
...Membina ikatan yang erat antar saudara dapat membantu anak tumbuh dengan kepribadian yang baik. Meskipun saudara kandung bakal berkelahi dan bertengkar, mengatasi perbedaan mereka dapat membantu mempersiapkan mereka untuk hubungan dewasa dengan satu sama lain dan dengan orang lain....
...Inilah yang sedang Indah dan Ibnu lakukan...
https://m.dream.co.id/parenting/hubungan-kakak-adik-punya-ikatan-kuat-orangtua-penting-lakukan-ini-201218g.html
...~~~...
Dua bulan kemudian.
Keinginan Indah terwujud yaitu satu sekolah dengan sang Kakak. Meski hati mereka kini terikat erat, namun keduanya tak ingin jika ada orang lain yang mengetahui secara terang - terangan bahwa mereka berdua saudara kandung. Jika ada salah satu diantara mereka membutuhkan bantuan, maka yang lain akan membantu secara tidak langsung.
Pelajaran Bahasa Inggris belum usai, namun Indah diberi ijin keluar kelas lebih awal karena ia berhasil menjawab sebuah pertanyaan Bahasa Inggris yang diberikan oleh sang guru.
"Aku duluan ya!" Pamit Indah pada Henny teman sebangkunya.
"Okay!" Jawabnya.
Indah yang pandai menyesuaikan diri dengan keadaan, pandai bergaul, dan luwes membuatnya banyak dikenal dan disukai teman - temannya serta kakak kelasnya.
Saat duduk di Kantin sekolah, Indah melihat dua orang kakak kelasnya sedang makan. Dari obrolan mereka, sepertinya mereka juga sama dengan Indah. Mereka dikeluarkan oleh gurunya bukan karena kebodohan mereka melainkan karena kepandaian yang mereka miliki.
Lima menit berikutnya, makanan yang Indah pesan datang. Sepiring nasi pecel dan segelas jus jeruk ia nikmati tanpa suara.
Selesai makan, dua laki - laki tersebut berbincang tentang Ibnu kakaknya.
"Ibnu mana ya? Ditunggu - tunggu malah ga dateng sampe kita selesai makan!" Gerutu Ilham yang masih terdengar oleh Indah.
"Mungkin dia sedang tidak ingin datang kemari." Irwan menerka - nerka.
Bukan tak pandai, sebenarnya Ibnu juga tak kalah cerdas dengan dua sahabatnya, pun dengan sang adik. Namun rasa minder dengan keadaan keluarganya dan ekonominya, membuat rasa percaya dirinya berkurang. Ia seringkali Ibnu dipanggil guru BK karena terlambat bayar SPP. Beli buku pun jarang sekali. Tak jauh berbeda dengan Indah, tak pernah ada sedikitpun keinginan untuk menyusahkan orang lain meski kedua sahabatnya dengan sukarela membantu Ibnu.
Suatu saat aku akan membalas semua kebaikan kalian berdua. Janji Ibnu dalam hati ketika dua sahabatnya selalu ada saat kesusahan.
"Apa mungkin mereka teman kakakku?" Batin Indah.
"Hei, Ada cewek tuh!" Bisik Ilham pada Irwan. Pernah sekali Ilham kagum pada sifat Ibnu dan berandai - andai jika ada seorang gadis yang memiliki kepribadian layaknya Ibnu, ia akan menjadikan kekasih bahkan istri di masa depan. Tanpa menunggu jawaban Irwan, Ilham langsung nyamperin Indah.
"I - Ilham!" Seru Irwan yang tak dipedulikan oleh sahabatnya. Irwan segera beranjak dan mengikuti langkah Ilham mendekati Indah.
"Hai, boleh saya duduk di sini?" Ilham.
"Boleh, kak. Silahkan!" Indah menoleh sebentar lalu kembali fokus makan.
Demi menghargai gadis yang sebelumnya merespon dirinya meski dalam keadaan makan, Ilham menunggu Indah selesai makan untuk mengajaknya mengobrol.
"Sendirian, Dek!" Ilham memulai pembicaraan ketika melihat Indah menyudahi makannya.
"Iya, Kak!" Jawabnya singkat.
"Boleh kenalan ga?" Ilham mengulurkan tangan.
Indah menyambut uluran tangan Ilham. "Sari!" Bohongnya.
"Ilham!" Ilham menyebutkan namanya.
"Irwan!" juga mengulurkan tangan. Beruntung Indah juga menyambutnya dengan senyum.
"Apa adek punya kakak di Sekolah ini?" Tanya Ilham.
"Tidak, Kak!" Jawab Indah ramah.
"Benarkah?" Ilham yakin dengan perasaannya bahwa Indah adalah adik dari Ibnu sahabatnya karena memang wajah mereka yang mirip. Namun ia ragu dengan jawaban Indah yang mengatakan tidak.
