
Flashback On
Dita pulang membawa bakso yang Ibnu berikan, karena tak mungkin jika ia makan bakso menggunakan plastik dan tangan kosong.
Sang Ayah yang baru pulang dari tugasnya sebagai tukang parkir sedang melepas lelah di teras rumah kecil itu melihat Dita datang menenteng bakso dan mengambilnya dari tangan Dita.
"Dari mana kamu dapat uang?" Tanya Parto ayah Dita lembut. "Apa Ibu yang memberimu uang?" Lanjutnya.
"Iya, Ayah!" Dita menunduk dan berbohong.
Tak semudah itu Parto percaya dengan jawaban Dita, karena tadi sebelum berangkat bekerja istrinya marah - marah dan mengatakan bahwa ia tak memiliki uang sepeserpun.
"Dita jangan bohong sama ayah! Katakan Dita dapat dari mana makanan ini?" Tanya Parto bersimpuh mensejajarkan tingginya dengan Dita.
"Dita......" Belum sempat Dita menjelaskan, Parto langsung menyuruh Dita membawa bakso ke dapur yang ada di samping rumah.
"Makanlah baksonya di dapur!" Perintahnya lembut. Sedangkan Parto langsung menendang kasar pintu rumahnya yang terbuat dari triplek itu. Ia membangunkan Ningsih yang baru saja terbuai mimpinya menjadi orang kaya.
"Ada apa?" Tanya Ningsih kasar.
"Apa Dita sudah makan?" Tanya Parto menahan amarahnya, namun tetap saja membuat Ningsih gugup mendengar pertanyaan yang dilontarkan suaminya.
"Su - sudah!" Jawabnya.
Kebohongan Ningsih membuat Parto marah. "Kau tak pandai berbohong, Ningsih!" Ucapnya dengan suara keras. "Dita tak kau beri makan, bukan? Sehingga ia mengemis untuk mendapatkan makanannya? Iya, 'kan?" Hardiknya. Semarah apapun Parto, ia belum pernah memukul anak dan istrinya. Hanya suaranya saja yang keras.
Dita yang mendengar suara ayahnya marah, menghentikan makannya dan menghampiri dua orang tua itu. Ningsih yang melihat Dita langsung menatapnya tajam.
"Dita tidak mengemis, Ayah! Dita hanya jalan - jalan ke Taman dan bertemu kakak yang baik hati. Dia memberikan Dita bakso!" Ucapnya jujur.
"Pergilah ke dapur dan lanjutkan makannya!" Parto kembali bersuara pelan pada anak semata wayangnya itu. Dengan langkah gontai Dita kembali ke dapur dan menghabiskan makanannya.
Tanpa Parto sadari, Ningsih kembali ke kamar untuk melanjutkan mimpi indahnya. Ketika tau Ningsih sudah tidak ada di sampingnya, Parto emosi dan menyusul istrinya ke kamar. Namun sayangnya, Si tukang parkir tidak jadi marah.
Parto duduk di tepi ranjang tempat istrinya tidur. "Maafkan Aku, karena aku kau lakukan itu pada Dita. Karena aku yang tak mampu memenuhi kebutuhan kita, Dita yang masih kecil kau jadikan pelampiasan amarahmu!" Parto berbicara seolah Ningsih mendengarnya sambil menitikkan air matanya.
Kemudian Parto keluar kamar dan menemui gadis kecilnya. " Maafkan ayah ya, Nak!" Parto memeluk Dita kecil yang mulai menguap karena ngantuk dan kekenyangan.
Karena itulah Dita berat hati menerima uang yang diberikan Indah.
Mendengar cerita Dita, Indah menyimpulkan bahwa sebenarnya Parto adalah seorang Ayah yang baik dan sangat menyayangi anak dan istrinya.
Mungkin karena keadaan Parto yang hanya bekerja sebagai tukang parkir, Ningsih jadi keras pada Dita anak tirinya.
Indah mengajak Dita ke tempat ayahnya bekerja. Parto menjadi juru parkir di sekitar taman kota tak jauh dari posisi mereka saat ini.
"Ayah...!" Teriak Dita berlari menghampiri sang ayah yang sedang duduk menjaga motor dan mobil orang yang banyak terparkir.
"Dita!" Parto sangat terkejut melihat kedatangan Dita kemudian digendongnya gadis kecil itu.
"Dita ke sini sama siapa? Apa sama Ibu?" Tanya Parto sembari mencari sosok istrinya. namun Dita tak menjawab.
"Dita bareng saya, Om! Sahut Indah.
"Oh! Duduk neng!" Parto menggeser kursi plastik tempatnya tadi duduk.
Melihat Fathur yang berdiri di samping Indah, Parto mengira bahwa Fathur lah laki - laki yang memberikan makanan pada Dita.
.................
**Bersambung dulu ya, Kak!!!
Tetap setia dengan "My Brother" karena kisahnya masih panjang!!!
Dukung author dengan memberikan like, komentar n vote ya, Kak!!!
Komentarmu referensiku!
Komentarmu inspirasiku!!
Komentarmu Bahagiaku**!!!