My Brother

My Brother
Taruhan



“Kenapa diam?” tanya Ika (Faika) yang melihat saudara sepupunya duduk dengan tatapan kosong.


“Kangen!” Jawab Ibnu singkat.


“Kangen sama siapa?” Tanyanya lagi.


“Semua.” Masih dengan tatapan kosongnya.


“Kok semua?” Ika semakin bingung dengan jawaban yang di berikan Ibnu.


Ibnu melihat Ika sebentar lalu kembali ke titik lamunannya “Aku merindukan mamaku, adekku, dan ..........”


“Kekasihmu?” Tebak Ika.


“Aku ga punya kekasih!” Jawab Ibnu mulai melihat lawan bicaranya.


“Kenapa? Apa di sekolah ga ada yang cocok untuk jadi kekasihmu?” Ika heran melihat Ibnu yang tak pernah berpacaran meski banyak kakak kelas ceweknya menginginkan Ibnu. Pun dengan teman seangkatan Ika yang juga adik kelas Ibnu.


“Ga ada niat buat pacaran!” Ibnu mengambil nafas dan membuangnya perlahan.


“Taruhan yuk!” Ika tersenyum di depan wajah malas Ibnu.


“Hmmmmmh, taruhan apa?”


“Ada deeeeeeeh!” Ika berniat memancing senyum Ibnu.


“Katakan! Aku terima tantangan mu!” Ibnu tersenyum kecut berpikir bahwa dirinya akan menang.


“Oke!” Ika mengacungkan jempol kanannya.


“Pertanyaanya adalah Kapan kira – kira Indah akan datang menemui aku?”


“Pilihan jawabannya, Malam ini atau besok pagi?” Ika menjelaskan idenya.


“Taruhannya apa?” Tanya Ibnu yang merasa belum jelas.


“Kalau aku yang menang, maka kamu harus traktir aku dan Indah makan. Begitu sebaliknya, kalau kamu yang menang maka aku yang akan traktir kalian berdua makan”


Deal, Ibnu segera menentukan pilihan. Malam ini Indah akan datang menemui Ika karena sudah lewat satu minggu mereka tidak bertemu. Ika mengalah memilih option sisa dari kesepakatan mereka.


Tak lama mereka mendengar ponsel Ika berbunyi. Ika mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan melihat nama Indah sedang melakukan panggilan. “Indah!” ucap Ika memberitahu Ibnu sebelum menjawab telponnya.


“Jangan curang ya!” Ibnu menaik turunkan alisnya.


“Siap boss!” Ika mengangkat telapak tangan kirinya ke pelipis lalu menjawab panggilan Indah tanpa menjauh dari Ibnu.


Di telfon Indah hanya untuk memastikan keberadaan Ika saat ini karena ia akan langsung menemuinya jika Ika berada di rumah. Kedua nya menutup telfon ketika Indah mengatakan akan ke rumah Ika saat itu juga.


Ika memajukan bibirnya saat menutup telfon dan membuat Ibnu yang berada di depannya jadi panik. “Kenapa cemberut gitu, bukankah Indah akan datang ke sini sekarang? Bukankah tadi kamu bilang kalo kamu kangen sama Indah? Kenapa sekarang malah monyong – monyong gitu” Tanyanya bertubi – tubi.


“Aku bukannya sedih karena kedatangan Indah, tapi aku bingung karena kalah taruhan.sedangkan aku ga punya uang! Ika menunduk sedih.


“Sudahlah ga usah sedih gitu. Kalau kamu senang karena kedatangan Indah, aku malah lebih senang dari pada kamu!” Ika menaikkan pandangannya ke arah Ibnu, “Lupakan aja taruhan kita, biar aku yang traktir kalian makan!” Ibnu melanjutkan kalimatnya.


“Benarkah?” Ika memastikan kebenarannya.


“Iya!” Ibnu mengangguk senang.


Mereka menunggu kedatangan Indah di depan toko milik saudara sepupu lain yang ga author sebutkan. Sebelum melangkah menuju depan toko, Ibnu meminta agar Ika berjalan lebih dulu karena Ibnu hendak mengambil dompetnya di kamar. Ibnu mendapat kiriman uang dari mamanya yang sudah beberapa bulan kembali ke LN.


