My Brother

My Brother
Putus (2)



Fathur kesulitan memejamkan mata. Ia terus memikirkan kata putus dari kekasihnya meski kita semua tau, Indah telah membatalkan kalimatnya.


"Apa salahku sehingga membuat Indah ingin putus?" Pertanyaan yang terus menyelimuti malamnya dan membuatnya tak mampu mengarungi lautan mimpi yang begitu biru.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Tiga hari telah berlalu, Kemah selesai. Meski kelelahan, Fathur tak bisa memejamkan matanya. Rasa kantuknya tertahan oleh rasa penasaran akan kata putus yang diucapkan Indah di tempat kemah.


Ingin rasanya ia menghubungi Indah, namun tak mungkin ia lakukan. Yang bisa Fathur lakukan saat ini adalah menunggu sang kekasih menghubunginya. Seharusnya Indah sudah mengetahui jadwal berakhirnya perkemahan Fathur, tapi entah mengapa gadis itu belum menghubunginya.


๐Ÿ“ฑ"Aku ingin bertemu!" Fathur melihat chat dari Indah.


๐Ÿ“ฑ"Kapan dan dimana?" Fathur membalas chat Indah dengan perasaan bingung antara bahagia atau sedih. Pasalnya ia takut Indah kembali mengatakan putus.


๐Ÿ“ฑ"Jam delapan di mulut goa!" Balasnya.


๐Ÿ“ฑ"Baiklah, aku akan menunggumu!" Akhir chat Fathur.


Mereka beranjak dari tempat tidur dan bersiap - siap.


Benar saja, Fathur lebih dulu sampai di mulut goa karena jarak rumahnya yang lebih dekat. Namun tak lama menunggu, Indah sudah berada di sampingnya meski dengan nafas yang masih ngos - ngosan setelah mendaki jalan menuju mulut goa.


"Dimana sepedamu?" Tanya Fathur membuka pembicaraan sambil menyodorkan air mineral gelas yang memang dibawanya dari rumah.


"Di rumah Faika!" Jawab Indah setelah meminum setengah bagian air mineral.


Bukannya menitipkan, melainkan menaruhnya begitu saja di halaman rumah Faika.


"Gimana kabar kamu?" Tanya Indah.


"Aku baik, kamu?" Fathur menanggapi.


"Seperti yang kamu lihat!" Jawab Indah datar.


Beberapa menit mereka diam dengan pikiran masing - masing. Indah bingung bagaimana harus mengatakannya. Sementara Fathur cemas menanti apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka selanjutnya.


"Fa, aku minta maaf ya?" Deg, jantung Fathur berdetak lebih kencang mendengar kata maaf dari Indah.


"Atas apa?" Tanya Fathur setelah mengatur nafasnya.


"A Aku mau kita putus!" Jawab Indah.


"Sudah kuduga! Tapi apa alasanmu?" Fathur ingin tahu alasan Indah memutuskan hubungan percintaan dengannya.


"Apa karena aku orang tak punya?" Tanya Fathur dengan wajah sendunya namun mampu menusuk hati orang yang mendengarnya. Siapa lagi kalau bukan Indah.


Meski liburan, namun hari itu adalah hari Selasa sehingga tak banyak orang yang berkunjung ke tempat wisata di kota tersebut.


"Bukan, bukan karena itu! Aku tak peduli kamu kaya atau miskin sekalipun. Bukan harta yang aku cari!" Jawab Indah masih dengan tatapan jauh ke depan.


"Lalu apa alasanmu?" Tanya Fathur lagi.


"Peringkatku di sekolah, menurun!" Jawabnya tanpa basa - basi.


"Mungkin karena kehadiranku!" Sesal Fathur.


"Bu bukan karena kamu, tapi karena aku ingin mengembalikan kepercayaan Ayah padaku. Aku akan fokus belajar tanpa pacaran!" Jawab Indah gelagapan.


"Baiklah, aku terima keputusanmu! Selamat tinggal!" Fathur beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Indah.


Bukan maksud Fathur meninggalkan Indah sendiri di tempat yang sepi, namun ia tak sanggup lagi menahan air mata yang kemudian jatuh di pipinya.


Indah masih bertahan dengan duduknya di atas hamparan rumput hijau. "Maafkan aku, Fa!" Gumamnya karena ia berpikir Fathur sudah jauh meninggalkannya.


Fathur pergi tak jauh dari tempat Indah dan masih memandang mantan kekasihnya. Ia berdiri dibawah pohon dan berlalu ketika Indah pergi menuju rumah Faika.


Flashback on~~~


"Bukankah ini sepeda milik Indah?" Faika yang baru datang dari luar bertanya pada Ibnu.


"Lalu, mana orangnya?" Tanya Faika lagi.


