
Satu bulan telah berlalu setelah berbaikannya Leon dan Naomi. Namun, hubungan mereka semakin renggang karena kesibukan masing-masing. Naomi yang sibuk dengan sekolahnya dan Leon yang disibukkan dengan dunia keartisannya.
Leon telah memutuskan untuk kembali tinggal di apartemen, ia tak mau memaksa Naomi untuk membalas cintanya. Naomi akan semakin sakit jika Leon terus memaksa, itulah yang dipikirkan Leon.
Ia memutuskan untuk bertunangan dengan Vebra secepatnya, ia tak mau menunggu terlalu lama sehingga perasaannya pada Naomi akan semakin dalam.
Leon melihat ke arah Tamara yang tengah sibuk memilihkan tuxedo bersama dengan seorang desainer ternama. Vebra juga sibuk dengan gaun yang ia lepas kenakan dan mematut diri di kaca besar butik.
Leon sama sekali tak ada niatan untuk bergabung pada mereka atau sekedar memuji penampilan Vebra, yang ia pikirkan hanya Naomi dan Naomi.
"Leon," panggil Ricard ketika Lelaki itu ada di depan putra tunggalnya. Ricard memasang wajah serius.
"Setelah ini, Papa juga akan menjodohkan Naomi dengan Tristan." Leon melotot mendengar penuturan dari Ricard. Hatinya terasa remuk bagai dihantam palu besar, Leon menunduk dengan wajah yang lesu.
"Meski Naomi bukan anak Papa, tapi Papa tidak mau kamu menikah dengannya. Vebra adalah gadis yang tepat buat kamu, dia gadis terbaik yang selama ini Papa inginkan untuk mendampingi kamu. Lupakan Naomi, kamu harus mendapatkan wanita yang pantas dan juga wanita terbaik untuk menjadi pendamping hidupmu," ucap Ricard yang terdengar menusuk untuk Leon. Entah kenapa setiap perkataan Ricard terasa menusuk di telingan Leon.
"Bagi Leon, Naomi tetap wanita yang terbaik, Pa." Leon memgepalkan tangannya emosi.
"Tapi Naomi masih terlalu kecil untukmu, Leon! Bagaimana dia akan mengurusmu nanti kalau selama ini saja kamu yang mengurusnya?" Leon merasa Papanya tak mengerti akan perasaannya, lelaki itu memilih untuk pergi dari sana. Percuma bagaimana pun ia memperjuangkan Naomi, semua tetap akan menjadi sia-sia.
***
Naomi menatap ke arah Leon yang kini tengah berdiri memasang cincin berlian di jari manis Vebra, Kakaknya itu terlihat hanya diam dan tak bersemangat sama sekali. Leon nampak hanya menatap kosong ke arah jari tangannya yang sudah tersemat cincin pertunangan dirinya dan Vebra.
Naomi pergi meninggalkan Tristan kala ia melihat Leon yang menjauh dari pesta pertunangannya, lelaki itu memilih memasuki rumah dan duduk diam di sofa lantai dua rumahnya.
Angannya melayang pada ucapan Ricard beberapa jam lalu, Ayahnya sangat egois dan tak pernah memikirkan kebahagiaan anak-anaknya. Ricard bahkan mengancam akan menikahkan Naomi bulan depan jika Leon tak mau bertunangan dan menikah dengan Vebra secepatnya.
Leon hanya ingin Adiknya memiliki masa depan, ia tak ingin Naomi menikah di usia yang masih sangat belia, apalagi jika sampai putus sekolah.
Naomi bukanlah anak orangtuanya, untuk itulah ia harus lebih memikirkan Naomi yang sudah tak memiliki orangtua sepertinya. Ia harus lebih mementingkan kebahagiaan Naomi daripada kebahagiaanya sendiri.
"Kak," panggil Naomi lembut seraya menepuk pelan bahu Leon. Lelaki itu menatap ke arah Naomi dan melihat Adiknya menatap dirinya dengan pandnagan heran.
"Kakak ngapain di sini? Bukannya ini hari bahagia buat Kakak, kan?" tanya Naomi yang sama sekali tak dijawab oleh Leon.
"Kak," panggil Naomi lagi. Namun, Leon justru menangkup pipi kanan Adiknya dengan lembut. Dan dalam hitungan detik, lelaki itu sudah mencium bibir Adiknya yang kini hanya diam mematung.
