
Kasihan sekali Indah, gara - gara aku penyakitnya jadi kambuh. Seharusnya aku tak memarahinya. Tentu saat ini marahku menjadi beban pikirannya, padahal besok ia harus menghadapi ujian. Maafkan Ibu mu ini, Sayang! Aku hanya takut kehilanganmu, Indah! Batin Bu Sri.
🌹🌹🌹
Keesokan harinya. Indah memaksakan diri bangun dari tidurnya meski kepalanya masih terasa sakit.
"Apa kamu mau ikut ujian mulai hari ini, Nak?" Meski merasa canggung namun Bu Sri tetap berbicara pada Indah. Bukan karena benci melainkan karena rasa bersalahnya telah memarahi Indah.
"Iya, Bu!" Jawabnya.
"Kalau masih sakit, kenapa tidak ikut susulan saja. Biar nanti ibu yang menghubungi kepala sekolah!" Bu Sri mengkhawatirkan keadaan Indah.
"Tidak apa, Bu! Jangan khawatir, Indah bisa ikut ujian hari ini!" Jawabnya sembari menahan sakit.
"Baiklah kalau itu keinginanmu! Ibu akan menghubungi Abil agar ia bisa mengantarmu ke sekolah". Kemudian Bu Sri menghubungi adik iparnya.
Hari ini Indah sengaja memaksakan diri karena ia tak ingin sendiri mengikuti ujian susulan. Sakit yang ia rasakan tak mampu mengalahkan semangatnya mengikuti ujian. Meski tak semat belajar, namun Indah mampu menyelesaikannya tepat waktu dan hasilnya memuaskan.
"Badanmu panas, matamu juga memerah! Apa sakit mu kambuh?" Tanya Halim yang sedari pagi memperhatikan dan menyentuh lembut kening Indah.
Indah mengangguk tak berdaya. Ia lalu meletakkan kepala di atas meja beralaskan kedua tangannya.
"Apa kamu sudah minum obat?" Tanya Halim lagi.
"Aku sudah minum obat, Ha. Jadi jangan terlalu khawatirkan aku!" Indah tak ingin orang lain terlalu memikirkan dirinya.
"Adakah sesuatu yang bisa membuat rasa sakit mu reda selain obat?" Halim.
"Mungkin dengan minum minuman hangat". Sahut Indah.
"Kalau begitu, tunggulah di sini!" Tanpa menunggu respon Indah, Halim pergi menuju kantin sekolah. Sedangkan Indah menyandarkan kepalanya di atas meja sambil membaca buku.
Beberapa menit kemudian, Halim datang dengan segelas teh manis hangat. "Minumlah!"
"Terima kasih!" Indah meneguknya hingga tandas. Kemudian ia berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Indah dikejutkan dengan kehadiran Halim yang menunggunya di depan pintu. Halim memapahnya menuju kelas.
"Bagaimana...
"Aku baik - baik saja, Ha!" Serunya sebelum Halim melanjutkan kata - katanya.
"Kamu ga usah bohong, Indah! Aku merasakan panasnya suhu tubuhmu. Matamu juga memerah. Baru saja kau muntah. Kau masih bisa bilang dirimu baik - baik saja". Halim begitu mengkhawatirkan mantan terkasihnya.
Satu mata pelajaran kembali terlewati dengan mulus. Saatnya mereka pulang. Ketika Halim mengambil motornya, terlihat Abil berjalan mendekati Indah. Indah menghampiri Abil.dan naik ke atas motor.
"Ana, Apa kamu melihat Indah?" Tanyanya.
"Eh, iya! Tadi aku lihat Indah dijemput om nya." Jawab Ana.
"Ada apa dengan Indah?" Tanya Ana yang selama ujian tidak satu ruangan dengan Indah.
"Sakitnya kambuh. Entah sejak kapan kambuhnya, yang pasti badannya panas tinggi" Halim menjelaskan.
"Oh!" Ana mengangguk paham.
Sesampainya di rumah, Indah disambut sang Ibu dan langsung dituntun ke kamar untuk istirahat. Sedangkan Abil langsung pamit pulang.
Serangkaian ujian telah dilalui oleh Indah dan teman - teman. Saatnya mereka menikmati libur panjang sebelum melanjutkan ke SMA/SMK.
Bu Ifa pulang ke Indonesia. Ibnu langsung memberikan kabar gembira pada sang Ibu.
Kabar gembira bahwa Indah telah mengetahui kebenaran tentang keluarganya.