"Bukannya dia pergi sama kamu?" Tanya Ibnu heran.


"Kalo ya, ngapain aku cari dia?" Faika juga kebingungan. Ga biasanya Indah menitipkan sepedanya tanpa pesan.


"Mungkin Indah pergi dengan temannya dan menitipkan sepedanya di sini!" Ibnu mencoba menenangkan Faika.


Flashback Off


Mendengar kalimat terakhir Ibnu, Faika jadi teringat pada Fathur. "Mungkin Indah pergi bersama Fathur!" Gumamnya.


Faika mencoba menghubungi Indah lewat ponselnya, namun gagal karena ponsel Indah tertinggal di kamar dan dalam keadaan off.


Indah meminta no. ponsel Fathur pada Ozi kakaknya dan mencoba menghubunginya untuk menanyakan keberadaan Indah.


Dari Fathur, Faika mendapat kabar bahwa Indah pergi bersamanya ke mulut goa tapi Indah sudah kembali menuju rumah Faika untuk mengambil sepedanya.


Faika menceritakan pada Ibnu apa yang baru saja di dapat dari Fathur. Ibnu dan Faika menunggunya di depan gang.


Tak perlu banyak waktu, Indah mulai terlihat, namun dengan wajah murungnya


"Indaaaaaah!" Teriak Faika kemudian berlari menghampiri Indah. Pun sebaliknya. Keduanya saling berpelukan seperti Teletubbies sedangkan Ibnu hanya tersenyum melihat keduanya.


Indah menceritakan apa yang baru saja terjadi padanya dan alasan mengapa ia memutuskan hubungannya dengan Fathur sang kekasih.


Faika yang mengetahui kisah Cinta mereka sejak awal merasa tidak terima dengan keputusan Indah secara sepihak. Meski Faika jarang bertemu Indah, namun Fathur sering menceritakan kisah cintanya pada Ozi sehingga Faika pun mengetahuinya.


"Ka, aku ga mau pacaran. Aku mau merebut kembali peringkat kelasku yang hilang!" Jelas Indah penuh penekanan.


"Tapi kan, ga harus putus cinta juga kali!" Sanggah Faika.


"Aku ga bisa, Ka!" Indah menunduk.


"Kenapa? Bukankah Fathur ga pernah ganggu kamu? Dia selalu ngertiin kamu! Dia ga akan menghubungimu kalo bukan kamu yang lebih dulu menghubunginya dan mengajak ketemuan?" Banyak pernyataan dan pertanyaan yang Faika tujukan untuk Indah


"Iya, benar sekali apa yang kamu katakan. Karena itulah, aku mau putus darinya. Kami pacaran tapi jarang komunikasi, jarang bertemu. Dia terlalu baik buat aku. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik dariku! Kamu tau Nurika dan Ibrahim? Mereka pacaran dan saling komunikasi, sering bertemu sedangkan aku dan Fathur?" Indah mencoba menjelaskan alasannya memutuskan hubungan dengan Fathur.


"Sudahlah, dek! Jangan kamu paksa Indah, biarlah dia memilih apa yang menjadi yang terbaik untuknya!" Ibnu memberi pengertian pada Faika.


"Tapi, mas...."


Sssssssttttt... Ibnu menghentikan kalimat Faika.


"Dan untuk kamu Indah, lebih baik kamu fokus belajar. Raih cita - citamu! Mas yakin kamu bisa!" Ucap Ibnu.


"Terima kasih, mas!" Perhatian hangat seorang kakak pada adiknya dirasakan oleh Indah.


Mereka melanjutkan perbincangan hingga tiba waktu dhuhur dan Indah pamit pulang dengan wajah sendu.


Tiba di rumah, Indah langsung ke kamar mandi membersihkan diri dan melaksanakan Shalat Dhuhur. Selesai shalat, Indah dipanggil Bu Sri untuk makan siang. Tak ada kata di saat makan siang. Hanya suara sendok yang sesekali bersentuhan dengan piring.


Usai makan, Indah tak lupa membantu Ibu membersihkan meja dan mencuci piring. Kemudian masuk kamar untuk istirahat siang.


"Apa aku salah? Aku hanya ingin yang terbaik untuk kita, Fa!" Gumam Indah sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit - langit kamarnya.


Tak ada seseorang pun yang tak merindukan kehadiran kekasihnya, termasuk Fathur.


Saat mengetahui Ibrahim sahabatnya sering bertemu dengan Nurika kekasihnya, Fathur juga pasti menginginkan hal yang sama dengan dua sejoli sahabatnya. Namun ia berusaha dan memahami karakter pasangannya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like n bagi koin receh ya,kak!!!


Komentarmu Inspirasiku๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