
Tiga puluh menit kemudian, Anik datang dengan sepeda Indah. Pak Yusuf yang melihat Anik langsung menyuruh Anik membawa pulang sepeda Indah. “Kamu bawa pulang saja, nanti sore biar Om yang jemput!”
“Makasih, Om!” Anik nyengir kuda karena diijinkan membawa pulang sepeda Indah sekaligus senang karena Pak Yusuf juga memberikan uang saku untuknya.
Seperti Ayah, ibunya juga mengira bahwa Indah sakit. Ibu hanya mengantarkan makan siang dan teh hangat ke kamar Indah di sertai obat sakit kepala yang biasa di konsumsi Indah saat penyakitnya kambuh.
“Makan dulu, sayang!” Ucap Bu Sri dan membantu Indah bangun dari posisi tidurnya.
Hal itu dimanfaatkan Indah untuk merahasiakan apa yang menimpanya di sekolah. Iya tak ingin kedua orang tuanya merasa sedih dengan kejadian yang menimpa dirinya.
Sore hari, Pak Yusuf mengajak Abil adiknya ke rumah Anik untuk menjemput sepeda milik Indah.
Mereka disambut baik oleh keluarga Anik yang memang masih saudara dekat Pak Yusuf. Namun atak lama Pak Yusuf di sana karena Pak Yusuf mengajak Anik pergi ke sebuah restauran.
Setelah diijinkan oleh kedua orang tuanya, Anik pun ikut dengan Pak Yusuf. Pak Yusuf berangkat lebih dulu naik motor disusul Abil dengan sepeda milik Indah dan Anik dengan sepedanya sendiri.
Setelah memesan makanan, Pak Yusuf bertanya tentang kejadian yang menimpa putri kesayangannya pada keponakannya itu.
“Ada apa dengan Indah, Nak? Mengapa tadi Indah pulang bersama Nurika dan kamu yang membawakan sepedanya? Apa sakitnya kambuh dan Indah pingsan?” Pak Yusuf menghujani Anik dengan beberapa pertanyaan karena beliau khawatir dengan kambuhnya penyakit Indah.
“Sakit? Pingsan?” Anik bingung dengan pertanyaan Pak Yusuf.
“Iya, Anik. Apa Indah pingsan di sekolah?” Abil pun menunggu jawaban anik.
“Maaf, Om!” Anik memandang kedua sepupu ibunya dan melanjutkan ceritanya. “Indah tidak sakit, juga tidak sampai pingsan. Saat jam pulang sekolah, ada dua orang paruh baya satu laki – laki dan satu perempuan yang mencegah Indah pergi dan mengakui Indah sebagai anak mereka. Indah menolak, tapi mereka memaksa. Karena mereka bersikeras, maka Indah meninggalkan mereka berdua yang masih memengang sepeda Indah.
Indah menyuruhku membawa sepedanya karena sejak pagi aku tidak bawa sepeda dan berniat pulang bersama Indah” Begitu jelas cerita yang disampaikan Anik.
Pak Yusuf tak menyangka Anik menceritakan kejadian yang berbeda dengan apa yang ada di pikirannya tadi siang.
“Kalian benar – benar nekat memberitahu Indah sebelum waktunya dan kalian sudah mengingkari janji yang kalian buat sendiri!” Ucap Pak Yusuf dalam hati.
Setelah selesai makan, Anik dipersilahkan pulang oleh Pak Yusuf. Sebelum pulang, Pak Yusuf membelikan beberapa porsi makanan untuk dibawa pulang oleh Anik dan menitipkan salam pada Ibu dan Ayahnya. Kemudian Pak Yusuf dan Abil pulang.
Di rumah :
“Ayah!” Indah yang sedang menyapu halaman rumah heran melihat ayahnya datang dengan sepeda miliknya yang dibawa Anik sepulang sekolah.
“Iya, nak! Kamu sudah sembuh, sayang?” Pak Yusuf masih berpura – pura tidak mengetahui kejadian sebenarnya.
“Iya, Ayah!” Indah tersenyum manis menjawab pertanyaan sang Ayah, namun seketika senyumnya berubah karena ia khawatir Anik bercerita pada ayahnya.
“Ayah dari mana?” tanya Indah menyusul ayahnya ke dalam rumah.
“Dari rumah Anik jemput sepedamu!” Jawab ayah.
“Iya, tapi ayah langsung pulang setelah meminta kunci dan membawa sepedamu!” Pak Yusuf berusaha tidak terpancing dengan pertanyaan Indah dan berlalu memberi makan ayam – ayamnya.
Malam harinya, Indah ke rumah Anik untuk memastikan jika ayahnya benar – benar datang ke rumah Anik hanya untuk mengambil sepeda miliknya tanpa bertanya apa yang telah terjadi dengan dirinya.
