My Brother

My Brother
Kepergian Ayah



Kehilangan seseorang yang dicintai berisi ungkapan kesedihan yang terdalam. Setiap orang pernah merasakan kehilangan seseorang, entah orang tua, sahabat, pacar, atau teman


Mengalami kehilangan memang bukan hal mudah. Perasaan sedih pasti dirasakan saat kehilangan seseorang yang dicintai.


Hal itu dikarenakan kehadiran orang-orang yang kamu cintai sangat berarti. Wajar rasa sedih melanda saat orang yang dicintai tiba-tiba pergi.


Tetapi, seiring berjalannya waktu, kamu harus bangkit dan tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Kehilangan memang dapat menyayat hati, bahkan tidak bisa terlupakan sepanjang hidup.


Namun, kehidupan terus berjalan dan kamu hanya bisa berdoa agar ia tetap berbahagia. Kamu juga harus yakin bahwa kebahagiaanmu adalah yang ia inginkan.


...🌼🌼🌼...


Bulan Puasa telah tiba, seluruh umat Muslim meningkatkan Ibadahnya. Sekolah pun diliburkan. Setiap hari Pak Yusuf selalu mengontrol Ibadah putri kesayangannya. Meski hampir berusia lima belas tahun, Pak Yusuf masih saja memanjakan Indah.


Apapun yang Indah inginkan, Pak Yusuf akan menurutinya. Pun dengan Bu Sri istri Pak Yusuf, dia selalu menjaga, merawat dan menyayangi Indah dengan tulus.



Di hari ke dua belas bulan Ramadhan,


Indah sedang menonton acara kesukaannya di TV. Indah mengecilkan suaranya, bahkan hanya terdengar oleh dirinya seorang karena ia tahu bahwa di saat yang bersamaan Ayahnya sedang berdzikir di kamar sambil menunggu waktu Ashar tiba.



Tiba – tiba, tasbih yang digunakan Pak Yusuf terputus dan manik – maniknya berhamburan keluar kamar mengenai Indah yang sedang menonton TV.



Indah memunguti manik – manik tersebut. Entah mengapa hati Indah menjadi gelisah. Firasat buruk menghantuinya.



“Ayah!” Indah mengumpulkan manik – manik tersebut dengan menahan air matanya.



Setelah mengumpulkan manik – manik tersebut, Indah membuka tirai pintu kamar Ayahnya dan menyerahkan manik tersebut ke tangan Pak Yusuf. “Biar Indah yang menyambungnya lagi, Ayah!” Ucap Indah.



“Jangan, Nak! Ayah masih punya yang lain!” Jawab Pak Yusuf kemudian beranjak berdiri dan berjalan meninggalkan sajadah yang masih terhampar di kamarnya.



Pak Yusuf menyimpan manik – manik tasbihnya di gelas yang berada di dalam lemari kaca.



“Ayah sakit?” Tanya Indah karena melihat netra sang Ayah sembab dan memerah. Sangat tidak mungkin jika Pak Yusuf habis menangis.



“Tidak apa, Nak! Ayah hanya demam biasa!” Jawabnya.



“Istirahatlah, Ayah!” Indah mengiba.



“Iya, sayang! Bangunkan Ayah jika masuk waktu Ashar ya, Nak!” Pak Yusuf Mengingatkan Indah.



“Baik, Ayah!” Indah mengiyakan sembari melipat sajadah milik Ayahnya. Setelahnya, Indah memasangkan selimut di tubuh ayahnya.



Meski ayahnya sangat disiplin, Indah sangat menghormati dan menyayanginya. Mungkin itulah cara Pak Yusuf mendidik anaknya. Keras tapi tanpa kekerasan.



Dimana Bu Sri? Iya sedang beristirahat siang di kamar Indah karena ia tak ingin mengganggu Ibadah Pak Yusuf di siang hari.



Saat Pak Yusuf istirahat, Indah mengambil kembali manik – manik di dalam gelas hendak meroncenya kembali, namun rencananya gagal karena jumlahnya tidak lengkap. Hanya sembilan puluh dua butir.



“Ayah...!” Indah menangis dalam hati agar tak terdengar oleh Ayahnya. Hanya Air matanya yang tak mampu dibendung dan mengalir begitu saja. Tak bisa dipungkiri dirinya takut kehilangan sosok Ayah yang begitu menyayanginya.



Tiba waktu Ashar, tapi Indah tidak tega untuk membangunkan sang Ayah.



Indah memutuskan mengambil Wudhu kemudian melaksanakan Shalat Ashar di kamar belakang.



Usai Shalat, Indah berdoa untuk menenangkan dirinya dan mendoakan sang Ayah agar diberikan kesehatan. Namun ia dikejutkan oleh langkah sang Ayah yang berjalan melewati kamar tersebut dengan di papah oleh ibunya.




“Kembalilah, Nak! Ayah mau ke kamar mandi!” Perintah Pak Yusuf. Indah menurutinya.



Pak Yusuf yang menggunakan kaos lengan panjang berwarna biru kembali dipapah oleh Bu Sri ke kamar sehingga Wudhunya tidak batal.



