
Mereka duduk santai dan mengobrol bersama, sesekali bercanda dan tertawa riang, namun tak melupakan si sakit yang hanya bisa tersenyum mendengar canda tawa para teman dan sahabatnya. Siapa lagi kalau bukan Indah, karena tujuan utama mereka adalah menjenguk dan menghibur Indah agar sembuh dari sakitnya. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang mengawasi mereka.
"Aku akan masuk, saat kalian pulang nanti!" Gumam seorang pria yang berdiri tak jauh namun tak terlihat oleh mereka.
"Bagaimana keadaan kamu, Indah?" Tanya Dayat memecah riuh suara tawa yang lain.
"Sudah mendingan, tapi mungkin aku belum bisa masuk sekolah. Ayah tak mengijinkan ku!" Raut wajahnya berubah menjadi sedih.
"Jangan pergi dulu jika kondisimu tak memungkinkan!" Larang Ana yang disetujui oleh yang lain.
"Sekarang hari Jumat dan besok hari Sabtu. Itu artinya kamu hanya tidak masuk satu hari. Lagian besok tidak ada ulangan di kelas kita. Jadi kamu bisa istirahat selama dua hari." Dayat menarik kesimpulan.
"Oh, iya! Tunggu sebentar, Aku tinggal dulu!" Ucap Indah kemudian beranjak berdiri. Belum sempat Indah berdiri, badannya terhuyung hampir jatuh. Beruntung ada Dayat yang langsung menopang tubuh Indah. Entah dari mana dan kapan datangnya, Fatur juga berada di sampingnya dan membantu Indah berdiri.
Ana memapah Indah masuk ke rumah dan mendudukkan Indah di sofa ruang tamu.
"Aku tak apa, kembalilah bersama mereka!" Pintanya pada Ana. Ana keluar dan kembali bergabung bersama mereka.
"Kamu kenapa, Sayang?" Pak Yusuf segera menghampiri Indah.
"Aku ga papa, Yah! Aku hanya ingin mengambil buku PR Matematika untuk aku titipkan ke Ana." Jawabnya.
"Kalau begitu, biar Ayah yang mengambilnya!" Usul Pak Yusuf. Pak Yusuf mengambil buku PR Matematika Indah yang berada di atas meja belajarnya.
Indah keluar dan memberikan bukunya pada Ana. "Boleh donk aku contek pekerjaanmu?" Usil Ana.
Indah tersenyum dan berkata, "Boleh."
"Kalau begitu, kita kerjakan di sini saja PR nya!" Ide Suparman muncul di saat yang tepat.
"Yach, Aku ga bawa buku!" Tina menepuk jidatnya pelan.
"Kamu foto aja hasilnya, setelah itu kamu bisa mengerjakannya di rumah." Indah angkat bicara. Jadilah mereka mengerjakan PR di rumah Indah kecuali Tina.
PR selesai, mereka pamit pulang ke rumah masing - masing.
Tinggallah Fathur dan Indah yang mengobrol di teras, namun tak begitu lama karena Fathur menyuruh Indah untuk beristirahat.
"Istirahatlah, Aku mau pulang. Besok malam aku akan kemari lagi!" Ucapnya dengan wajah mengiba kemudian berbalik pulang.
"Fa!" Panggil Indah.
Mendengar panggilan Indah, Fathur menghentikan langkah dan berbalik menghadap Indah.
"Terima kasih!" Ucapnya.
Fathur menarik ujung bibirnya tersenyum seraya mengangguk serta melambaikan tangan dan pergi.
Rahmat yang sedari tadi memperhatikan mereka, mengurungkan niatnya menemui Indah.
Ya, sepasang mata yang mengawasi mereka adalah Rahmat. "*Begitu banyak orang yang menyayangi Indah*" Gumamnya.
πΌπΌπΌ
Buk!
Di tempat lain, Ibnu menabrak seorang gadis seumuran dengan Indah. Ia menenteng sebungkus nasi goreng yang berhamburan akibat benturan Ibnu. Beruntung mereka sama - sama berjalan kaki.
Ibnu membeli satu bungkus nasi goreng sebagai ganti untuk gadis itu. Obrolan singkat mengisi waktu mereka sambil menunggu pesanan selesai. Ibnu bertanya pada si gadis alamat rumahnya. Si gadis menyebutkan alamat yang sama dengan Indah.
"Apa kamu mengenal Indah?" Tanya Ibnu.
"Iya, Mas. Aku teman bermainnya, karena Indah tidak satu sekolah dengan kami!" Jawabnya.
