My Brother

My Brother
8



.


.


.


.


.


.


.


"Dasar emang tuh cowok, kagak kapok apa dihukum terus hampir tiap hari." Maura kini tengah mendumel di tengah aksinya memakan snack. Naomi yang duduk di sebelahnya refleks menoleh dan mencari tahu apa yang membuat sahabatnya itu menggerutu kesal.



"Kenapa sih, Ra? Lagi ngedumelin apa?"



"Tuh ... cowok ganteng kelakuan minus. Tiap hari dihukum, balap-balap liar gak jelas, tiap hari juga dimarahin sama emaknya." Maura mulai merepet tak jelas.



"Kok lo kenal banget sama dia, siapa sih?" Naomi mulai penasaran dengan anak laki-laki yang menjadi penyebab kesalnya Maura.



"Itu si Tristan, keponakannya Bu Lidya!"



Refleks Naomi mengarahkan penglihatannya ke arah lapangan basket, di sana ada seorang pemuda dengan seragam tak rapi tengah berdiri sambil diberikan wejangan oleh seorang guru pembimbing wanita.



"Jadi, dia keponakannya Bu Lidya?" tanya Naomi terkejut, Maura hanya mengedikkan bahu acuh. Gadis itu pun pergi meninggalkan Naomi yang masih mengamati Tristan dari jauh.



Beberapa siswa-siswi yang tengah berjalan di sekitar Tristan, tak absen untuk mengejek lelaki itu. Kapan lagi bisa mengejek seorang Tristan sepuas hati?



Jika tak ada Ibu Lidya yang terkenal paling galak, tak mungkin para murid yang lainnya berani berhenti berjalan sejenak untuk menertawai Tristan yang hanya diam tak berkutik. Sedangkan dalam hati, lelaki itu tengah merapalkan berbagai macam umpatan bagi para siswa yang berani menertawainya.







Hukuman Tristan belum juga selesai. Kini setelah ia mendapat wejangan dari Ibu Lidya, ia harus berdiri di tengah lapangan basket sembari menulis kalimat 'saya menyesal dan saya berjanji tak akan mengulangi kesalahan saya lagi' sebanyak sepuluh halaman.



"Gini amat nasip gue jadi keponakannya Guru BK," keluh Tristan sambil mengacak rambutnya geram.



"Lo bandel, sih." Tristan menoleh dengan cepat ke arah sumber suara. Dilihatnya seorang gadis cantik berambut sepinggang tengah berjalan ke arahnya. Tristan tersenyum karena merasa tak asing dengan sosok itu.



"Naomi?" tanya Tristan memastikan. Naomi bergumam tanda 'iya' kemudian berdiri di depan lelaki itu.



"Nih." Naomi menyodorkan minuman kaleng dingin untuk Tristan. Lelaki itu langsung bersorak senang dan membuat Naomi terkikik geli.



"Tau aja lo kalau tenggorokan gue lagi kering." Tristan segera meneguk minuman itu hingga menyisakan setengah dari isinya.



"Tau dong, kan keliatan dari jauh kalau lo lagi kehausan." Naomi menjawab acuh sambil melihat tulisan Tristan yang seperti anak SD, gadis itu tertawa pelan yang membuat Tristan mengernyit bingung. Namun, detik berikutnya ia memasang wajah kesal karena tahu apa yang menyebabkan Naomi tertawa.



"Tulisan gue itu unik. Jarang-jarang ada tulisan yang kayak gitu," kilah Tristan yang tak mau harga dirinya turun hanya karena tulisannya yang tak mampu dibaca.



"Sangking uniknya sampe cuma orang-orang tertentu doang yang bisa baca," ejek Naomi yang membuat Tristan langsung merebut buku miliknya.



"Lo gak perlu baca tulisan tangan gue, yang perlu lo baca itu tulisan yang tertulis di hati gue buat elo," ucap Tristan sok manis.