Di kamar, Pak Yusuf melaksanakan Shalat Ashar dengan posisi duduk. Ibu meminta ayah untuk tidak melanjutkan puasanya namun Ayah menolak dan menyelesaikan puasa hari itu hingga waktu berbuka.



Layaknya keluarga yang lain, Mereka berbuka puasa bersama.Tak ada pembicaraan diantara mereka. Terasa ada batu besar di tenggorokan Indah yang menyulitkannya menelan makanan saat ia memperhatikan gerakan Sang Ayah yang menahan sakitnya.



"Tidak biasanya Ayah seperti ini. Ayah selalu terlihat tegar dan tidak pernah terlihat sakit. Apakah sakit Ayah kali ini begitu parah?" Konflik batin terjadi dalam hati Indah.



“Kenapa tidak dimakan? Apa makanannya tidak enak? Atau kamu tidak suka dengan makanan itu?” Pak Yusuf tanpa sengaja melihat Indah kehilangan selera makan dan menjejalinya dengan tiga pertanyaan.



“Eh, Tidak Ayah! Masakan Ibu sangatlah enak dan Aku sangat menyukainya. Mungkin Aku kekenyangan karena sebelum makan aku terlalu banyak minum air!” Indah menutupi kekacauan pikirannya pada Sang Ayah.



“Kalau begitu, simpanlah dulu makananmu! Kamu bisa memakannya nanti setelah Shalat Taraweh. Jika saat itu kamu masih merasa kenyang, maka makanlah di jam malam biasanya kamu makan!” Saran Pak Yusuf.



“Baiklah, Ayah!” Kemudian Indah menyimpan makanannya di lemari makanan.



Sejenak mereka melepas lelah, Waktu Shalat Taraweh tiba, Indah bergegas mengambil Wudhu dan pamit kepada dua orang tua yang sangat menyayanginya.



“Kasian Indah! Tolong belikan dia makanan kesukaannya agar anak itu bisa makan dengan benar!” Pinta Pak Yusuf pada sang istri.



"Baiklah!" Jawab Bu Sri. Saat itu Bu Sri lebih memilih tinggal di rumah menjaga suaminya daripada ikut Shalat Taraweh di Masjid.



“Apa kamu tidak apa – apa aku tinggal sendiri di rumah?” Tanya Bu Sri khawatir.



“Aku bukan anak kecil yang sedang sakit dan tidak bisa tinggal sendiri di rumah. Pergilah!” Sanggah Pak Yusuf dan menyuruh sang istri pergi membeli makanan kesukaan Indah.


Keesokan harinya, Bu Sri memanggil dokter ke rumah untuk memeriksa Ayah.


“Bagaimana keadaan Ayah saya, Dok?” Tanya Indah panik.


“Tidak apa, Asam lambungnya naik! Mungkin karena ini Bulan Puasa dan Ayah mu sudah menderita penyakit asam lambung selama dua tahun terakhir. Hentikan puasanya untuk sementara waktu!” Jelas sang dokter. “Ini obat yang harus di tebus ke Apotek!” lanjutnya sambil memberikan resep pada Indah. Indah memberikannya pada Bu Sri yang duduk di sampingnya.


Dua, Tiga, Empat, Lima. Sudah hari ke lima Pak Yusuf sakit. Pak RT datang menjenguk. “Ya ampun, Mas tangan mu terlihat menguning. Netramu juga. Apa perlu kau kupanggilkan Dokter?” Ucap Pak RT setelah bertemu Pak Yusuf.


“Biarlah nanti istriku yang menghubungi dokter!” Jawab Pak Yusuf menyembunyikan kepanikannya.


“Ada apa?” Tanya Bu Sri yang baru saja datang dari kamar mandi dan mendengar kata istriku dari sang suami.


“Segera bawa Mas Yusuf ke dokter, Mbak!” Ucap Pak RT pada Bu Sri. Kemudian Pak RT pamit pulang.


“Benarkah tanganku menguning seperti apa yang di katakan Pak RT?” Tanya Ayah pada Ibu.


“Ga kok!” Bu Sri menenangkan Pak Yusuf.


“Tapi kata... “ Kalimat Pak Yusuf terpotong.


“Mungkin karena Pak RT baru datang dari bawah terik matahari yang mulai naik! Jadi tangan dan wajahmu kelihatan berwarna kuning!” Sanggah Bu Sri meski dirinya juga khawatir dengan keadaan suaminya.


Benar kata Pak RT, wajah dan tangan Pak Yusuf menguning. Begitu pula dengan kelopak matanya.


Ibu menjauh ke belakang rumah untuk menghubungi saudaranya. “Assalamualaikum, Ira!” Bu Sri langsung bicara ketika tau panggilannya tersambung.


“Waalaikum salam, ada apa Mbak?” Tanyanya ikut panik karena mendengar suara Bu Sri yang menunjukkan kebingungan.


Bersambung.....


Apa yang akan terjadi selanjutnya???


Tetap setia membaca ya kak!


Jangan lupa like, komentar n hadiahnya!!!


Terima kasih!!!