
Rasa Rindu telah terobati, namun Fathur bingung antara senang atau sedih karena ia tak tahu kapan lagi bisa bertemu kekasihnya
🌹🌹🌹
"Aku ga nyangka kalo Fathur yang pemalu bisa se romantis itu pada Indah" Ibrahim berbicara menatap Indah dah Fathur.
"Iya! Indah juga biasanya bersikap dingin sedingin salju, Tak banyak bicara, namun sejak dia masuk SMP sikapnya mulai berubah. Dia menjadi lebih periang" Jelas Nurika yang mengenal Indah sejak SD.
"Pulang yuk!" Indah menghampiri Nurika dan mengajak yang lain pulang.
Mereka kembali ke rumah Fathur untuk mengambil sepeda. Fathur dan Ibrahim mengantar Indah dan Nurika ke rumah masing - masing.
"Kapan lagi aku bisa bertemu dan berkencan denganmu?" Tanya Fathur seolah sedang berbicara dengan Indah padahal dirinya sedang merebahkan diri setelah mengantar Indah pulang.
Semester dua telah usai. Saatnya mereka menerima raport yang menentukan peringkat serta kenaikan kelas.
Indah dan juga teman \- temannya yang sudah berjuang di Ujian Akhir Tahun, menunggu hasilnya.
Wali kelas memanggil nama mereka untuk maju sesuai peringkatnya.
Peringkat Satu, dua, tiga, empat, lima tak ada nama Indah di sana. Indah mulai kecewa dan enggan mendengarkan apa yang di bacakan oleh sang wali kelas.
Di peringkat ke tujuh nama Indah disebut. Mungkin masih menjadi sebuah kebanggaan bisa masuk sepuluh besar di sekolah favorit.
Tapi tidak dengan Indah. Dia kecewa dengan apa yang di dapat. Nilainya saat ini jatuh sehingga mendapat peringkat tujuh.
Indah memang aktif mengikuti pelajaran, namun ia juga aktif mengikuti ekstrakurikuler. Pekerjaan rumah tak pernah ia lupakan. Namun terkadang beberapa teman menyalin PR yang sudah Indah kerjakan dan mereka melupakan buku yang mereka pinjam dari Indah. Tak jarang itu terjadi, apalagi jika Anik yang meminjam bukunya.
Tak hanya itu, terkadang Indah lupa belajar saat lelah dengan kegiatan ekstrakurikuler wajib dan juga ekstrakurikuler basket pilihannya.
"Makanya, jadi orang itu jangan sombong! Punya ilmu, berbagi. Jangan hanya untuk diri sendiri!" Suara Nana ketus.
Bukan sifat Indah tak mau berbagi, Tapi Nana yang selalu iri pada Indah sejak semester awal. Nana selalu menginginkan apa yang Indah dapat di semester dua. Namun kali ini diapun hanya terpaut satu peringkat di atas Indah.
Pernah satu kali Nana meminjam buku PR Indah, namun sebelum sampai ke tangan Nana, Anik datang merampasnya dan menyalinnya bersama Dayat.
Indah tak menanggapi ucapan Nana. "Sabar ya, Ndah! Jangan dengarkan omongan Nana! Dia cuma iri aja sama kamu yang punya banyak teman, tapi tidak dengan dia yang sombong dan dijauhi teman!" Nurika mencoba menghibur Indah.
"Ga papa kok, Ka! Ini salah aku yang terlalu meremehkan pelajaran!" Jawabnya. "Mungkin aku harus lebih giat belajar! Lanjutnya dan berlalu pulang.
Nana yang tak mendapat tanggapan dari Indah merasa kesal.
"Bagaimana aku harus mengatakan pada Ayah? Ayah pasti marah besar!" Gumam Indah saat mulai mengayuh sepedanya.
Hampir saja Indah menabrak Dayat yang sengaja menghadangnya untuk ikut pulang bersama.
"Yaaaaah, melamun nih orang!" Kata Dayat setelah menahan sepeda Indah.
Tanpa berkata, Indah turun dari sepedanya dan membiarkan Dayat mengayuh sampai di depan gang rumah Dayat.
Di rumah, Pak Yusuf sudah menunggu Indah pulang. Indah memberikan raportnya ke hadapan sang Ayah dengan jantung yang berdetak cepat.
Perlahan Pak Yusuf membuka buku Laporan hasil belajar anaknya selama satu semester.
