My Brother

My Brother
Bertemu Arman



"Hai, Apa kabar?" Cakap Indah ceria.


"Baik, kamu sendiri gimana?" Ana bertanya balik.


"Aku baik!" Jawab Indah. "Oh ya! Besok kita jalan - jalan, Yuk!" Ajak Indah pada Ana.


💡"Kebetulan sekali Indah mengajakku jalan - jalan. Aku akan mengajaknya ke rumah Ari dan mempertemukannya dengan Arman" Ana menemukan ide cemerlang.


"Halooooo!" Indah ber halo karena tak mendapat jawaban Ana.


"Eh, iya! Gimana kalo kita rujakan di rumah Ari? Kebetulan besok aku ada janji dengannya!" Sahut dan usul Ana.


"Boleh!" Jawab Indah


Mereka membuat janji kemudian mengakhiri percakapannya.


 


Tibalah mereka di rumah Ari dengan membawa bahan \- bahan rujak yang baru saja mereka beli di pasar.


Ari sudah menunggu di teras rumahnya karena semalam Ana memberitahukan rencananya. Kebetulan Ibu dan Kakak Ari sedang tidak berada di rumah.


Mereka bertiga makan rujak buatan mereka sendiri sembari mengobrol dan bercanda.


"Kita ke rumah Arman, Yuk!" Ajak Ari setelah ia membereskan dan membersihkan sisa rujakan nya. Ana tak langsung menjawab, Ia menunggu respon Indah.


"Boleh!" Jawab Indah. Mereka langsung menuju rumah Arman. Sepeda Ana dan Indah tetap berada di rumah Ari karena jarak ke rumah Arman tidak terlalu jauh dan hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.


Indah berjalan di depan sedangkan Ana dan Ari mengekori di belakangnya.


Setelah berbasa - basi, Ana ingin mengatakan tentang Arman sebagaimana yang diceritakan oleh Ari. Namun tangan Ana ditahan oleh Ari pertanda ia mencegah Ana.


"Biarkan saja!" Ari mempunyai cara lain untuk memberitahukan Indah. Ana diam mengikuti rencana Ari.


 


Beberapa meter dari rumah Arman. "Kalian tunggu di sini ya!" Ucap Ari menghentikan langkah dua gadis yang bersamanya.


Indah dan Ana memilih duduk di hamparan rumput beralaskan sandal masing - masing.


Ari masuk ke rumah Arman menemui pamannya yang tak lain adalah Bapak dari Arman. Sang Bapak mengatakan bahwa Arman berada di rumah sebelah. tepatnya di rumah kakak laki - lakinya. Sudah tiga bulan kakak laki - laki Arman pindah rumah. Jadi Arman yang menempati rumah itu dan menyendiri di sana. "Masuklah, bawa kekasih Arman ke sana! Mungkin kehadirannya bisa membuat Arman senang dan bersemangat lagi!" Tutur sang Bapak.


Ari masuk ke rumah yang dimaksud. Arman duduk di salah satu sudut kamar dengan pandangan kosong. Tangannya memeluk gitar. Kacamatanya berada di sebuah meja jauh dari tempatnya duduk.


Ari keluar lagi menemui Indah dan Ana. Ia membawa mereka berdua masuk.


"Aku disini aja dech!" Ucap Ana dan duduk di kursi kayu yang ada di ruang tamu. Meski rumahnya tidak besar, tapi Arman tidak menyadari ada orang yang datang.


Indah mengikuti langkah Ari menuju kamar Arman. Di pintu yang terbuka, Indah melihat jelas keadaan Arman. Baru saja ia menghidupkan sebatang rokok. Pandangannya kosong, mata panda tampak begitu jelas, tubuhnya kurus.


Indah memandang Ari yang ada di dekatnya. Ari mengangguk mendukung Indah mendekati Arman. Indah masuk dan menyentuh lembut pipi Arman "Maafkan Aku!" Ucapnya.


"Indah!" Arman segera mematikan rokoknya dan membuangnya karena yang ia tahu Indah tak menyukai laki - laki perokok apalagi status mereka yang hanya seorang pelajar.


Arman meraba - raba mencari kaca matanya. Indah yang melihat kaca mata Arman di atas meja segera mengambil dan memakaikannya pada Arman.


"Harusnya aku yang minta maaf, karena aku tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu!" Jawab Arman, Air matanya mengalir deras sehingga membasahi kacamatanya.