"You are lying, Aren't You?" Ilham mencoba mengetes Indah.
"I'm sure!" Jawab yang ditanya.
Cerdas juga gadis ini. Batin Ilham. Irwan menyenggol lengan Ilham ingin tahu siapa yang Ilham maksud.
"Tapi wajah Adik mirip teman kakak, Namanya Ibnu!" Ilham meyakinkan bahwa dirinya tidak salah. "Apa dia bukan kakakmu?" Lanjutnya.
"Maaf, Kak Saya tidak punya kakak atau pun adik karena saya anak tunggal!" Jelas Indah. "Kalau kakak tidak percaya, Nih kartu pelajar saya!" Indah menyodorkan kartu pelajarnya.
Ilham mengambil kartu tersebut. Mencocokkan alamat yang tertera di sana dengan alamat tempat tinggal Ibnu. Setelah itu, barulah Ilham percaya bahwa Indah tidaklah berbohong. Akan tetapi rasa ingin memiliki kekasih yang sifatnya sama dengan Ibnu, menghalangi kepercayaannya pada Indah. Ilham berharap mendapat jawaban berbeda dari lisan Ibnu.
Ilham segera mengembalikan kartu pelajar milik Indah dan beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Indah dan Irwan yang saling pandang tidak paham dengan tingkah Ilham.
Bisa saja khan ada orang lain yang wajahnya mirip dengan kita meski bukan saudara kandung! Kenapa Ilham begitu memaksa Sari mengaku punya kakak karena wajahnya mirip Ibnu? Batin Irwan.
"Ya sudah, Dek. Balik ke kelas yuk! Kakak anterin!" Ajak Irwan pada Indah yang mengaku bernama Sari.
"Aku bisa sendiri, Kak. Kelasku tidak jauh dari sini!" Tolak Indah halus serta menunjuk ruang kelas yang memang tak jauh dari kantin sekolah membuat Irwan tau di kelas mana Indah belajar.
**Di kelas XII IPS** 1.
Ilham mendaratkan bokong di samping Ibnu. "Dikejar hantu kesiangan kamu ya?" Ledek Ibnu.
"Yeay, dikejar hantu cewek mirip kamu kali!" Jawab Ilham sembari mengatur nafas.
"Ya kali aku jadi hantu, Aku kan belum mati. Mana hantunya cewek lagi!" Ibnu memandang lurus ke depan.
"Nu, Aku mau tanya sesuatu sama kamu!" Ilham.
"Apa?" Ibnu.
"Apa kamu punya adik perempuan yang sekolah di sini?" Ilham.
"Dah tau jawabannya, kenapa masih nanya?" Elak Ibnu.
"Ngaku aja, Nu!" Serunya. "Aku tadi ke kantin bareng Irwan. Di sana aku ketemu cewek, Namanya Sari. Wajahnya mirip banget sama kamu." Lanjutnya.
*Apakah yang Ilham maksud ini, adikku Indah*? Batin Ibnu.
"Siapa namanya?" Ibnu ingin memastikan.
"Namanya Sari." Jawab Ilham yakin.
Mendengar jawaban Ilham, Ibnu mengerti jika dua sahabatnya memang sudah bertemu dengan sang adik. Meski Indah menggunakan nama belakangnya saat berkenalan dengan Ilham dan Irwan.
"Bener 'kan dia adik kamu?"
"Ayolah, Nu ngaku!"
"Iya 'kan!" Cerocos Ilham memaksa Ibnu yang kebingungan harus menjawab apa. Ia yakin Indah dengan sengaja menyebut nama belakangnya agar Ilham dan Imam tidak mengetahui jika mereka berdua saudara.
"Kamu kenapa sih, Ilham? Ngotot banget kalo Sari itu adik Ibnu!" Irwan datang menyelamatkan Ibnu.
"Nah kebetulan Irwan datang. Nih, Nu, Irwan saksinya bahwa wajah gadis bernama Sari itu benar - benar mirip kamu. Iya, kan Irwan?" Ilham.
"Ibnu yang baik hati, tidak sombong dan rajin menabung. Nih gua kasih tau lu ya. Ini orang terobsesi memiliki pacar yang sifatnya sama kayak lu. Jadi setiap ia ketemu cewek cantik yang wajahnya mirip kamu, dia bakal ngira tu cewek adek lu!" Irwan kesal dengan tingkah Ilham kali ini, padahal sebelum kejadian hari ini Irwan lah yang paling pendiam diantara ketiganya.
Hmmmh, Ibnu hanya bisa menarik nafas daam lalu membuangnya kasar. Ia tak pernah berharap persahabatannya pecah karena salah satu dari sahabatnya bertemu dan jatuh cinta pada Indah adiknya.
Sekian dulu ya, Kak. Mak Othor lagi ga enak badan!🙏🙏🙏
Semoga reader setia novel ini selalu dalam lindungan sang pencipta!🤲🤲🤲