"Kenapa bisa begini? Ada apa?" Pak Yusuf bertanya pada Indah yang duduk menunduk di hadapannya.
"Itu salah aku, Ayah!" Jawab Indah tanpa berani menatap Ayahnya.
"Kali ini Ayah maklumi, tapi lain kali jangan seperti ini lagi. Kamu harus belajar lebih giat lagi!" Kalimat Pak Yusuf membuat Indah kembali tersenyum.
"Iya, Ayah! Aku Janji!" Ucap Indah dan kembali mengambil raport yang sudah di tanda tangani oleh Pak Yusuf.
Dua hari tiga malam mereka mengikuti perkemahan yang dilaksanakan di sekolah.
Pak Yusuf mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan Indah meskipun ia telah mengajarkan kemandirian pada anak semata wayangnya.
Banyak persediaan makanan yang Pak Yusuf beli untuk Indah dan Pak Yusuf sendiri yang mengantar Indah ke bumi perkemahan yang dilaksanakan di sekolah mereka sendiri.
Meski acaranya sudah berbeda, tapi Nana masih sering mencibir Indah perihal peringkat yang mereka dapatkan. Namun Indah tidak sendiri, banyak teman yang membelanya.
Saat jam malam tiba, banyak orang tua siswa mengirimkan makanan. Indah berpikir orang tuanya tidak akan datang karena ayah dan ibu sudah mempersiapkan segalanya sebelum Indah berangkat.
Pukul sembilan, Panitia memanggil nama Indah. Indah, Nurika dan Anik saling pandang. Pikiran mereka sama. "Siapa yang datang?" Gumam mereka masing - masing.
Indah berdiri dan berjalan menuju gerbang sekolah disusul Nurika dan Anik. Sebelum tiba di pos penjagaan, mereka berpapasan dengan Nana. "Siapa yang datang malam - malam begini ya? Pasti pacarnya! Khan ga mungkin kalo orang tuanya yang hidup pas - pasan mau ngirim makanan!" bacot Nana mencibir Indah.
"Saya orang tuanya!" Jawab Pak Yusuf yang berdiri di luar gerbang tapi masih bisa mendengar omongan Nana.
"Ayaaaaah!" Indah menyambut Pak Yusuf dengan teriakan dan senyum termanisnya.
Nana menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya tak menyangka ayah Indah yang datang, bukan orang lain atau pacarnya seperti yang Nana tuduhkan.
Di tempat Nana berdiri masih ada Anik dan Nurika. "Makanya jangan asal ngebacot tuh mulut! Beliau juga paman aku!" Ketus Anik sembari mendorong kepala Nana dengan jari telunjuknya.
Dengan senang hati, Indah mencium tangan Pak Yusuf dan menerima makanan yang dibawanya.
Anik dan Nurika pun melakukan hal yang sama dengan Indah.
"Ayah, kenapa masih bawain Indah makanan? Yang tadi siang saja belum sempat Indah makan!" Indah merajuk di hadapan Ayahnya.
"Indah di sini ga sendiri. Kan ada Anik, Nurika dan teman - teman yang lain!" Pak Yusuf tersenyum ke arah Anik dan Nurika. Kemudian pamit pulang.
Indah dan kedua sahabatnya kembali ke tenda untuk istirahat. Namun mata mereka tak mudah terpejam mengingat tempat tidur bukanlah yang biasa mereka tempati. Berbincang dan bercanda dengan teman juga membuat mereka sulit menutup mata.
Terdengar panitia kembali memanggil nama Indah. "Siapa lagi, Indah?" Tanya Nurika.
"Apa mungkin Om Yusuf balik lagi?" Tebak Anik.
"Ga mungkin ayah balik lagi!" Pikir Indah.
"Dari pada main tebak - tebakan, mending kita samperin yuk!" Usul Nurika yang disetujui Indah dan Anik. Ketiganya kembali berjalan menuju gerbang.
Tak di sangka dan tak diduga, ternyata yang datang adalah dua orang lelaki bertopi.
Satu orang menggunakan topi berwarna hitam. Satu lagi menggunakan topi berwarna navy. Keduanya membelakangi gerbang sekolah sehingga hanya punggung mereka yang terlihat.
Lanjut besok lagi ya, anak emak lagi sakit.
Panasnya tinggi.
Doain semoga lekas sembuh.🤲🤲🤲
Jangan lupa tinggalkan like n koin recehnya ya!!!
Komentarmu semangatku😘😍🥰