My Brother

My Brother
Putus



Fathur meraih tangan Indah dengan kedua tangannya "Tak apa, kehadiranmu segalanya buat aku!" Keduanya tersenyum malu. Jantung Fathur berdetak lebih kencang dibandingkan saat tadi pertama kali melihat Indah datang berkunjung.


"Fa, kita putus ya?" Kalimat itu tiba - tiba terucap dari bibir Indah membuat Fathur, Ibrahim, Anik dan Nurika membelalakkan mata.


"Kenapa?" Fathur menunduk menahan air yang terbendung di kelopak matanya. Sedangkan yang lain menunggu alasan Indah.


"Lupakan saja!" Indah memaksakan senyumnya. Jantungnya berdetak kencang menyesali perkataan putus yang baru saja diucapkan di saat yang tidak tepat.


"Ga mungkin aku bisa melupakan begitu saja apa yang baru saja kamu katakan!" Tetap menunduk.


"Lupakan saja, aku hanya bercanda!" Indah menepuk lembut pipi Fathur yang membuat pria manis tersebut kembali tersenyum dan menghapus air matanya.


Sejenak Indah mengajak Fathur dan yang lain melupakan ucapannya dengan makan bersama di warung yang tak jauh di depan SMK.


"Hai, dek!" Seseorang tiba - tiba menepuk bahu Indah dari belakang.


"Hai, kak! Gabung sama kami yuk?" Indah mengajaknya duduk sekaligus memesankan makanan untuk dirinya dan yang lain. Mereka menikmati makanan tanpa pembicaraan.


Sesekali Fathur membukakan toples kerupuk dan menyodorkannya pada Indah. "Aku ga suka kerupuk!" Jawabnya dengan tersenyum.


"Oh, maaf!" Jawab Fathur kecewa namun apalah daya dirinya harus memahami kebiasaan kekasihnya.


Selesai makan, Indah tak langsung membayar tagihan makanannya dan menawarkan menu lain. Melihat diamnya Fathur, Indah kembali berbicara. "Aku ga suka makan kerupuk saat makan. Aku akan makan kerupuk jika aku menginginkannya!"


"Kamu tidak seperti orang lain, biasanya orang makan nasi ditemani kerupuk!" Tanggapan Fathur.


"Kamu tau, apa alasan aku ga mau kerupuk saat makan nasi?" Indah mencoba memberikan teka - teki pada Fathur.


"Kenapa, Ndah?" Tanya Nurika dan mendapat anggukan dari yang lain.


"Karena kalo makan kerupuk itu bikin lama makan nasinya karena kita terlena dengan kenikmatan kerupuknya, menurutku!" Tegas Indah.


"Tu kan alasan kamu aja!" Cela Anik.


"Tadi kan aku dah bilang, MENURUTKU!" Indah memiringkan kepala dan tersenyum pada Fathur.


"Tuh kan! Kak Fandi belum selesai makan karena keasyikan menikmati kerupuknya!" Indah menunjuk pembina Pramuka yang tadi diajaknya bergabung dan makan bersama tapi di meja yang tak jauh dari mereka.


"Makasih ya, dek!" Ucap Fandi setelah selesai dengan makanannya.


"Belum bayar sudah bilang terima kasih!" Sindir Ibrahim.


Fandi menghentikan langkahnya tepat di belakang Indah dan menoleh pada Ibrahim.


"Bukannya tadi adek Indah ini yang ngajak bergabung dan mentraktir aku?" Tanyanya heran.


"Itu kan kalo kamu selesai makan tepat waktu, kak!" Celetuk Anik.


"Yang terakhir, yang bayar!" Sahut Ibrahim.


""Kalo ga mampu bayar semuanya, bantu cuci piring sana!" Anik meledek lagi.


Ledekan Anik dan Ibrahim membuat Fandi balik kanan dan berjalan menuju kasir hendak membayar tagihan atas nama Indah. Ia sadar bahwa dirinya yang paling banyak menghabiskan makanan sehingga selesai paling akhir.


Petugas kasir memberitahukan bahwa tagihannya sudah di bayar oleh Indah saat Fandi sedang asyik menikmati sisa kerupuknya.


Fandi yang merasa malu, berjalan menundukkan kepalanya melewati Indah dan kawan - kawan. "Terima kasih!" Lirihnya, namun masih bisa terdengar oleh Indah. "Sama - sama, kak! Maafin teman aku ya!" Balasnya. "Iya!" Walau bagaimanapun temannya meledek, Fandi sadar bahwa Indah lah yang mentraktirnya dan pantas mendapat ucapan terima kasih dari dirinya.


Selesai makan, Indah mengajak Nurika dan Anik pulang. Mereka bertiga pamit pada Fathur dan Ibrahim. Mereka pulang dengan sepeda masing - masing kecuali Anik yang rumahnya tak jauh dari SMK. Anik pulang dengan berjalan kaki.


Fathur kesulitan memejamkan mata. Ia terus memikirkan kata putus dari kekasihnya meski kita semua tau, Indah telah membatalkan kalimatnya.


"Apa salahku sehingga membuat Indah ingin putus?" Pertanyaan yang terus menyelimuti malamnya dan membuatnya tak mampu mengarungi lautan mimpi yang begitu biru.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Maaf ya reader ku sayang, author lagi galau.


Jagi ga bisa up yang banyak!!!


Tetap tinggalkan jejak ya!


Komentarmu semangatku๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