
"Surprise.......!" Teriakan seseorang di depan pintu kamar membuat Ibnu membulatkan mata. Mengerjap serta menggosok - gosok matanya tak percaya.
Tak mungkin sosok yang dirindukannya tiba - tiba berdiri di hadapannya.
" Ini pasti mimpi, karena posisiku saat ini sedang berada di tempat tidur." Ibnu mengamati sekitar tempat tidurnya. Sedangkan di sisi pintu, wanita tersebut melebarkan senyumnya melihat tingkah bingung Ibnu.
Siapakah Dia?
Wanita paruh baya yang sedang tersenyum merentangkan tangannya meminta penyambutan Ibnu. Perlahan Ibnu turun dari ranjang dan memeluk orang yang dirindukan. Tak lama kemudian, ia merenggangkan pelukannya.
"Ini benar Mama 'kan?" Ibnu mengambil tangan wanita paruh baya itu dan mengarahkan ke wajah agar beliau menamparnya.
Bu Ifa menepuk - nepuk pipi anaknya. Ini nyata dan bukan mimpi.
Ibnu melepas rindu pada wanita yang melahirkannya.
"Apa Mama akan kembali pada Bapak?" Tanya Ibnu.
"Terserah Bapakmu, Nak! Tapi sebelum itu, Mama ingin menjemput Toni adikmu dulu." Jelas Bu Ifa.
"Apa Mama membawa buah tangan untuk Indah?" Ibnu bertanya.
"Tentu, Sayang!" Bu Ifa membongkar isi koper kecil yang ia bawa. Baju gamis berwarna gelap sangat pas dengan ukuran tubuh Indah.
"Kok Mama bisa tau ukuran tubuh Indah, padahal kan Mama sudah lama tidak pulang?" Ibnu meminta penjelasan.
"Mama yang melahirkan kamu, Mama yang melahirkan Indah, Mama juga yang melahirkan Kakakmu dan juga Toni Adikmu! Tanpa mengukur tubuh kalian pun Mama bisa menentukan ukuran baju yang pas untuk kalian semua!" Terang Bu Ifa.
Keesokan harinya, Bu Ifa dan Ibnu berangkat ke kota tempat tinggal Paman Husein untuk bertemu Toni.
"Assalamualaikum!" Ucap Ibnu ketika tiba di pintu rumah Paman Husein.
"Waalaicum calam!" Sahut seorang gadis kecil berusia sekitar empat tahun.
"Cali ciapa?" Tanyanya setelah mencium tangan Ibnu.
"Namatu Lita, Om ini ciapa?" Balasnya.
"Namatu Ibnu!" Jawab Ibnu.
"Tunggu bental ya, Om. Lita panggil Mama cama Papa dulu!" Rita berlari mencari Mama dan Papanya, tapi bukan mereka yang Rita temukan melainkan Toni yang sedang bermain game ponselnya.
"Kakak, Pama cama Mama mana?" Tanya Rita.
"Papa cama Mama pelgi ke manten." Jawab Toni sembari mematikan ponselnya.
"Kok Lita ga diajak?" Lita menundukkan kepala hampir nangis.
Toni menggendong dan mengusap lembut punggung Rita. "Tadi, waktu Mama sama Papa berangkat, Lita bobok. Jadi Papa sama Mama ga bangunin Rita.
"Oh, gitu ya!" Rita mengangguk mengerti.
"Kakak, di depan ada tamu." Beritahu Rita.
"Siapa?, Ayo kita lihat!" Tanya Toni sembari menggendong Rita keluar kamar.
....................
Bersambung dulu ya, Kak!
Lagi2 Author kena musibah.
Ibu masuk Rumah Sakit karena virus Leptospirosis.
Mohon doa dari para reader "My Brother" agar Ibu saya diberikan kesembuhan serta Author dapat melanjutkan novelnya!
Terima kasih.