
"Hai! Kalian sedang apa?" Tanya seorang laki - laki yang menggunakan kemeja lengan panjang berwarna navy dan celana kain warna hitam.
"Sedang memperebutkan sesuatu!" Jawab Indah.
"Dari mana, Om?" Tanya Adelia.
"Melamar pekerjaan!" Jawab Kholik yang tak lain adalah saudara kedelapan Pak Yusuf.
"Oooooo!" Jawab ketiga keponakan Kholik membulatkan bibir mereka.
Maaf ya, reader. Kholik hanya muncul sesekali karena setelah ini, dia akan bekerja di Kalimantan tepatnya penambangan Batu bara. Tak seperti Abil yang disekolahkan oleh Pak Yusuf hingga mengajar di salah satu Sekolah Dasar di Kota tempat tinggal mereka.
Mereka saling bertukar cerita dan bermain hingga sore hari.
"Indah, Apa kamu masih mengaji di surau?" Tanya Nenek Rifa.
"Tidak, Nek. Indah sudah lama berhenti tapi tetap mengaji di rumah!" Jawab Indah sopan.
"Jika Nenek menginginkan kamu datang kemari untuk mengaji setiap usai Shalat Maghrib apa kamu mau datang?" Tanya Nenek Rifa lembut.
Nenek Rifa adalah keturunan dari seorang Kyai di sebuah pesantren terbesar di kota Pa\*\*\*\*\*n. Nenek Rifa datang kemari karena dipersunting oleh Kakek selaku santri di Pondok Pesantren tersebut dan dibawa pulang ke kota Kakek.
"Baiklah, Nek. Aku akan datang jika aku tidak sibuk!" Sahut Indah.
"Belajarlah pada 'Ammah mu bersama saudara - saudara yang lain!" Saran Nenek.
"Baiklah, Nek!" Jawab Indah dengan senyum termanisnya membuat Nenek Rifa mencubit lembut pipi Indah, kemudian gadis mungil itu memeluk neneknya dari belakang.
"Mau kemana?" Tanya Pak Yusuf yang melihat Indah menghampiri dirinya dan membawa Alqurannya.
"Mau mengaji di rumah Nenek Rifa!" Jawabnya kemudian mencium punggung tangan Pak Yusuf.
"Apa kamu tidak keberatan jika setiap malam kamu akan datang ke sana?" Tanya Pak Yusuf.
"Bukan karena permintaan Nenek, aku datang ke sana. Tapi aku hanya ingin memperbaiki bacaan Al Quran ku, Ayah!" Pak Yusuf cukup mengerti dengan jawaban yang diberikan Indah. Ia berlalu ke rumah neneknya dan pulang setelah selesai mengaji serta usai mengobrol dengan yang lain.
"Katakan padaku, Dengan alasan apa Ibnu datang ke rumahmu bersama Ibu dan Adiknya?" Pertanyaan Anik yang ditujukan pada Indah membuatnya terkejut dan membisu.
"Katakan! Ada hubungan apa antara kamu dan Ibnu?" Anik mengulang pertanyaannya dengan kalimat yang berbeda, namun intinya sama.
Anik berpikir pasti ada hubungan antara Indah dan Ibnu selain sebagai teman atau sekedar sahabat. Tak mungkin Ibnu datang bersama Ibu dan Adiknya jika mereka sekedar berteman.
**Flashback On**
Saat Anik ingin datang ke rumah Indah, Ia melihat tiga orang lebih dulu datang ke rumah Indah. Sekilas ia tak memperhatikan siapa tamu Pak Yusuf. Namun saat ia hendak berbalik untuk pulang, tak sengaja ia melihat pria idamannya lah yang datang ke rumah Indah.
Anik tertarik untuk menunggu kepulangan mereka, meski agak lama. Saat ketiganya pulang, diam - diam Anik mendengarkan pembicaraan mereka. Tak peduli apa yang mereka bicarakan, namun yang Anik ingin tahu adalah apa hubungan antara Ibnu dengan kedua orang yang bersamanya. Anik menemukan jawaban atas pertanyaan dalam benaknya. Ibnu memanggil Mama pada wanita itu dan seorang anak laki - laki yang lebih muda memanggil Ibnu dengan sebutan Mas. Untuk itu, Anik dapat menyimpulkan bahwa Ibnu datang ke rumah Indah bersama Ibu dan Adiknya. Namun untuk urusan apa mereka datang ke sana, Anik tak mendapatkan jawaban karena di jalan mereka sama sekali tidak membicarakan masalah kedatangan mereka ke rumah Pak Yusuf.
