
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Naomi tengah mencari sebuah novel dengan judul yang sama dengan novel milik Maura. Sahabatnya itu tak mau meminjamkannya meski hanya sebentar saja, kebiasaan Naomi yang ceroboh membuat Maura enggan meminjamkan barang apapun miliknya. Lebih baik dikatai pelit daripada barang kesayangannya hilang atau rusak.
Naomi menggerutu kesal saat novel itu tak ada di jejeran novel romance lainnya. Dengan perasaan dongkol di hati, gadis itu beranjak keluar dari toko buku tersebut. Ia ingin meminum es serut saja sebagai penyejuk hatinya yang kini tengah kesal pada Maura sekaligus toko buku yang ia datangi.
"Aduh," pekik Naomi ketika tanpa sengaja seorang lelaki muda menabraknya.
"Maaf, Mbak, saya tidak sengaja." pemuda yang tak diketahui namanya tersebut merasa bersalah dan meminta maaf pada Naomi yang terlihat semakin kesal.
"Eh?" Naomi yang akan menjawab permintaan maaf pemuda itu harus ia telan lagi, sebab dengan tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan mengajaknya berlari pegi keluar dari mall.
Eh, apakah dia pencuri? Kenapa banyak sekali yang mengejarnya?
Naomi bertanya dalam hati, ia takut jika lelaki itu adalah seorang pencopet dan sebagainya. Ia memutuskan untuk diam ketika pemuda itu memasukkannya ke dalam mobil dan membawanya pergi entah ke mana. Naomi tak mau jika sampai ia berteriak, justru akan membuat pemuda itu marah dan menyakitinya.
***
Sudah setengah jam lebih Naomi dibawa entah ke mana oleh si pemuda asing bertopi dan memakai kaca mata hitam itu, sejenak ia mengingat sosok Leon yang juga sering melakukan penyamaran ketika keluar rumah atau menjemputnya ke sekolah.
Mengingat Leon hanya akan mengorek luka lama yang kini tengah berusaha ia sembuhkan. Sedikit nyeri pada dadanya ketika mengingat penolakan Leon dan sikap acuh padanya yang selama ini tak pernah ditunjukkan pria itu.
Naomi melihat pada jam tangannya, pukul 15.45 WIB. Seharusnya ia sudah berada di rumah saat ini, tapi sekarang ia justru dibawa pergi entah ke mana oleh seorang pemuda asing yang belum pernah ia temui sebelumnya.
"Ma-maaf, Mas," tegur Naomi lirih. Ia berharap tak membuat si pemuda asing itu marah.
"Eh? Loh? ... ka-kamu siapa?" tanya pemuda itu bingung. Dengan segera ia menepikan mobilnya.
"Mbak ngapain di mobil saya?" tanya pemuda itu lagi yang justru membuat Naomi semakin bingung.
"Kok Mas malah tanya saya? Kan mas sendiri ang narik saya buat ngikut sama mas." Naomi semakin kesal pada si lelaki yang dianggapnya pikun tersebut.
"Ya ampun, Mbak." lelaki itu menepuk keningnya seakan mengingat sesuatu, "Saya gak sengaja narik kamu. Seharusnya cowok yang berdiri di samping mbak tadi yang saya ajak kabur."
"Berarti kamu salah narik orang?" tanya Naomi yang seakan ingin terbahak mendengar alasan aneh lelaki itu. Si pemuda mengangguk pelan, ia juga merutuki kebodohannya.
"Aku panik tadi, Mbak. Jadi ya ... gitu," ucapnya kemudian menggaruk tengkuknya salah tingkah. Jika tadi bukan karena penggemarnya, mungkin kejadian memaluka ini tak akan terjadi.
"Kamu ... artis?" tanya Naomi penasaran. Sejujurnya ia tak pernah melihat pemuda itu di saluran tv manapun.
"Bukan kok, Mbak. Saya cuma pelajar biasa aja."
