My Brother

My Brother
Satu Minggu



Sudah satu Minggu, masa percobaan cinta Indah dan Halim. Satu Minggu pula waktu yang diberikan Safia untuk Dayat agar bisa menentukan panggilan sayang diantara mereka.


Banyak hal yang Halim lakukan demi mendapatkan cinta Indah. "Akankah semua yang aku lakukan selama satu Minggu mampu menarik hati Indah?" Gumam Halim sembari memutar tubuhnya di depan cermin. Hari ini ia tampak lebih segar dari biasanya. Senyum yang selama ini mengembang di bibir manisnya, sekarang makin berkembang. "Hmmmh, Semoga saja! Amin!" Halim meng - Amin - kan harapannya sendiri, kemudian mengajak Hajes pergi ke Sekolah segera.


"Emangnya ada apa sih, Kak? Kok berangkat sepagi ini?" Tanya Hajes.


"Ga ada, hanya ingin lebih rajin saja karena Aku sudah hampir lulus!" Jawab Halim.


"Sarapan Lah dulu!" Saran Ibu dari Ha bersaudara.


"Ga usah, Bu! Biar aku sarapan nanti di Sekolah saja!" Jawab Halim sopan sembari mencium punggung tangan sang Ibu.


"Kenapa tidak berangkat sendiri saja!" Ujar Hajes kesal.


"Bawalah motornya, biar Hajes Aku yang antar!" Ujar Hasyim kakak laki - laki tertua Halim.


"Baiklah! Aku pergi dulu ya! Assalamualaikum!" Pamit Halim menyambar kunci motor yang ada di depan Hajes


Di tempat lain, Indah dilanda kebingungan. Apa yang harus aku lakukan untuk Halim? Tak ada rasa cinta yang tumbuh di hatiku untuknya! Tapi salahkah jika Aku memberikannya kesempatan kedua untuk mendapatkan hatiku? Maafkan Aku Ha, bukan maksudku mempermainkan perasaanmu! Batin Indah.


Indah menarik nafas panjang kemudian menghembuskan nya perlahan. Aku pikirkan nanti saja, bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Ha! Batinnya, kemudian ia berangkat ke sekolah dengan sepeda yang selama ini selalu setia menemaninya kemana pun pergi.


Sesampainya di Sekolah, Halim mencari keberadaan Indah yang biasanya selalu datang lebih awal dari teman - teman yang lain. Tapi sayangnya orang yang ia cari ternyata belum sampai di sekolah. Halim memilih duduk sendiri di kelas menunggu kedatangan Indah.


"Assalamualaikum!" Seru Indah. Tidak atau ada orang dalam sebuah ruangan atau rumah, Indah selalu mengucap salam.


"Waalaikum salam, Sayang!" Sahut Halim yang sudah tau pasti suara itu berasal dari kekasihnya.


"Ga biasanya kamu datang sebelum Aku atau Ana datang. Bahkan biasanya Dayat datang lebih awal daripada kamu?" Tanya Indah heran.


"Karena Aku merindukanmu!" Jawab Halim menaik turunkan alisnya. Indah meletakkan tasnya dan beranjak pergi.


"Sayang, Tunggu!" Halim mencegahnya pergi memegang erat tangan Indah namun tidak terasa sakit.


"Ada apa?" Indah berbalik menghadap Halim.


Deg deg deg, Jantung keduanya seakan berlari dan saling mendahului. Netra mereka bertemu. Baru kali ini hal itu terjadi selama mereka kenal.


Apa Indah lupa kalau hari ini sudah satu Minggu masa percobaan cinta kami? Batin Halim.


Apa dia akan mempertanyakan akhir dari masa percobaan cinta ini? Ya Allah, Aku bingung! Indah


"Sayang!" Halim menatap sendu netra Indah meminta jawaban, namun ia tak berani berharap lebih.


"Aku ganti baju dulu ya! Kita ketemu di lapangan!" Ujar Indah. Lebih tepatnya membuka seragam sekolah yang di dalamnya terdapat pakaian olah raga.


"Aku menunggumu!" timpal Halim kemudian melepas genggaman tangannya dan berganti pakaian di kelas. Sedangkan Indah berjalan menuju ruang ganti. Setelah mengganti seragamnya dengan pakaian olah raga sekolah, Indah berjalan menuju lapangan basket. Ya, hari ini Ujian praktek Olah raga, yaitu Senam dan Basket.


