
"Mama ga pulang, Bapak juga belum pulang, Om Syah dah balik, Tante masih di Hongkong! Mau ke tempat adik Mama yang lain, khawatir ngerepotin! Mau main ke rumah Adik juga ga mungkin! Enaknya kemana ya?" Gumam Ibnu saat sendiri berbaring memandang langit - langit kamarnya.
"Aku mau ke rumah Bapak sajalah!" Ibnu beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi yang terletak di bagian belakang rumahnya. Membersihkan diri dan berganti pakaian.
"Mau kemana, Mas?" Tanya Faika yang melihat Ibnu membawa ranselnya.
"Mau ke rumah Bapak, mungkin di sana aku punya teman!" Sahutnya kemudian mereka berpisah.
Motor butut Paman Syah di pakai Ibnu menuju rumah Sang Bapak. Tak lebih dari sepuluh menit, Ibnu sudah sampai di rumah Sang Bapak. Ada anak perempuan dari istri tuanya di sana. Halimah namanya.
"Assalamualaikum!" Ucap Ibnu sesampainya di pintu rumah.
"Waalaikum salam!" Sahut si penghuni rumah sembari membuka pintu yang terbuat dari ukiran kayu.
"Hey, Ibnu!" Halimah menyambut Ibnu dengan senang hati. "Ayo, Masuk!" Lanjutnya.
Tak hanya itu, Halimah mengajak Ibnu makan bersama. Kemudian Halimah membersihkan kamar kosong yang tak pernah ditempati. "Tidurlah di sini!" Pintanya dan Ibnu mengiyakan.
Setelah menata pakaiannya, Ibnu menghampiri Halimah yang sedang melipat pakaian. "Mbak Yu, Apa Bapak ga pulang?" Tanyanya.
"Bapak belum pulang, Dek! Kalau ada uang, Bapak pasti pulang walau hanya sebentar di sini. Setelah kakak kamu mendapatkan barang antik, Bapak akan kembali ke kota P dengan membawa barang tersebut untuk dijual di sana!" Jelasnya.
Anak Pak Salim dari istri tuanya ada enam orang. Dua orang perempuan dan sisanya laki - laki. Anak - anak Pak Salim tidak mengenyam pendidikan tinggi sehingga mereka tidak mempunyai pekerjaan tetap atau dengan upah yang menjanjikan.
Halimah anak tertua, Anak kedua Pak Salim laki - laki bernama Rip. Anak ketiga bernama Zumroh namun meninggal dunia saat usianya masih remaja. Anak ke empat bernama Romli. Ia mencari barang bekas kemudian di jual untuk menghidupi Istri dan anaknya. Suudi anak Pak Salim yang kelima. Ia yang membantu Pak Salim berdagang barang Antik. Sedangkan si Bungsu anak Pak Salim bernama Firdaus merantau ke Jakarta untuk bekerja di Warung Sate milik orang Madura. Upahnya besar sehingga jika Hari Raya tiba, Ia pulang dengan membawakan banyak buah tangan untuk saudara - saudaranya.
"Tinggallah di sini bersamaku!" Ajak Halimah.
"Baiklah!" Jawab Ibnu senang.
"Kalau kamu mau ke rumah kakakmu, pergilah!" Lanjut Halimah. Lalu Ibnu pergi ke rumah yang terletak tak jauh dari rumah Bapaknya yaitu rumah Suudi.
Suudi sedang tidak berada di rumah. Ia sedang mencari barang antik ke desa - desa. Yang ada hanyalah istrinya. "Ayo makan!" Ajak Amina pada Ibnu.
"Maaf, baru saja Aku makan di rumah Bapak!" Tolaknya dengan halus.
"Oh, ya sudah tak apa!" Sahut Amina.
"Datanglah kemari dan tidurlah di sini jika Ibumu berada di negeri seberang!" Amina memulai pembicaraan. "Asalkan kamu mau hidup sederhana bersama kami. Bapakmu bukan tidak adil. Beliau tidak pernah membeda - bedakan anaknya. Jika Bapakmu datang membawa uang, maka Mbak Imah akan memasak banyak dan membagikan pada saudaramu yang ada di sini!. Bapakmu juga meninggalkan sedikit uang untuk modal kakakmu membeli barang antik. Jika barangnya sudah ada, kakakmu menghubungi Bapak agar barangnya di bawa ke kota P untuk di jual dengan harga yang lebih mahal. Ibnu mengangguk mendengarkan sedikit kisah tentang sang Bapak.
