My Brother

My Brother
Cerita Indah



"Assalamualaikum!" Ibnu masuk rumah dan mencari mamanya.


"Wa'alaikum salam!" Mama menjawab sembari duduk di ruang tamu dan segera menghapus air mata yang jatuh tak tertahankan agar tak terlihat oleh Ibnu yang baru pulang sekolah.


Namun terlambat, Ibnu melihat wajah sedih dan air mata yang membasahi pipi ibu yang melahirkannya.


Ibnu mencium tangan mama dan heran melihat keadaan mamanya yang tidak sama seperti saat berangkat ke sekolah tadi pagi.


"Ma...! Mama kenapa?" Ibnu memberanikan diri bertanya.


"Duduklah, nak!" Mama menepuk lembut kursi meminta Ibnu duduk di sampingnya. Ibnu pun melaksanakan permintaan mama.


"Tadi, mama menyapu rumah. Tiba di teras, mama tidak sengaja melihat gadis kecil memakai seragam Sekolah Dasar duduk di teras rumah Bibi Kuswah" Mama mulai bercerita.


"Setelah selesai menyapu, mama menghampiri gadis itu dan mengucap salam. Saat menjawab salam dan melihat ke arah mama, ternyata....." Suara mama terputus karena tangisannya mulai pecah.


"Ternyata apa, ma?" Ibnu menunggu kelanjutan cerita mamanya sambil meraih beberapa lembar tisu dan menyerahkannya pada mama.


"Ga - dis i - tu a-da-lah I- In - dah, Huuuuuu!" Bu Ifa tak mampu menahan tangisnya.


Ibnu tak sanggup melihat wanita yang melahirkannya bersedih, apa lagi menangis.


Dia meminta mamanya agar istirahat siang menemani Toni, adiknya.


Toni tidur sesaat sebelum mama menyapu rumah.


Saat mama sudah terbuai mimpi. Ibnu membersihkan diri, Shalat dan makan siang. Ibnu menyiapkan makan siangnya sendiri karena sudah terbiasa saat berada di rumah Paman Husein.


Usai makan, Ibnu duduk di teras rumahnya sendiri membayangkan kejadian yang telah diceritakan sang mama barusan.


"Seandainya.........." Lamunan Ibnu terhenti saat Ika memanggil namanya.


"Ibnu...., kenapa senyum - senyum sendiri?"


"Lagi jatuh cinta ya?" Ika meledek Ibnu. Maklumlah mereka jarang bertemu, mereka memanfaatkan waktu sebaik mungkin saat bertemu, layaknya saudara kandung.


Ibnu beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Ika yang sedang mengerjakan tugas kerajinan tangannya.


Ibnu yang ringan tangan dan suka keindahan, membantu pekerjaan sekolah Ika membuat kerajinan berupa miniatur rumah yang terbuat dari stik es krim.


Ibnu tak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada, sambil membantu Ika dia menanyakan kabar Indah.


Ika pun dengan senang hati menceritakan tentang sahabatnya itu pada Ibnu.


"Aku senang punya sahabat sepertinya, mas!" Ika memulai cerita tentang Indah.


"Dia jarang bicara, tapi dia penyayang. Setiap aku atau teman - teman punya masalah, dia selalu tanggap dan mau mendengarkan curhatan kami sekaligus membantu kami menyelesaikan masalah semampunya"


"Jujur saja, awalnya aku hampir tak punya teman karena aku tak terlalu pandai. Sementara teman - teman sekolahku tak mau berteman dengan orang yang tak menguntungkan mereka. Jika bukan anak orang kaya atau anak Pegawai Pemerintah maka mereka akan berkawan dengan anak yang pandai, seperti Indah. Namun berbeda dengan Indah, dia tidak pernah memilih. Semua di jadikannya teman" Ika berbicara panjang lebar tentang Indah.


"Apa makanan kesukaan Indah?" Ibnu mencoba mencari tau tentang kesukaan Indah.


"Aku tidak terlalu memperhatikan itu, tapi yang aku tau Indah tidak terlalu suka makanan manis." Mereka memang bersahabat, namun karena jarak rumah yang tidak satu kampung maka Indah dan Ika tidak saling mengetahui makanan kesukaan satu dengan lainnya.


Itu artinya, Indah suka nasi goreng. Iya, aku juga tidak suka makanan manis - manis. Aku....


Lamunan Ibnu dibuyarkan oleh Ika dengan petikan jari telunjuk dan Ibu jarinya.