Hanya sebuah ciuman tanpa lumatan, bahkan kini Leon justru mengeluarkan setetes air mata kepedihan yang kian menusuk nyeri di hatinya. Ia tak menyangka kisah cintanya akan berakhir setragis ini, ia tak menyangka jalan untuk mendapatkan Naomi sama sekali tak ada celah sedikitpun.
Tamara diam terpaku melihat dua anaknya tengah berciuman di sofa, wanita paruh baya itu mengurungkan niatnya untuk memanggil Leon agar putranya itu turun ke bawah.
Entahlah apa yang terjadi, yang jelas ia merasa perjodohan ini hanya akan membunuh Leon secara perlahan.
Tamara meninggalkan mereka berdua, ia tak ingin ikut campur perihal kisah cinta anak-anaknya. Ia sadar Naomi tidak terlarang untuk Leon cintai, bahkan untuk mereka menikah sekalipun. Hanya saja bagi Ricard, hubungan mereka benar-benar terlarang.
Ricard sangat membenci hubungan percintaan antara keluarga, ia menentang adanya incest dan sejenisnya. Bagi Ricard hubungan itu hanya akan menjadi aib bagi keluarganya, bukan tidak mungkin para tetangga dan rekan bisnisnya akan memandang jijik pada mereka.
Belum lagi fans yang mendukung hubungan Leon bersama Vebra, mereka pasti akan terus membully Naomi di mana pun ia berada, bisa jadi salah satunya di sekolah. Tak akan ada kenyamanan bagi Naomi maupun Leon dan bisa jadi hal itu akan membuat mereka depresi.
Ditambah lagi dengan cemo'oh para tetangga yang hanya mengetahui mereka adalah saudara kandung, sudah dipastikan kedua anaknya akan mendapatkan cacian dari mereka. Tekanan yang seberat itu sudah pasti bisa dihadapi Leon yang berpikiran cukup matang, hanya saja bagaimana dengan Naomi?
Selama ini Naomi sangat bergantung pada Leon, dan Leon akan merasa hancur apabila Adiknya tersakiti. Dan bagaimana jadinya putranya nanti jika melihat Naomi yang akan menderita akibat hubungan percintaan mereka?
Sekalipun mereka tak memiliki ikatan darah sama sekali, tapi Naomi sudah ia anggap putrinya sendiri. Dan ia tak mungkin mengubah status Naomi dari seorang anak menjadi menantu.
"Cinta mereka tulus, Pa. Mama takut justru kalau Papa terus seperti ini, Leon akan berbuat nekat." Tamara berbicara pada Ricard yang kini ada di lantai bawah. Suaminya itu tengah duduk sambil merapikan tuxedonya.
"Leon tidak punya nyali sebesar itu untuk menentang Papa, Ma. Dia akan tetap menurut pada perintah Papa dan tak akan berani membangkang," ucap Ricard tajam.
"Bagaimana jika Leon menghalalkan segala cara agar mendapatkan Naomi? Bagaimana jika Leon tiba-tiba melakukan--"
"Sudah lah, Ma, berhenti berfikiran yang tidak-tidak. Leon sudah dewasa, dia akan memikirkan resikonya dulu sebelum berbuat sesuatu. Leon tidak akan mungkin melakukan apapun pada Naomi!" Ricard berdiri dari tempatnya duduk, ia memilih pergi dari sana daripada harus berujung debat dengan istrinya.
"Kita lihat saja nanti!" Tamara berkata dengan nada kesal pada Ricard.
***
Naomi duduk di pinggir kolam renang bersama dengan Tristan, dengan erat pria itu menggenggam tangan gadisnya. Ia tak ingin berpisah dengan Naomi barang sedetikpun, meski terdengar berlebihan akan tetapi itulah yang dirasakan Tristan.
"Aku denger temen masa kecil kamu itu udah balik ke sini lagi, ya?" tanya Naomi yang dibalas anggukan dari Tristan.
"Iya, Dinda emang udah balik ke sini. Aku seneng banget karena udah lama kita nggak ketemu, dan aku kaget banget waktu lihat perubahan dia," ucap Tristan. Lelaki itu tersenyum melihat teman masa kecil yang seumuran dengannya itu berubah menjadi gadis cantik nan anggun.
"Dia berubah?" tanya Naomi penasaran.
"Iya, dia yang sekarang itu berubah jadi cantik banget. Dia anggun dan bener-bener jadi wanita dewasa, aku nggak nyangka." Tristan terkekeh membayangkan penampilan Dinda yang sekarang.
