My Brother

My Brother
9



Satu minggu kemudian hubungan Naomi dengan Tristan semakin dekat, bahkan mereka selalu menghabiskan waktu bersama ketika pulang sekolah. Seringnya Tristan mengantar pulang Naomi, membuat Tamara mengenal lelaki itu dengan baik. Di mata Tamara, Tristan adalah sosok lelaki yang baik dan sopan.



Kini, Naomi dan Tristan memutuskan untuk jalan berdua ke mall. Maura sengaja tak ikut lantaran gadis itu tengah pergi bersama kekasihnya.



Semenjak ada Tristan dalam hidup Naomi, tak pernah lagi gadis itu merasa sedih dan bahkan telah melupakan perasaannya pada Leon sepenuhnya. Ia hanya menganggap Leon sebagai saudaranya, tidak lebih dari itu.



Tristan adalah pemuda yang bersifat menjengkelkan bagi Naomi, namun pemuda itu juga memberikan kebahagiaan bagi dirinya.



Tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah menatap adegan Tristan dan Naomi yang tengah bersenda gurau di sebuah toko boneka. Leon, lelaki itu menggeram kesal melihat adiknya tengah begitu dekat dengan pemuda lain selain dirinya. Seumur hidup baru kali ini Naomi begitu dekat dengan seorang pria, dan Leon tak menyukai hal itu.



Tangan Leon mengepal kuat, bahkan ia mengabaikan Vebra yang tengah menariknya ke suatu tempat yang gadis itu inginkan. Leon merasa dadanya seakan terbakar dan amarah sangat cepat menguasainya, hingga dengan kasar ia mengibaskan tangan kanannya dan hal itu membuat kekasihnya terjatuh di depan umum.



Bukannya merasa bersalah dan menolong, Leon justru pergi tak peduli Vebra yang tengah mengumpat padanya. Dalam hati Leon, ia sangat kesal dan kecewa atas tindakan Naomi yang dengan mudahnya dekat dengan lelaki lain.



Leon pun tak mengerti mengapa perasaannya tiba-tiba sekacau ini. Lelaki itu menggeram kesal dan memukul setir kemudi mobilnya, ia ingat saat-saat dirinya bersama Naomi. Saat itu ia yakin kalau Naomi tak membutuhkan pria lain selain dirinya, karena selama ini adiknya itu selalu bahagia bersama Leon, dan ia tak pernah memprediksi hal seperti ini akan terjadi.





***




Leon telah sampai di apartemennya, lelaki itu melepas jaketnya dengan asal dan meletakkan di sofa ruang tamu begitu saja. Ia mengacak rambutnya frustasi, beberapa kilasan memori saat Naomi bermanja padanya membuat Leon tak bisa merelakan adiknya memiliki kekasih. Jika Naomi memiliki kekasih, otomatis ia akan melupakan Leon dan tak mau bermanja lagi padanya. Itulah yang ada dalam pikiran konyol seorang Leon.



Di tengah rasa bimbangnya, Leon memutuskan untuk menelpon Tamara. Ia berharap mamanya tersebut mengatakan sesuatu yang ingin ia dengar, kalau yang ia lihat di mall tadi salah.



"Halo~" sapa Tamara lembut.



"Ma ...," panggil Leon sedikit ragu akan menanyakan sesuatu mengenai sang adik, tapi jika ia terus ragu dan diam, maka ia tak akan mendapat informasi apapun mengenai Naomi.



"Mmm ... Ma, apa Naomi ada di rumah? Apa dia udah pulang sekolah?" tanya Leon akhirnya.



"Naomi ijin jalan dengan Tristan ke mall sepulang sekolah, adik kamu sudah mulai dekat dengan kakak kelasnya itu, Leon." terdengar suara ceria Tamara yang berbanding terbalik dengan perasaan Leon yang kacau. Bahkan bibirnya kini kelu meski hanya sekedar mengucapkan sepatah kata.



"Leon?"



"Ya udah, Ma, Leon nanti pulang ke rumah." Leon segera menutup poselnya.



Tanpa pikir panjang lagi, Leon segera mengambil kunci mobilnya. Lelaki itu memutuskan untuk kembali tinggal di kediaman orangtuanya.




***





Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.30 malam, Naomi dan Tristan kini sudah berada di depan rumah orangtua Naomi. Mereka masih diam di dalam mobil dengan Naomi yang menunduk dan pipi yang merona bahagia, sehari penuh bersama Tristan membuat Naomi merasa bahagia karena sikap pria itu yang konyol.



"Mmm ... aku anterin masuk, yuk! Takutnya nanti Mama kamu marah," ucap Tristan yang diangguki Naomi. Dalah hati Tristan juga senang bisa bersama dengan Naomi, gadis menyebalkan yang terkadang memiliki sifat malu-malu.



Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju pelataran rumah Ricard. Namun, langkah mereka terhenti karena ada Leon yang tengah bersandar di pintu masuk. Lelaki itu menatap tajam pada pria yang dibawa adiknya.



Naomi melihat penampilan Kakaknya dari atas sampai bawah, ia sedikit bingung kenapa Leon mengenakan baju santai. Biasanya jika berkunjung, lelaki itu masih memakai pakaian yang sedikit lebih rapi. Namun sekarang, Leon hanya memakai celana training panjang, kaos dan sandal rumah.



"Kakak, kenalkan ini Tristan. Temen aku," ucap Naomi mengenalakan Tristan. Berbeda dengan Tristan yang begitu antusias berkenalan dengan Leon, Kakak dari Naomi itu justru bersikap dingin dan langsung menarik tangan adiknya agar berada di belakang Leon yang tengah menatap Tristan dengan pandangan dingin yang menusuk.



"Malam, Kak ... nama saya Tristan, saya--"



"Jauhi Naomi!"




"Maksutnya?" tanya Tristan bingung. Ia tak menyangka kalau seorang publik figure seperti Leon yang terkihat ramah di TV nyatanya begitu dingin dan sombong.



"Saya tidak mengijinkan adik saya berteman dengan sembarangan orang. Jadi, lebih baik kamu menjauhi Naomi sebelum saya bertindak lebih jauh dari ini." Leon meninggalkan Tristan yang masih mematung mencerna perkataannya. Ia membawa Naomi ke dalam rumah meski adiknya itu berontak bahkan sudah menangis memanggil Papanya minta tolong.



Leon tak peduli, ia hanya ingin adiknya kembali seperti dulu. Menomor satukan dirinya, bukan laki-laki lain.





***




Leon menghempaskan Naomi di ranjang miliknya, kini emosi lelaki itu sudah di ubun-ubun. Bahkan ia pun tak mengerti kenapa bisa sebegitu marahnya hanya karena Naomi berteman dengan seorang pria.



"Jauhi dia!" ucap Leon sedikit membentak. Naomi yang kaget hanya bisa menunduk tak berani melihat wajah Kakaknya.



"Tristan itu baik, Kak. Naomi suka--"



"SUKA?" bentak Leon yang membuat Naomi refleks menutup kedua telinganya dan menjerit takut.



"KENAPA KAMU MEMBANGKANG DARI KAKAK? AKU UDAH LARANG KAMU BUAT BERHUBUNGAN DENGAN LELAKI MANAPUN DI LUAR SANA! KENAPA MASIH MEMBANGKANG? HUH?" teriak Leon emosi.



"PAPA!" panggil Naomi sambil menangis keras akibat Leon yang kini sudah menindihnya penuh emosi. Naomi memukul dada Leon dengan brutal, ia membenci Kakaknya yang menurutnya bersikap aneh.



"PAPA ... PAPA ... TOLONG ... PAPA, TOLONG." teriak Naomi histeris membuat Ricard berlari ke kamar Leon dan menemukan putra sulungnya tengah menduduki perut Naomi dengan kedua tangan yang mencengkram pergelangan tangan Naomi.



"LEON!" bentak Ricard yang membuat Leon refleks melepaskan Naomi, lelaki itu menatap Ricard tanpa rasa takut sedikit pun. "Mau kamu apakan adik kamu, Leon?"



Ricard tampak sangat marah melihat sikap Leon yang ia rasa tidak wajar. Segera ia meraih putrinya yang sudah gemetar dan memeluknya hangat, Naomi menangis di pelukan Papanya.



"Setelah ini kamu ikut Papa ke ruang kerja, ada yang mau Papa omongin ke kamu."



Ricard segera membawa Naomi yang sudah menangis ke kamar milik putrinya, ia merasa kasihan pada Naomi yang terlihat syok.



"Sayang," panggil Tamara panik dan dengan cepat memeluk Naomi setelah putrinya melepas pelukan Ricard.



"Minum dulu, Nak." Ricard memberikan segelas air putih yang ia ambil di dapur. Segera Naomi menghabiskan air itu dengan tangan gemetar memegang gelas. Leon datang di antara mereka dan membuat Adiknya takut hingga memeluk Tamara kencang.



"Ma, bawa Naomi ke kamar ya ... temani dia tidur malam ini, Papa ada urusan sama Leon." Tamara hanya mengangguk paham dan mengajak Naomi masuk ke dalam kamar si bungsu tersebut.



"Ikut Papa!" Leon hanya berdecih kesal pada Papanya. Lelaki itu mengikuti sang Ayah hingga akhirnya mereka memasuki ruang kerja Ricard.






________Tbc.







Silakan-silakan bagi siapa pun yang ingin menghujat Leon kali ini, saya ijinkan dengan senang hati :D