My Brother

My Brother
Satu urusan Selesai



Sabtu sore, Anik mengajak Indah dan Nurika jalan - jalan. Anik ingin memperlihatkan perubahannya pada kedua sahabatnya itu. Namun kecewa yang Anik dapatkan karena Indah dan Nurika menolak ajakannya. Indah beralasan akan bermain basket, sedangkan Nurika berencana jalan - jalan dengan kedua saudaranya. Diam di rumah menunggu malam tiba, itulah keputusan Anik setelah mendapat penolakan.


Malam pun tiba. Usai Shalat Isya', Anik berangkat ke rumah Faika. Berharap Ibnu akan datang ke sana. Hasilnya pun nihil. Ibnu juga tak datang ke rumah itu. Ibnu memilih tinggal lebih lama bersama saudara di rumah Bapaknya. Anik yang putus asa kembali pulang ke rumahnya.


🌼🌼🌼


"Fa, Aku mau hubungan kita berakhir sampai di sini!" Ucap Indah.


"Kenapa, Da?" Fathur mengerutkan keningnya.


"Kita sudah kelas tiga, sudah saatnya kita fokus belajar untuk menghadapi ujian dan menentukan pilihan untuk masa depan kita masing - masing!" Jawab Indah.


"Kamu benar, tapi bagaimana dengan Arman? Kamu sudah berjanji untuk tetap menyayanginya, asalkan Dia mau melanjutkan sekolahnya?" Ujar Fathur.


Diputusin kok masih memikirkan orang lain yang menjadi saingan cintanya dan orang itu adalah sepupumu sendiri. Oh Fathur, beruntungnya wanita yang menjadi istrimu kelak.


"Kau sangat tau bagaimana hubungan kami! Mungkin Aku akan menepati janjiku hingga ia benar - benar melupakan kesedihannya karena tidak naik kelas. Selama itu pula, Aku tak akan menghubunginya dan tetap fokus belajar!" Jelas Indah.


"Kau adalah cinta pertamaku, mungkin kita bukan jodoh. Tapi jangan paksa Aku untuk bisa melupakanmu, Da!" Fathur berkata dengan wajah sendu.


"Apa kamu lupa, Siapa dirimu untukku? Kau juga cinta pertamaku, Fa! Tak mudah untuk melupakan cinta pertama. Tapi ini pilihan, Aku harus belajar demi masa depanku. Demi mewujudkan harapan kedua orang tuaku!" Indah menunduk.


"Aku berharap kita berjodoh dan dipertemukan kembali dalam sebuah janji suci pernikahan! Jika tidak, maka ijinkan Aku tetap menjadi teman sekaligus saudara bagimu!" Fathur menyodorkan jari kelingkingnya agar Indah berjanji untuk tetap menjadi sahabat atau saudara. Indah mengaitkan jari kelingkingnya tanda setuju. Selesai sudah satu urusan. Tinggal bagaimana Indah berpisah dengan Arman.


🌼🌼🌼


Detik waktu terus berjalan. Menit berlalu hingga bertemu jam. Hari berganti Minggu, bulan pun melewati beberapa purnama. Dua bulan sudah, Indah putus dari kekasih pertamanya. Tetap menjalin kasih bersama Arman namun tak saling menghubungi. Kini Arman mulai paham dengan sifat dan setiap keinginan Indah.


Malam itu selepas Shalat Isya', Bu Sri meminta Indah membeli beberapa bahan untuk menjahit. Indah mengayuh sepedanya ke tempat Sang Ibu biasa membeli bahan - bahan tersebut. Tak butuh waktu lama, Indah telah selesai dengan urusannya. Saat keluar dari toko tersebut, Indah melihat sebuah pick up melintas di depan toko. Bukan masalah pick up nya tapi tiga orang penumpang yang duduk di bagian belakang pick up tersebut. Dari potongan rambut dan kacamatanya, Indah mengenali salah satu sosok pria yang ada di sana. Siapa lagi kalau bukan Arman.


Indah segera mengambil sepeda dan mengayuhnya. Mengejar pick up hitam yang membawa Arman. Kembali lagi, bukan masalah pick up nya, melainkan Indah ingin memastikan kebenaran penglihatannya.


Di lampu merah, pick up tersebut berhenti. Indah mampu mencapainya, Namun tiga laki - laki yang tadi menumpang, sudah tidak ada lagi di sana.


