
“Ngadain pesta Valentine yuk!” Ajak Naura pada teman – teman sekelasnya.
“Apa kamu lupa dengan isi pidato Pak Kepala Sekolah yang melarang kita mengadakan perayaan valentine dengan pesta?” Ana menanggapi ucapan Naura.
Bapak Kepala Sekolah tentu punya alasan tersendiri melarang mereka untuk merayakan Valentine's day, begitu pun dengan siswa. Meski dilarang, mereka punya konsep sendiri untuk menunjukkan kasih sayang mereka kepada teman - teman sekolah.
“Iya, Ra! Kita ga mau dapat sanksi gara –gara mengadakan perayaan valentine!” Sahut Tina.
“Ya, kita buat seolah kita merayakan Ulang tahun seseorang yang bertepatan dengan Valentine’s Day!” Usul Naura.
“Tapi, siapa teman kita yang lahirnya bertepatan dengan hari Valentine?” Mereka semua berpikir hal yang sama tak terkecuali Indah.
“Nia!” Ucap Tina mengejutkan teman – teman yang lain.
“Terlalu jauh, Tanggal lahirku sudah lewat. Sedangkan Valentine masih sepuluh hari lagi!” sahut Nia.
“Zain!” Giliran Naura yang mengagetkan teman – temannya.
Mereka semua menyisir keberadaan Zain, namun yang dicari tidak berada di kelas. Halim melihat keluar jendela kelas. Ia melihat Zain menyusuri lorong menuju kelas. “Itu Zain sedang menuju kemari!” Ujar Halim.
Naura berlari menghampiri Zain. “Zain, Ulang tahunmu kapan?” Tanya Naura yang sukses membuat seisi kelas menoleh ke arah Zain dan Naura.
“Tanggal tiga puluh Februari!” Jawab Zain tanpa dosa.
“Tanggal Tiga puluh Februari?” Indah mengerutkan keningnya.
“Ga salah, Zain?” Tanya Dayat memastikan.
“Iya, benar! Aku dilahirkan tanggal Tiga puluh Januari!” Jawab Zain yakin.
Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuu! Teriak teman – teman sekelasnya. Zain heran dan bingung. "
"Kenapa kalian bersorak, apa ada yang salah?” Zain
“Tadi kamu bilang tanggal lahir mu Tiga puluh Februari, Zain!” Sahut Indah.
“Astaga!” Zain menepuk keningnya. “Ma maksud aku tanggal Tiga puluh Januari!” Zain menggaruk pelan kepalanya yang tidak gatal karena malu.
“Indah!” Halim menoleh ke tempat Indah berada. Orang yang disebut namanya menoleh dengan mengerutkan keningnya.
“Jangan asal bicara, Halim!” Celetuk Ana.
“Yey! Kamu kan sahabatnya, Na. Kok bisa ga tau tanggal lahir Indah!” Halim mencebikkan bibirnya.
Naura segera menghampiri Indah. “Kamu lahir dua hari sebelum Valentine’s day, ‘kan?” Tanya Naura setelah duduk di samping Indah.
“Iya!” Jawab Indah singkat.
Mungkin terdengar egois jika Naura melaksanakan pesta valentine dengan alasan merayakan Ulang tahun Indah tanpa persetujuan si pemilik tanggal lahir. Namun Indah sama sekali tidak keberatan.
Sejak kepergian Pak Yusuf, Naura sering kali membantu Indah melupakan kesedihannya.
Naura juga sering mengajak Indah shopping dan membelikan Indah keperluan sekolah dan barang lain meski Indah sering menolaknya.
Tak ada yang tidak mungkin Naura lakukan untuk sahabatnya itu.
Ada dua konsep acara yang mereka buat malam itu. Acara utama adalah Pesta Ulang tahun Indah yang ke 15. Acara berikutnya adalah memperingati Valentine’s day.
“Bu, Aku pamit pergi ke rumah Naura!” Pamit Indah sopan pada ibunya, karena semenjak kepergian Pak Yusuf, Bu Sri menjadi over protektif terhadap putrinya.
Rasa takut kehilangan Indah selalu menghantuinya.
"Berhati – hatilah, Nak! Baik di jalan maupun di rumah Naura, karena ia berasal dari keluarga kaya!” Ucap Bu Sri mengingatkan.
Baru saja Indah mengeluarkan sepedanya, sebuah mobil berhenti di samping rumah.
TIT
“Ayo, naik!” Naura membuka jendela bagian belakang mobilnya, sedangkan Indah masih terdiam dengan sepedanya.
“Hey, Ayo naik! Simpan saja sepedamu, kita belanja sama – sama!” Ulang Naura dengan kalimat yang lebih panjang.
“Ah, Iya. Maaf!” Indah tersadar dan kembali setelah meletakkan sepedanya.
Mulai dari kacamata hitam, Tas, Topi pantai, Jam tangan yang digunakan kakak perempuan Naura yang saat itu sedang menyetir.
Kekaguman Indah akan barang – barang tersebut terlihat oleh Naura yang duduk di sampingnya.
Naura menyenggol lengan Indah. “Semuanya isinya milik Dia, tapi mobil ini punyaku. Dia hanya sopirnya!” bisik Naura.
Di Pasar tradisional, Mereka berbelanja segala sesuatunya ditemani oleh Si emak orang yang mengasuh Naura sejak kecil. Sementara kakak perempuan Naura menunggu di mobil. Ia tak mau turun dengan beribu alasan. Alergi bertemu dengan orang banyak, Alergi bau amis, alergi ulat sayur dan masih banyak lagi alasannya.
