
"Iya, iya, Maafin aku ya! Kita bicarakan masalah kita nanti setelah aku selesai magang! Sekarang kamu baik - baiklah dengan Arman karena kamu terlanjur menerima cintanya!" Fathur tersenyum memiringkan kepalanya.
Mereka mengakhiri percakapan malam ini.
"Om mau ajak Indah jalan - jalan ke MonSam, apa kamu mau ikut?" Tanya Paman Syah pada Ibnu.
"Pengen ikut, tapi..." Ibnu berpikir sejenak.
"Ayo bareng om, nanti om turunkan kamu di Taman. Kamu tunggu om jemput Indah di sana!" Paman Syah mengerti apa yang dipikirkan keponakannya itu.
"Baiklah! Aku akan bersiap dulu!" Ibnu berlalu ke kamar untuk mengganti pakaiannya.
Paman Syah sering berkunjung ke rumah Indah kecil dan mengajaknya jalan - jalan. Namun setelah Pak Yusuf dan keluarganya pindah rumah, Syah jarang bahkan tidak pernah menemui Indah sebab bersamaan dengan itu Syah pergi ke negeri Jiran untuk bekerja.
Syah pernah datang saat Indah kelas lima SD, namun hanya sebentar. Dia datang untuk menikah. Setelah menikah, ia kembali bekerja di Malaysia. Kali ini dia datang saat Indah sudah menjadi gadis yang cantik dan pintar, begitu juga dengan Ibnu yang sudah menjadi seorang pemuda tampan dan bertanggung jawab atas apa yang ia miliki.
Syah dan Ibnu sudah siap berangkat jalan - jalan ke Taman kota bersama Indah.
"Hai, Indah!" Sapa Syah saat melihat Indah duduk di teras rumahnya.
Indah melihat orang yang menyapanya namun tak mengenalinya. "Maaf, Om siapa?" Tanyanya.
"Wah, Indah ga ingat sama Om?" Lanjut Syah.
"Emmmm, Siapa ya?" Indah berpikir sejenak. Kemudian Syah mencari foto Indah kecil saat bersamanya dan memberikan ponselnya pada Indah. Setelahnya, Indah memandang lekat wajah Syah dan berteriak girang. "Om Syah!"
"Iya, Sayang!" Keduanya berpelukan melepas rindu. Bu Sri yang mendengar suara mereka, keluar menuju teras rumah.
"Eh, ada tamu dari negeri Jiran!" Ibu terkejut melihat kedatangan Paman Syah.
"Iya, Mbak!" Paman Syah melepas pelukannya bersama keponakan kesayangannya dan menyalami Ibu.
"Nih, ada oleh - oleh buat kamu!" Paman Syah menyerahkan paper bag motif dengan dasar berwarna biru.
"Terima kasih, Om!" Indah menerimanya dengan tersenyum lebar.
"Kamu pake' ya! Kita jalan - jalan!" Kata sang Paman yang kemudian dipersilahkan duduk oleh Ibu. Ibu memanggil Ayah untuk menemui Paman Syah. Keduanya mengobrol sebentar di temani secangkir teh hangat buatan Ibu.
Indah masuk kamar untuk mengganti pakaiannya dengan jeans berwarna biru dan T-Shirt dengan warna senada. Ia lupa membuka paper bag yang diberikan pamannya. Setelah berpakaian, barulah ia membukanya dan ternyata isinya sweater berwarna biru. Sangat cocok dengan baju yang dipakainya. Seperti biasa Indah menyampirkan sweater tersebut di pinggangnya.
"Aku sudah siap!" Indah memiringkan kepala dengan senyum termanisnya di depan Pak Yusuf dan Paman Syah.
Seketika obrolan Pak Yusuf dan Paman Syah berhenti karena kehadiran Indah di hadapan mereka.
"Waaaah, Cantiknya ponakan om yang satu ini!" Paman Syah memuji Indah ditemani senyum dibalik kumis tebalnya. "Kita berangkat sekarang yuk!" Lanjutnya.
Indah pamit seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Mereka berangkat menuju MonSam dimana sudah ada Ibnu yang menunggu di taman. Di sana mereka bertiga bercengkrama seolah tak ada rahasia diantara mereka. Hari memang sudah sore, satu per satu penjual makanan di sekita taman mulai berdatangan. Paman Syah mengajak dua keponakannya makan, membiarkan Indah dan Ibnu memilih makanan kesukaan masing - masing dan menikmatinya bersama.
