My Brother

My Brother
Frustasi



Setelah kepergian Indah dan Fathur. Ana beranjak berdiri namun sebelum pergi ia melihat benda mengkilap di bawah ring.


"Apa itu?" Tanyanya dalam hati dan menghampiri benda tersebut.


Ana mengambilnya, dan benar saja sebuah kalung silver dengan liontin love. Ana membuka liontin nya. Betapa terkejutnya Ana saat melihat foto Indah dan Fathur. Tentu saja kalung itu milik Indah yang diberikan Fathur saat berada di tempat magang.


Karena tak ingin Arman makin tersakiti, Ana memutuskan untuk menyimpan kalung tersebut di kantong celana pendeknya. Namun terlambat karena Arman sudah berdiri di belakangnya. "Boleh aku lihat kalungnya?" Pinta Arman.


Ana menyerahkan kalung tersebut. Arman melakukan hal yang sama seperti Ana. Hatinya bagai teriris pisau sembilu. Ngilu banget ya, Reader!


Ia meremas kalung tersebut dan memasukkannya ke kantong celana jeans nya. Bulir bening menetes tak tertahan. "Arman!" Ucap Ana dan Ari pelan.


"Aku ga papa. Kita pulang, Yuk!" Ajak Arman.


Β 


Arman datang ke rumah Indah dengan wajah sedihnya. Seperti biasa, Indah duduk di teras rumah. Arman mengucap salam dan duduk setelah dipersilahkan oleh si tuan rumah.


Sudah menjadi kebiasaan baru Indah duduk di teras rumahnya saat malam tiba, tepatnya usai melaksanakan Shalat Isya'. Untuk apa?


Agar ia bisa konsentrasi belajar. Indah merasa jenuh jika harus belajar di kamar sedangkan di dalam rumah, ada Ibu yang sedang menonton sinetron kesayangannya.


Tempat bersantai saat tak ada ulangan yang harus dipersiapkan atau tidak sedang ada PR yang harus dikerjakan. Atau tempat Indah menyendiri saat malas keluar rumah.


Kadang pula Musta datang untuk sekedar bermain dan bercanda hingga jam sepuluh malam.


"Ada apa?" Tanya Indah.


"Aku hanya ingin mengembalikan ini!" Jawabnya sambil meraih tangan Indah dan meletakkan kalung tersebut di telapak tangan sang pujaan hati.


"Dari mana Arman mendapatkan kalung ini? Apa dia sudah melihat isinya?" Kata Indah dalam hati.


Seperti mengetahui isi hati Indah, Arman menjawab "Aku menemukannya di lapangan basket. Pas Aku buka, ada foto kamu dan Fathur!"


Arman pamit pulang meninggalkan Indah yang masih tak tau apa yang harus dilakukannya. Yang ia tau adalah perasaan kecewa Arman terhadapnya dan Fathur. Meski begitu belum ada kata putus diantara Indah dan Arman.


πŸ’”πŸ’”πŸ’”


Enam Bulan kemudian.


Indah, Ana dan Irma sedang berkumpul di rumah Ana. Ada hal penting yang sedang mereka bahas. Yaitu masalah keluarga Irma.


Saat Indah dan Ana sedang asyik mendengarkan curhatan Irma, Ari datang. Mereka menjeda pembicaraan mereka untuk menghargai tamu yang datang dan menyapa Ari.


"Ada apa, Ri? Mau nembak Ana ya?" Ledek Indah.


"Hussss, Apaan sih!" Muka Ana memerah bak kepiting rebus sementara Ari tersenyum malu - malu.


"Ngga, cuma kebetulan lewat dan lihat kalian lagi ngumpul!" Jawab Ari berbohong.


"Cie... Cie...! Pulang Yuk, Ir!" Ajak Indah berbasa - basi pada Irma.


"Eh jangan, jangan! Tadi kan aku dah bilang kalau aku cuma mampir! Indah menghadang Indah. "Aku aja yang pergi, karena ada barang yang harus aku beli dan langsung pulang!" Ari berbohong lagi.


Ari ingin menyampaikan kabar tentang Arman pada Ana. Biarlah Ana yang menyampaikan pada Indah karena menurutnya Ana lah yang lebih mengetahui sifat Indah dan tau bagaimana cara menyampaikannya.