“Emak masuk aja dan beli semua keperluan dapur yang kita perlukan untuk acara nanti malam.” Titahnya pada si Emak sembari menyodorkan sepuluh lembar uang berwarna merah.
Tak ada yang istimewa bagi Indah, ia hanya mengenakan pakaian kasualnya. Kaos V neck berwarna biru langit dipadukan dengan celana jeans berwarna hitam.
Ia memilih pakaian tersebut karena tujuan utama acara tersebut memang bukan untuknya melainkan untuk Valentine’s day. Ia juga bukan gadis feminim yang mengharuskan diri menggunakan gaun cantik agar terlihat anggun.
Tak heran jika teman – temannya tidak pernah komplain dengan penampilan Indah malam itu.
Acara pertama adalah pesta Ulang tahun Indah. Setelah semua berkumpul, Ana mematikan lampu rumah Naura, sementara Naura yang baik hati membawa black forest bertuliskan HAPPY BIRTHDAY to My Best Friend.
Naura sengaja tak menuliskan nama Indah di sana karena ia tak mau jika teman yang lain menganggap Indah hanya mau bersahabat dengan Naura seorang.
Sebelum meniup lilin dengan angka 15, Indah berdoa dalam hati. Entah apa yang ia ucapkan dalam doanya hanya author yang tahu. Yang pasti saat itu, Air mata Indah menetes.
Kemudian ia meniup lilin seiring dengan menyalanya lampu rumah Naura dan riuh teman – teman yang mengucapkan Selamat Ulang Tahun pada Indah.
Acara selanjutnya, tukar kado antar teman. Mereka mengumpulkan kado yang mereka bawa dari rumah ditengah – tengah ruangan.
Tak ada yang tahu kado tersebut milik siapa, karena semuanya dibungkus dengan koran bekas bagian Iklan jitu yang tak ada gambar di sana. Yang ada hanyalah tulisan Iklan dan lowongan pekerjaan.
Setelah semuanya terkumpul, mereka berebut mengambil hadiah terbesar. Hanya Indah yang diam di tempat. Tersisa satu bungkus kado kecil persegi panjang, barulah Indah yang mengambilnya.
Satu per satu dari mereka membuka kado tersebut. Salah satu cowok mendapatkan pembalut wanita, kemudian melemparkannya pada teman wanitanya dan mereka bersorak.”Huuuuuuuuuuuuu!”
Ana mencoba membuka bungkusan yang didapatnya. Teman yang lain menunggu Ana dengan antusias, karena Ana lah yang mendapatkan bungkusan yang paling besar diantara mereka.
“Cepetan dong, Ana! Kita dah penasaran nih!” Ucap Tina.
“Paling isinya sebutir permen KISS yang ucapannya Happy Valentine’s Day!” Celetuk Indah dengan wajah datarnya menyindir Ana.
“Ga mungkinlah! Masa iya bungkusnya besar, isinya hanya sebutir permen” Sahut Ana tak terima.
“Jangan jadi peramal, Indah!” Sahut Tina.
Satu per satu Ana melepas koran pembungkusnya hingga membentuk tumpukan koran pembungkusnya dan membuat kado Ana semakin kecil.
Betul sekali dugaan Indah.isinya hanyalah sebutir permen Kiss dengan bungkus berwarna merah bertuliskan Happy Valentine.
“Kau benar, Indah! Apa itu hadiah darimu?” Tanya Tina.
“Bukan, Tina. Kau lihat saja Ana, Siapa nama pemiliknya!” Indah pun penasaran pada pemberi kado tersebut.
Ana mencari nama pemberinya diantara tumpukan koran yang menggunung disampingnya. Ia menemukan nama Ferdi di sana. “Ferdi!” Seru Ana. Semua mata tertuju pada Ferdi.
“Tak bisakah kau memberikan yang lebih pantas untukku?” Ucap Ana sembari mengerucutkan bibirnya.
“Tak bisakah kau baca tulisannya? Aku mengucapkan Happy Valentine disitu!” Sahut Ferdi, kemudian ia mengeluarkan kado yang lebih kecil dari saku celananya.
“Nih, Aku ganti dengan yang lebih kecil!” Ucap Ferdi menyodorkan kado di tangannya pada Ana. Sebatang cokelat yang harganya tidak terlalu mahal, namun setidaknya, lebih mahal daripada harga sebuah permen Kiss.
Giliran Terakhir, Indah harus membuka miliknya yang sengaja ia pertahankan sejak tadi. “Buka, buka, buka!” Sorak yang lain.
Lembar pertama Indah buka, tertulis nama Halim. Tak terlalu banyak koran sebagai pembungkusnya, hanya tiga lembar saja. Kecil memang, namun isinya Cokelat dengan merk ternama. “Terima kasih ya, Halim!”
“Sama – sama!”Sahut Halim yang memang duduk di sebelah Indah. Tak mau kalah dengan Ferdi, Halim juga mengeluarkan kado yang besarnya sama dengan yang didapat oleh Indah, namun kali ini bukan dibungkus dengan koran bekas melainkan dengan Kertas kado berwarna pink.
“Cie cieeee!” Sorak Ana, Naura dan beberapa teman yang lain.
“Yang itu special buat kamu dan jangan kamu buka di sini!” Pinta Halim
“Aku harap kau tidak butuh waktu lama untuk menjawabnya!” Meski tak paham, namun Indah mengangguk pasti dan memasukkannya ke dalam tas selempang yang ia bawa.
**Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like n bagi koin receh ya,kak**!!!
**Komentarmu Inspirasiku💋💋💋**