My Brother

My Brother
11



Tamara mengompres Naomi dengan sangat telaten. Bahkan wanita itu setia menunggui putrinya sejak pagi tadi, sedangkan Ricard dan Leon tengah bekerja masing-masing.



Demam Naomi belum juga turun meski sudah di kompres dengan air hangat.



"Naomi, cepet sembuh, Sayang. Mama gak mau lihat kamu sakit kayak gini. Mama sayang bangt sama kamu, Naomi." Tamara mengelus pipi kanan Naomi dengan lembut penuh sayang.



"Mama," panggil Leon pelan. Tamara menoleh pada putranya, Leon tersenyum hangat pada Mamanya.



"Mama istirahat, ya? Biarin Leon yang jagain Naomi." Leon menuntun Tamara untuk keluar dari kamar Naomi. Wanita itu menurut.



"Jagain Naomi ya, Leon." Tamara pergi meninggalkan kamar putrinya, dan Leon segera menutup pintu kamar itu.



Leon menggengam tangan Naomi hangat. Ketika kecil ia ingat bahwa Mamanya memang tengah memgandung Naomi, dan ia juga tidak lupa dengan janjinya yang akan menjaga Naomi jika Tamara sudah melahirkan adiknya.



Tapi, kenapa sekarang kenyataannya berbeda. Naomi bukanlah bayi yang ada di dalam perut Mamanya dulu, Naomi hanya orang lain yang bahkan tak memiliki ikatan darah sama sekali dengan dirinya.



"Naomi, tenyata adikku sangat cantik." Leon mengelus lembut pipi Naomi, lelaki itu menyunggingkan senyum tampannya kala melihat bibir penuh sang Adik.



Cup~



Dengan lancang Leon mencium bibir Naomi. Bukan sekedar kecupan seperti di mobil. Namun juga lumatan dan hisapan hingga bibir pucat Adiknya menjadi merah dan membengkak.



Jika bukan karena ketukan pintu dari Mamanya, mungkin Leon bisa hilang kendali. Lelaki itu mengucapkan syukur karena Tuhan masih menyelamatkan Naomi dari nafsunya yang tiba-tiba saja bangkit secara menggebu.



"Loh, Leon. Kok bibir Naomi jadi merah dan bengkak gitu ya, Nak." tanya Tamara yang datang karena ingin mengganti air kompres Naomi yang mulai dingin.



"Gak tau, Ma. Leon ke kamar mandi dulu ya, Ma. Kebelet." Leon segera keluar dari kamar Naomi untuk berendam air hangat agar tubuhnya kembali rileks.




***





Leon menyuapi Naomi dengan sangat telaten, lelaki itu tersenyum melihat adiknya menurut.



"Gadis pintar," puji Leon sembari mengelus rambut Naomi dengan lembut ketika Adiknya menghabiskan bubur yang ia suapkan.



"Kak, makasih ya karena Kak Leon masih memperlakukan aku seperti Adiknya Kakak sendiri." Naomi sedih mengetahui kenyataan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa di keluarga Ricard.



"Kamu ngomong apa sih, Sayang? Kakak akan tetap sayang sama kamu sampai kapan pun. Dan Kakak akan tetap menomor satukan kamu sama kayak dulu," ucap Leon yang membuat Naomi tersenyum senang.



"Kak, aku janji akan jadi Adik yang baik dan penurut buat Kakak." Leon merasa tak rela ketika Naomi menjelaskan status Adik Kakak mereka. Dalam hati, Leon memaki takdir Tuhan yang ditetapkan untuk mereka. Namun, ada rasa bersyukur di hati ketika mengetahui Naomi bukanlah Adik kandungnya.




***




Leon tengah membereskan tempat tidur Naomi ketika ponsel Adiknya yang berada di atas nakas berdering, nama Tristan tertera di layar ponsel.



Dering pertama, Leon hanya membiarkannya. Hingga akhirnya sebuah bayangan Tristan yang mengambil Adiknya terlintas di pikiran Leon, ia tak mau jika Naomi dimiliki lelaki lain.




"Halo," sapa Leon ketus.



"Kak, apa Naomi--"



"Dia sedang tidur, tidak bisa diganggu!"



Pip~



Leon mematikan sambungan secara sepihak, segera ia menghapus jejak panggilan dari Tristan.



"Kak?" Leon begitu kaget ketika Naomi tiba-tiba ada di belakangnya, segera lelaki itu menoleh dan mendapati Adiknya yang baru saja selesai mandi hanya memakai selembar handuk yang dililitkan di tubuhnya. Leon yang melihat itu merasa suhu tubuhnya semakin naik, bahkan beberapa kali terlihat pria tampan tersebut membasahi bibirnya yang kering.



Entah kenapa semenjak mengetahui kenyataan bahwa Naomi bukanlah Adiknya, ia selalu merasa aneh dengan respon tubuhnya sendiri yang seakan begitu menginginkan Naomi.



"Kakak ngapain ada di kamar aku?" tanya Naomi bingung.



"Tadi Kakak lagi beresin tempat tidur kamu, soalnya berantakan." Fokus Leon bukan pada mata Naomi seperti biasanya ketika mereka berbicara. Kini fokus Leon tertuju pada paha dan dada Naomi yang lumayan terekspos.



"Kakak liat apa?" Naomi yang merasa Kakaknya aneh segera mundur tiga langkah. Leon terkesiap kaget dan memutuskan untuk pergi dari sana sebelum menerkam Adiknya sendiri.



"Kenapa Kak Leon jadi aneh, ya?" Naomi bertanya pada dirinya sendiri, ia merasa Kakak lelakinya itu memang berperilaku aneh.





***





Naomi menuruni tangga dan menemukan Leon tengah bersandar pada sofa sambil memainkan ponselnya. Leon segera menghampiri Naomi hingga Adiknya itu kaget dibuatnya.



"Kak Leon?" tanya Naomi bingung.



"Kita makan malam di luar aja gimana?" tanya Leon antusias. Naomi dibuat sedikit bingung dengan tingkah Leon yang membuatnya merasa sedikit risih.



"Aku makan masakan Mama aja deh," tolak Naomi halus. Sejujurnya ia ingin sekali makan di luar, hanya saja ia tak ingin pergi dengan Leon.



"Ayo dong. Kan kita udah lama gak jalan bareng," bujuk Leon tak mau kalah.



"Jalan?" tanya Naomi bingung atas pernyataan Leon yang pantasnya ditujukan untuk berbicara dengan kekasihnya.



"Maksut aku, kita udah lama gak makan di luar. Kan kamu sendiri tau aku akhir-akhir ini sibuk syuting. Jadi, bisa kan luangkan waktu sedikit aja," ucap Leon setengah memaksa Naomi. Sebetulnya gadis itu enggan untuk ikut, hanya saja ia tak enak pada Leon yang sudah baik dengannya selama ini. Dan karena tak mau dibilang gadis tak tahu diri, maka Naomi mengangguk setuju.





_____________Tbc.