Anik menjawab pertanyaan Indah sesuai dengan instruksi dari Pak Yusuf tadi siang di restoran. Beliau meminta Anik agar tidak mengatakan bahwa ayahnya mengetahui kejadian yang menimpanya. “Ayahmu hanya mengambil sepeda dan berterima kasih padaku karena sudah membantumu membawakan sepeda ke rumahmu!” Jelas Anik.
Indah merasa lega dengan jawaban yang diberikan Anik dan ia pamit pulang, tentunya setelah Anik menyalin jawaban PR yang harus dikumpulkan besok pagi.
“Sudah pulang, nak?” tanya Pak Yusuf yang sedari tadi mengkhawatirkan Indah.
“Iya, ayah!” Jawabnya.
“Sayang, apa besok kamu akan ke sekolah?” Tanya Pak Yusuf lagi.
“ Iya dong, Ayah!” Jawab Indah bersemangat dan melebarkan senyum.
“Apa sakit kamh sudah sembuh, Nak?” Pak Yusuf khawatir jika Pak Salim dan Bu Ifa akan datang kembali menemui Indah di sekolah. Namun Pak Yusuf berkilah seolah dirinya mengkhawatirkan kesehatan Indah.
“Aku sehat, Ayah!” Jawab Indah dengan senyum riangnya.
Bu Sri yang mendengar pembicaraan anak dan ayah tersebut merasa terharu karena keduanya saling menutupi kejadian yang sebenarnya.
Pak Yusuf menceritakan apa yang dirinya dapat dari keterangan Anik pada istrinya saat Indah pergi ke rumah Anik.
“Maafkan aku, Ayah! Aku tau Ayah akan sedih jika mengetahui apa yang mereka lakukan padaku. Mungkin lebih baik Ayah tidak tau dan menganggap aku pulang tanpa sepeda karena sakit ku kambuh!” Gumam Indah dalam hati.
Indah melihat kembali jadwal pelajaran untuk esok hari. Kejadian tadi siang membuatnya lupa jika ada tugas membuat kerajinan tangan yang harus dikumpulkan besok. Indah meminta uang pada ibunya untuk membeli bahan kerajinan tangan.
Pak Yusuf yang mendengar Indah meminta uang segera memberikannya. Indah pergi keluar untuk membeli keperluannya karena waktu masih menunjukkan pukul delapan malam.
Di jalan Indah bertemu dengan Fathur yang juga baru selesai mengerjakan tugas sekolah dari rumah temannya.
“Mau kemana?” Fathur menemani Indah ke toko yang dituju Indah.
“Beli bahan buat tugas keterampilan besok pagi!” jawab Indah sambil tetap mengayuh sepedanya.
“Aku temani ya?” Tanya Fathur meski ia tau Indah takkan menolaknya.
“Iya, kamu dari mana?” Indah balik bertanya.
“Dari rumah teman, diskusi kelompok!” Jawabnya.
Beberapa menit mereka telah sampai di tempat tujuan Indah. Indah mengambil semua yang dibutuhkannya. Saat sampai di kasir, Fathur menyodorkan beberapa lembar uang untuk membayar belanjaan Indah namun tangannya di cegah oleh Indah.
“Jangan, Fa! Biar aku yang bayar!” Indah tersenyum manis. Bukan tak menghargai kebaikan kekasihnya, namun Indah tau keadaan orang tua Fathur. Setelah membayar, mereka kembali mengayuh sepeda masing – masing. Fathur mengantar Indah pulang kemudian kembali ke rumahnya sendiri.
Tidur tengah malam, hal itu biasa dilakukan Indah saat ada PR yang belum dikerjakan dan tidur setelah PR nya selesai. Pun dengan malam ini. Meski selesai dengan kerajinan tangannya, Indah tidak langsung tidur. Ia teringat akan Nasi goreng pemberian Faika yang dititipkan pada Ibunya saat ia sedang pergi ke rumah Anik. Setelah makan, barulah Indah bisa memejamkan mata lelahnya.
Dua sejoli yang saling mengerti dan tak ingin saling mengganggu kegiatan sekolah masing – masing.
Mereka hanya bertemu dan berkencan saat keduanya saling sepakat. Tak seperti remaja lain yang sedang di mabuk asmara, mereka memanfaatkan waktu keluar rumah untuk berpacaran.
Keduanya juga saling menghargai, terlebih Indah yang tak pernah ingin menyusahkan orang lain. Merekalah Indah dan Fathur.
Happy reading.
Jangan lupa tinggalkan like, vote n komentarnya ya???
Komentarmu semangatku😘😍🥰