"Kamu ga makan?" Tanya Indah sedih. Arman hanya menggelengkan kepalanya. Ari dan Ana memperhatikan mereka di pintu kamar.


"Yuk!" Ari mengajak Ana kembali ke ruang tamu. Mereka duduk di sana menikmati camilan yang tersedia di meja sebelum mereka datang. Sejenak Ari meninggalkan Ana untuk menemui Ibu Arman.


Ari mengambil makanan tersebut dan memberikannya pada Indah.


"Makanlah!" Indah menyodorkan mangkuk berisi bubur ayam pada Arman. Awalnya, Arman menolak, namun setelah sedikit berdebat akhirnya ia mau makan.


"Kau bukan anak kecil yang mogok makan hanya karena tidak dibelikan lollipop. Seharusnya kamu bisa tegar dan kembali bersemangat. Buktikan kalau kamu bisa meraih mimpimu kembali!" Kata - kata Indah membuat Arman berpikir.


"Apa kamu masih mau menjadi kekasih orang sepertiku?" Arman mengiba.


"Aku tidak memandang orang lain dari status sosialnya atau yang lain. Asalkan orang itu baik, maka aku akan berteman dengan siapapun!" Jawab Indah.


Indah tak pernah memilih teman dari status sosialnya. Ia berteman dengan siapapun. Namun kebanyakan teman - teman Indah dari kalangan menengah ke bawah seperti yang sudah kita tau sebelumnya.


Tiba - tiba ada seorang pengamen memainkan gitarnya di depan rumah Arman. Ari menolaknya karena tak memiliki uang receh. "Maaf ya, Bang!" Tolaknya.


Indah menarik tangan Arman keluar rumah dan memanggil si Abang pengamen itu.


"Bang!" Teriaknya. Si pengamen menoleh. Indah melambaikan tangan. "Mainkan gitarnya dan menyanyilah!" Pinta Indah dengan senyum cerianya. Dengan senang hati si Abang menyanyikan lagu cinta.


Lagu kedua, Indah meminta lagu pengamen yang mengisahkan tentang nasib seorang pengamen. Entah apa judulnya, Indah juga ga tau!


Setelah puas dengan lagu yang dinyanyikan si pengamen, Indah memberikan selembar uang berwarna biru. "Makasih ya, Bang!" Ucapnya.


"Saya yang makasih, Mbak!" Jawab balik si pengamen. "Ngomong - ngomong, ga salah ni mbak ngasih uang segini banyak?" Tanya si pengamen heran. Biasanya orang - orang hanya memberikan uang seribu atau dua ribu rupiah saja.


"Ga salah kok! Itu memang rezeki Abang yang Allah berikan melalui saya!" Jelas Indah.


"Paham kan, kenapa aku memintanya bernyanyi?" Tanya Indah pada Ana dan Ari.


"Iya, paham. Supaya tu orang dekat kamu bisa tersenyum lagi!" Sahut Ana.


"Bukan!" Celetuk Ari.


"Lalu, menurutmu?" Tanya Ana.


"Karena Indah suka sama Abang pengamen nya!" Ledek Ari sembari melirik Arman yang mulai bisa tersenyum.


"Salah!" Kata Indah penuh penekanan. "Lalu?" Tanya mereka bertiga serempak.


"Supaya kita sadar bahwa kita lebih beruntung dari pada Abang pengamen itu!" Jawab Indah penuh penekanan. Semua yang ada di tempat itu melongo belum paham arah pembicaraan Indah.


"Kita itu lebih beruntung dari Abang itu. Dia panas - panasan mencari uang dengan bermodalkan sebuah gitar. Sedangkan kita ga perlu panas - panasan untuk mendapatkan uang jajan! Tinggal minta sama orang tua, pasti di kasik dengan syarat harus jadi anak yang baik! Betul 'kan?" Lanjutnya. Lebih tepatnya memberi semangat pada Arman.


Ketiganya mengangguk mulai mengerti maksud Indah.


Indah menoleh ke arah Arman. "Aku pernah mengalami hal yang sama?" Cakap nya menepuk lembut bahu Arman yang duduk disampingnya.


"Kapan?" Tanya Arman heran, pasalnya ia tak pernah mendengar kabar Indah tidak naik kelas.


......….…


**Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak n komentar di Chapter ini ya, Kak!!!


Terima kasih**!!!


 


Â