
Di tempat lain.
Ibnu selesai mengikuti Ujian Praktek Olah raga dan beristirahat di Lapangan bersama dua sahabatnya Ilam dan Irwan. Seorang cewek bernama Nadia melintas di hadapan mereka.
“Aw.....!” Nadia terjatuh.
Ibnu yang melihat itu hanya terdiam karena ia tahu kalau Nadia tidak benar – benar jatuh melainkan sengaja menajtuhkan dirinya di depan Ibnu.
Karena ketidak tahuannya, Ilham dan Irwan beranjak dari duduknya untuk membantu Nadia bangun. Sedangkan Nadia meringis kesakitan dan melirik Ibnu berharap dia akan menolongnya. Ibnu yang sadar Nadia memandangnya, memalingkan muka melihat langit yang cerah diatasnya.
Ilham dan Irwan memapah Nadia menuju ruang UKS. Belum sampai mereka di UKS, Nadia menepis tangan keduanya dan berkata “Aku bisa jalan sendiri!” Ketusnya dan berjalan santai menuju kelas meninggalkan Ilham dan Irwan yang melongo kebingungan.
“Hey...........! Halo.........!” Ibnu melambaikan tangan di depan wajah kedua sahabatnya.
“Sialan!” Umpat Ilham.
“Kok malah aku yang diumpat?” Canda Ibnu karena ia tahu Ilham bukan mengumpat padanya melainkan pada Nadia.
“Bu – bukan kamu, tapi tuh cewek!” Jawab Ilham.
“Kenapa?” Tanya Ibnu pura – pura tidak tau.
“Dia tuh ternyata cuma pura – pura jatuh aja di depan kita!” Jawab Ilham kesal.
“Kali aja dia naksir kamu dan pura – pura jatuh supaya kamu tolong!” Tambah Irwan dan melirik Ibnu.
“Kok aku?” Tanya Ibnu.
“Iya, kalo bukan kamu ngapain dia kecewa saat kami yang menolong dan memapahnya!” Tebak Irwan.
“Iya juga ya! Kok aku ga kepikiran?” kata Ilham sembari mengetuk –ngetuk pipinya berpikir.
Mereka kembali ke kelas untuk mengambil tas sekolah mereka dan pulang ke rumah masing – masing.
Nadia adalah teman satu kelas Faika yang diam – diam menyukai Ibnu. Karena Ibnu yang cuek tak merespon sikap centil Nadia, akhirnya Nadia mencoba mendekati Faika karena ia tau orang tua Faika dan Orang tua Ibnu sepupu serta rumah mereka yang berdekatan.
jl
Segala macam cara dilakukan Nadia untuk mencari perhatian Ibnu termasuk kejadian yang baru saja terjadi.
Tiba di rumah, Ibnu melihat kedua orang tuanya duduk di ruang tamu dalam keadaan diam tanpa suara. Mereka diam dengan pikiran masing – masing. Bu Ifa menunduk, menangis sesenggukan. Air matanya mengalir deras membasahi tangan yang berada di pangkuannya sendiri.
Sementara Pak Salim menunduk memikirkan bagaimana cara memberitahu kenyataan sebenarnya pada Indah.
“Assalamualaikum!” Ibnu membuyarkan suasana sunyi diantara kedua orang tuanya.
“Waalaikum salam!” Jawab keduanya serempak. Ibnu mencium punggung tangan mereka.
“Ada apa, ma?” Ibnu mulai memberanikan diri bertanya apa yang terjadi.
“Adikmu......” Bu Ifa tak melanjutkan kalimatnya melainkan kembali menangis.
“Ada apa dengan Indah, Ma?” Ibnu panik mendengar Bu Ifa menyebut kata Adik meski ia belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Namun Bu Ifa belum sanggup untuk menjawab pertanyaan Ibnu.
“Ganti baju dulu dan istirahatlah!” Perintah Pak Salim pada Ibnu dan ia menurutinya.
Ibnu masuk kamar kemudian keluar lagi dengan pakaian dan handuk ditangannya menuju kamar mandi.
Selesai Shalat Dhuhur, Bu Ifa mengajak Ibnu makan siang. Sepulang dari sekolah Indah, Pak Salim sempat mengajak istrinya mampir ke sebuah warung makan untuk membeli makan siang. Hal itu dilakukan Pak Salim mengingat istrinya sedang dalam keadaan sedih karena gagal memenuhi keinginannya memeluk Indah. Mereka bertiga makan siang tanpa suara. Meski penasaran dengan apa yang dimaksud ibunya menyebut Indah, Ibnu tak berani bertanya pada Ibunya yang masih kelihatan bersedih.
