
Ibrahim mengayuh sepeda milik Indah kemudian mengejar lalu membonceng Ika ke tempat kosnya karena Indah menghentikan sepedanya di tempat kos Ibrahim. Sementara Fathur berjalan sambil tersenyum sendiri melihat orang yang dikagumi mengerjai sahabatnya. Indah dan Ika pulang ke rumah masing – masing.
“Kapan?” Ibrahim menepuk bahu Fathur yang sedang asyik memandang punggung Indah yang mejauhi mereka.
“Entahlah, aku belum berani!” jawab Fathur.
“Rasa empatinya begitu besar, meski kita tau bagaimana sifat Anik, tapi Indah tetap membantunya!” Ibrahim mengingatkan.
“Tapi aku ga mau kalau Indah menerima ku karena kasian!” Fathur menatap kosong karena bayangan Indah sudah tak terlihat.
“Kenapa ga di coba aja?” usul Ibrahim.
“Nanti malam, temani aku ke rumahnya ya?” Fathur mulai memberanikan diri.
“Iya! Apa ga sekalian ajak Anik?” tanya Ibrahim.
“Ga, aku kasian lihat Indah di manfaatkan sama sahabat sekaligus saudaranya! Aku khawatir jika besok Anik aku ajak dia akan meminta aku atau Indah mentraktirnya. Atau bahkan dia hanya akan menganggu obrolan antara aku dan Indah”. Perasaan halus Fathur begitu mengkhawatirkan Indah.
“Kalau begitu, kita ajak Ika saja! Bagaimana menurutmu?” Ibrahim menemukan ide lain.
Mereka bertiga bertemu di taman kota. Ayah Ika lebih disiplin dari pada Pak Yusuf. Beliau tak mengijinkan anak perempuannya dekat dengan laki – laki, meskipun dengan teman sebayanya atau teman sekelasnya. Pak Noto ayah Ika juga sebenarnya tidak suka dengan persahabatan antara Ika dan Anik karena menurutnya sifat Anik tidaklah baik sehingga bisa saja Anik memberikan pengaruh buruk pada Ika. Untung saja ada Indah diantara keduanya yang membuat Pak Noto gagal menjauhkan anaknya dari Anik. Ika pamit pada ayahnya untuk mengerjakan PR di rumah Indah. Hanya dengan alasan pergi ke rumah Indah, ayahnya mau mengijinkan Ika pergi.
Fathur dan Ibrahim menunggu di Taman Kota dengan menggunakan satu sepeda milik Fathur. Namun setelah Ika datang, Ibrahim berboncengan dengan Ika menuju rumah Indah dan fathur menaiki sepedanya sendiri.
Di rumah Indah, mereka berempat ngobrol di teras beralaskan tikar yang di gelar oleh Indah. Lain dengan ayah Ika. Pak Yusuf mengijinkan Indah bermain dengan teman laki- laki aslakan sebaya dengannya atau dengan teman laki – laki yang sekampung dengannya. Bu Sri juga tidak melarang Indah bermain dengan teman laki – laki di rumah mereka. Asalkan tetap jaga diri, itu syarat yang kedua orang tua itu ajukan pada Gadis kecil mereka. Tiga puluh menit mereka mengobrol di teras, sesudahnya Ika pamit pada Pak Yusuf untuk mengajak Indah keluar rumah. Pak Yusuf dan Bu Sri mengijinkan Indah pergi bersama teman – temannya.
Di Taman Kota
Mereka memarkirkan sepeda di samping Taman Kota kemudian berjalan dua – dua menyusuri jalan kecil mencari tempat duduk. Fathur berjalan berdampingan dengan Indah. Di belakang mereka, Ika dan Ibrahim menyusul.
Tiba – tiba Ibrahim menarik lengan Ika dan berbisik. “Sssstttt, biarkan mereka ngobrol berdua!” Ika yang awalnya ingin protes, langsung diam mengikuti arah kaki Ibrahim.
Indah menoleh ke belakang “Kemana Ika dan Ibrahim?”
“Mungkin mereka ingin berdua! Kita duduk disini aja ya?” Tawar Fathur ketika menemukan hamparan rumput hijau di bawah lampu taman. Mereka duduk beralaskan sandal yang mereka gunakan.
“Kamu cantik!” Fathur tertunduk tapi matanya meamndang wajah Indah yang sedang melihat sekitar mencari keberadaan Ika dan Ibrahim.
“Ga salah?” Indah terkejut dan melihat ke arah Fathur yang tertunduk. “Biasanya teman – teman bilang aku ganteng”.
