
Mas tunggu di Hotel Bahagia. Chat Ibnu.
Kenapa di Hotel? Balas Indah. Ia tidak tau jika selama ini Ibnu bekerja di Hotel.
Datang saja, nanti Adek akan tau maksud mas. Ibnu.
Setelah menunaikan ibadah empat rakaat, Indah pamit pada Bu Sri. Iya, sudah lama Bu Sri mengijinkan Indah bertemu keluarga kandungnya. Hal itu ia lakukan karena dirinya yakin bahwa Indah tidak akan meninggalkannya untuk kembali pada keluarganya sendiri.
Indah berhenti di depan Hotel, duduk di atas sepedanya. Sorot matanya menatap tajam mencari keberadaan Ibnu.
"Sini, Dek. Masuk!" Ucap Angga salah satu CS Hotel.
"Mmmm, Iya mas!" Jawab Indah ragu.
"Kamu adiknya Ibnu, bukan?" Angga tidak yakin dengan pikirannya. Padahal beberapa menit sebelumnya Ibnu sudah memintanya menunggu sang adik yang wajahnya 99,99% mirip dengannya namun gender mereka yang membedakan.
"Iya, benar." Indah.
Bersamaan dengan itu, Ibnu muncul dibelakang Angga.
"Bawa masuk saja sepedamu. Di samping resto ada tempat parkir sepeda, Dek!" Jelas Ibnu. Indah mengikuti arahan kakaknya.
"Sudah makan?" Tanyanya pada sang Adik saat mereka telah berada di Restoran.
"Belum, Aku biasa makan malam jam sembilan nanti" Jawab Indah.
"Ga bisa dimajukan jadi sekarang?" Bukan sebuah pertanyaan, melainkan sebuah kekhawatiran jika Indah makan terlalu larut. Dia tidak mau jika adiknya memiliki penyakit yang disebabkan oleh hal tersebut.
"Bisa, tapi nanti lapar lagi!" Jawab Indah manja.
"Pesanlah dulu, nanti mas pesankan lagi untuk makan di rumah!" Ibnu menyodorkan daftar menu.
Indah memesan makanan favorite nya, yaitu Nasi goreng dan es jeruk. Mungkin tidak ada yang istimewa, tapi bagi Indah adalah makanan yang paling lezat apalagi dibelikan sang kakak tercinta.
Di sela - sela makannya Indah, mereka berdua mengobrol panjang lebar. Ibnu juga mengatakan Mamanya ingin bertemu berdua saja dengan Indah.
"Tak apa kalau belum siap." Ujar Ibnu saat melihat wajah Indah ditekuk.
"Aku ga tau harus gimana, Mas! Bagaimana pun aku ingin sekali bertemu mereka berdua orang tua kandungku. Juga ingin sekali hidup berdampingan denganmu. Hidup bersama sebagai kakak adik. Tapi terkadang rasa benci hadir tatkala Aku mengingat mereka yang telah memberikanku pada orang lain yaitu ayah ibu yang merawat ku selama ini." Indah mengungkapkan isi hatinya selama ini.
"Jangan pernah menyalahkan mereka, Dek! Takdir tak ada yang tahu. Pun dengan kita yang tak mengetahui apa yang sebenarnya membuat mereka memisahkan kita. Bahkan mereka sendiri sering putus nyambung!" Ibnu mengingatkan sang adik.
"Meski mereka memberikanmu pada orang lain, tapi hidupmu jauh lebih enak daripada Mas. Mas dititipkan sana - sini. Mas harus sering pindah sekolah. Nunggak SPP sampai Mama mengirimkan uangnya. Mau makan, nunggu ditawari!" Keluh Ibnu pada sang adik.
"Itulah kenyataan yang harus kita hadapi. Menurut Mas, Adek hidup enak. Tapi menurut adek, justru Mas yang enak. Bagaimana pun keadaan mereka, Mas masih mendapatkan kasih dari mereka berdua!" Sahut Indah tak kalah bersedih.
Tepat sekali apa yang diungkapkan dua kakak beradik Ibnu dan Indah sesuai versi mereka masing - masing.
Hidup enak, makan enak, semua serba ada, hidup bersama dalam sebuah keluarga kecil yang utuh. Ada sosok Ayah yang bisa secara langsung melindungi keluarga. Ada seorang Ibu yang penyayang serta senyum ceria yang terpancar di wajah sang anak. Itulah konsep bahagia menurut Ibnu. Namun lain halnya dengan Indah.
