My Brother

My Brother
Kekasih gelap



"Iya, Ma! Aku sangat merindukan Indah!" Jawabnya.


"Apa kamu tidak merindukan Toni, Dia juga adikmu, Ibnu?" Tanya Bu Ifa lagi dan mengingatkan tentang keberadaan Toni diantara mereka.


"Aku juga rindu Toni, Ma. Tapi aku lebih merindukan Indah!" Jelasnya pada sang Mama.


"Berikan Mama alasan mengapa kamu lebih merindukan Indah daripada Toni yang juga lahir dari rahim Mama?" Bu Ifa bertanya dengan raut wajah sedihnya.


" Karena sejak kecil Ibnu sangat menginginkan adik perempuan, dan itu terwujud. Namun Mama memberikannya pada orang lain." Jawabnya yang tak rela melihat mamanya bersedih.


"Aku sayang mereka, Ma! Aku tak terlalu merindu pada Toni, mungkin karena kita sama laki - laki dan kita selalu bersama saat Mama pulang. Aku dan Ton saling mengetahui bahwa kita bersaudara. Sedangkan Indah? Ia sama sekali belum mengetahui bahwa Ibnu adalah kakak kandungnya." Jawaban Ibnu membuat senyum Bu Ifa kembali mengembang.


Ibu dan anak itu, mengakhiri pembicaraan saat Bu Ifa paham keadaan Ibnu yang sedang mengantuk.


Tak terasa oleh Ibnu bahwa Pak Salim sedang menguping pembicaraan mereka. Pak Salim merasa bersalah ketika mendengar Ibnu berkata bahwa ia sangat merindukan adik perempuannya. Walau bagaimanapun, keduanya adalah saudara kandung yang tak bisa dipisahkan. Mungkin raga mereka tidak bersama, tapi hati mereka?


🌼🌼🌼


"Apa kau pikir dia akan jatuh cinta padamu?" Tanya Bobi.


"Apa kurangnya aku? Kita sama - sama peringkat tiga! Apa mungkin kau ingin bersaing denganku untuk mendapatkan hatinya?" Jawab Rahmat.


"Aku tak menginginkannya, Aku belum punya rasa pada wanita manapun!" Sanggah Bobi.


"Bukankah kau pria normal?" Tanya Rahmat.


"Hey, jangan salah mengartikan diriku. Aku pria normal!" Jawabnya mengerutkan kening.


Ya, mereka bertiga sama - sama mendapat peringkat tiga. Rahmat, Indah dan Bobi. Karena itulah Rahmat ingin menjadikan Indah kekasihnya. Bobi menghalangi hasrat Rahmat untuk menjadikan kekasih gelapnya.


Aku tak akan menghalangi niat mu menjadikan Indah kekasihmu, Andai saja kau tak pernah jadian dengan Nova. Gumam Bobi setelah Rahmat menjauhinya.


🌼🌼🌼


"Fer, Apa kamu benar - benar menyayangi Indah?" Tanya Bobi pada Ferdi.


"Hey, pertanyaan konyol apa itu?" Tanya Ferdi terkejut mendengar pertanyaan Bobi yang tiba - tiba membahas tentang Indah.


"Dia sahabatku, tentu aku menyayanginya dan akan terus melindunginya!" Lanjut Ferdi.


"Ngomong - ngomong, kenapa kamu tiba - tiba peduli dengan Indah?" Tanya Ana yang sedang duduk bersama Ferdi dan Farid. Mereka sedang menunggu Indah dan Anik datang.


"Rahmat akan menjadikan Indah kekasih gelapnya, sementara ia telah menyatakan cinta pada Nova si juara satu di kelas yang berbeda." Jelas Bobi pada Ana dan kawan - kawan.


"Apa mungkin karena Nova menolak Rahmat hingga ia beralih pada Indah?" Tanya Farid penasaran.


"Pasalnya, Nova telah membalas cinta Rahmat!" Bobi mengerutkan keningnya meminta kesepakatan sahabat - sahabat Indah.


"Apa tujuan dai menjadikan Indah yang kedua?" Tanya Ferdi heran.


"Rahmat ingin menjadikan Indah juru tulis....


"Maksud kamu?" Tanya yang lain serempak menghentikan kalimat Bobi.


"Makanya dengerin dulu!" Bobi mengingatkan. "Rahmat akan menjadikan Indah juru tulis ketika ada tugas dari sekolah, sementara Rahmat akan pergi berkencan dengan Nova!" Lanjutnya. Tanpa sepengetahuan mereka, Indah mendengar semua percakapan sahabat - sahabatnya.


"Aku akan menerima cintamu, Rahmat. Tapi jangan harap kamu bisa mempermainkan ku!" Gumam Indah di belakang mereka.


"Hey, ngapain?" Anik yang sejak tadi kembali ke Kopsis karena ketinggalan Bolpoin, datang menepuk bahu Indah.


"Tak apa, Aku menunggumu!" Jawabnya berbohong.