“Kenapa begitu, kamu kan perempuan?” Fathur mulai memberanikan diri bertatapan langsung dengan Indah.
“Entahlah, mereka sering bilang aku ganteng!” Jawab Indah.
Mungkin karena sikapnya yang dingin dan juga tomboy membuat teman – temannya bilang bahwa Indah ganteng. Hobinya yang juga bermain basket membuatnya mendapat julukan cewek ganteng. Padahal rambut Indah tak menyerupai laki – laki melainkan panjang sebahu dan dikuncir satu ke belakang. Sesekali Anik menarik tali rambut Indah hingga tergerai karena tidak terima sahabatnya di bilang ganteng. “Anik....!” teriak Indah mengejar Anik untuk mengambil kembali tali rambutnya. “Gitu donk, biar kelihatan kamu tu cantik, bukan ganteng seperti yang mereka katakan!” Canda Anik sambil berlari sampai Ika datang menghadang dari arah yang berlawanan.
Mereka bertemu dan Indah kembali mengikat rambutnya di bawah kepala bagian belakang.
“Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu!” Indah tersentak dari lamunannya mengingat tingkah sahabatnya ketika di sekolah.
“Apa?” tanyanya.
“Aku melihatmu, memandangmu, mengenalmu, dan..... Fathur menghentikan kalimatnya.
“Dan apa?” Indah menghindari tatapan mata Fathur untuk menyembunyikan detak jantungnya yang mendadak berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Lalu?” Indah mencoba memastikan apa yang akan dikatakan Fathur selanjutnya.
“Apa kau juga menyukaiku dan menjadi kekasihku?” Masih tertunduk malu Fathur menyatakan perasaannya.
“Aku menyukaimu dan ....!” Indah menggantung kalimatnya.
“Dan apa?” Jantung Fathur semakin beredetak kencang.
“Dan..... pulang yuk!” Indah berdiri dan memakai sandalnya. Ia melakukan hal itu untuk menutupi perasaannya yang selama ini juga kagum atas kepribadian Fathur.
“Indaaaaaaaaah!” Fathur menyusul Indah dan berlari kecil. Melihat Fathur yang begitu, Indah mempercepat langkah menuju Ika dan Ibrahim berada.
Mereka berdua bergabung dengan dua sejoli yang sedang asyik ngobrol berdua. Mengatur nafas yang tak hanya ngos – ngosan karena berlari kecil melainkan juga karena rasa hati yang dag dig dug oleh tautan cinta natara keduanya.
“Dan apa?” Fathur mengulang pertanyaan yang belum dijawab oleh Indah di hadapan Ika dan Ibrahim.
“Dan.... Indah kembali menggantung kalimatnya membuat Fathur penasaran. Ika dan Ibrahim pun ikut melongo menunggu jawaban Indah.
“Iya, mau!” lanjutnya.
“Yeeeee!” Sorak mereka bertiga dan Indah tertunduk dengan wajah merah bak kepiting rebus.
“Alhamdulillah!” Fathur berlari ke tengah taman dan melompat tinggi.
“Kayak anak kecil!” ketus Indah setelah Fathur kembali bergabung.
Hehehe. Fathur nyengir kuda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Dia tu khawatir cintanya kamu tolak, makanya dia gitu saat kamu mau jadi kekasihnya!” Jelas Ibrahim.
“Husssssss, jangan buka kartu donk!” Fathur malu mengakui kekhawatirannya sebelum menyatakan cinta.
Mereka berempat pulang ke rumah masing – masing. Indah berinisiatif mengantar Ika terlebih dahulu ke rumahnya. Ia tahu ayah Ika akan marah kalau melihat Ika pulang sendiri tanpa Indah mengantarnya.
“Makasih ya, kamu dah mau ngertiin dan nganterin aku ndah!
“Sama – sama! Aku langsung pulang ya? Assalamualaikum!” Indah pamit pada Ika
“Waalaikum Salam!”
Pak Noto tersenyum melihat Indah yang mengantar Ika. Ibrahim dan Fathur menunggu tak jauh dari rumah Ika tapi tak terlihat juga oleh ayah Ika.
Indah pulang ke rumah diantar oleh Fathur dan Ibrahim.
**Kutunggu Like, Vote and Komentarnya juga.
Aku tak tahan pedasnya cabe, tapi pedasnya komentar aku tahan untuk menambah semangat dan memperbaiki tulisan novelku.
Terima kasih😘😍🥰**