
"Jangan bohongi Aku, Arman! Aku tau semalam kau pergi bersama dua temanmu. Ngamen di kecamatan C. Kau pulang dengan duduk di bagian belakang mobil pick up berwarna hitam. Turun di Taman kota, kemudian makan nasi goreng bersama dua orang temanmu itu!" Indah mengatakan dengan detail apa yang diketahuinya semalam. Saat Arman membuka mulut, Indah kembali bicara. "Aku ga akan salah, Aku melihatmu dengan jelas. Dengan pakaian ini kamu pergi tadi malam, 'kan?"
Arman tertunduk dan mengakui semuanya, percuma ditutupi kalau Indah sudah mengetahui kebenarannya.
"Aku tidak marah kau bersenang - senang menikmati hobi mu itu jika seandainya hal itu kamu lakukan di waktu tertentu. Saat malam Minggu saja atau di hari libur, tapi tidak setiap hari dan mengganggu aktifitas belajarmu!" Ujar Indah.
"Dan maaf! Karena kamu sudah mengingkari janjimu, maka sebaiknya kita putus sampai di sini hubungan kita!" Lanjut Indah sambil berdiri dari duduknya.
"Maafkan Aku! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi! Kembalilah padaku!" Ucap Arman setengah memohon.
"Aku sudah memaafkan mu, tapi tidak untuk kembali bersamamu!" Datar, lurus, jelas kalimat itu mulus keluar dari bibir bak Jeruk saloni kata orang Madura.
"Assalamualaikum!" Indah melangkah meninggalkan Arman yang terdiam sendiri melepas spectacles nya dan menghapus air mata penyesalan.
Indah pulang ke rumah Faika, mengambil sepeda miliknya kemudian pulang ke rumah. Tiba di rumah, Indah memotret dirinya dan mengirimnya sebagai chat untuk Fathur. Indah menulis caption di bawah gambarnya. "Aku sudah di rumah!" Melihat chat dari Indah, Fathur memberikan ponselnya pada Faika.
"Yach, 'tu orang ditunggu malah pulang!" Ketus Faika yang kemudian ditertawakan Fathur dan Fatima.
"Yaudah, Aku yang antar pulang!" Ajak Fathur.
"Biar Aku aja yang nemenin Faika pulang, Kak sekalian aku mau pinjam buku!" Sela Fatima.
"Kalo gitu, biar kakak antar kalian. Kakak mau bertemu Indah sebentar. Sementara kakak pergi, kamu tunggu di rumah Faika!" Fathur berujar. "Nanti kita pulang sama - sama!" Lanjutnya. Kemudian mereka berangkat.
~~
"Boleh aku ke rumahmu?" Chat Fathur ketika keluar dari rumahnya.
"Boleh!" Balas Indah singkat. Iya mengijinkan Fathur datang ke rumah karena kedua orang tuanya sedang pergi ke kota P untuk menghadiri pesta pernikahan. Indah bebas bicara apa saja ketika tidak berada di dekat orang tuanya namun tetap menjaga kehormatannya sebagai seorang gadis.
Meski tak ada kedua orang tuanya, Indah tetap mempersilahkan tamunya duduk di teras rumah, termasuk Fathur.
"Kemana Ayah Ibumu?" Tanya Fathur saat bertemu Indah.
"Ayah dan Ibu pergi ke kota P untuk memenuhi undangan pernikahan!" Sahut Indah.
"Bagaimana hasilnya? Ceritakan padaku!" Pinta Fathur.
"Dari mana aku harus bercerita?" Indah memancing senyum Fathur.
"Dari tadi aku di sini menunggu kisah cintamu dengan Arman yang tiba - tiba putus!" Jawab Fathur sembari menyangga kepala dengan kedua tangannya di atas meja.
Indah menceritakan kejadian semalam ketika melihat Arman naik pick-up, mengorek informasi dari Pak Supir hingga mencari Arman ke penjual makanan. Terakhir, Indah menceritakan kejadian berakhirnya hubungan dengan Arman.
"Bukankah dia sudah berjanji padamu untuk tidak ngamen ataupun merokok hingga ia lulus sekolah dan bekerja?" Fathur memastikan.
"Iya dan aku ga suka dibohongi!" Jawab Indah.
"Keputusan ada ditangan mu, Aku hanya bisa mendukungnya!" Sahut Fathur.
"Putus cinta..., sakitnya tuh di sini. Kalo putus tak cinta, sakit ga?" Ujar Fathur menghibur Indah.