"Oh, Ayo bergabung dengan mereka!" Ajak Anik.


 ~~~


Sekeras apapun usaha Ana dan sahabat yang lain menghalangi, Indah tetap menerima Rahmat sebagai kekasihnya.


Mungkin mereka kecewa pada keputusan yang Indah ambil, namun mereka tidak mengetahui maksud hatinya.


 


Satu Minggu pertama, Rahmat bersikap baik pada Indah. Minggu kedua hari Senin, Rahmat mulai meminta Indah mengerjakan Pekerjaan Rumah. Indah pun melakukan apa yang diinginkan kekasihnya. Sementara Ana dan yang lain berusaha menjauhkan Indah dan Rahmat.


"Besok selesai ya!" Ucap Rahmat.


"Iya, nanti malam aku antar ke rumahmu!" Sahut Indah.


Satu, dua, tiga kali sudah Rahmat meminta Indah mengerjakan PR nya dan menyalin catatannya. Sementara di tempat lain ia berkencan dengan Nova kekasihnya.


 


"Ngapain?" Ana menepuk lembut pundak Indah.


"Ini hari Sabtu, ntar malam kita jalan yuk!" Ajak Ana.


"Bo ...


"Hai, Sayang!" Sapa Rahmat dengan membawa lima buah buku tulis dan meletakkannya di hadapan Indah. "Bantu Aku mengerjakannya, ya!" Lanjutnya.


"Iya!" Jawab Indah singkat. Mendengar kesanggupan Indah, Rahmat pergi meninggalkan Indah dan Ana yang melongo tidak terima.


"Wuoy!" Indah melambaikan tangannya di hadapan Ana, namun Ana tak memberikan respon.


Indah membuka permen lollipop yang ada di sampingnya dan memasukkan ke mulut Ana. Seketika mulut itu tertutup mengecap manisnya permen.


"Kamu kenapa mau mengerjakan semua ini, Indah?" Tanya Ana heran. "Apa kamu tidak mengetahui jika Rahmat pergi bersenang - senang dengan Nova saat kamu mengerjakan semuanya?" Tanya Ana sambil mengesap lollipopnya.


"Aku tau semuanya, Ana! Kamu juga tau semua tentang Aku, bukan?" Jawab Indah yang belum dipahami oleh Ana.


"Maksud kamu apa?" Tanyanya.


"Kita lihat saja satu Minggu ke depan. Malam ini kita jalan! Itu kan yang kamu mau?" Jawab Indah lagi.


Pulang sekolah, Indah dengan sengaja meninggalkan buku milik Rahmat di laci mejanya. Ia tak peduli jika ada PR atau catatan yang harus dikumpulkan hari Senin.


Malam harinya, Indah pamit pada kedua orang tua untuk pergi bersama Ana. Di sela waktu mereka ngobrol di taman, Ana menanyakan perihal tugas Rahmat yang harus Indah kerjakan. "Aku sengaja meninggalkan bukunya di laci mejaku!" Jawabnya ketus.


"Maksudmu SENGAJA?" Ana menekan kata terakhirnya.


"Aku tau semuanya. Sejak Bobi berbicara pada Ferdi, Farid dan Kamu tentunya Aku sudah mendengar rencana Rahmat menjadikan Aku kekasih gelapnya. Aku juga tau apa yang dilakukan Rahmat dibalik deritaku mengerjakan semua tugas - tugasku, karena saat Aku mengantar buku ke rumahnya, Mamanya selalu mengatakan jika Rahmat belajar bersama ke rumah Nova." Indah menjelaskan panjang lebar.


Flashback on


tok tok tok


"Assalamualaikum!" Indah mengetuk pintu rumah Rahmat dan mengucap salam.


"Wa'alaikum Salam!" Wanita paruh baya itu membuka pintu dan menjawab salam Indah.


"Rahmat ada, Bu?" Tanyanya sopan pada si Ibu.


"Rahmat sedang tidak di rumah, Nak!" Jawab Sang Ibu.


"Kemana ya, Bu?" Tanya Indah memastikan.


"Ta tadi bilangnya mau ke ke rumah Nova untuk mengerjakan tugas. Apa kamu yang namanya Nova? Ibu dari Rahmat menjawab sekaligus bertanya pada Indah sambil menggaruk kepala mengingat kemana anaknya pamit.


"Bukan, Bu! Saya Indah, Saya ingin mengembalikan buku catatan yang saya pinjam tadi waktu di sekolah!" Indah berbohong.


"Oh, begitu ya Nak!" Jawab si Ibu sembari mengambil buku dari tangan Indah. "Baiklah, nanti saya sampaikan pada anak saya!" Lanjutnya.


"Terima kasih ya, Bu!" Ucap Indah kemudian pamit pulang.


Jawaban yang sama Indah terima setiap kali datang ke rumah Rahmat selama satu Minggu setelah dirinya jadian dengan Rahmat.


Flashback Off


"Indah!" Panggil Ana mengejutkan Indah.


"Apaan sih, Na? Ga usah teriak kali, Aku kan ada di sampingmu, dekat lagi! Jawab Indah ketus.


"I itu bukannya Rahmat dan Nova?" Tunjuk Ana pada dua sejoli yang lagi duduk bermesraan.


Indah menoleh ke arah yang ditunjuk Ana. "Oh, Iya!" Jawab Indah santai.


"Gitu aja, Ndah!" Tanya Ana penasaran dengan jawaban santai sahabatnya itu.


"Terus? Aku harus bilang Woooooow Kereeeen, Gitu?" Jawabnya.


"Indah! Hatimu terbuat dari apa sih? Digutikan kok ga marah?" Ucap Ana dengan mata merah karena marah sekaligus mengepalkan kedua tangannya.


**Jangan lupa like n komentarnya ya, Kak!


Koin receh juga Indah ga nolak, apalagi vote!


Mohon koreksinya jika ada salah kata atau ejaan di novel remahan kerupuk ini!


Terima kasih! Semoga semuanya diberikan kesehatan n panjang umur sehingga masih bisa tetap n terus berkarya**!!!


 


Â