
Ayam jantan berkokok membangunkan Insan yang terlelap dalam tidur. Menikmati mimpi Indah yang membuatnya tak rela meninggalkan tempat tidurnya.
Indah berada dalam keadaan antara sadar dan tidak. Mimpi Indahnya membuatnya malas membuka mata takut kehilangan mimpinya, namun alam sadarnya lebih mendominasi sehingga mimpi itu menghilang seiring terbitnya matahari dari ufuk timur.
Melaksanakan Shalat Shubuh dan kegiatan sehari – hari lainnya.
Satu semester berlalu, tiba saatnya Ujian Akhir semester pertama. Indah mengisi waktu luang sebelum berangkat ke sekolah dengan sedikit mengulang pelajaran yang akan diujikan hari ini.
Panitia Ujian Akhir Semester mengatur ruang ujian sedemikian rupa sehingga Indah dan Anik mendapat bagian duduk satu bangku dengan kakak kelas yaitu dengan siswa kelas IX A dimana kelas tersebuat adalah kelas sang ketua OSIS yang pernah diidolakan Anik.
Sesuai urutan nama yang diatur oleh Panitia Ujian, Indah mendapat tempat satu meja dengan Azmi. Sementara Anik duduk dengan Tuti kekasih Azmi.
Satu minggu mereka bertaruh untuk mendapatkan nilai terbaik. Setelah satu minggu Ujian, akan dilaksanaka clasmeeting dyang bersamaan dengan waktu remidi bagi siswa yang memiliki nilai kurang dari KKM.
Tak satupun nilai Indah yang di bawah standard minimal sehingga Indah bisa dengan bebas mengikuti kegiatan classmeeting. Hari kamis, semua lomba selesai. Pengumuman pemenang serta momen penerimaan hadiah dilaksanakan pada hari jumat. Dilanjutkan dengan pembagian Raport pada hari sabtu.
Hari yang sangat dinantikan oleh siswa adalah hari dimana setiap siswa akan mendapatkan buku hasil belajarnya selama satu semester.
Pak Isbar, wali kelas Tujuh A memasuki ruangan dengan membawa buku raport seluruh siswa kelas Tujuh A. Sikap dinginnya membuat anak didiknya dag dig dug der untuk segera mengetahui hasil belajarnya selama ini.
Wali kelas mulai dengan prakata singkatnya yang berisi pesan agar siswanya lebih meningkatkan belajarnya. Pak isbar juga meminta agar siswa yang dipanggil namanya sebagai pemilik peringkat kelas untuk segera maju ke depan kelas.
Isti nama si gadis mungil di sebut pertama kali oleh Pak Isbar dengan peringkat pertama.
“Ada dua nama pemilik peringkat kedua di kelas ini!”, Wajah datar Pak Isbar membuat keadaan kelas semakin menegang.
“Dua titik satu, di raih oleh ... Pak Isbar menghentikan kalimatnya. Meski penasaran, para siswa tidak berani bertanya pada wali kelas yang dinginnya melebihi batu es.
“Lindaaaa!” Mereka bertepuk tangan mendengar nama Linda di sebut. Beberapa teman Linda sejak SD memberikan selamat.
“Selamat ya, kamu bisa mempertahankan peringkatmu hingga sekarang!” Ana teman Linda sejak SD memberikan selamat.
“Makasih!” Linda yang sejak SD selalu mendapat peringkat dua berdiri dari duduknya dan berjalan menuju bagian depan kelas kemudian berdiri di sebelah kiri Isti.
“Dua titik Dua. Siapakah pemiliknya?” Tak satupun yang bisa dan mau menjawab pertanyaan Wali kelas mereka.
“Paling juga Henny!” Bisik Indah pada Ika yang duduk di sampingnya. Ika mengiyakan pendapat Indah karena sejak SD Henny selalu masuk lima besar di kelas mereka dengan kepandaian yang ia miliki.
“Indaaaaah!” Teman – teman yang dulu satu SD dengan Indah terkejut dan berteriak keras mendengar pak Isbar menyebut nama Indah. Mereka tidak menyangka bahwa teman satu sekolah mereka yang selama ini tidak pernah masuk peringkat sepuluh besar, saat ini bisa mendapatkan peringkat kedua di sekolah yang baru.
“Ayo, Maju!” Ika menyenggol lengan Indah dengan sikunya.
“Apaan sih?” Indah terbangun dari lamunannya.
Flashback on ~~~
Saat Ika mengiyakan pendapat Indah karena sejak SD Henny selalu masuk lima besar di kelas mereka dengan kepandaian yang ia miliki, Indah melanjutkan lamunannya.
