
"Apa perlu saya antar ke rumah kamu, Indah?" Pak Santo wali kelas Indah menawarkan bantuan.
"Tidak perlu, Bapak! Terima kasih atas tawarannya, biar saya dan teman - teman yang membawanya!" Tutur lembut Indah diikuti anggukan sopan Ana dan Halim.
"Baiklah jika begitu, Bapak pamit pulang ya! Assalamualaikum!".
"Waalaikum salam!" Jawab mereka serempak.
"Bagaimana caranya kamu membawa barang sebanyak ini, sedangkan Aku lihat tadi pagi kamu datang dengan berjalan kaki?" Tanya Ana pada Halim.
"Tunggu sebentar!" Halim meraih ponsel di saku celananya.
"Kakak tunggu di ruang konselor!" Ucapnya saat telponnya tersambung.
Tak butuh waktu lama Hajes sang adik datang dengan motornya. "Bawa pulang sepeda Indah yang ada di belakang kelas kakak! Motormu kakak pinjam untuk antar Indah!" Ucap Halim tanpa basa - basi.
Terlalu gampang menemukan sepeda milik Indah, karena di tempat parkir hanya tersisa dua sepeda yaitu milik Indah dan Ana.
📱Hajes
Yang mana sepeda milik Kak Indah?
📱Halim
Yang lebih besar.
Tanpa bertanya pada kekasihnya, Halim sudah paham perbedaan sepeda Indah dengan Ana.
"Apa itu, Nak?" Tanya Bu Sri heran melihat Indah datang membawa sebuah kardus besar.
"Oh, ini bantuan dari sekolah untuk Aku, Bu!" Jawab Indah sembari menurunkan kardus dibantu oleh Halim. "Biar Aku yang membawanya masuk, ini terlalu berat untuk kau bawa!" pinta Halim.
"Dimana sepeda mu?" Tanya Bu Sri lagi.
"E eh sepedaku..... "Indah yang bingung menggaruk kepalanya.
"Sepedanya dibawa adik saya ke rumah, Tante! Nanti sore, saya antar!" Jawab Halim sopan.
"Oh, Kalau begitu Nak ....
"Halim, Tante!" Sambung Halim
"Ah, ya! Kalau begitu Nak Halim istirahatlah dulu di sini, Tante buatkan minum!" Pinta Bu Sri.
"Terima kasih tawarannya, Tante. Tapi saya harus segera pulang. Saya tidak ingin Ibu khawatir karena tentunya Adik saya sudah sampai di rumah terlebih dahulu!" Halim menolak dengan sopan.
"Kalau begitu, Terima kasih atas bantuannya ya, Nak Halim!" Ucap Bu Sri. Halim pamit dan mencium punggung tangan calon mertuanya. Semoga!
"Makasih ya, Ha!" Indah.
"Jangan panggil aku HA!" Sanggah Halim menoel hidung Indah.
"Boleh tau kenapa?" Tanya Indah penasaran.
"Nanti, Aku jelaskan!" Mereka berpisah dengan senyum terkembang.
**Di tempat lain**.
"Apa kau menyukai Indah?" Tanya Safia.
"Iya!" Jawab Day singkat.
"Maksud kamu apa, Yang?" Safia mulai menaikkan nada bicaranya.
"Aku suka Indah, karena dia pintar, baik hati dan tidak sombong!" Jawab Day tanpa ekspresi.
"Lalu kamu pikir aku tidak punya semua itu?" Safia makin emosi, dengan jujurnya kekasihnya membandingkan dirinya dengan wanita lain. " Teganya kau membandingkan Aku dengan wanita lain!" Tangis Fia pecah.
"Aku tidak membandingkan siapa dengan siapa!" Day mengelak karena memang Indah dan Safia memiliki sifat yang berbeda.
"Apa kau mencintai aku?" Safia.
"Haruskah Aku jawab?" Day.
"Aku butuh kepastian!" Fia.
"Ku rasa tak perlu aku jawab!" Day.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Aku hanya minta satu hal sama kamu!" Fia.
"Apa?" Permintaan Fia membuat Day menoleh.
Sore hari.
"Assalamualaikum!" Halim datang bersama Hajes.
"Wa'alaikum salam!" Sahut Indah yang sedang menyapu halaman depan rumahnya.
Halim menukar motornya dengan sepeda Indah yang tadinya dibawa Hajes. "Pulanglah!" Hajes pulang dengan mengendarai motornya.
"Bagaimana kamu pulangnya?" Indah memulai percakapan setelah mempersilahkan tamunya duduk.
"Ada kamu yang akan mengantarku pulang!" Senyum termanis ditujukan Halim untuk sang kekasih.