 


"Assalamualaikum!" Terdengar suara anak perempuan di depan rumah.


"Waalaikum salam!" Ibu membuka pintu dan menjawab salam.


"Apakah Indah ada di rumah, Tante?" Tanya Ika pada Bu Sri.


Sebelum Ika masuk, Indah sudah berdiri di samping ibunya. Ibu kembali ke ruang keluarga untuk melanjutkan kegiatan sebelum Ika datang yaitu menonton Sinetron kesayangannya.


"Nih!" Satu kata terucap dari bibir Ika sambil menyodorkan pastik kecil berwarna hitam.


"Ini apa?" Indah bingung dengan kedatangan Ika malam \- malam ke rumahnya dan memberikan sesuatu padanya, karena Ika tidak diperbolehkan keluar malam oleh Uminya jika tidak terlalu penting dan tanpa ditemani oleh kakaknya.


"Buka aja! Dan aku langsung pulang ya? Assalamualaikum!" Ika langsung pergi meninggalkan Indah yang masih sibuk dengan pemikirannya.


"Waalaikum Salam!" Indah menjawab salam, namun sia \- sia karena Ika sudah pergi dan tidak mendengar jawaban salam Indah.


Indah membuka plastik yang diberikan oleh Ika yang berisi satu bungkus nasi goreng kesukaan Indah. Tanpa berpikir panjang, dia langsung melahapnya seperti orang yang sedang kelaparan padahal Indah tidak biasa makan sepulang mengaji di Musholla.


**Flash back on**~~~


"Ka, ikut aku yuk!" Ibnu menyapa Ika yang sedang bermain di depan rumah mereka.


"Kemana, mas?" Tanya Ika pada Ibnu.


"Ikut aku beli nasi goreng untuk Indah!" Ucap Ibnu dengan nada memohon.


"Kenapa harus bareng aku?" Tanya Ika yang tak bisa menebak sikap Ibnu.


"Ya, kita beli nasi goreng dan berangkat ke rumah Indah sama \- sama. Nanti kamu yang memberikan pada Indah ya, please!" Ibnu menjelaskan dan menangkupkan kedua tangannya di depan dada pertanda memohon.


"Iya, iya deh!"


"Tapi, mas Ibnu pamit dulu sama Umi ya?" Ika mengiyakan ajakan Ibnu dengan syarat Ibnu yang harus pamit pada umminya.


Usai pamit, mereka berdua berangkat mencari nasi goreng yang paling enak. Ibnu membeli 2 bungkus nasgor. 1 untuk Indah dan satu lagi untuk Ika. Mereka menggunakan sepeda milik Ika, Ibnu yang mengayuh sepedanya dan Ika membonceng di belakang.


Seratus meter dari rumah Indah, Ibnu menghentikan sepeda dan meminta Ika agar memberikan nasi goreng pada Indah.


 


Pagi yang cerah. Indah berangkat ke sekolah berjalan kaki dari rumah bersama Ayah, melewati rumah nenek Rifa.


"Assalamuaikum, nek!" Indah memberikan salam saat melihat nenek Rifa berdiri di toko Kitabnya.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh!" Nenek tersenyum manis dengan gigi palsunya namun masih terlihat cantik di usianya yang sudah tak muda lagi.


Di pintu toko terlihat Abil sedang menurunkan motornya.


"Naik apa ke sekolah, ndah?" Tanya Abil melihat keponakan kesayangannya itu tidak diantar oleh Pak Ahmad.


"Maksud hati berjalan kaki ke sekolah, apa daya pamanku tersayang lagi menghidupkan motornya! Hehehe......" Indah mulai dengan guyonannya pada Abil.


Abil yang paham dengan sifat manja Indah, langsung mengantarnya ke sekolah. Tingkah laku Indah dan Abil dilihat dan di tertawakan oleh Ayah dan juga nenek Rifa.


Tiba di sekolah, Indah menemukan Ika duduk sendiri menunggu kedatangannya.


Dia penasaran dengan nasi goreng yang diberikan Ika semalam. Dari pembicaraan singkatnya dengan Ika sebelum jam masuk kelas, Indah mengetahui bahwa nasi goreng itu sengaja di beli oleh Ibnu untuknya.


❤️❤️❤️ Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like and vote ya readerku sayang❤️❤️❤️


Ditunggu juga komentarnya agar author lebih semangat up\-nya!💪💪💪


Terima kasih🙏🙏🙏