Adzan Maghrib berkumandang dari Masjid Agung yang berdiri kokoh di dekat taman. Mereka bergegas ke sana untuk melaksanakan Shalat berjamaah. Mereka menggunakan alat Shalat yang tersedia di masjid tersebut.
Usai Shalat, tak lupa mereka berdoa, Ibnu berdoa memohon pada Sang Pencipta agar dirinya segera dipersatukan dengan adik tersayang juga dengan kedua orang tuanya dalam sebuah rumah dan menjadi keluarga yang utuh. Ibnu tak pernah berhenti berharap, meski iya tahu doanya akan sulit terkabul.
Indah juga mengangkat tangan berdoa pada Allah agar kedua orang tuanya di berikan umur panjang dan kesehatan. Serta melipat gandakan rezeki keduanya sebagai balasan atas apa yang mereka berikan padanya. Tak lupa Indah juga memanjatkan doa keselamatan Dunia Akhirat untuk kedua orang tua kandungnya. Entah doa apa yang dibaca oleh Paman Syah.
Ibnu duduk di teras masjid sambil menunggu paman dan adiknya keluar. Tak sengaja ia melihat Indah sedang melipat mukenah. "Kapan ya dek, kita bisa berkumpul bersama?" Ibnu bertanya dalam hati.
"Assalamu'alakum! Lagi ngomongin Indah ya!" Indah menggoda dua laki - laki yang sejak sore bersamanya.
"Iya nih, kita lagi ngomongin kamu. Indah jelek kayak bebek!" Sahut meledek adiknya.
"Yeeeee, Mas kayak monyet!" Balasnya.
"Berarti Indah adiknya monyet!" Ibnu keceplosan. Tapi tak berpengaruh karena Indah sudah mengetahui yang sebenarnya. Kemudian mereka tertawa bersama. "Husss, sesama monyet dilarang ketawa!" Lanjut Paman Syah menghentikan tawa mereka.
Mereka melanjutkan petualangan malam ini ke Supermarket terdekat. "Indah, Ibnu, kalian penuhi semua kebutuhan kalian. Biar Om yang bayar!" Titah Paman Syah.
Mulailah Indah berjalan bersama Ibnu seperti sepasang kekasih memilih barang - barang yang mereka butuhkan. Indah membeli peralatan mandi dan paket perawatan rambut dan badan serta sabun wajah.
"Dek, apa kamu ga beli kosmetik? Bedak mungkin!" Ibnu menawarkan pada Indah barangkali adiknya itu lupa membeli bedak.
"Engga, Mas!" Sahut Indah.
"Lho, kenapa dek? Apa di rumah masih ada?" Tanya Ibnu lagi.
"Bukan begitu, Adek memang ga suka pakai bedak!" Sahut Indah lagi.
Mendengar jawaban Indah, Ibnu mengajaknya mencari parfum. Tangan mereka meraih satu botol parfum yang sama bermerk G****y.
"Adek mau beli buat siapa?" Tanya Ibnu heran melihat Indah meraih parfum milik cowok.
"Buat aku!" Jawabnya singkat.
Karena parfum yang mereka pakai sama, maka mereka membeli dua botol. Tak lupa mereka membeli camilan dan minuman kesukaan paman mereka meskipun beliau tidak memesannya, setelah itu mereka menuju kasir. Di sana, Paman mereka sudah berdiri dan sedang menunjuk sebungkus rokok di belakang kasir.
"Sudah belanjanya?" Tanya Paman Syah.
"Sudah!" Jawaban Ibnu.
"Belum, Om!" Jawaban Indah berbeda membuat Ibnu mengerutkan keningnya.
"Kalo belum, ambil lagi ja! Om tunggu!"
"Belum dibayar!" Indah melirik pamannya.
"Kamu ini...!" Paman Syah dan Ibnu mencubit gemas pipi Indah.
"Sakit!" Indah merajuk padahal dua pria itu mencubit pipinya lembut.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Paman Syah mengantar Indah pulang dengan motornya. Ibnu memilih pulang berjalan kaki membawa barang - barang miliknya, karena jarak rumah yang dekat dengan MonSam.
Tiba - tiba ada orang yang menarik tangannya kasar dan membawanya ke tempat sepi.
🌼🌼🌼
**Dah dulu ya, kak! Author masih mau masak untuk buka puasa!
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like & sedekah vote or koin recehnya.
Komentar juga sangat berarti untuk penulisan Chapter selanjutnya!!!
Terima kasih, Semoga rejekinya dilipat gandakan oleh Sang Pencipta!!!🤲🤲🤲**