My Brother

My Brother
Curhat



"Wuoy! Melamun aja!" Anik tiba - tiba mengagetkan Indah.


"Eh, Engga, Aku ga melamun kok! Aku cuma males antri di depan papan pengumuman lihat pembagian kelas". Jawab Indah gugup.


"Udah, ga usah kamu lihat! Aku baru aja keluar dari kerumunan semut yang lagi ngantri gula itu!" Ucap Anik sembari menunjuk kerumunan siswa.


"Berarti kamu juga semut donk!" Mereka kemudian tertawa lebar.


Sssstttttt!


Dayat menghentikan tawa mereka. "Ada apa sih seneng banget?" Tanyanya.


"Ini nih, ada semut habis ngantri gula!" Ucap Indah menunjuk pada Anik.


"Semut?" Tanya Dayat bingung.


"Iya, nih semut baru keluar dari antrian panjangnya untuk mendapatkan gula!" Sekarang gantian, Indah yang menunjuk kerumunan siswa.


Dayat melihat ke arah yang ditunjuk Indah. "Oh, Itu! Kalian di kelas mana?" Tanyanya.


"Aku, Kamu dan Indah, Kita satu kelas lagi!" Sahut Anik. Iya, mereka kembali berada di kelas yang sama. Ana dan Irma juga tapi tidak dengan Nurika. Juga dengan teman - teman yang lain.


"Hai, Ika!" Teriak Anik sembari melambaikan tangannya pada Nurika yang baru saja usai memarkirkan sepedanya.


"Hai!" Balasnya kemudian berlari kecil menuju tempat Anik berada.


"Ka, Aku sedih kita ga satu kelas lagi!" Ucap Anik setelah Nurika berada di sampingnya.


"Tak Apa, lagian kita masih satu sekolah dan setiap hari juga ketemu! Iya kan, Indah?" Nurika menoleh pada Indah.


"Iya!" Jawab Indah singkat.


"Dulu, waktu Indah ga satu kelas sama kita dia enjoy aja tuh! Kita juga ga pernah putus persahabatan. Kan enak, kita bisa bertukar informasi seputar pelajaran!" Nurika mengulang kalimat Indah satu tahun yang lalu.


"Iya juga ya!" Anik manggut-manggut sementara Indah hanya tersenyum.


Indah, Anik dan Nurika duduk santai di bawah pohon rindang karena pelajaran belum di mulai. Mereka bertukar cerita tentang kisah cinta masing - masing. Selama enam bulan terakhir mereka memang jarang bertemu. Walaupun Anik dan Nurika berada di kelas yang sama, mereka hanya mengobrol dan bercanda saat berada di sekolah selebihnya mereka tak pernah bertemu.


"Kamu dulu deh yang cerita!" Indah menyenggol lengan Anik.


"Semua lelaki sama saja!" Jawabnya menarik nafas lalu membuangnya kasar.


"Maksud kamu?" Indah dan Nurika serempak bertanya.


Flashback On


Anik berkenalan dengan seorang cowok, bernama Safril. Sebulan ia saling mengenal. Safril menyatakan cinta dan Anik terima. Sebulan pacaran, Safril mengajak Anik ke rumahnya di kecamatan O.


Awalnya, Safril bilang masih punya orang tua lengkap dan satu adik perempuan, namun ia tak mengatakan bahwa kedua orang tuanya merantau ke kota lain dan tidak tinggal bersamanya.


Setiba di rumah Safril, Anik tak melihat keberadaan kedua orang tua Safril. Anik bertanya dimana mereka. Safril menjelaskan bahwa sejak kecil ia tinggal di sana bersama neneknya. Satu tahun kemudian, Lahirlah adik sepupu Safril bernama Safira yang juga dititipkan dan diasuh oleh neneknya.


Beberapa menit mereka berbincang-bincang, Safril menyuruh Safira membeli rujak. Neneknya pun pamit untuk memasak di dapur yang terpisah sekitar lima meter dari rumahnya. Kemudian Safril mengajak Anik masuk ke dalam sebuah ruangan yang ternyata adalah kamar.


Saat di kamar, ia mendorong Anik ke atas tempat tidur dan menindih tubuhnya. Tak ada yang mendengar teriakan penolakan Anik karena Safira membeli rujak ke tempat yang jauh dari rumah. Neneknya juga sudah tua dan mengalami gangguan pendengaran.