"Maafkan aku ya! Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama kamu!" Chat Ari untuk Ana.


"Masalah apa? Kenapa tidak chat atau telpon aja?" Balas Ana.


"Call aku ya! Ga mungkin kalo kita bicara lewat chat!" Usul Ana pada Ari.


Tak lama kemudian Ari menghubungi Ana.


Ari memberitahukan bahwa Arman tidak naik kelas dan dia frustasi. Tidak mau bertemu siapa pun termasuk Indah. Ia pun enggan untuk kembali bersekolah meski orang tua dan dua kakak tetap mendukungnya.


Flashback on.


"Harusnya kamu tetap semangat, demi masa depanmu!" Ucap Kakaknya. "Aku dan Mbak mu sudah tak mungkin melanjutkan dan hanya kamulah satu - satunya harapan kami!" Lanjutnya.


Kedua kakak Arman hanya lulusan SMP. Saat itu tak ada orang yang mempekerjakan Bapaknya. Entah karena Banyaknya tukang baru atau tak banyak orang yang membangun rumah. Orang tua Arman tak mampu membiayai dua anaknya untuk melanjutkan ke SMA. Maka dari itu keduanya memilih mencari kerja.


Karena jarak usia Arman jauh dari kakak - kakaknya. Sang kakak memutuskan untuk membantu orang tuanya.


"Kami akan membantu mencari uang, Pak, Bu! Biarlah kami bersekolah sampai lulus SMP dan bekerja. Kami juga akan mengumpulkan uang untuk sekolah Arman kelak supaya dia tidak seperti kami. Bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari kami!" Jelas kakak laki - laki Arman. Orang taunya menyetujui usul tersebut karena memang keadaan keuangan yang tak memungkinkan saat itu.


Arman tak menanggapi ucapan kakaknya. Dia menatap kosong dan menghisap rokok. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


"Apaan sih kamu? Apa untungnya kamu diam seperti ini?" Ari yang kebetulan datang dan mendengar kata - kata kakak Arman. Ari ikut mengingatkan.


"Kamu ga sendiri, kamu punya keluarga yang harus kamu banggakan, kamu punya cita - cita yang harus kamu perjuangkan dan kamu punya cinta yang harus kau rebut dari Fathur!" Lanjut Ari di hadapan Arman.


Arman melihat tajam ke arah Ari kemudian kembali menunduk meneteskan air mata. "Bagaimana aku harus memperjuangkan cinta kalau keadaanku seperti ini? Indah gadis yang pandai, mana mungkin dia mau mencintai aku yang sudah tidak naik kelas!"


"Dasar cengeng, kalah sebelum berperang!" Gumam Ari tapi masih terdengar di telinga Arman. "Ayo latihan band, supaya kamu ga melamun aja!" Ajak Ari. Mereka memang tergabung dalam boyband bersama teman - teman SMP.


"Aku malu ketemu mereka, biar aku di sini saja!" Jawabnya.


"Kalau begitu, Aku akan ajak Indah kemari!" Ari mencari cara agar Arman bangkit.


"Jangan!" Arman tersentak mendengar kalimat Ari.


"Kenapa?" Tanya Ari.


"Dah aku bilang, Aku ga mau bertemu siapa pun. Termasuk Indah!" Jawabnya menatap kosong dinding yang memang tak ada apapun di sana.


Flashback off.


"Bagaimana aku harus mengatakannya?" Ana memikirkan cara menyampaikan pada Indah. "Huf, terserah nantilah bagaimana suasana hati Indah!" Gumam Ana sambil membuka layar ponselnya dan mencari nomor Indah.


"Hai, Apa kabar?" Cakap Indah ceria.


"Baik, kamu sendiri gimana?" Ana bertanya balik.


"Aku baik!" Jawab Indah. "Oh ya! Besok kita jalan - jalan, Yuk!" Ajak Indah pada Ana.


Setelah berbasa - basi, Ana mengatakan tentang Arman sebagaimana yang diceritakan oleh Ari.


🌼🌼🌼


"Jangan lupa tinggalkan jejak ya!?!?"


"Like, vote and komentarnya aku tunggu!"


Thank You!!!


Β