My Brother

My Brother
Ilham vs Aldi (2)



“Al, boleh aku bicara?” Ibnu mendekati Aldi yang duduk meredakan emosinya.


“Bicaralah selagi kamu berpihak pada kebenaran!” Jawab Aldi datar.


“Aku tak ingin ikut campur masalah percintaanmu dengan Sherly, namun ini menyangkut masalah pertengkaranmu dengan Ilham. Namun sebelum itu, Aku ingin mendengar cerita hubunganmu dengan Sherly!” Jelas Ibnu.


Sejenak Aldi menunduk, kemudian melihat ke depan dengan tatapan kosong.


“Sejak enam bulan yang lalu, Aku mengejar cinta Sherly. Ia menolakku dengan alasan Aku tak mampu memberikan apapun yang ia inginkan.” Aldi mulai menjelaskan.


“Aku bertekad untuk bekerja paruh waktu. Saat itu, Aku teringat jika orang tua Ilham adalah pemilik salah satu kafe yang ada dikota ini. Aku mencoba mengajukan lamaran ke kafe milik keluarga Ilham, namun aku ditolak, karena Aku masih pelajar.” Aldi terus bercerita dengan tatapan kosong menerawang ke masa enam bulan lalu.


“Aku kembali melamar ke kafe tempat aku bekerja dan Aku diterima. Aku bekerja di sana dengan upah yang tidak terlalu besar. Meski upah yang akuterima tak seberapa, aku tak masalah asalkan aku bisa memberikan semua yang Sherly inginkan”


“Karena itu, satu bulan kemudian Sherly mau menerima cintaku hingga hari Jumat kemarin ia memutuskan cinta kami secara sepihak. Saat Aku tanya apa alasannya, Ia menjawab karena Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sehingga tak ada waktu untuknya. Aku terima alasan itu Malam Minggu, Aku lihat Sherly datang bersama Aldi ke kafe tempat Aku bekerja. Mereka terlihat mesra dan Aku tak terima itu, apapun alasannya!” Aldi mengeratkan rahang dan dapat terlihat jelas oleh Ibnu.


“Maukah kau mendengar penjelasan Ilham tentang hubungannya dengan Sherly?” Tanya Ibnu ragu.


“Sudah ku bilang, Aku tak ingin ikut campur urusan percintaan kalian, yang Aku mau tidak ada kesalahpahaman antara kau dan Ilham. Itu saja! Setidaknya, kalian bisa bicara baik – baik tanpa kekerasaan!” Saran Ibnu ketika ia melihat raut wajah Aldi yang keberatan untuk bertemu Ilham.


Aldi menarik nafas kemudian menghembuskannya dengan kasar dan berkata, “Aku tunggu di Kafe nanti malam!”


“Maaf, Aku harus masuk kelas!” Aldi berdiri dan mengulurkan tangan, Ibnu menerimanya sehingga mereka berjabat tangan.



“Apa sudah kamu jelaskan?” Tanya Irwan.



“Tak ada yang perlu Aku jelaskan!” Jawab Ibnu datar.



“Kamu gimana sih, Nu? Lalu untuk apa kamu ketemu Aldi?” Irwan mengerutkan kening, sementara Ilham menjadi pendengar setia pembicaraan dua sahabatnya.



“Buat apa Aku jelaskan? Kan bukan urusanku!” Ibnu tersenyum kecut pada Ilham. “Bukankah tadi Aku pamit untuk minta waktu agar Aldi mau mendengarkan penjelasan Ilham?” Ibnu kembali mengingatkan Ilham dan Irwan.



“Percum tak Bergun!” Ucap Irwan kesal. Beberapa menit mereka diam. Ibnu memutar rekaman yang diam – diam diambil saat berbicara dengan Aldi. Seketika itu pula Ilham dan Irwan menoleh ke ponsel Ibnu dan mendengarkan dengan seksama dan dalam tempo yang tidak singkat karena bukan isi teks proklamasi.



“Ikutlah denganku nanti malam!” Ucap Ilham setelah rekaman itu selesai.



“Ngapain kami ikut kamu?” Tanya Irwan.



“Temani Aku untuk menjelaskan semuanya pada Aldi!” Pintanya pada Ibnu dan Irwan.



“Ogah lah, secara rumahku jauh. Dan lagi ini bukan malam Minggu, Aku ingin tinggal di rumah bersama Adikku. Mengerjakan tugas – tugas sekolahku serta membantu Adikku menyelesaikan PR nya!” Tolak Irwan dengan jelas padat tapi tak singkat.



“Kamu tidak punya alasan yang sama, ‘kan?” Ilham melirik Ibnu yang sibuk menghilangkan hasil rekaman yang baru saja diputar untuk sahabatnya.



“Hah?”Tanya Ibnu tak yang tak begitu jelas mendengar pertanyaan Ilham.



“Kau tak punya alasan yang sama dengan Irwan, karena kamu tidak punya Adik untuk Kau bantu mengerjakan PR. Jadi, ikutlah denganku nanti malam!” Ilham mengulang permintaannya dan lebih memperjelas kalimatnya.




