
Ya, gadis yang biasanya ceria itu sedang tidak berkenan melihat kebahagiaan kakak dan ibu kandungnya, terlebih ada seorang anak laki - laki yang mengaku sebagai adiknya.
Beberapa menit mereka diam dengan pikiran masing - masing.
Mengapa kamu tidak menyapaku seperti saat kita bertemu diluar? Disini, di rumah ini. Kamu begitu dingin, senyum pun terpaksa. Apa kau mulai membenciku karena aku menjauhimu. Hatiku sakit melihat sikapmu seperti ini, Dek!
Kau mungkin bisa berbuat itu pada Toni, tapi jangan padaku.
Atau mungkin karena kau hidup lebih mewah daripada kami sehingga sedikitpun kau tak mau bertutur sapa pada kakakmu ini? Pikiran negatif memenuhi otak Ibnu.
*Kenapa Aku dibuang? Kenapa Aku dipisahkan dari saudaraku, sedang dia yang mengaku adikku bisa hidup bersama kakakku*? Suara hati Indah dan menatap tajam Toni.
Siapa sebenarnya Kak Indah, kenapa Mama, Paman dan Bibi serta Mas Ibnu sangat menyayanginya, bahkan Mama telah menyiapkan hadiah istimewa untuknya. Mengapa mas Ibnu menyebutnya dengan panggilan Adek? Jika mungkin ia adalah kakak perempuanku, Ia tak mungkin memperlakukan aku seperti itu? Toni pun turut penasaran tentang siapa Indah.
"Indah, Ini ada oleh - oleh buat Indah!" Bu Ifa mencairkan suasana dengan memberikan oleh - oleh yang di siapkan untuk putri satu - satunya.
Indah menerima pemberian Bu Ifa tanpa ekspresi. "Terima kasih!" Ucapnya.
"Ayah, Ibu, Indah permisi membawa semuanya ke dalam." Pamit Indah pada Pak Yusuf dan Bu Sri
Ada rasa sesak di hati Bu Ifa mendengar Indah menyebut Ayah dan Ibu pada orang lain. Namun ia tahan dengan senyum palsunya.
"Ayo pulang, Ma!" Ajak Toni pada Bu Ifa.
"Iya, Nak!" Sahut Bu Ifa yang kemudian pamit pada kedua orang tua yang telah sanggup mengadopsi, merawat dan membesarkan putrinya dengan penuh kasih sayang.
Mereka bertiga pulang, sepi menghiasi perjalanan mereka menuju rumah.
"Istirahatlah, Nak!" Pinta Bu Ifa pada Toni. Anak itu menurut saja meski rasa penasaran tentang Indah masih bersarang diotaknya.
"Apa Mama lihat bagaimana sikap Indah?" Ibnu memulai pembicaraan setelah Toni masuk kamar.
"Iya, mungkin itulah sifat asli Indah yang diturunkan oleh Bapakmu!" Jawab Bu Ifa.
"Tidak, Ma! Tak biasanya Indah seperti itu padaku ketika kita bertemu di luar!" Sahut Ibnu.
Hmmmmmmh.
Bu Ifa menghela nafas panjang lalu membuangnya dengan halus.
Bu Ifa berusaha menjelaskan pada Ibnu agar tak ada salah paham antara kedua anaknya. Bu Ifa memberitahukan bahwa meski saudara kandung, sifat anak - anaknya tidaklah semua sama. Terlebih Indah anak perempuan satu - satunya.
Sepulang Bu Ifa, Indah dan Ibunya membuka bungkusan yang diberikan oleh Bu Ifa.
Nasi goreng memang makanan favorit Indah. Namun karena hatinya terlanjur sakit melihat kebahagiaan dua saudaranya, berat rasanya untuk Indah makan makanan favoritnya itu. Baju gamis berwarna hitam, Indah simpan dalam lemari pakaian Bu Sri. Sedangkan oleh - oleh lainnya, Indah tinggalkan di meja dapur.
Indah bergegas masuk kamar dan mengunci pintu dari dalam membuat Pak Yusuf dan Bu Sri heran.
"Ada apa, Yah?" Tanya Bu Sri pada Pak Yusuf.
"Entahlah, Bu. Mungkin Indah sedang tak enak makan!" Jawab Pak Yusuf menaikkan bahunya.
"Mungkin saja!" Bu Sri menggelengkan kepala.