"Masa iya cewek yang mengantar cowok pulang!" Indah.
"Menurutmu?" Canda Halim sembari menaik turunkan alisnya.
"Hmmmh, baiklah!" Akhirnya Indah menyerah.
"Jalan yuk!" Ajak Halim.
"Eh? Kemana?" Tanya Indah.
"Ke MonSa!" Halim.
"Naik apa?" Indah.
"Jalan!" Halim.
"Sudah sana, mandi dulu!" Lanjut Halim.
Indah pergi membersihkan diri, kemudian bersiap pergi. Sementara di luar, Halim mengirim chat pada Hajes agar membawakan motor milik Halim ke rumah Indah. Alhasil setelah keluar rumah, motor Halim sudah terparkir di halaman rumah Indah.
"Jangan panggil Aku, Ha!" Halim. Sedang Indah hanya diam menunggu penjelasan Halim.
"Aku punya empat saudara laki - laki. Semuanya bernama depan Ha. Jadi jangan panggil aku seperti itu!" Lanjutnya.
"Siapa nama mereka?" Indah tertarik dengan cerita Halim.
"Tak perlu tau semua, Adikku namanya Hajes!" Halim.
"Kenapa aku tidak boleh tau nama saudara - saudaramu?" Indah memajukan bibirnya.
"Jika kita berjodoh, kau akan tau sendiri tanpa aku beritahu!"
"Jangan kau pasang wajah begitu, Aku jadi sedih!" Halim.
❤️❤️❤️
Keesokan harinya.
Indah pergi bermain basket bersama Ana dan Tina. Kurang lebih tiga puluh menit kemudian sebuah notifikasi pesan masuk di ponsel Indah.
📱Day : Ada dimana?
📱Ha : Lagi apa?
Dua chat yang hampir bersamaan.
📱Indah: Lagi di lapangan basket.
Indah membalas keduanya.
Sepuluh menit kemudian, Dua pria muda datang menghampiri Indah. "Belum apa - apa dah istirahat aja nih cewek - cewek!" Sapa Day pada Indah d.k.k. sedangkan Halim langsung duduk di dekat Indah yang sedang berselonjor kaki.
"Kalau capek, kenapa tidak dibuka saja sepatunya!" Ujar Halim sambil melepas sepatu Indah. Sikapnya membuat Ana dan Tina menelan saliva masing - masing. Belum usai keterkejutan dua dara tersebut, Halim memijat lembut kaki Indah. Ana dan Tina saling pandang mengerutkan kening.
"Kau berhutang penjelasan!" Bisik Ana yang duduk di sebelah Indah.
Mereka bermain basket sepuasnya. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Indah yang awalnya nebeng sepeda Ana, pulang diantar Halim.
"Kota ketemu ntar malam ya?" Ujar Halim.
"Aku ga mau kita terlalu sering bertemu!" Tolak Indah.
"Nanti malam Aku juga ada janji dengan Ana!" Lanjutnya.
"Baiklah, jika begitu! Kita bertemu besok saja di sekolah!" Halim.
Setelah sedikit berbincang, Mereka berpisah.
Hufh, Aku pikir dengan jatuh cinta akan membuatku merasakan kebahagiaan yang berbeda. Tapi nyatanya.... Halim bergumam di jalan. Sering kali iya mendengar dari teman - teman sebayanya jika pacaran itu menyenangkan. Apalagi saat si wanita sedang bucin - bucinnya dengan pria ganteng, mereka bahkan rela kehilangan mahkota berharganya. Tapi apa yang di dapat Halim, hanya kebahagiaan semu yang ia dapatkan. Mungkin karena Indah gadis yang berbeda. Atau mungkin cinta Halim berlabuh di pelabuhan yang salah? Hah, ya sudahlah! Jalani saja! Siapa tahu jodoh. Halim bermain dengan pikirannya sendiri. Tanpa sengaja ia melihat Dayat yang melamun sendiri di lapangan bola dekat rumah Halim. Tempat tinggal Halim dan Dayat memang hanya dibatasi lapangan bola di perkampungan mereka.
🌹❤️🌹❤️🌹
Sepasang mata memandang Indah dari kejauhan sejak kemarin pagi hingga hari ini, bahkan pemilik netra yang mengawasi Indah kini mengintai Halim. Entah apa maksud dan tujuan gadis tersebut.
Bersambung dulu ya, Kak!
Sekedar mengingatkan!
Jangan lupa favoritkan karyaku ini ya agar muncul di notifikasi saat aku Up!
Sempatkan like n komen juga!
Koin receh juga boleh, apalagi hujan vote. Author sama sekali tidak akan menolak!
Terima kasih😘😍❤️