"Emang apa tulisannya?" tanya Naomi penasaran. Kemudian Tristan mendekat pada Naomi, memposisikan bibirnya di dekat telinga gadis itu. Ia akan membisikkan sesuatu dan membuat Naomi diam membatu.



"Tulisannya adalah ... lo cewek paling ... nyebelin!"



1 detik



3 detik



5 detik




"WHAT?" pekik Naomi kesal, ia merasa dikerjai oleh Tristan dan hendak memukul pemuda itu. Namun ketika Naomi menoleh, Tristan sudah tidak ada di tempatnya tadi.








Jam istirahat telah tiba. Naomi dan Maura memutuskan untuk makan di kantin bersama dengan Cintya, gadis yang dianggap paling cantik di sekolah. Sikapnya yang kalem berbanding terbalik dengan Naomi yang selalu menjahili teman-temannya.



Semua siswi yang bisa berteman dekat dengan Cintya adalah kebanggaan besar bagi mereka, namun itu tak berlaku bagi Naomi. Gadis itu bahkan tak mencoba untuk dekat dengan Cintya, malahan Cintya sendiri yang mencoba mendekati Naomi.



"Cewek ... godain gue dong," ucap Tristan sambil mencolek dagu Naomi. Lelaki itu juga kemudian duduk di samping Naomi dan menaik turunkan alisnya dengan cepat.



"Ogah!" jawab Naomi ketus.



"Ya ampun, ketus banget ini cewek. Kayaknya lo tuh titisannya Bu Lidya deh," sindir Tristan dengan gaya seolah tengah berpikir.



"Bukannya elo titisannya Bu Lidya? Lo kan keponakannya!" seloroh Maura yang langsung dilempar potongan sosis oleh Tristan.



"Oh iya, gue ke sini cuma mau bilang makasih sama lo. Soalnya tadi lo udah menyelamatkan hidup gue dari kehausan akibat siksaan dari Bu Lidi." Tristan berkata sambil ikut mencomot bakso di mangkuk Naomi. Lelaki itu memakannya dengan santai.



"Bu Lidya," ralat Maura kesal.



"Itu panggilan kesayangan gue ke Bu Lidi." Tristan masih kekeh membela diri. Naomi yang kesal hanya memutar bola matanya jengah, ia malas jika harus mendengar perdebatan unfaedah mereka.



"Hm," gumam Naomi malas.



"Jadi, gue ntar pulang sekolah mau traktir lo makan siang. Gimana?" tanya Tristan antusias.



"Udah gak usah, gue iklas kok nolongin lo yang lagi megap-megap kehausan tadi," ucap Naomi sungguh-sungguh. Namun, entah kenapa kata-kata Naomi justru mengesalkan di telinga Tristan.



"Kok kata-kata lo ngeselin, ya?"



"Masa? Bagian mana yang bikin lo kesel?"



"Udahlah." Tristan memutuskan untuk mengambil mangkuk bakso Naomi yang dirasa isinya terasa enak di lidah.



"Itukan punya gue." protes Naomi kesal.



"Ambil aja lagi, jangan kek orang miskin!" ucap Tristan sombong.



"Widih, songong ... berarti semua makanan kita lo yang bayarin kan ya?" tanya Maura yang mendapat jawaban melalui isyarat tangan dari Tristan.



"Gue justru kali ini mau minta sedekah semangkuk bakso lagi ke kalian." pungkas Tristan di tengah kesibukannya memakan bakso.



"Lah? Kalau lo sendiri aja lagi bokek, gimana mau traktir gue makan siang?" tanya Naomi heran.



"Tenang aja, gue bisa ngutang duit sama Bu Lidi," jawab Tristan cuek. Naomi tertawa terbahak mendengar kejujuran lelaki di sampingnya itu. Baru kali ini Naomi bertemu dengan pemuda yang sifatnya seunik Tristan.






_______Tbc.





Kebanyakan ya ngetiknya? Maaf, soalnya keasikan ngetik bagian Tristan sama Naomi jadi kebablasan :(


Mudah-mudahan kalian gak bosen bacanya, makasih banyak sudah mampir:)