
Empat tahun kemudian.
Saat Dita berumur empat tahun. Jamila pulang dari rumah Bu Mira mengalami kecelakaan. Ia tertabrak mobil saat menyeberang jalan. Beruntung sekali Dita tidak ikut ke rumah Bu Mira. Jamila meninggal di tempat kejadian.
Parto sangat bersedih karena kehilangan istri tercintanya. Dita juga histeris melihat jenazah ibunya di antar ke pemakaman. "Jangan ambil Ibu Dita...!" Isaknya.
Melihat hal itu, Ningsih ikut bersedih dan menggendong Dita.
~~~
Kehadiran Ningsih mampu menghibur Dita dan Parto. Mereka melupakan kesedihan karena kehilangan Jamila.
Ningsih dengan setia menemani Parto dan Dita selama seratus hari, tanpa melupakan kewajibannya merawat sang ibu yang sedang sakit - sakitan karena faktor usia.
Melihat kesetiaan dan ketulusan Ningsih, Parto memutuskan untuk menjadikan Ningsih istri dan ibu sambung untuk Dita.
Begitu pula dengan Dita yang menginginkan Ningsih menjadi penggantinya Jamila ibunya.
Dengan senang hati, Ningsih menerima permintaan Ayah dan Anak tersebut.
"Maafkan Aku, Jamila. Bukan aku tak mencintaimu, tapi Dita butuh kasih sayang seorang ibu dan aku tak mampu merawat Dita seorang diri. Untuk itu aku pilih Ningsih sahabatmu menjadi istriku dan ibu untuk Dita". Ucap Parto di dekat pusara mendiang istrinya.
Menikahlah Parto dengan Ningsih. Keesokan harinya, Bu Mira datang ke rumah Parto untuk mengantarkan sisa tabungan Jamila selama bekerja dengannya. Sebuah kalung dengan berat dua belas gram, Bu Mira serahkan pada Parto dan sejumlah uang yang berhasil Jamila kumpulkan selama satu tahun terakhir.
Kedatangan Bu Mira membuat Ningsih mengerti bahwa apa yang dipakai Jamila selama ini bukanlah hasil jerih payah Parto seorang melainkan hasil kerja keras Jamila sendiri. Bu Mira juga memberikan beberapa pakaian mahal untuk Dita.
Ningsih bukanlah wanita atau ibu tiri yang jahat. Iya merawat Dita dengan baik. Mencintai Parto dengan tulus. Berbakti pada ibunya yang sedang sakit. Ningsih juga menyimpan dengan baik barang - barang berharga milik Jamila sahabatnya.
Satu bulan setelah pernikahannya dengan Parto, Penyakit ibunya makin parah dan harus dirawat di rumah sakit.
Ningsih kebingungan mencari pinjaman uang untuk biaya rumah sakit ibunya. Dengan berat hati, Parto akhirnya angkat bicara. Ia mengijinkan Ningsih menjual perhiasan Jamila untuk dijual.
Dengan berat hati pula, Ningsih menerima usul Parto dan menjual perhiasan tersebut.
"Maafkan aku, Jamila!" Gumamnya saat tiba di depan toko perhiasan. Air matanya menetes saat ia menerima uang hasil penjualan perhiasan.
Meski sudah banyak mengeluarkan uang, namun nyawa ibunya tak tertolong dan meninggal dunia. Ningsih kembali berkabung. Setelah sahabatnya pergi, kini Ningsih kehilangan sang Ibu.
~~~~
"Ibu, Aku ingin makan Sate!" Dita mengutarakan keinginannya pada Ningsih.
"Tunggu Ayah pulang ya, Dita!" Jawab Ningsih sembari memeluk dan mengusap lembut rambut Dita.
Sepulang Parto bekerja, Dita sudah terbang ke alam mimpi. Ia bermimpi sedang menikmati sate bersama Jamila, Ibu kandungnya. "Emmmm, Lezat sekali satenya, Bu!" Dita mengigau hingga terlihat oleh Parto sang anak menjilat bagian bibirnya.
Parto keluar kamar dan duduk di samping Ningsih. "Apa Dita sudah makan?" Tanyanya.
"Belum." Jawab Ningsih singkat.
"Kenapa belum?" Tanya Parto lagi.
"Dita ingin makan Sate!" Sahut Ningsih.
"Aku ga punya uang." Ningsih.
Terjadi adu mulut antara Parto dan Ningsih malam itu. Ningsih mengatakan dugaannya selama ini tentang kehidupan Parto bersama Jamila.
"Aku pikir Jamila hidup bahagia dengan nafkah yang kau berikan. Jamila bisa berpakaian mewah, makan enak, menggunakan perhiasan emas. Tapi ternyata..." Ningsih terisak.
"Jamila mendapatkan semua itu dari hasil jerih payahnya sendiri dan pemberian Bu Mira". Lanjut Ningsih dengan suara rendah karena menahan tangis.
Sejak pertengkaran malam itu, Ningsih memutuskan untuk bekerja seperti Jamila.
Namun Ningsih tak bernasib sama dengan Jamila. Ia bekerja pada Bu Rahma seorang rentenir kaya. Ia mempekerjakan Ningsih dari jam tujuh pagi hingga jam lima sore. Upah yang diberikan pun tak terlalu besar.
Sepulang dari rumah Bu Rahma, Ningsih harus terburu - buru mengejar waktu agar bisa berbelanja ke pasar Palawija. Memasak untuk suami dan anaknya.
Mungkin karena lelahnya bekerja, Ningsih sering marah saat Dita menginginkan makanan yang berbeda dengan masakan yang dibuatnya.
Bukan karena masakan Ningsih tidak enak, melainkan karena Dita terbiasa makan makanan enak pemberian Bu Mira.
Flashback Off
"Begitulah kehidupan kami, Dek!" Parto mengakhiri ceritanya.
"Kalau begitu, izinkan Dita menerima uang dari kami malam ini!" Pinta Indah.
"Bukan Dita yang minta pada kami, melainkan adik saya ingin memberikannya untuk anak Abang." Sahut Fathur.
"Tapi, Dek..." Parto menatap sendu Indah.
"Saya tidak terima penolakan!" Tegas Indah.
"Itu sama artinya Om menghalangi jalan saya menuju Syurga!" Lanjutnya.
"Baiklah, jika itu mau kalian!" Akhirnya Parto mengijinkan Dita menerima uang yang diberikan oleh Indah.
Setelah Dita menerima uang tersebut, Indah dan Fathur pamit pulang.
🌼🌼🌼
"Surprise.......!" Teriakan seseorang di depan pintu kamar membuat Ibnu membulatkan mata. Mengerjap serta menggosok - gosok matanya tak percaya.
Tak mungkin sosok yang dirindukannya tiba - tiba berdiri di hadapannya.
" Ini pasti mimpi, karena posisiku saat ini sedang berada di tempat tidur." Ibnu mengamati sekitar tempat tidurnya. Sedangkan di sisi pintu, wanita tersebut melebarkan senyumnya melihat tingkah bingung Ibnu.
Siapakah Dia?
Temukan di episode selanjutnya.
Jangan lupa like, komentar n vote ya, Kak!!!
Thanks ya!