Tanpa Indah ketahui, sang guru olah raga melempar bola ke arah Indah. Saat bola akan mengenai kepala Indah, secara reflek Halim berlari. Namu sayangnya Indah lebih dulu menyadari akan kehadiran si bola dan berhasil menangkap bola tersebut. Sang guru dengan sengaja melempar bola ke arah Indah, karena beliau yakin Indah akan menangkapnya meski secara spontan. "Good!" Pujinya untuk Indah.


"Bawa bolanya ke Lapangan, Saya mau absen dulu!" Ujar sang guru.


"Oke deh, Bapak!" Sahut Indah riang. Sementara Indah menggiring bola ke Lapangan, Halim segera berlari mendahului Indah.


"Kenapa terlambat?" Tanyanya.


"Masih antar adek ke sekolah!" Jawab Ana ngos - ngosan.


"Cepatlah!" Ana segera berlari ke kelas dan kembali bergabung di lapangan.


Setelah ujian praktek di lapangan basket selesai, mereka kembali ke Sekolah untuk praktek kedua yaitu senam bersama. Indah melirik jam tangan yang menunjukkan waktu masih tersisa sepuluh menit untuk start senam. Saat beranjak, Halim menarik lembut tangannya. "Minumlah dulu!" Ujarnya menyodorkan sebotol kecil air mineral.


Indah menghentikan langkahnya, meminum pemberian Halim kemudian melanjutkan langkahnya. Sedangkan Halim menyamakan langkah dengan Indah.


"Jika kau tak bisa melanjutkan hubungan ini, kita akhiri saja!" Ucap Halim putus asa membuat Indah menelan susah payah air minum yang tersisa di mulutnya.


"Kita selesaikan dulu ujian hari ini!" Sahut Indah memiringkan kepala sembari tersenyum menaik turunkan alisnya.


"Kau selalu bisa membuatku tersenyum!" Halim menarik hidung Indah.


"Sakit!" Indah mengusap ujung hidungnya.


"Hei, Aku rasa baju Olga kita tertukar deh!" Ucap Ana mengejutkan dua sejoli yang merahasiakan hubungannya terhadap Ana dan yang lain saat mereka duduk santai usai melakukan senam massal.


"Aku ga pernah buka baju olah ragaku di Sekolah, Na! Kalaupun bajumu itu tertukar, ga mungkin dengan milikku, 'kan?" Memang benar jika Indah selalu menggunakan pakaian olah raganya dari rumah dan membukanya kembali saat sudah sampai di rumah.


"Iya juga ya!" Ana berpikir.


"Aku rasa bukan bajunya yang tertukar, Ana. badannya yang melar!" Celetuk Dayat yang entah dari mana munculnya dan langsung duduk berselonjor kaki di antara Ana dan Indah.


"Hufh, Jangan terlalu jujur kali, Day!" Kelakar Indah membuat Day dan Halim tertawa.


"Habis ini kita mau kemana, Ndah?" Tanya Ana.


"Pulang!" Indah.


"Makan dulu yuk, Aku yang traktir!" Ucap Halim dan Dayat bersamaan. Sedang pandangan mereka sama - sama tertuju pada Indah.


"Ya, ya biarlah hari ini Indah dapat traktiran dari dua cowok sekaligus. Biar ga hanya baju ku saja yang kekecilan!" Sindir Ana yang iri karena tak mendapat tawaran makan gratis.


"Dua - duanya buat kamu, Na!"


"Ta - tapi ... Halim menggaruk kepalanya yang tak gatal, bukan karena kecewa dengan penolakan Indah namun ia kecewa dengan kehadiran Ana dan Dayat yang menggagalkan rencananya. Namun apa daya, sang kekasih yang hendak diajak telah berlalu pergi mengambil tas sekolahnya di kelas. Halim segera berlari mengejar Indah.


Sementara Dayat tetap mentraktir Ana makan. Sebenarnya tujuan utama Dayat bukan perkara siapa yang ditraktir tapi lebih untuk menghindari Fia yang menunggunya selama satu Minggu terakhir.


"Kamu beneran mau langsung pulang?" Halim memastikan.


"Maumu?" Tanya balik Indah yang lagi - lagi membuat Halim bingung harus menjawab apa.


.............


Bersambung dulu ya, Kak!


Author mengucapakan Selamat menunaikan Ibadah puasa!