Naomi hanya mengangkat alisnya acuh. Sesungguhnya ia juga tak peduli pemuda itu artis atau bukan, toh itu bukanlah urusan Naomi.
"Sekali lagi saya minta maaf ... perkenalkan, nama saya Tristan." lelaki itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Naomi menerimanya dan tersenyum manis pada Tristan.
"Naomi."
***
Naomi diantar pulang oleh lelaki tampan bernama Tristan yang baru saja ia temui di mall tadi. Kejadian konyol yang selalu membuat keduanya tertawa saat mengingatnya, dan baru Naomi ketahui kalau Tristan adalah seorang yang humoris.
Selama mengobrol di cafe sore tadi, Naomi tahu kalau Tristan adalah pemuda yang cukup terkenal. Tak sedikit dari pengunjung cafe yang menyapanya ramah bahkan ada juga yang mengajaknya mengobrol ringan. Lelaki yang awalnya ia kira sebagai pencopet, ternyata adalah orang yang baik dengan sifat yang ramah. Sejenak Naomi melupakan masalahnya dengan Leon.
"Naomi, kamu kenapa kok senyum-senyum sendiri?" tanya Mama Naomi yang heran dengan sikap anaknya yang mendadak terkikik geli seorang diri.
"Eh, Mama ... Naomi gak papa kok, Ma. Cuma ingat hal lucu aja tadi pas di sekolah," kilah Naomi yang merasa malu akibat tingkah konyolnya.
"Naomi gak papa kan, Nak? Sehat, kan?" tanya Tamara semakin khawatir. Ia hanya takut jika terjadi sesuatu yang tak beres dengan putrinya.
"Naomi baik-baik aja kok, Ma. Ya udah ya, Ma, aku mau istiraht dulu."
Cup~
Naomi melenggang pergi ke kamarnya setelah mencium pipi kiri Tamara sebelum wanita itu bertanya lebih jauh mengenai putrinya.
***
Naomi tengah menonton acara gosip di TV, ia sengaja menonton acara tesebut lantaran akan ada kabar mengenai Leon dan karirnya di dunia hiburan. Naomi sangat antusias hingga ia melupakan acara makan malamnya.
'Iya, saya bersyukur atas pencapaian yang saya dapat saat ini. Semuanya tidak lepas dari doa kedua orangtua saya dan dukungan dari teman-teman saya, juga semua penggemar dan orang-orang yang menyayangi saya selama ini. saya tidak akan bisa seperti jika bukan karena mereka.' Leon terlihat memberikan jawaban atas pertanyaan dari beberapa awak media.
Lelaki itu juga dengan sabar mendengarkan dan menjawab pertanyaan dari wartawan lainnya. Sesekali pria itu juga tersenyum dan tertawa saat ada pertanyaan atau sahutan dari para pencari berita yang terdengar lucu.
'Ya, saya memiliki seorang kekasih yang saya sangat cintai.'
Deg ...
Seketika dada Naomi begitu nyeri mendengar pernyataan dari Kakaknya.
'Iya, kali ini saya tidak main-main dengan hubungan kami. Karena saya sudah menemukan wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidup saya, kami akan segera bertunangan.' tutup Leon dan terlihat lelaki itu segera pergi.
Naomi tanpa sadar mengeluarkan air matanya dengan deras, tanpa isakan dan tanpa suara. Namun, di dalam hati gadis itu dirinya benar-benar terluka. Hatinya teriris begitu pedih hingga ia tak ingin orang lain mengalami kesakitan yang sama sepertinya.
Naomi memandang sendu foto Leon di layar TV dengan sang kekasih, Vebra. Seorang artis pendatang baru yang kini tengah membintangi satu judul film layar lebar bertajuk romance bersama dengan Leon.
"Selamat, Kakak. Semoga kamu bahagia, maafkan aku yang sudah dengan lancang mencintaimu. Aku minta maaf," lirih Naomi dengan air mata berlinang.
_________Tbc,