Indah bukanlah gadis yang suka berlama - lama dengan kesedihannya. Ia duduk di tepi ranjang dan berpikir cepat. "Alangkah baiknya aku berikan makanan itu pada orang yang lebih membutuhkan!" Gumamnya dalam hati.
"Bu, bolehkah Indah berikan Nasi gorengnya pada orang yang lebih membutuhkan?" Tanya Indah.
Pak Yusuf dan Bu Sri tersenyum lebar mendengar permintaan Indah. "Itu hak kamu, Indah. Jika kamu tidak ingin memakannya dan ingin memberikan pada orang yang lebih membutuhkan, maka kami akan mengizinkanmu!" Jawab Pak Yusuf.
Nasi goreng pemberian Bu Ifa memang sama sekali belum di sentuh oleh Pak Yusuf maupun Bu Sri. Hal itu dikarenakan tujuan Nasi goreng tersebut adalah untuk Indah.
Indah pamit pada kedua orang tuanya untuk memberikan Nasi goreng pada Dita.
Di rumah Parto.
Keluarga kecil itu sedang duduk di lantai beralaskan tikar. Ditengah - tengah mereka ada tiga piring nasi, satu butir telur mata sapi dan Buje Cabbih (sambal) kata orang Madura. Ya, mereka hendak makan siang dengan menu seadanya.
"Kak Indah.......!" Seru Dita yang masih mengenal baik wajah Indah.
"Hai, Dita!" Indah menggendong tubuh gadis mungil itu. Diikuti pergerakan Parto dan Ningsih menghampiri Indah.
"Nih, Kakak bawa Nasi goreng spesial untuk Dita! Dimakan ya?" Indah menyodorkan rantang makanan pada Dita. Dengan senang hati Ningsih menerima rantang tersebut dan menghidangkannya di atas tikar.
"Waaah, Ada Ayam gorengnya juga!" Dita turun dari pangkuan Indah kemudian melahap makanan yang dibawa Indah.
"Ayo Indah. Kita makan bersama!" Ajak Ningsih.
"Ngga usah, Mbak! Buat kalian saja! Indah sudah makan siang di rumah bersama Ayah dan Ibu." Bohong Indah.
"Oh, kalau begitu Kami makan ya! Terima kasih sudah mengingat kami!" Ucap Parto yang mengerti jika Indah tak menerima penolakan atas niat baiknya.
"Sama - sama!" Jawabnya, kemudian Indah pamit pulang pada keluarga kecil Parto.
Kembali ke Rumah Indah.
"Bagaimana dengan ini, Nak?" Tanya Bu Sri sembari menunjuk oleh - oleh Bu Ifa lainnya.
"Terserah Ibu, mau dibuat apa atau mau diberikan siapa!" Sahut Indah dengan menunjukkan senyum palsunya. Kemudian Indah makan siang dengan masakan Bu Sri.
Sepasang orang tua yang tak pernah berpikir negatif pada anaknya selalu mengikuti keinginan sang anak. Mereka berpikir Indah lebih senang berbagi pada orang lain dari pada menghabiskan makanan - makanan itu sendiri. Sesuai pemikiran mereka, dengan bermodalkan buah tangan Bu Ifa, Bu Sri membuat kolak dan memberikannya pada tetangga sekitar. Tak lupa Bu Sri mengirimkannya ke rumah Nenek Rifa. Indah sendiri yang mengantarkan kolak ke rumah Sang nenek.
Baju gamisnya pun ia berikan pada Aira saudara sepupunya dengan alasan Indah tidak suka menggunakan baju panjang apalagi gamis.
"Terima kasih ya, Mbak!" Ungkap Aira dengan senang.
"Sama - sama!" Respon Indah.
"Apa kau tak berniat memberikannya untukku?" Sindir Adelia saudara sepupu lainnya yang membuat Indah dan Aira tertawa.
"Apa kau tidak sadar dengan ukuran tubuhmu yang lebih besar dariku? Bahkan lebih besar dari ukuran Mbak Indah yang lebih tua darimu?" Ledek Aira.
"Iya, Iya aku sadar dengan postur tubuhku yang memang lebih besar dari kalian!" Sahut Adelia memajukan bibirnya.
"Hai! Kalian sedang apa?" Tanya seorang laki - laki yang menggunakan kemeja lengan panjang berwarna navy dan celana kain warna hitam.
Bersambung.....
Siapakah laki - laki yang datang menghampiri Indah, Aira dan Adelia?
Penasaran Khan?
Bantu Author menghadirkan karakter lain yang membuat novel "My Brother" lebih seru ya, Kak!