
Pak Yusuf sudah tiada, Indah ingin sekali mencari kembali jati dirinya. Mengenal keluarga kandungnya.
Indah fokus pada belajarnya agar ia mendapat nilai tinggi dan bisa masuk sekolah yang diinginkannya demi mencari jati dirinya.
Sudah pasti Ibnu masuk ke SMA N 2 karena jarak rumah Pak Salim lebih dekat ke sekolah tersebut daripada ke SMAN 1. Itulah pemikiran Indah yang membuatnya ingin sekolah di SMA N 2 di kotanya.
“Kamu mau melanjutkan kemana, Er?” Tanya Indah pada Erna salah satu teman sekelasnya yang sudah pasti akan masuk ke SMA N 2.
“Aku ke SMA 2, Ndah!” Jawabnya. “Bagaimana denganmu?” Erna bertanya pada Indah.
“Aku sama sepertimu!” Jawab Indah.
“Kenapa pilihan kamu sama sepertiku?” Tanya Erna heran.
“Apa aku ga boleh sekolah di sana?” Indah balik bertanya.
“Bukan begitu, Indah! Kita berbeda, Kamu pintar!” Erna memuji Indah. “Kamu pasti bisa masuk SMA 1, Sekolah favorit di kota ini!” Lanjutnya.
“Banyak orang menginginkan sekolah di tempat favorit di kota ini, tapi aku punya tujuan lain, Er!” Sahut Indah.
“Apa?” Tanya Erna lagi.
“Aku ingin mencari kakakku!” Indah melihat jauh ke depan dengan tatapan kosong.
Erna berpindah tempat duduk di depan Indah.
“Jadi, kamu punya saudara?” Erna dibuat terkejut oleh jawaban Indah. Selama ini Indah di kenal sebagai anak tunggal dari pasangan Pak Yusuf dan Ibu Sri.
“Iya!” Jawabnya singkat.
“Dari mana kamu tahu kalau kakakmu sekolah di SMA 2?” Tanya Erna lagi dan lagi.
“Mamaku merantau di negeri orang sedangkan Rumah bapakku dekat dengan SMA 2. Aku yakin kakakku tinggal dengan Bapak! Sangat tidak mungkin jika bapak menyekolahkan kakakku di SMA 1.
“Ooooo!” Erna membulatkan bibirnya.
“Nih dia orang yang kita cari!” Ucap Anik yang datang bersama beberapa teman yang lain.
Diantara sahabat – sahabat Indah, mungkin hanya Anik yang ingin masuk di SMA N 2 menyusul Aisyah. Selain Anik, banyak juga teman – teman Indah akan mendaftar bersama Anik meski SMA N 1 lebih mendominasi keinginan siswa lulusan SMP.
Namun sedikit dari siswa SMP 1 yang berminat melanjutkan ke SMK.
🎒🎒🎒
Dua bulan lagi mereka lulus. Setelah pelaksanaan Ujian Praktek, Sekolah akan melaksanakan Pameran hasil Karya Siswa kelas IX yang dimulai dari mereka kelas VII.
Seluruh ruang kelas IX dijadikan tempat pameran hasil karya masing – masing kelas. Di Aula sekolah, ditempati oleh Gelar Seni yang diisi oleh seluruh siswa SMP N 1.
Di sana juga ada enam kafe yang juga di rancang sedemikian rupa oleh seluruh Siswa kelas IX.
Setiap anggota kelas mendapat perannya sesuai kemampuannya. Indah mendapat bagian mengisi acara pentas seni bersama enam teman sekelasnya. Beberapa orang menjaga pameran, beberapa menjaga kafe. Sebagian lagi mempromosikan dagangannya kepada para pengunjung yang datang.
Entah mengapa jantung Indah berdetak kencang. Bukan karena ia baru turun dari atas panggung mengisi acara.
Indah duduk sejenak di kafe menonton penampilan selanjutnya sambil menikmati Juice jeruk kesukaannya. Jantungnya kembali berdetak kencang. Tiba – tiba ia teringat akan kakaknya. “Ibnu! Dia pasti ada di sini!” Gumam Indah begitu yakin akan keberadaan sang kakak di dekatnya.
Indah beranjak dari duduknya dan berkeliling sekolah mencari sosok Ibnu. Dari ruang yang satu ke ruang yang lain. Dari tempat pentas hingga tiap tempat duduk kafe ia telusuri namun tak nampak sama sekali orang ia cari.
Indah putus asa.