Anik berusaha menendang senjata milik Safril, dan berhasil. Anik mendobrak pintu kayu itu dan berlari asal karena ia tak tau daerah itu hingga ia bertemu Safira. Entah sejak kapan Safril berada di belakang Anik


"Kak Anik mau kemana?" Tanya Safira.


"Eh, dia mau jalan - jalan berkeliling desa ini!" Jawab Safril berbohong dengan segera.


Safril menggandeng tangan Anik seolah tidak terjadi apa - apa. "Apa kamu lupa kalau Ayahku seorang polisi?" Anik berbisik.


Mereka pulang ke rumah Nenek dan memakan rujak yang di beli Safira. Mereka makan berempat dan tanpa suara. Setelah makan, Anik dan Safril pulang.


Safril kelas X SMK, dia anak kos yang tinggal satu rumah dengan Ibrahim namun berbeda kamar.


 


"Bagaimana hubungan kamu sama Fathur?" Nurika menoleh pada Indah.


"Aku... Indah menceritakan semuanya pada Anik dan Nurika tanpa terlupakan sedikitpun.


"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan mereka berdua, sekarang!" Tanya Anik.


"Aku ga mau nyakitin mereka! Bukan hanya karena cinta, tapi mereka adalah saudara sepupu!" Jawabnya.


Dua hari sebelum sekolah masuk, Indah ber chat ria bersama Fathur dan Arman untuk membuat keputusan.


"Apapun keputusanmu, Aku terima!" Chat dari Fathur. Arman pun membalas demikian. Namun Indah akan menemui mereka satu per satu setelah hari ini.


"Ibrahim, Apa kabar?" Tanya Indah pada Nurika.


"Kami sudah mengakhiri hubungan kami!" Jawabnya lesu.


"Kenapa?" Tanya Indah dan Anik bersamaan.


"Ada wanita lain yang menginginkannya, dan Aku melepasnya!" Jawab Nurika lagi.


"Iya, Aku punya banyak alasan untuk melepasnya. Yang pertama, hubunganku ketahuan oleh Ayahku. Saat berkencan dengan Ibrahim di Taman Kota, Kakakku melihat kami berdua dan memberitahukan pada Ayah. Ayahku marah dan menghukum ku untuk tidak keluar rumah, kecuali ke Sekolah. Maka dari itu, Aku ga pernah lagi ke rumah Anik. Alasan keduaku karena sekarang kita sudah kelas akhir dan akan menghadapi ujian kelulusan. Alasan lain mungkin kami bukan jodoh dan terlalu dini untuk berpikir tentang pernikahan!" Jelas tanpa ada yang kurang dari kalimat Nurika.


🌼🌼🌼


Tak terasa, satu persatu siswa kelas delapan dan sembilan pulang karena hari ini awal kegiatan pengenalan lingkungan sekolah bagi siswa baru.


"Jalan - jalan ke Goa yuk!" Ajak Anik pada dua sahabatnya, Indah dan Nurika.


"Boleh, tapi aku pulang dulu ya! Khawatir Ayah dan Ibu nyari aku kalo ga pamit!" Sahut Indah.


"Iya, Aku juga!" Timpal Nurika.


"Kalo gitu, Kita ketemu di rumah Faika aja sekalian titip sepeda di sana!" Usul Anik.


"Oke!" Jawab Indah dan Nurika serempak tanpa aba - aba.


"Ikutan dong!" Celetuk Ana yang tiba - tiba muncul di belakang mereka. Jadilah mereka berangkat ke Goa setelah pamit pada orang tua masing - masing.


Tak hanya sekolah mereka yang pulang lebih Awal. Faika dan Ibnu pun juga berada di rumah saat Indah dan ketiga sahabatnya hendak menitipkan sepedanya.


"Hey, pada mau kemana?" Tanya Faika yang sedang duduk santai bersama Ibnu di teras rumah Faika.


"Jalan - jalan, mumpung sekolah lagi free!" Jawab Anik.


"Aku ikut ya!" Pinta Faika.


..........


**Bersambung dulu ya?!?


Jangan lupa tinggalkan jejak di BAB ini ya, Kak!!!


Terima kasih**!!!