
Sepasang mata memandang Indah dari kejauhan sejak kemarin pagi hingga hari ini, bahkan pemilik netra yang mengawasi Indah kini mengintai Halim. Entah apa maksud dan tujuan gadis tersebut.
Siapakah gerangan? Baca hingga akhir Bab ini ya, Kak!.
Sejak hari itu, Halim sering kali melihat Dayat termenung sendiri. Sebagai bentuk perhatian, Halim menanyakan pada sahabatnya itu hal apa yang membuatnya sering menyendiri.
"Ada apa?" Halim menghampiri dan membuka pembicaraan.
"Tak ada apa - apa?" Jawabnya singkat.
"Tak biasanya kau seperti ini, sesedih apa pun atau sebesar apapun masalah yang kau hadapi, biasanya kau selalu bisa melupakannya walau sejenak! Bicaralah padaku jika kau mau!" Halim.
Keduanya memandang lurus ke depan tanpa ada jawaban sedikit pun dari Dayat.
Entah dari mana datangnya, sepasang tangan hangat menepuk pelan pundak dua pria tersebut. Siapa lagi kalau bukan si gadis manis Indah.
"Ada apa kalian diam berjamaah?". Seringai manis Indah.
"Nih, Day melamun sendiri aja di sini. Jadi, ya aku temani!" Sahut Halim sementara Dayat hanya diam dan melihat sejenak Indah yang masih berdiri di belakangnya.
"Hey!" Indah mengibas - ibas kan tangannya di depan wajah Dayat.
"Aku ga papa, Indah!" Jawab si pemilik wajah dingin.
"Gara - gara bucin?!?" Indah menaik turunkan alisnya menggoda Dayat.
"Bergabunglah, Aku akan beli minum untuk kalian!" Halim memanggil Ana yang kebetulan lewat bermaksud mencari Indah.
"Aku mencari mu hingga ke kantin sekolah, ternyata kamu di sini!" Ucap Ana mengatur nafas karena lelah mencari Indah. Baru saja mereka selesai ulangan. Dayat yang tidak bisa konsentrasi menghadapi soal ulangan memilih mengakhiri ulangan sebelum waktu habis. Disusul Halim yang merasa jawabannya sudah benar semua dan selesai. Bagaimana dengan Indah? Tentu ia selesai dengan baik dan dalam waktu yang kurang dari empat puluh menit sedangkan Ana mengoreksi kembali hasil pekerjaannya sehingga saat selesai, ia kehilangan jejak Indah.
"Katakan apa yang ingin kamu ceritakan. Aku akan menjadi pendengar setia mu!" Ucap Indah.
"Aku - Aku bukan pria romantis yang tau bagaimana caranya membuat panggilan sayang untuk Safia!" Jawab Dayat dengan pandangan tetap lurus ke depan.
"Kau boleh sedih dengan masalahmu itu sahabatku, tapi tidak bisakah kau tersenyum sedikit saja untukku agar aku tidak ikut hanyut dalam arus kesedihanmu?" Maksud hati Indah menghibur Day berhasil membuat orang yang dimaksud mulai mengembangkan senyumnya.
"Uiiiih, mentang - mentang baru selesai ulangan Majas, jadi puitis nih teman kita satu ini!" Ledek Ana.
"Sesekali kan tidak apa, Na!" Sahut Indah.
Karena dua dara tersebut, akhirnya Dayat mengatakan bahwa sejujurnya ia memang tak pandai membuat panggilan sayang untuk sang kekasih. Ia juga tak mungkin memanggil nama Safia, ia khawatir menyinggung perasaannya.
"Panggil SAYANG lah!" Ujar Halim yang muncul membawa minuman dingin.
"Lidahku kelu saat ingin mengucap kata SA - SAYANG!" Sahut Dayat.
"Jadi selama ini, kamu panggil apa?" Ana.
"Ga manggil apa - apa, hanya bicarakan apa yang aku perlu. Jika aku ingin memanggilnya dari jarak yang jauh, maka aku urungkan dengan mendekatinya dan menyampaikan maksudku!" Jelas Day.
"Apa hanya karena itu, kamu sering menyendiri? Aku lihat akhir - akhir ini kamu juga jarang sekali jalan bareng dengan ayang mu itu!" Halim.
"Ya, dia memberiku waktu satu Minggu untuk menentukan panggilan sayangku padanya dan sebelum itu, dia tak mau bertemu denganku!" Dayat.