*Aku akan menanyakan langsung pada Indah, besok pagi*! Gumam Anik dalam hati.
**Flashback Off**
"Indah, Aku bertanya sekali lagi. Ada hubungan apa antara kau dan Ibnu sehingga ia datang ke rumahmu bersama Ibu dan Adiknya?" Kalimat Anik penuh penekanan dan memaksa Indah agar menjawab pertanyaannya.
"Lalu, Untuk apa Ibnu datang bersama keluarganya?" Anik begitu bersemangat saat Indah mengatakan tidak ada hubungan apapun antara Indah dan Ibnu.
"Bukan urusanmu!" Jawab Indah dingin.
"Jika memang tak ada hubungan antara kamu dan Ibnu, mengapa kamu bilang itu bukan urusanku?" Tanya Anik lagi.
"Tak ada hubungannya denganku apalagi denganmu. Mereka adalah tamu orang tuaku. Tak pantas untukku ikut campur urusan orang tua!" Jawab Indah tegas.
"Biarkan Aku mencari tahu sendiri!" Pinta Anik ketus dan berlalu tanpa menunggu persetujuan Indah.
"Aku takkan mengijinkan!" Indah mencegah Anik berhubungan dengan Ibnu. Anik menghentikan langkahnya dan berbalik ke hadapan Indah.
"Untuk apa kau mencegahku? Kau bukan siapa - siapa bagi Ibnu. Bukan keluarganya, bukan juga kekasihmu. Jika kau tak berhak ikut campur urusan orang tua Ibnu dan orang tuamu, maka kau juga tak berhak ikut campur urusanku dengan Ibnu!" Anik berbicara panjang lebar.
Indah seakan enggan berbicara pada Anik tentang hubungan sebenarnya antara dirinya dengan Ibnu namun Indah juga tak rela jika Anik mengejar cinta Ibnu. Sungguh dilema untuk Indah.
Tak ada jawaban dari Indah, Anik menganggap Indah membenarkan pernyataannya dan menyetujui keinginannya mencari tahu hubungan mereka dan mengejar cinta Ibnu.
"Karena Aku mencintainya!" Ucap Indah dengan suara lantang membuat Anik menghentikan langkahnya. Jantungnya seakan terlepas dari sarangnya. Tidak terima dengan apa yang Indah katakan.
Tak hanya Anik yang terkejut dengan ucapan Indah. Ana dan yang lain pun menolehkan kepala. Baru kali ini Indah berbicara dan mengakui tentang cinta dihadapan orang lain.
Anik kembali menghampiri Indah. Jari - jarinya mencengkeram kuat hingga melukai telapak tangannya sendiri. Tangannya terangkat untuk menampar Indah, namun tangan itu menggantung di udara. "Jangan sentuh dia!" Suara lantang Ana menghentikan aksi Anik hingga ia menurunkan kembali tangannya dan menggebrak meja kemudian pergi dengan perasaan tak menentu.
"Benarkah?" Tanya Ana yang sudah duduk di samping Indah. "Apa yang tidak aku tau tentangmu?" Lanjut Ana.
Indah menunduk. "Kau sahabat terbaikku. Tak ada yang tak ku ceritakan padamu, kecuali satu rahasia besar yang tak mungkin aku katakan padamu! Maaf, Aku tak bisa mengatakannya pada siapa pun. Karena ini bukan tentang cinta, melainkan masalah keluargaku dan keluarga Ibnu.
"Maaf!" Mungkin Ana kecewa dengan ketidakterbukaan Indah masalah kali ini, namun sebagai sahabat Ana tidak bisa berbuat banyak untuk tetap menjaga perasaan Indah. Ada kesedihan yang sangat mendalam yang Ana lihat dari sorot mata Indah.
"Tak apa, seharusnya Aku yang minta maaf. Biarlah ini menjadi masalahku sendiri!" Jawabnya dengan pandangan kosong.
"Bersabarlah!" Ana mengusap lembut punggung Indah. Bersamaan dengan itu Dayat datang memberikan sebotol air mineral.
"Terima kasih, karena kalian mau mengerti Aku!" Ucapnya pada Ana dan Dayat.
"Sama - sama!" Jawab keduanya kompak.
๐ผ๐ผ๐ผ
**Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like n bagi koin receh ya,kak**!!!
**Komentarmu Inspirasiku๐๐๐**