Seketika Bu Ifa menjadi bingung. Apakah ia harus bahagia mendengar kabar tersebut atau sebaliknya, ia harus bersedih. Semua tergantung bagaimana Indah menanggapinya.
"Ma!" Ibnu.
"Iya, Nak!" Sahut Bu Ifa.
"Indah sudah tau tentang kita keluarga kandungnya." Ungkapnya.
"Iya, Ma!" Jawabnya.
Seketika pandangan Bu Ifa kosong.
*Apakah Mama harus senang atau sedih, Nak? Mama senang saat kamu tahu bahwa mama lah yang melahirkan mu. Tapi mama khawatir, setelah kamu mengetahuinya apakah kamu akan membenci mama*? Batin Bu Ifa.
Mungkin benar ekspektasi Bu Ifa, Indah membencinya karena menganggap kedua orang tua kandungnya tak menghendaki kehadirannya tanpa tahu penyebab mereka memberikannya pada Pak Yusuf dan Bu Sri.
"Nu, besok pagi Mama akan menjenguk Indah. Apa kamu mau ikut?" Tanya Bu Ifa.
"Besok Nu sekolah, Ma!" Jawabnya.
"Kalau begitu biar Mama sendiri yang ke sana melihat adikmu" Bu Ifa.
Ibnu berangkat ke sekolah bersama mamanya naik motor milik paman Syah yang kebetulan saat itu berada di negeri Jiran.
Bu Ifa turun di depan gang, kemudian berjalan kaki menuju rumah Almarhum Pak Yusuf.
"Assalamualaikum!" Ucapnya setelah sampai di rumah Pak Yusuf.
"Waalaikum salam!" Jawab Nenek Zaitun sembari membukakan pintu.
Bu Ifa dipersilahkan duduk, kemudian nenek memanggil Bu Sri.
"Nak, Ada tamu di depan" Ucapnya memberitahu Bu Sri.
"Siapa, Bu?" Tanyanya.
"Ifa" Bisik nenek yang takut terdengar oleh Indah.
"Apa!" Bu Sri terkejut dengan kehadiran Bu Ifa, namun ia segera menutup mulut karena ia juga gak ingin Indah mendengarnya..
Bu Sri meminta nenek menyiapkan minum dan cemilan untuk tamunya. Namun sebelum minuman selesai dibuat, Indah yang sedari tadi berada di belakang rumah masuk ke dapur.
"Apa ada tamu di depan, Nek?" Tanya Indah.
"I iya, Nak!" Jawab nenek gugup.
"Siapa tamunya, Nek? Kok gugup gitu?.Mantan pacar nenek waktu masih muda ya!" Indah meledek neneknya.
"Kamu ini ada - ada saja!" Nenek Zaitun.
"Sini, Nek biar Indah yang bawa!" Indah mengambil alih nampan yang dipegang Nenek Zaitun dan membawanya ke ruang tamu.
Hampir saja nampan yang Indah bawa terjatuh saat ia melihat siapa tamu Ibunya. Namun ia tahan.
Indah meletakkan nampannya dan menata minuman serta cemilan di meja, kemudian beranjak pergi dari sana.
Seperti halnya Bu Ifa, Indah juga bingung dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi ia bahagia bertemu dengan orang yang telah berjuang melahirkannya, namun di sisi yang lain ia merasa kecewa dengan kedua orang tua kandungnya yang telah memisahkan diri nya dengan keluarga yang lain.
Indah masuk kamar dan menguncinya dari dalam. Nenek Zaitun dan Bu Sri sangat mengerti dengan perasaan Indah.
"Silahkan di minum, Mbak!" Bu Sri.
"Terima kasih, Dek!" Sahutnya sembari menikmati hidangan yang disuguhkan oleh putrinya sendiri meski Bu Ifa tidak tau siapa yang membuatnya.
"Bolehkah saya berbicara sejenak dengan Indah?" Tanya Bu Ifa dengan wajah memohon.
"Mungkin Mbak sudah dengar dari Ibnu, kalau Indah sudah mengetahui tentang jati dirinya. Namun begitu, kami tidak bisa memaksa Indah untuk menentukan tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya mengingat kondisi kesehatan Indah yang tidak stabil" Jawab Bu Sri panjang kali lebar. Bu Ifa mengangguk paham.
"Tunggulah sebentar!" Bu Sri mengetuk pintu kamar Indah.
🌼🌼🌼
Terima kasih buat yang masih setia!
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Kak!
Maaf jika author lama up nya. Author lagi kuliah PPG.
Semoga bisa lulus tepat waktu dan bisa kembali menulis!