"Ya udah, Sayang, aku harus pulang sekarang. Udah malem juga." Tristan pamit untuk kembali ke rumah. Tiba-tiba saja ia merasa perasaannya tak enak dan bahangan Dinda terus saja melintas di kepalanya.
Dinda sekarang ini tinggal dengan Tristan karena orangtuanya masih berada di luar negri. Mereka tak tega dengan putrinya jika harus tinggal seorang diri di rumah lama mereka. Untuk itulah, orangtua Dinda menitipkan anak gadisnya di rumah kekuarga Tristan.
"Cuman sahabat kok," ucap Naomi saat mobil Tristan sudah menghilang di balik pagar tinggi kedimannya. Ia tak boleh merasa was-was, toh Tristan sudah menjelaskan sebelumnya kalau Dinda hanyalah sahabat masa kecilnya.
***
"Papa udah puas sekarang?" Ricard menoleh ke arah Leon yang tengah duduk di sofa ruang tengah. Putra tunggalnya itu menatap lurus ke meja yang ada di depannya.
"Pertunangan dan pernikahan kamu ini atas persetujuan bahkan permintaan dari kamu sendiri, Leon." Ricard mengingatkan pembicaraan mereka beberapa minggu lalu sebelum Leon mengajak Ricard dan Tamara untuk ke rumah Vebra dan melamar gadis itu.
"Ya. Tapi Papa ingat kan sama janji Papa waktu itu?" tagih Leon yang membuat Ricard sedikit terkejut, lalu ia mengubah mimik wajahnya menjadi lebih santai ketika menyadari Leon menatapnya.
"Semua orang itu diciptakan berpasangan, Nak. Mungkin memang jodoh Naomi adalah Tristan, dan kamu harus menerimanya," ucap Ricard santai. Leon mengepalkan tangannya emosi.
"Pa, tapi Papa bilang kalau aku mau tunangan sama Vebra dan nikah sama dia, Papa nggak akan paksa Naomi buat cepet-cepet nikah, kan? Kasihan Naomi, Pa, dia masih terlalu kecil buat membina rumah tangga. Biarin aku yang nikah lalu pergi dari sini, asalkan Papa biarin Naomi sekolah dulu, biarin dia menikmati masa muda dan meraih cita-cita dia, Pa. Aku mohon, aku nggak akan ganggu Naomi." Leon berlutut di depan Ricard, ia akan melakukan segalanya asalkan Naomi bahagia.
Leon tau bahwa Naomi belum sepenuhnya mencintai Tristan, dan Adiknya pasti akan sangat menderita jika dipaksa untuk menikah dengan pria yang tak ia cintai. Biarlah Leon yang merasakan sakitnya pernikahan tanpa cinta, jangan sampai Naomi mengalami hal yang sama.
Ricard menatap anaknya dengan pandangan datar. Ia memang pernah berjanji demikian, hanya saja ia masih takut jika Naomi tidak dinikahkan terlebih dahulu, maka Leon akan berbuat nekat.
"Papa akan memikirkannya," ucap Ricard meninggalkan Leon yang masih berlutut di sana. Setetes air mata jatuh ke lantai di bawahnya, begitu sulitnya jalan untuk mendapatkan kebahagiaan. Dan terkikisnya harapan Leon untuk mendapatkan Naomi, ia tak akan pernah memilikinya sekeras apapun ia berusaha.
Tanpa disadari oleh Leon maupun Ricard, Naomi sedari tadi berdiri di balik dinding penyekat dan mendengar semuanya. Ia kini paham mengapa Kakaknya terlihat begitu kosong ketika hari bahagia itu tiba padanya. Ia tak menyangka pengorbanan Leon pada Adiknya begitu besar, ia tak menyangka jika penderitaan Kakaknya jauh lebih berat daripada yang ia kira.
Leon menangis terisak di ruang tengah, ia tak peduli jika nantinya dirinya akan dianggap lemah. Hatinya terlanjut sakit dan kecewa atas keputusan Ricard yang ia anggap keterlaluan, ia tak ingin Adiknya menderita.
Sedangkan Naomi, ia menangis tanpa isakan. Ia menangis untuk Leon yang berjuang seorang diri demi kebahagiaannya, bahkan ia rela mempertaruhkan masa depannya hanya agar Naomi tak mengalami pernikahan dini.
__________Tbc.