
📱Indah
Maafkan Aku!🙏 (Indah memulai chat pada Anik)
📱Anik
Untuk apa? (Mengerutkan kening saat membaca chat Indah)
📱Indah
Yang aku katakan bukanlah yang sebenarnya. (Indah berusaha menutupi kegundahannya, karena bukan cintanya yang menghalangi Anik melainkan rasa tidak sukanya terhadap sifat Anik)
📱Anik
Lalu?
(Anik mulai menarik sudut bibirnya, merasa jalannya mulai terbuka)
📱Indah
Aku tak suka pria sedingin es.
📱Anik
Apa kau bisa dipercaya?
(Anik tidak yakin dengan jawaban Indah).
📱Indah
Percayalah! Balas Indah.
📱Anik
Baiklah! Aku percaya dan Aku maafkan!
Chat mereka berakhir. Sebenarnya hati Indah khawatir jika Anik benar - benar mengejar cinta Ibnu. Namun apalah daya, Ia tak berhak menghalangi perasaan Anik terhadap Ibnu, pun sebaliknya meski ia adik kandung Ibnu.
Timbul kembali rasa ingin mengejar cinta Ibnu di hati Anik, namun rencananya kali ini sia - sia, karena sampai sekarangpun Faika masih tak ingin memberikan no. ponsel Ibnu.
Meski kali ini Indah jarang menghubungi Faika dan memintanya untuk tidak memberi jalan pada Anik, Faika tetap saja menghalangi hubungan mereka karena Faika mengingat hubungan persaudaraan antara dirinya dengan Indah dan Ibnu. Wajib baginya untuk melindungi saudaranya.
"Aku tak pernah melihat Indah datang kemari?" Tanya Ibnu.
"Mungkin dia sibuk dengan sekolahnya!" Jawab Faika. " Lalu bagaimana dengan pertemuan kalian?" Faika balik bertanya.
"Iya, Aku tau kesibukannya. Meski Aku terlihat menjauhinya, tapi Aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja. Aku selalu mengawasinya dari jauh! Indah memang orang yang tak bisa diam. Penyakitnya tidak jadi penghalang untuk bisa bergerak lincah. Juga tak menghalangi kepandaiannya dalam hal pelajaran maupun dalam memecahkan masalah." Ibnu menyetujui pendapat Faika.
"Saat kemarin Aku ke rumahnya, Sikapnya begitu dingin padaku!" Ibnu menundukkan kepala kecewa dengan sikap Indah.
"Lalu menurutmu, Apa alasan Indah bersikap seperti itu terhadapmu?" Faika dengan antusias menunggu jawaban Ibnu.
"Mungkin karena selama ini aku menjauhinya, Atau mungkin karena ia merasa lebih beruntung dariku sehingga ia gengsi untuk menyapaku saat berada di tempat tinggalnya!" Ibnu menduga - duga sifat adiknya sendiri membuat Faika tertawa geli.
"Kau bukan Kakak yang baik!" Faika membuat Ibnu mengerutkan kening karena bingung dengan kata - katanya.
*Bukankah Faika tidak tau jika Indah adalah adikku? Atau ia sudah mengetahuinya dan memberitahu masalah ini pada Indah? Apa sebaiknya aku tanyakan saja*? Ibnu berpikir keras, kemudian bertanya.
"Maksud kamu apa bilang Aku ka - Kakak?" Ibnu mengungkapkan rasa penasarannya.
Seketika Faika menjadi gugup.
"Oh, Iya benar! Aku benar - benar lupa!" Ibnu berkata sembari menepuk jidat.
"Lalu, kenapa Kau bilang Aku tidak baik sedangkan Indah yang tak ingin bertutur sapa denganku, bukan Aku yang tak ingin menyapanya?" Ibnu merasa jawaban Faika tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukannya.
"Bukankah tadi kau mengatakan bahwa Indah tak menyapamu. Mungkin karena selama ini kau menjauhinya, Atau mungkin karena ia merasa lebih beruntung darimu sehingga ia gengsi untuk menyapamu saat berada di tempat tinggalnya? Kau tak mengenali sifat wanita yang ingin kau lindungi. Kalau Kau bilang itu karena kamu yang menjauhinya lebih dulu, bisa saja.
Tapi untuk alasan kedua yang kau katakan, sangat tidak mungkin bagi Indah melakukan hal itu. Seberuntung apa Aku jika dibandingkan dengan kehidupannya? Tapi Indah tetap menjadi sahabat terbaikku!" Faika kembali mengingatkan Ibnu akan sifat adik kandungnya.