Pencariannya ia akhiri di ruang kelasnya. Ia duduk diantara beberapa hasil karyanya sendiri.
“Apa aku terlalu merindukanmu? Apa kau sama sekali tak merindukan aku, My Brother?” Gumam Indah sembari menatap lukisan hasil karyanya dengan tatapan kosong.
“Wuoy! Ada Fathur dan Arman sedang mencarimu di kafe!” Anik menyadarkan Indah dari lamunannya.
“Males, Ah!” Jawab Indah enggan menemui dua orang yang disebut Anik. Meski tak lagi menjadi kekasih Indah, dua orang tersebut masih setia menjadi tempat curhat Indah.
“Yah, ni orang aneh banget! Dicariin dua cowok, malah ga mau ketemu!” Pungkas Anik sembari melangkah keluar kelas.
Bukan tak mendengar tapi Anik malas membalikkan badannya dan melanjutkan perjalanan singkatnya menuju meja tempat Arman dan Fathur minum.
“Hai, Duduk!” Sapa Fathur ketika Indah berdiri di hadapannya. Dia berdiri menggeser kursi yang berada disamping kirinya agar Indah duduk.
“Tadi, Anik bilang kamu datang bersama Arman! Sekarang mana Armannya?” Tanya Indah setelah duduk di samping Fathur.
Belum sempat Fathur menjawab, tiba – tiba ada seseorang bertopi hitam berusaha menutupi mata menyodorkan daftar menu dan berkata “Mau pesan apa, Neng?” Seketika Indah menoleh dan tertawa.
“Kenapa tertawa?” Tanya Fathur yang juga menahan tawanya.
“Gimana Aku ga ketawa, Dia mau menyamar jadi pelayan kafe tapi tetap ketahuan!” Indah, Fathur dan Anik tertawa bersama sedangkan Arman melepas topi yang dipakainya.
“Duduklah, Kau sama sekali tak pandai berbohong!” Indah menepuk kursi di sampingnya dan Arman meletakkan daftar menu dan nota pemesanannya di meja. Setelah Arman duduk.
Ana datang menghampiri mereka dan bertanya “Mau pesan apa?”
Berikan mereka makanan dan minumanku saja!” Jawab Indah. Selain mengisi acara, Indah juga menjual satu macam makanan ringan dan satu jenis minuman di cafe tersebut.
Indah memesankannya untuk Fathur, Arman juga Anik agar mereka tak perlu membayarnya.
Selepas makan, minum dan menikmati beberapa acara, Fathur dan Arman pamit pulang, sedangkan Indah kembali ke kelas.
Di lorong menuju kelas, Sekilas Indah melihat sosok yang sejak tadi dicarinya datang bersama dua orang temannya. Jantung Indah berdetak kencang. Dia tau bahwa itu Ibnu namun untuk lebih meyakinkan dirinya, Indah bertanya pada salah satu temannya. “Mas!”
Indah menepuk bahu laki – laki berambut pirang tersebut. “Iya, ada apa?” Yudi namanya, ia berbalik menghadap sumber suara.
“Teman Mas yang di luar itu siapa namanya?” Tanya Indah karena Ibnu berada di luar kelas.
“Abdi!” Jawab Yudi.
“Abdi?” Indah berpikir sejenak, memang ia tak mengetahui nama lengkap Ibnu.
“Boleh tau nama lengkapnya ya, Mas?” Tanya Indah lagi.
Yudi menoleh pada seorang teman yang berada di sampingnya. “Nama lengkap Abdi, siapa? Kamu kan teman sekelasnya?”
“Oh, Namanya Abdi Ibnu! Eh salah, Ibnu..... Abdillah!” Jawab cowok yang berambut hitam dan lurus.
“Makasih ya, Mas!” Tak lupa Indah mengucap terima kasih kemudian pergi dan berjalan menghampiri Ibnu yang sedang asyik duduk menikmati sebatang rokok.
Ibnu yang melihat Indah menghampirinya, bersikap dingin seolah tak mengetahui kedatangan Indah. “Betapa bahagianya Aku, Andai kamu tau bahwa kita berdua ini saudara kandung!” Gumamnya dalam hati.
.................
**Bersambung dulu ya, Kak**!
**Othor dah ngantuk banget!🙏**
**Komen mana Komen? di BAB selanjutnya Indah bertemu dengan Ibnu sang Kakak kandung❤️**❤️❤️
**Tetap aku tunggu komentar pedasnya ya, Kak**!
**Thanks a lot**!