Keluarga yang utuh tentu menjadi impian setiap orang. Mungkin benar lirik sebuah lagu yang mengatakan "Makan ga makan asal kumpul". Impian Indah lebih pada sebuah tanggung jawab. Dengan berkumpul bersama keluarga, seorang ayah akan bekerja keras menafkahi anak - anaknya, Ibu yang membesarkan anak - anaknya dengan penuh kasih sayang. Dua bersaudara saling mengenal satu sama lain, saling mengasihi dan menyayangi, berbagi kasih saat mereka beranjak remaja seperti saat ini.
"Adek mau ikut mas ke rumah ketemu Mama?" Tawar Ibnu.
"Ga!" Jawab Indah singkat
"Gapapa, belum siap aja!"
"Oh, ya sudah!" Ibnu mengusap lembut rambut panjang sang adik. Ia tau betapa kecewanya Indah terhadap sikap kedua orangtua mereka. Memang Bu Ifa berpesan agar tidak terlalu memaksa Indah untuk ikut serta menemui sang Ibu kandung. Ia khawatir Indah semakin kecewa padanya.
"Adik mau nyobain tidur di Hotel?" Ibnu kembali mencairkan suasana kaku diantara mereka.
"Engga, Mas!" Tolak Indah.
"Mas ngapain di sini? Main, nginap atau ....?" Indah bertanya, namun ia menggantung pertanyaan terakhirnya.
"Mas di sini sewa kamar buat tidur bareng cewek, Dek." Ibnu menggoda sang adik satu - satunya.
"Terserahlah, asal tau diri saja dan jangan kelewat batas sehingga ada korban berikutnya yang bernasib seperti kita!" Indah menekuk wajahnya membuat sang kakak gemas dan mencubit pipinya.
"Korban?" Ibnu mengerutkan kening, namun hanya sesaat. Ia paham dengan maksud Indah.
"Mas tidak seperti itu, Sayang!" Ibnu mengusap lembut rambut panjang sang adik.
"Mas kerja di sini. Ya, hitung - hitung bantu Mama. Meski tidak seberapa gaji yang Mas terima, setidaknya mas bisa meringankan beban Mama dengan tidak minta uang jajan dan SPP." Lanjut Ibnu.
"Alhamdulillah!" Seru Indah mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya bersyukur.
Tak lupa Ibnu menanyakan tentang pertemuan Indah dengan kedua sahabatnya, Ilham dan Irwan serta diakui oleh Indah.
"Apa Adek bertemu teman - teman Mas tadi di Sekolah?" Ibnu.
"Iya, Mas. Mereka bilang apa?" Indah balik bertanya.
"Ilham ngotot bilang kita saudara, Kalau Irwan masih percaya bahwa kita bukan saudara, Dek!" Ibnu. Sedangkan Indah manggut - manggut.
"Tadinya mas juga bingung kenapa Ilham bilang kalo dia ketemu cewek yang wajahnya mirip Mas tapi namanya Sari. Setelah mas ingat - ingat, tu nama belakang adek, 'kan?" Ibnu.
"Iya, Aku sengaja memberitahu mereka bahwa namaku Sari, Kelas X-6. Tapi aku sempat memberikan kartu pelajar ku padanya untuk membuktikan bahwa kita bukan saudara. Semoga saja dia tidak melihat nama lengkap ku melainkan hanya melihat alamat rumah kita yang memang berbeda." Jawab Indah.
Indah tidak bermaksud memberikan nama samaran, ia hanya tak ingin jika suatu ketika Ilham berada di dekat Ibnu saat menelepon Indah dan menyebut namanya.
Biarlah teman - teman mereka mengetahui kebenarannya sendiri, bukan dari Indah atau Ibnu. Meski begitu suatu saat nanti pasti ketahuan.
"Adek ga makan lagi?" Tawar Ibnu sebelum Indah pulang.
"Ga, ah!" Jawab Indah malu - malu.
"Kenapa, Dek?"
"Takuuuut!" Sahutnya dengan ekspresi ketakutan.
"Takut kenapa?" Ibnu mencubit gemas hidung adik kesayangannya.
"Takut gemuk!" Indah merajuk membuat keduanya tertawa, bahkan Mbak Dewi sang koki ikut tertawa karena kebetulan mendengar obrolan dua kakak beradik tersebut.
"Yeay, yang punya adik cewek!" Sorak Angga yang tiba - tiba berdiri di belakang Ibnu.
Tanpa Indah sadari, Angga sudah sejak lama mengetahui tentang hubungan persaudaraan mereka. Bahkan Angga adalah anak pemilik Hotel Bahagia. Entah bagaimana Ibnu mengenal Angga, hanya mereka yang tau. Ibnu menitipkan Indah padanya, karena sejak SD Angga adalah adik kelas Indah hingga SMP. Di SMA, Ibnu satu sekolah dengan sang Adik sehingga ia menjaganya sendiri walau dari jarak jauh.