“Yach, kalian tega sekali meninggalkanku sendiri dalam bahaya!” Ucap Ilham seolah dirinya sedang membutuhkan pertolongan untuk keluar dari bahaya.



“Jangan merengek seperti anak kecil, Aku tidak punya permen untuk diberikan padamu!” Ucap Irwan.


Malam hari, Ilham datang sendiri ke Kafe tempat Aldi bekerja. Karena malam ini bukan malam Minggu, maka Kafe tersebut tidak terlalu ramai pengunjung sehingga Aldi bisa menerima tamu pribadinya.


Lama mereka berdua berbincang, Aldi mempercayai apa yang diceritakan oleh Ilham tentang kejadian Sherly datang kerumahnya hingga mereka berkunjung ke Kafe ini. Tak ada lagi salah paham diantara mereka.


“Maafkan Aku yang telah salah sangka, Aku berjanji akan mengganti kacamatamu yang pecah karena Aku!” Sesal Aldi.


“Tak apa, wajar jika kau cemburu padaku. Mungkin karena kau terlalu menyayangi Sherly. Lupakan tentang kacamataku! Apa Kau tidak lihat jika kacamataku masih utuh?” Ilham mengedipkan mata pada Aldi.


Aldi menunduk malu, karena sebenarnya Ia tak mampu membayar ganti rugi kacamata milik Ilham. “Terima kasih, Ilham!” Ucapnya.


Sejenak mereka berbincang tentang pekerjaan Aldi. Kali ini, Ilham mengajak Aldi bekerja di salah satu Kafe milik orang tuanya. Meski ragu, akhirnya Aldi menerima tawaran Ilham.


“Dulu, Aku pernah melamar pekerjaan ke Kafe mu. Tapi lamaranku ditolak, karena statusku yang masih pelajar dan Aku tidak diijinkan bekerja paruh waktu!” Aldi menunduk kecewa mengingat kejadian dirinya melamar pekerjaan dan ditolak.


“Besok pagi, Aku tunggu surat lamaran pekerjaanmu di Sekolah. Aku yang akan membawanya ke Kafe!” Ilham berkata penuh penekanan.


“Tapi dengan satu SYARAT!” Ilham melanjutkan dan semakin ada penekanan di akhir kalimatnya sehingga membuat Aldi terkejut memandang lekat netra Ilham.


“Relakan Sherly untukku!” Jawab Ilham dengan nada datarnya.


“Kau bilang............”


“Ya..... ya..... Tadi Aku bilang kami belum pacaran, ‘kan?” Ilham memotong kalimat Aldi.


“Lalu kenapa sekarang.....” Kalimat Aldi lagi – lagi terpotong, namun kali ini bukan karena Ilham melainkan karena kedatangan Sherly yang berjalan bergandengan tangan dengan pria lain.


Ilham mengikuti kemana tatapan Aldi berlabuh dan “Iya, sudah tau jawaban dari pertanyaanmu itu, ‘bukan! Jawab Ilham santai.


“Al, Al, Al!” Ilham memanggil nama Aldi hingga tiga kali, namun sama sekali tak ada respon dari si empunya nama.


“Aldinata!” Teriak Ilham memanggil nama lengkap Aldi.


“I-iya, Ada apa?” Tanya Aldi dengan gugup ditambah dengan sikap Ilham yang menarik tangannya menjauh dari tempat Sherly duduk.


“Masih mau bekerja di Kafe milik Ayahku?” Tanya Ilham memastikan jawaban Aldi stelah mereka jauh dari Sherly.


“Iya, Aku mau!” Jawabnya disertai anggukan kepala.


“Dengan syarat......


“Merelakan Sherly untukmu!” Aldi memotong kata – kata Ilham.


“Aku tidak membutuhkan wanita seperti Sherly, tadinya aku mau kamu merelakan Dia untukku bukan untuk ku jadikan kekasih melainkan agar kau bisa bekerja dengan baik tanpa memikirkan Dia!” Ilham menjelaskan rencananya untuk Aldi.


“Ayo kita pulang, Buatlah surat Lamaran Pekerjaan. Besok, Aku yang bawa ke Kafe Ayah yang paling dekat dengan Sekolah. Bekerjalah disana untuk membantu biaya hidup keluargamu. Lupakan Sherly, Kau lihat dengan mata kepalamu sendiri, bagaimana sebenarnya wanita yang selama membuatmu jadi Bucin akut!” Lanjut Ilham panjang kali lebar.


Aldi bangun dari tempat duduknya dan seketika memeluk Ilham. “Terima kasih sudah peduli denganku!” Ucapnya.


Di sekolah, Aldi menyerahkan Surat lamaran pekerjaannya pada Ilham. Sepulang sekolah, Ilham mampir ke Kafe nya dan memberikan surat tersebut ke Pak Tanto, penanggung jawab Kafe tersebut.


Aldi diminta bekerja mulai besok siang sepulang sekolah hingga pukul sembilan malam, tentu dengan upah lebih besar daripada tempat sebelumnya.




**Maaf ya, Kak baru bisa up hari ini karena Author sibuk dengan dunia nyata🙏🙏🙏**


**Terima kasih buat reader yang masih setia di karyaku**!