Mendengar jawaban gadis itu, Ibnu menambah pesanannya jadi dua bungkus. Satu untuk gadis itu, satu ia titipkan untuk Indah.
Β
Tiba di rumah Indah, Rika mengetuk pintu. Indah yang masih duduk di ruang tamu, perlahan membuka pintu.
"Ini, ada titipan nasi goreng buat kamu!" Rika menyodorkan bungkusan di tangannya.
"Dari siapa?" Tanya Indah penasaran.
"Aku lupa bertanya siapa namanya!" Rika menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yaudah, Terima kasih karena kamu sudah membawakannya untukku!" Indah menerima bungkusan tersebut.
Β ~~~
"Semoga kamu suka, Dek!" Ibnu dalam hati berharap nasi goreng tersebut selamat sampai tujuan.
Sepulang gadis itu, Ibnu membeli sebungkus bakso untuk dibawa pulang. Di jalan pulang, Ibnu bertemu gadis kecil yang berusia sekitar lima tahun sedang menangis di pinggir jalan.
Ibnu menghampiri si gadis kecil yang memiliki nama Dita. "Bolehkah Aku meminta Bakso milik Om?" Pintanya masih terisak.
"Boleh, tapi ada syaratnya!" Ibnu mengajukan syarat pada anak sekecil Dita.
"Apa?" Tanyanya sembari menghapus air mata.
"Panggil Kakak, jangan Om!" Jawab Ibnu sambil memberikan bakso yang dibungkus plastik transparan.
"Baiklah, Kakak!" Jawab Dita dengan senang hati dan menerima bakso dari tangan Ibnu.
"Ibu Dita dimana?" Tanya Ibnu setelah tangis Dita reda.
"Ibu meninggal saat aku masih berusia empat tahun. Aku punya ibu baru. Dia galak. Seperti malam ini, Ibu tidak memberiku makan. Aku diusir dari rumah karena Aku menginginkan bakso untuk makan malam ku. Ibu bilang tak punya uang!" Jawab Dita panjang kali lebar.
"Ya sudah. Kalau begitu, sekarang Dita pulang ya! Bawa Baksonya dan pelan - pelan makannya. Jangan lupa baca doa sebelum makan! Dita bisa kan?" Ibnu mengingatkan.
"Iya, Om! Eh, Kakak!" Sahut Dita kemudian berlari pulang.
Mungkin ada yang bertanya, Siapa Rika? Dia teman bermain Indah di rumah. Meski letak rumah mereka berdekatan, Indah jarang sekali bermain. Mungkin karena mereka beda sekolah dan disibukkan dengan kegiatan sekolah masing - masing. Rika juga pribadi yang mandiri. Dia sering membantu ibunya menjaga tiga orang adik. Sering kali Ibunya meminta Rika untuk berbelanja ke pasar tradisional. Dengan lihainya, ia menawar harga ikan atau sayuran. Berbeda dengan Indah dan Winda. Mereka memang selalu membantu pekerjaan orang tua, namun tak seberat pekerjaan Rika. Hal itu membuat Rika jarang bermain.
πΌπΌπΌ
Adzan Subuh berkumandang membangunkan insan muslim untuk menghadap Sang Khalik. Pun dengan Pak Yusuf sekeluarga. Indah segera bangun dan membersihkan diri. Kemudian Shalat berjamaah di rumah.
Tengadah tangan, terucap Doa, Tangis dalam hati memohon ampunan, keberkahan rezeki dan umur panjang tak luput dari untaian permohonan pada Sang Pencipta.
Usai berdoa dan berdzikir, mereka kembali beraktifitas seperti biasa.
Karena Pak Yusuf tak mengijinkannya masuk sekolah, Indah memilih untuk mencuci pakaiannya.
"Jangan terlalu capek, Sayang!" Pak Yusuf.
"Tidak, Ayah. Hari ini, Aku hanya mencuci seragam sekolahku!" Jawabnya sopan menghentikan sejenak kegiatan tangannya yang sedang merendam pakaian kotornya.
Sebelum Indah melanjutkan mencuci, Bu Sri menyuruh Indah sarapan.
πΌπΌπΌ
**Jangan lupa like, komentar n vote nya ya, Kak!
Komentarmu Semangatku
Komentarmu Bahagiaku
Komentarmu inspirasiku
Komentarmu referensiku!
Semoga para reader "My Brother" diberikan kesabaran dan kesehatan!!!
πππ₯°**
Β