Ibnu tinggal bersama Adik Bu Ifa dan sesekali datang ke rumah bapaknya jika Pak Salim pulang dari kota sebelah untuk berdagang barang antik. Sedangka Toni yang masih kecil kembali dititipkan di rumah Paman Husein.


 


Ada rasa bahagia menghampiri


Walau sedikit namun sangat nyata


Itulah gambaran hati Ika dan Ibnu saat melihat kedatangan Indah di ujung jalan.


Ika melambaikan tangan pertanda Indah harus menunggunya diujung gang. Ika dan Ibnu lah yang berjalan menghampiri Indah.


“Sini sepedanya, biar aku yang antar ke halaman rumah Ika!” Ibnu mengayuh sepeda Indah ke depan rumah Ika yang juga merupakan halaman rumah Ibnu. Sementara Indah dan Ika menunggu di ujung jalan.


“Mau kemana?” Tanya Indah bingung.


“Ikut saja, ntar aku ceritain!” Jawab Ika membuat Indah semakin bingung.


“Aku ga mau ikut kalau kamu ga mau cerita!” Indah mengancam Ika.


Ika menyerah dan memulai cerita tentang tantangan yang ujung – ujungnya jadi senjata makan tuan antara dirinya dan Ibnu sebelum Indah meneleponnya hingga memutuskan untuk datang malam ini ke tempat Ika.


“Oh, gitu!” hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Indah setelah Ika panjang lebar menjelaskan rencana Ibnu dan Ika untuk mentraktir Indah.


“Adek mau makan apa?” Tanya Ibnu pada keduanya namun Ika tak mau menjawab karena pastilah pertanyaan Ibnu di tujukan pada Indah.


Karena Indah tak jua menjawab, Ika menyenggol lengan Indah dengan sikunya. “Mau makan apa?”


“Ke tempat penyetan yuk!” Indah menarik tangan Ika ke tempat penjual yang di maksud oleh Indah.


Timbul sebuah ide dalam otak Indah. Indah kembali ingin mengetahui tentang siapa dia sebenarnya. Langkah awal Indah akan meminta apapun yang ia inginkan pada Ibnu. Indah memilih Ayam goreng plus nasi dan segelas es jeruk untuk menu makan malamnya. Beruntunglah saat itu Indah belum sempat makan malam karena ia sangat merindukan Ika sahabat SD nya dulu. Ibnu dan Ika juga ikut memesan menu yang sama dengan Indah.


Usai makan, Indah mengajak Ibnu ke super market tak jauh dari tempat mereka makan sebelumnya. “Mas aku boleh beli semuanya ya?”Indah ingin mengetahui reaksi Ibnu. Ternyata dugaan Indah salah. Ia mengira Ibnu tak akan menuruti kemauannya karena mereka tak memiliki hubungan apa - apa.


“Iya boleh!” Jawab Ibnu.


Indah membeli semua yang ia inginkan mulai dari perlengkapan mandi hingga semua camilan yang Indah suka dan Ibnu yang membayar semuanya.


“Mas, aku beli ini juga ya?” Indah mengambil sebuah parfum mahal dan menunjukkannyapada Ibnu.


“Iya!” Jawab Ibnu singkat namun tak menghilangkan senyum di bibirnya.


Usai berbelanja mereka kembali ke rumah .


Ibnu mengambil sepeda dan menyerahkannya pada Indah. “Langsung pulang ya, jangan mampir kemana – mana nanti Ayah sama Ibu khawatir!” Pesan Ibnu diikuti anggukan Indah.


“Ayah ibu apa kamu yang khawatir?” Ledek Ika.


“Aku juga!” Jawab Ibnu singkat dan Indah


langsung pulang setelah pamit pada Ika dan Ibnu, juga pada Umminya Ika.


 


Saat Ibnu mengambil sepeda milik Indah sebelum pulang, Indah berbicara pada Ika “Aku ingin bicara serius sama kamu besok, tanpa Ibnu!” Indah menekan kalimat terakhirnya. Ika mengiyakan.


 


**Kutunggu Like, Vote and Komentarnya juga.


Aku tak tahan pedasnya cabe, tapi pedasnya komentar aku tahan untuk menambah semangat dan memperbaiki tulisan novelku.


Terima kasih😘😍🥰**