"Pak, tadi tiga orang cowok yang duduk di sini dari mana datangnya?" Tanya Indah pada Pak supir karena saat itu lampu merah masih menyala.


"Oh! Mereka itu pengamen yang biasa ikut saya ketika pulang ngamen!" Jawab si Supir.


"Mereka ngamen dimana, Pak?" Tanya Indah penuh selidik.


"Mereka ngamen di kecamatan C, Neng! Mereka juga biasa ikut saya pulang dan turun di sini. Katanya sekalian cari makan dengan uang hasil mereka ngamen!" Setelah itu Pak Supir langsung melajukan mobilnya tanpa pamit karena lampu merah sudah berubah jadi hijau.


Indah pun menepikan sepedanya ke kiri jalan kemudian menyeberang ke arah Taman dimana banyak orang berjualan makanan. Di sana Indah mencari tiga laki - laki tersebut. Benar saja. Di bangku penjual nasi goreng, Indah melihat mereka bertiga. Dari jauh, Indah mengamati mereka. Seketika, Arman menoleh tapi tidak menyadari keberadaan Indah. Setelah mengetahui bahwa salah satunya adalah Arman, Indah kembali mengayuh sepedanya pulang ke rumah.


"Besok, Aku mau ke rumah Arman buat mutusin hubungan kami!" Chat Indah pada Fathur.


"Loh! Kenapa?" Balas Fathur.


"Besok, Aku ceritain! Sekarang, Aku mau istirahat dulu!" Sahut Indah.


"Good Night!" Balas Indah, padahal ini belum terlalu malam untuk dijadikan waktu tidur.


"Selamat Malam!" Jawab Fathur.


Kemudian Indah meletakkan ponsel di meja belajarnya dan beranjak dari kamar untuk melaksanakan Shalat Isya'. Setelah selesai, Indah hendak masuk kamar dan tidur. Namun sebelumnya, Pak Yusuf memanggilnya. "Indah mau kemana?"


"Aku mau tidur, Ayah!" Sahut Indah.


"Ini malam Minggu, Apa kamu tidak ingin bermain?" Tanya Ayahnya lagi.


"Karena itu, Aku mau istirahat!" Jawab Indah lembut. Kemudian melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dan menutup pintu kamar tanpa menguncinya.


Tok tok tok


"Indah.....! Nak, Ada Musta di depan! Apa kau tak ingin menemuinya? Panggil Pak Yusuf pada anak semata wayangnya.


Karena tak mendapatkan jawaban, Pak Yusuf membuka pintu kamar yang sengaja tidak di kunci. Pak Yusuf masuk dan melihat Indah yang terlelap. Pak Yusuf duduk di tepi tempat tidur Indah dan meletakkan punggung tangannya di kening Indah untuk memastikan bahwa putrinya dalam keadaan sehat. "Badannya tidak panas, itu artinya dia tidak sakit dan benar - benar ingin istirahat


Pak Yusuf keluar kamar dan menutup kembali pintunya, Kemudian menemui Musta untuk memberitahukan bahwa Indah sudah tidur.


"Apa Indah sakit, Om?" Tanya Musta karena tak biasanya Indah tidur di jam seperti saat ini.


"Indah tidak sakit, Mungkin dia hanya kecapean!" Setelah mendengar jawaban Pak Yusuf, Musta pamit pulang.


🌼🌼🌼


Hari Minggu pagi, Indah mencuci pakaian kotornya. Kadang Pak Yusuf menitipkan beberapa lembar pakaiannya agar dicuci oleh Indah. "Ayah titip ya, Nak!"


"Iya, Ayah! Letakkan saja di situ, biar nanti Indah yang nyuci!" Jawab Indah dengan senyum terindah seindah namanya.


Setelah selesai menjemur cuciannya, Indah mandi dan pamit pada kedua orang tuanya untuk bermain.


"Ibu, Ayah, Inda pergi dulu ya!" Pamitnya.


"Iya, Indah!" Jawab Bu Sri singkat.


"Jaga dirimu baik - baik!" Pak Yusuf berpesan.


"Insya Allah, Ayah! Assalamualaikum!" Indah mencium punggung tangan kanan kedua orang tuanya.


"Wa'alaikum Salam!" Jawab kedua orang tua tersebut. Indah mengambil sepedanya di samping rumah dan mengayuhnya menuju rumah Faika


🌼🌼🌼


Jangan lupa tinggalkan jejak like, vote and komentar ya!!!πŸ™πŸ™πŸ™