Apa yang terjadi pada Indah? Kenapa Mama dan Bapak terlihat murung! Gumam Ibnu dalam hati.
Ibnu baru saja bangun dari tidur siangnya.
Keadaan rumah sepi karena Pak Salim dan Bu Ifa sedang pergi entah kemana. Hanya ada suara orang sedang mandi. Ibnu mendengar suara bibinya dari dalam kamar mandi kemudian menuju teras dan duduk di sana.
Faika yang sedang mengerjakan PR melihat Ibnu melamun dan mendekatinya.
“Sedang memikirkan Nadia kah?” Faika mencoba menutup lamunan Ibnu dan berhasil.
“Eh, engga kok!” Jawabnya.
“Lalu?” Faika bertanya lagi.
“Indah!” Jawab Ibnu yang membuat dirinya sendiri kaget.
“Ada apa dengan Indah?” mendengar namanya Indah disebut, detak jantung Faika berdetak kencang.
“Ga ada apa – apa!” Jawabnya “Hanya saja mungkin Mama dan Bapak bertemu dengannya!” Lanjut Ibnu.
“Oh, Syukurlah! Aku kira ada sesuatu yang terjadi dengannya!” Faika menarik nafas dan membuangnya perlahan.
Tiba – tiba saja Ibnu teringat akan makanan kesukaan Indah. Seperti biasa ia akan mengajak Faika membeli makanan kesukaan Indah dan menyuruhnya mengantarkan ke rumah Indah. Ibnu segera menyampaikan rencananya pada Faika.
Dengan senang hati Faika mengiyakan. Tak lama kemudian Pak Salim dan Bu Ifa datang.
Malam hari setelah Shalat Maghrib, Ibnu mengutarakan niatnya pada kedua orang tuanya. Mereka menyetujui rencana Ibnu dan Pak Salim memberikannya selembar uang seratus ribuan untuk membeli makanan kesukaan Indah, Ibnu dan Faika.
Ibnu mengantar Faika ke rumah Indah. Faika menetuk pintu rumah Indah dan di buka oleh Bu Sri. Bu Sri mengatakan pada Faika bahwa Indah sedang tidak berada di rumah dan pergi ke rumah Anik.
Faika menitipkan Nasi goreng ditangannya pada Bu Sri agar diberikannya pada Indah dan Faika segera undur diri.
Tiba di rumah Ibnu, Bu Ifa yang sudah menunggunya segera menghampiri Ibnu saat melihatnya datang bersama Faika dan bertanya tentang keadaan Indah.
Faika menjelaskan pada Bu Ifa apa yang ia ketahui dari Bu Sri. Bu Ifa merasa lega karena tidak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan pada Indah. Pak Salim yang ikut mendengarkan percakapan antar Bu Ifa dan Faika juga merasa lega.
Faika keluar membeli sesuatu ke toko yang berada di ujung gang. Iya bertemu Fathur yang lewat depan toko dan menghentikannya.
“Dari mana?” Tanya Faika.
“Dari rumah teman!” Jawabnya.
“Teman apa ....
“Dua – duanya!” Jawab Fathur yang langsung memutus kalimat Faika.
“Kok bisa dua – duanya?” Tanya Faika penasaran.
“Karena tadi sepulang dari rumah teman, aku ketemu kekasih pujaan hatiku!” Jawab Fathur girang.
“Ya elah, yang ketemu kekasih pujaan hati seneng banget!” Ledek Faika.
Tak lama mereka mengobrol tentang Indah dan kembali ke rumah masing – masing karena udara malam menunjukkan dinginnya.
Semua insan mulai mimpi indah mereka ditemani guyuran hujan yang tidak terlalu deras, namun dinginnya membuat mereka menarik selimut mencari kehangatan. Pun dengan Ibnu yang sudah terlelap setelah menghabiskan sebungkus nasi goreng yang dibayangkan sedang makan bersama Indah adik kandungnya yang dia sendiri tidak tau Indah berada dimana dan apa yang sedang dilakukannya.
Jangan lupa like n koin recehnya ya!!!
Sedikit asal Ikhlas akan menjadi berkah.
Komentarmu, semangatku!!!