“Jangan terlalu berharap, Indah” Gumamnya dalam hati “Ga mungkin kamu mendapatkan peringkat sedangkan banyak siswa yang lebih pandai darimu! Kalaupun kamu mendapatkannya, mungkin hanya peringkat sembilan atau sepuluh!” Indah merutuki dirinya.
Indah tak mendengar ketika Wali kelas memanggil namanya.
“Indah, ayo maju!” Ika kembali menggoyang tubuh Indah, Anik yang duduk di belakang Indah pun mendorong pelan tubuh Indah dari belakang “Pak Isbar sudah memanggil namamu tiga kali!” Jelas Anik.
Setelah Indah berdiri, barulah Pak Isbar melanjutkan acara membacakan peringkat siswanya hingga sepuluh besar kemudian dilanjutkan dengan pembagian raport dan hadiah kepada Siswa yang memiliki peringkat tiga besar. Isti, Linda, Indah, Dayat dan Henny mendapatkan hadiah dari sang Wali kelas karena mereka termasuk dalam peringkat tiga besar.
Tanpa membuka kertas kado yang menjadi pembungkusnya, Indah memberikan hadiah tersebut kepada kedua sahabatnya sebelum akhirnya mereka pulang ke rumah masing – masing. Indah melakukan halitu karena Ika dan Anik tidak mendapatkannya.
Ika mendapat peringkat ke lima dan Anik tidak masuk dalam sepuluh besar, namun begitu nilainya diatas standar minimal.
Indah pulang ke rumah membawa raportnya,
Indah melihat Pak Yusuf duduk di teras rumah menunggu kedatangannya. Indah melewati Pak Yusuf menuju samping rumah untuk memarkirkan sepedanya dan masuk lewat pintu samping rumah.
“Indah!” Pak Yusuf memanggil Indah dengan wajah datarnya.
“Iya, Ayah!” Indah berjalan mendekati Pak Yusuf sambil menundukkan kepalanya.
“Mana raportmu?” Pak Yusuf bertanya tanpa melihat Indah yang berdiri di sampingnya.
“Tunggu sebentar, Ayah!” Indah bergegas mengambil buku raport di tas nya kemudian memberikan pada Ayahnya.
“Ganti pakaianmu!” Perintah Ayah saat tangannya sudah menerima raport yang diberikan oleh Indah. Tanpa menjawab, Indah langsung masuk kamar dan mengganti seragam sekolahnya dengan baju santai.
Saat Indah berada di kamar sedang mengganti pakain, Saat itu pulalah Pak Yusuf memeriksa hasil belajar anak satu – satunya selama belajar di SMP. Setelah selesai dengan raport Indah, Pak Yusuf masuk kamarnya dan keluar bersamaan dengan Indah yang juga keluar dari kamarnya sendiri.
“Ikut Ayah!” Suara Pak Yusuf mengejutkan Indah.
“Iya” Jawabnya singkat dan mengikuti Pak Yusuf di belakangnya.
Pak Yusuf memasuki toko perhiasan emas diikuti Indah yang sejak tadi berjalan di belakangnya. Ayah meminta pelayan toko untuk mengambilkan cincin emas bermatakan diamond berwarna putih, kemudian memakaikan cincin tersebut di jari manis tangan kiri Indah.
“Pakailah dan jangan pernah kamu lepas!” Kata Pak Yusuf setelah memastikan cincin itu pas di jari Indah. Pak Yusuf membayar harga cincin tersebut dan mengajak Indah pulang ke rumah.
“Dari mana?” Tanya ibu yang sedari tadi tak nampak berada di rumah.
“Lihat saja jari manis tangan Indah, Ibu akan tau dari mana kami datang!” Jawab Ayah.
Indah mengangkat tangan kirinya memperlihatkan cincin di jari manisnya kepada ibu.
“Waaah, ada yang dapat hadiah dari Ayah ya!” Ledek ibu.
“Iya, bu! Indah sudah membuktikan pada Ayah bahwa iya bisa membanggakan kita sebagai orang tuanya. Anak kita rangking dua di kelasnya, bu!” Pak Yusuf begitu bersemangat menceritakan pada istrinya yang juga baru pulang dari kota sebelah untuk membeli alat dan bahan menjahit.
🌼🌼🌼
👏👏👏Author sudah up tiga episode sekaligus!
Sekarang giliran para reader yg wajib memberikan like, vote and komentarnya di novel My Brother ini supaya Author lebih semangat lagi up\-nya!!!
Terima kasih!!!🙏🙏🙏😘😍🥰