"Putus tak cinta? Maksudnya?" Indah mencerna kata - kata Fathur kemudian bertanya.
"Bukankah kamu tidak mencintai Arman. Kamu terima cintanya karena rasa kasian dan mencari cara agar kamu bisa terlepas darinya?" Fathur mengingatkan kisah jadian Arman dan Indah.
🌼🌼🌼
"Sejak kapan mereka jadian?" Tanya Indah pada Anik yang sedang duduk santai di depan kelas.
"Sejak kelas delapan!" Sahut Anik dan Nurika bersamaan.
Indah melihat Dayat bertengkar dengan Safia kekasihnya. Tak lama Safia cemberut, kemudian kembali tersenyum. Pintar juga ya si Day merayu cewek. Kemudian Day kembali ke kelas bertemu Indah dan kawan - kawan.
"Day, ditanya Indah tuh!" Ketus Anik membuat Dayat seketika menoleh dan menghampiri Indah.
"Ada apa?" Tanyanya setelah berada di dekat Indah.
"Ga apa, ternyata kamu bisa juga jatuh cinta. Pantas saja kau ga pernah berangkat dan pulang sekolah bareng aku! Jawaban Indah.
"Aku memang ga pernah bareng kamu, tapi Aku masih setia berjalan kaki saat berangkat dan pulang sekolah karena aku tak bisa menjalankan motor. Mungkin karena beda kelas, kita jarang pulang bersama dan sepertinya Kamu berangkat lebih awal daripada saat kita kelas tujuh! Iya 'kan?" Dayat berargumen. Benar saja sejak mereka naik kelas, Indah memang sering pulang akhir karena ia sudah terbiasa mengerjakan PR saat jam pulang sekolah. Indah juga berangkat lebih pagi agar tidak datang terlambat dan ada waktu untuk memeriksa kembali jawaban dari PR nya.
🌼🌼🌼
Di tempat lain.
"Aku akan menjauhinya, Aku tak ingin ia jatuh cinta dan berharap aku akan jadi kekasihnya!
Gumam seseorang yang sedang berbaring memandang langit - langit kamarnya.
"Andai saja kita bisa bersama, bermain bersama, bercanda bersama, saling berbagi, saling menyayangi sebagai saudara. Kita pasti bahagia, Dek!" Ibnu melanjutkan angan - angan yang tergambar dalam gelembung berbetuk awan di atas langit - langit kamarnya. Ya, saat ini Ibnu berniat menjauhi Indah dan memutuskan untuk tinggal di rumah bapaknya. Ibnu memutar kembali memori kebersamaannya dengan Indah selama ini. Belum tau saja ia bahwa Indah telah mengetahui status hubungan mereka. Indah mendekatinya dengan naluri sebagai saudara kandung bukan berharap agar menjadi kekasihnya.
Tok tok tok.
Suara ketokan pintu membuat Ibnu bangun dari lamunan panjangnya.
"Iya, Ada apa?" Tanyanya lembut setelah membuka pintu dan melihat Halimah berdiri di depan pintu.
"Kamu belum makan siang. Tapi karena saat ini hampir masuk waktu Ashar, maka Shalat lah dulu! Kamu belum Shalat Dhuhur ,'kan!" Halimah mengingatkan.
Tanpa ba bi bu, Ibnu pergi ke kamar mandi untuk berwudhu dan melaksanakan Shalat Dhuhur.
Beberapa menit kemudian, Suara Adzan Ashar berkumandang. Halimah sudah duduk beralaskan sajadah di belakang Ibnu lengkap dengan mukenanya. "Kita Shalat berjamaah!" Ucapnya.
Jadilah mereka Shalat berdua. Setelah berdzikir, mereka menuju meja makan menikmati masakan buatan tangan Halimah. Sederhana tapi sungguh nikmat di lidah.
"Suatu saat, kita pasti bisa makan satu meja dengan Mama dan Bapak. Merasakan nikmatnya masakan Mama!" Entah kapan harapan itu akan menjadi kenyataan, atau bahkan tidak akan pernah terjadi karena kita manusia hanya bisa berencana.
Uhuk uhuk, Ibnu tersedak. Halimah segera menyodorkan air minum pada adiknya. "Hati - hati kalau makan, jangan sambil mengkhayal!" Ucap Halimah yang sedari tadi memperhatikan Ibnu.
🌼🌼🌼
Jangan lupa like, vote n koin recehnya ya Kak!!!
Komentarmu, bahagiaku!🤲🤲🤲
Â