"Benar juga apa yang kau katakan, bahkan Aku pernah melihat ia mengajak ngobrol seorang pengemis bersama anaknya yang masih kecil." Lagi - lagi Ibnu membenarkan pendapat Faika.
Ibnu dan Faika mengobrol panjang lebar. Bertukar pendapat menemukan cara bagaimana Indah bisa bersua diantara Ibnu dan Faika lagi. Akankah rencana mereka berhasil menarik Indah kembali ke tengah - tengah mereka? Tentu sangat sulit.
"Kenapa melamun?" Tanya Bu Ifa.
"Tak apa, Ma! Hanya mengingat Indah saja!" Jawab Ibnu.
"Kau terlalu merindukannya!" Bu Ifa.
"Sangat, Ibnu sangat merindukan saat sebelum Aku menjauhinya!" Sahut Ibnu.
"Salah kamu sendiri menjauhi adikmu. Tak salah jika kalian begitu dekat. Setidaknya tetap jaga perasaanmu terhadapnya. Ia akan merasakan kasih sayang seorang Kakak jika kau menyayanginya dengan benar!" Saran Bu Ifa.
Ibnu berdiri dan beranjak ke dapur menuju meja makan padahal sebelum waktunya makan siang. Ibnu membuka tudung saji.
"Apa kamu lapar?" Tanya Bu Ifa.
"Tidak, Aku sedang mengingat seorang anak kecil yang usianya sekitar lima tahun. Ia tinggal dengan Ayah kandungnya dan Ibu tirinya. Aku ingin memberikan makanan ini untuknya, Supaya ia bisa merasakan betapa enaknya masakan Mama!" Ibnu teringat akan Dita.
"Kakak!" Sapa Dita yang sudah tak asing lagi dengan wajah Ibnu. Selain itu, ada hal yang ingin Dita tanyakan pada Ibnu.
"Hai, Dita!" Balas Ibnu yang langsung digandeng masuk ke rumah Dita.
Tanpa Ibnu sadari ada pasutri sedang mengamati wajahnya. "Sepertinya wajah ini pernah saya lihat!" Gumam mereka berdua dalam hati.
Ibnu mengobrol dengan Dita setelah memberikan makanannya. Parto menemani Dita dan Ibnu sedangkan Ningsih menuju dapur untuk menghidangkan makanan serta membuatkan Ibnu teh hangat dan makanan kecil.
"Tunggu sebentar ya, Kak!" Dita turun dari kursi dan kembali dengan ponsel milik Ayahnya.
Dita mencari foto Indah yang diam - diam ia ambil saat kemarin Indah datang membawa Nasi goreng.
"Apakah kakak mengenal Kakak yang ada di foto ini?" Dita menyodorkan ponsel Parto pada Ibnu.
Indah! Ibnu menyebut nama itu dalam hati. Namun dengan cepat ia menyadari situasinya.
"Siapa ini?" Ibnu berpura - pura tak mengenal Indah.
"Ini Kak Indah, jadi Kakak tidak mengenalnya?" Tanya Dita lagi.
"Apa Dia sering datang kemari?" Tanya Ibnu.
"Iya, Ini Indah! Mungkin Dita mengira kalian adalah Kakak beradik, karena wajah kalian yang hampir sama dan sifat kalian juga sama. Indah sering datang kemari memberikan makanan untuk kami!" Sahut Parto.
"Mungkin ini sebuah kebetulan. Kemarin Indah datang kemari mengantar nasi goreng untuk Dita dan sekarang kamu datang juga membawakan makanan untuk kami". Imbuh Ningsih.
Nasi goreng? Apa mungkin nasi goreng buatan Mama yang Indah berikan pada keluarga ini? Kenapa Indah tidak memakannya sendiri, padahal nasi goreng adalah makanan favoritnya? Pikiran Ibnu langsung tertuju pada nasi goreng yang sengaja dibuat Sang Mama untuk Adiknya, namun sayang nasi goreng tersebut Indah berikan pada orang lain.
"Oh, mungkin saja ini bisa terjadi. Banyak orang yang berparas serta bersifat sama!" Ibnu mengelak di hadapan mereka yang tak tahu apa - apa.
🌼🌼🌼
**Adakah yang masih setia dan mau memberikan dukungan untuk "My Brother"?
Jangan lupa like, komentar, vote n bagi hadiahnya ya Kak**!