Setelah mengobrol panjang kali lebar, Ibnu kembali ke rumah Bapaknya. "Istirahatlah di kamar!" Ucap Halimah.
Ibnu masuk ke kamar dan berbaring di atas tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang. Cukup sulit untuk memejamkan mata di siang hari yang begitu panas. Namun akhirnya Ibnu pun terlelap.
"Adek! Tunggu!" Ibnu berlarian di tepi pantai mengejar Indah. Sementara gadis yang dipanggilnya semakin jauh meninggalkannya.
Kebetulan ada pohon sirih yang tumbuh di samping sebuah gubuk di tepi pantai. Ibnu mengambil satu lembar daun sirih dan menggulung kecil. seperti batang rokok lalu memasukkannya ke lubang hidung Indah yang mimisan.
Ibnu menepuk pipi Indah perlahan berusaha menyadarkannya "Adek...... Adek...... Adek!"
Halimah yang mendengar teriakan Ibnu, menghampiri dan membangunkannya. Ibnu perlahan membuka mata. Ia melihat Indah ada di sampingnya. "Adek!" Ucapnya.
"Aku Halimah, bukan Indah!" Sahut Halimah.
Ibnu menggosok matanya dan melihat dengan jelas bahwa yang duduk membangunkannya benar - benar Halimah, bukan Indah. Sepintas wajah Halimah dan Indah memang hampir sama. Namun karena perbedaan usia yang sangat jauh membuat mereka berbeda. "I - iya maaf, Aku pikir Indah!"
"Apa kamu sering bertemu Indah?" Tanya Halimah.
"Iya, tapi mungkin dia belum tahu kalau sebenarnya kami bersaudara!" Cerita Ibnu.
"Ooooo!" Halimah membulatkan bibirnya.
"Ya sudah, biarlah suatu saat dia tahu sendiri. Entah dengan cara apa!" Lanjutnya.
"Dia juga ga pernah merespon saat bertemu dengan anak - anak bapak yang di sini!" Halimah terlihat sedih. Sebenarnya ia sangat merindukan Adik perempuan kecilnya, yaitu Indah.
Sore itu mereka duduk santai sambil bercerita banyak hal.
Ibnu makan malam di rumah Suudi. Dia juga sudah pulang sejak sore tadi namun Amina belum memberitahu kedatangan Ibnu karena melihat suaminya sedang kelelahan. Kakak beradik itu makan tanpa suara. Hanya benturan piring dan sendok menemani makan malam mereka. Memang jarak rumah mereka tidak terlalu jauh, namun keadaan yang tak memungkinkan mereka untuk selalu bersama.
Malam hari Ibnu habiskan dengan berbincang bersama kakak dan saudara - saudara lainnya. Usia Pak Salim yang tak muda lagi saat menikah dengan Bu Ifa membuat usia anak dan cucunya tak jauh berbeda. Seperti Ibnu dengan anak sepupunya. Usia Heri dua tahun dibawahnya, namun ia harus memanggil Ibnu dengan sebutan Om karena Ibunya adalah saudara sepupu Ibnu.
Heri satu sekolah dengan Indah. Namun karena ketidak tahuan Indah, Heri tetap memanggil nama Indah tanpa gelar Tante. Indah hanya menganggap Heri teman satu sekolah.
Tepat jam dua belas, Mereka kembali ke rumah masing - masing untuk beristirahat. Di tempat Bapaknya, Ibnu tidur dengan tenang tak perlu kesepian karena banyak saudara dan keponakannya di sana.
πΌπΌπΌ
Jangan lupa like dan sedekah koin receh nya ya, Kak!!!
Komentar para reader di Chapter ini sangat author butuhkan!!!πππ
Komentarmu semangatku!
Komentarmu inspirasiku!!
Komentarmu referensi ku!!!
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa bagi yang melaksanakannya. πππ