"Satu Minggu? Sejak kapan?" Tanya Halim mengingat kesepakatannya dengan Indah.
"Hari Senin" Jawab Dayat.
Halim dan Ana berpikir sejenak, sedang Indah seolah santai mendengar pembicaraan tiga orang disampingnya sambil menikmati minuman yang diberikan Halim. Kemudian Ana melirik Indah. *Ni orang kelihatannya cuek - cuek aja*. *Apa dia ga peduli dengan masalah Day n Safia*? Pikir Ana.
"Apaan sih? Kayak ga ada kerjaan!" Indah tersenyum.
"Apa solusimu?" Kamu kan yang pernah pacaran!" Lanjut Ana.
"Beberapa ahli mengatakan, panggilan sayang yang spesial dapat memberikan garis batas yang jelas dan menandakan hubungan yang dijalani berlangsung secara eksklusif. “Saat orang lain mendengar, mereka biasanya langsung tahu bahwa Kamu dan pasangan punya komitmen khusus,” ujar Pat Love, penulis buku How to Improve Your Marriage Without Talking About It.
Buatlah sebuah panggilan yang berbeda dengan orang lain untuk Safia. Jika kamu merasa canggung dengan panggilan itu, maka jangan terlalu sering mengucapkannya. Sebutlah panggilan sayang itu sesekali saat kalian berbicara atau berkencan!" Penjelasan Indah di dengar dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat - singkatnya oleh kedua laki - laki dan satu perempuan di dekatnya.
"Dari mana tu referensi kamu dapat?" Tanya Ana heran.
Dengan satu tarikan nafas panjang Indah berkata. "Apa kamu pikir aku hanya belajar, belajar dan terus membaca buku pelajaran saja?"
"Astoge, Aku lupa akan hal itu!" Ana menepuk jidatnya sendiri. "Bahkan buku cerita Si kancil dan Harimau pun juga ada di rak bukumu!" Ledek Ana.
"Ya iyalah, Aku simpan. Selain ceritanya yang bagus, bacaannya juga bilingual. So, Aku bisa belajar bahasa Inggris dari situ!" Indah sewot. Ia berjalan menuju kelas, meninggalkan teman - temannya tanpa pamit.
"Indaaah!" Mereka berlari mengejar dinginnya Indah.
"Marah?" Bisik Halim yang duduk dibelakang Indah.
"Engga! Buat apa marah?" Sahut Indah menoleh ke belakang dengan senyum.
"Halim!" Panggil Naura membuat si empunya nama menoleh.
"Panggil Bu Tuti!" Ya, memang tugas Halim memanggil guru yang akan mengajar di kelas IX - E.
Halim berdiri dan berjalan keluar kelas, namun langkahnya terhenti di pintu dan berbalik badan. "Kenapa?" Tanya Indah.
"Bu Tuti sedang menuju kemari!" Jawabnya sembari duduk kembali di tempatnya.
Naura melongo keluar jendela tapi tak melihat adanya tanda - tanda kehadiran guru Bahasa Daerahnya. "Mana Bu Tuti yang kamu bilang sedang menuju kemari. Batang hidungnya saja tidak kelihatan?" Tanya Naura.
"Kamu tidak me - li - hat tanda - tanda kehadiran Bu Tuti, Tapi aku men - cium tanda - tanda kehidupan nya!" Celetuk Halim.
Tak tok tak tok
Bunyi sepatu Bu Tuti semakin mendekati kelas IX - E membuat Halim dan Indah tersenyum.
"Tau aja kalau Bu Tuti masuk sekolah!" Indah.
"Karena wanginya lebih mencolok dari pada guru yang lain!" Sahut Halim setengah berbisik.
"Keluarkan buku PR kalian dan letakkan di atas meja masing - masing!" Titah sang guru. Semua siswa mengikuti perintahnya.
Mereka bersiap dengan membuka buku di atas meja. Tegang? Itu pasti karena beliau akan meminta beberapa siswa maju mempertanggung jawabkan hasil pekerjaan rumahnya.
"Aku takut, Yang!" Bisik Halim saat Bu Tuti melewatinya.
"Tegakkan kepalamu seolah semua jawabanmu benar!" Balas Indah.
...….........
Bersambung dulu ya, Kak!
**Jangan lupa favoritkan karyaku ini ya agar muncul di notifikasi saat aku Up**!
**Sempatkan like n komen juga**!
**Koin receh juga boleh, apalagi hujan vote. Author sama sekali tidak akan menolak**!
**Terima kasih😘😍❤️**