“Indah itu dingin sedingin es batu. Kalau sudah sibuk, pasti ga mau diganggu!” Ika mengingat sifat Indah saat SD. Sementara Ibnu tetap tersenyum mendengarkan pendapat Ika tentang Indah “Tapi dia tetap baik sama semua orang!” Ika melanjutkan kalimatnya.


“Nah, itu tau! Jadi ga mungkinlah dia melupakanmu!” Ibnu menghibur Ika sepupunya.


Mereka mengobrol panjang lebar tentang Indah. Ibnu juga merindukan Indah. Mereka berencana pergi ke rumah Indah saat libur sekolah.


Hari minggu Indah menghubungi Ika sahabat SD nya.



Ika yang duduk di teras rumah mendengar bunyi ponselnya langsung masuk ke kamar untuk melihat siapa yang melakukan panggilan. Ika membuka lebar matanya ketika ia melihat nama Indah dilayar Ponselnya.



Ika : “Assalamualaikum, Indah!” Dengan senyum cerianya Ika mengangkat telpon Indah



Indah : “Waalaikum salam, Ka. Apa kabar, kamu?”



Ika : “Alhamdulillah, baik!” Aku kangen kamu, Indah!”



Indah : “Aku juga!”


“ Aku ke rumah kamu sekarang ya?”



Ika : “Dengan senang hati, aku akan menunggumu!”



Mereka mengakhiri pembicaraan mereka dengan salam. Indah pamit pada kedua orang tuanya kemudian berlalu ke rumah Ika.


Ika segera mengganti baju bermain dengan baju kasual terbaik miliknya. Tersenyum ceria menunggu kedatangan sahabat lamanya. Jika orang lain melihatnya, maka orang akan mengira bahwa Ika sedang menunggu kekasih hatinya.



“Waaaaaah, cantik sekali kamu! Lagi nungguin pacar ya?” Ibnu melihat Ika tersenyum sendiri.



“Ga kok! Lagi nungguin kekasihmu, hehe!” Ika membalas gurauan Ibnu



“Kekasihku? Maksudmu?” Ibnu bingung dengan jawaban Ika.



“Tunggu Aja, nanti juga tau siapa yang datang!” Seru Ika sambil tersenyum berhasil menggoda Ibnu.



Beberapa menit kemudian, Indah telah berada di depan mereka. Ika dan Ibnu tersenyum kepada Indah. Keduanya menghampiri Indah.



“Indaaaaah!” Ika berlari dan memeluk Indah, mereka berpelukan layaknya sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu dan terpisah oleh jarak yang jauh.



“Bagaimana kabar kamu, dek?” Ibnu berdiri di dekat mereka




Indah dan Ika pamit pada Ibnu untuk pergi berjalan – jalan ke sekitar Goa. Tak hanya mempersilahkan, namun Ibnu menawarkan diri untuk ikut bersama mereka. Mereka berangkat bertiga



Di saat mereka duduk di mulut Goa, ada penjual Nasi goreng keliling menawarkan dagangannya pada mereka. Sudah pasti Indah langsung menerima tawaran penjual nasi goreng. “Tiga ya, bang!”



Indah mendekati si penjual nasi goreng yang sedang menyiapkan pesanan mereka dan mengajaknya mengobrol. Ibnu menggelengkan kepalanya melihat keakraban Indah dengan penjual nasi goreng yang baru dikenalnya.



“Adiknya ya, Mas?” Si penjual Nasi goreng bertanya pada Ibnu ketika mengantar pesanan nasi goreng ke hadapan mereka bertiga



“Mmmmmm.....



“Bukan, Bang!” Indah menghilangkan kebingungan Ibnu menjawab pertanyaan abang nasi goreng.



“Bukan saudara tapi kok wajahnya bagai pinang dibelah dua ya?” Gumam si penjual nasi goreng.



Mereka menikmati nasi goreng di mulut Goa, sesekali Ibnu memandang tingkah laku Indah yang sangat berbeda dari kebanyakan gadis seusianya.



Setelah mereka bertiga menghabiskan nasi gorengnya, Ibnu berdiri dan berjalan menuju gerobak yang tak jauh dari tempat mereka duduk.


“Sudah di bayar sama adiknya, mas!” Kata si penjual saat Ibnu menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan untuk membayar nasi gorengnya. "Malah di kasih lebih, mas!".



Mendengar itu, Ibnu merasa kalah cepat dengan Indah.



Mereka mulai masuk ke dalam Goa, bermain di sana dan mengambil gambar dengan background pemandangan disekitar Goa. Meski tak banyak bicara, Ibnu menjaga Indah dan Ika seperti menjaga kedua adiknya sendiri. Mereka pulang ke rumah masing – masing setelah puas berjalan – jalan mengelilingi Goa dan sekitarnya.



Memang tak banyak yang Ibnu katakan saat mereka bermain bersama, namun Ibnu tak henti – hentinya mengawasi dan memperhatikan tingkah laku Indah.



Sampai di teras rumah Ika, Ibnu banyak bertanya tentang sikap Indah yang baru saja bersama dengannya. “Iya, itulah Indah. Seperti apa yang kamu perhatikan sejak tadi!”



Tanpa sepengetahuan Ibnu, Ika pun memperhatikan sikap protektif Ibnu pada Indah.



Sebelum masuk rumah, Ibnu bertanya tentang makanan yang di sukai Indah selain Nasi Goreng. Ibnu melakukan itu karena ia ingin membelikan Indah makanan. Tapi mana mungkin ia memberikan makanan yang sama di hari yang sama. Ia khawatir Indah bosan dan tidak mau memakannya.



Ika menjawab beberapa makanan yang sering dibeli Indah saat mereka masih satu sekolah. Baik yang dilihat langsung oleh Ika maupun sesuai cerita yang di dengar dari mulut sahabatnya itu. Bakso adalah salah satunya.



Usai Shalat Maghrib, Ibnu datang menemui Ummi Ika. “Ummi, aku minta ijin untuk ajak Ika sebentar ya?”



“Mau kemana?” tanya Ummi Ika pada Ibnu.



“Mau ajak Ika ke rumah Indah!” Mendengar jawaban Ibnu, Ummi Ika mengijinkan anak perempuannya pergi bersama Ibnu.



Ibnu membeli satu bungkus Bakso untuk Indah sesuai petunjuk Ika. Bakso tanpa sayur, tanpa mie, tanpa potongan seledri, juga tanpa saus tomat. Intinya Indah hanya mau Bakso yang isinya hanya pentol dan kuahnya serta sedikit sambel karena Indah juga tidak suka makanan pedas. Atau bahkan tidak menggunakan sambel sama sekali. satu bungkus es campur juga di beli Ibnu untuk Indah. Ibnu juga tak lupa membeli dua bungkus Bakso dan es campur untuk dirinya dan juga Ika.



Mereka mengantarkannya ke rumah Indah. Seperti yang pernah dilakukan sebelumnya, Ibnu hanya menunggu di luar pagar rumah Indah. Ika sendiri lah yang masuk menemui Indah.



Ditunggu like, vote & komen membangun-nya ya readerku yang setia!!!


Thanks!!!